NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:50.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sketsa yang Terwujud

Setelah kepergian Liam ke kantor, mansion Alexander terasa begitu damai. Tidak ada lagi teriakan makian pada pelayan, tidak ada lagi barang pecah karena kemarahan. Aku melangkah menuju ruang kerja pribadi "Blair" yang terletak di sayap timur. Ruangan ini dulunya adalah tempat yang paling jarang ia kunjungi, hanya digunakan untuk menyimpan tumpukan majalah fashion mahal yang belum sempat dibaca.

Aku mendorong pintu kayu jati yang berat itu. Aroma kertas tua dan grafit menyeruak. Di tengah ruangan, terdapat meja gambar arsitektur yang sangat mewah, namun permukaannya tertutup debu tipis.

Aku mengusap permukaan meja itu dengan ujung jariku. "Cita-citaku yang terenggut oleh biaya kuliah..." gumamku pelan.

Di dunia nyata, aku adalah Charlotte Lauren Blair, lulusan D3 yang harus banting tulang bekerja magang demi membayar biaya hidup hingga akhirnya terdampar menjadi karyawan bank BUMN. Impianku untuk masuk ke sekolah desain perhiasan terkubur di balik tumpukan slip setoran dan laporan bulanan.

Namun di sini, di dunia gila buatan Elodie, aku adalah seorang desainer perhiasan jenius. Elodie... meskipun kau menggunakan namaku untuk karakter antagonis, setidaknya kau memberiku kemampuan yang selalu aku idamkan seumur hidup.

"Terima kasih, Elodie. Setidaknya untuk yang satu ini, aku berhutang padamu," bisikku sambil menarik kursi beludru dan duduk dengan tegak.

Aku mengambil sebuah pensil sketsa 2B, meruncingkannya dengan perlahan, lalu meletakkan selembar kertas kalkir di depanku. Tanganku mulai bergerak. Awalnya ragu, namun perlahan gerakan itu menjadi sangat luwes, seolah otot-otot di tanganku sudah menghafal setiap lengkungan estetika yang ingin kubentuk.

Aku sedang menggambar sebuah bros. Bukan bros biasa, melainkan bros berbentuk sayap phoenix yang sedang bangkit dari abu. Aku ingin menyematkan batu safir biru tua yang melambangkan ketegaran Liam, dan berlian kecil yang berkilau seperti harapan Axelle yang baru saja tumbuh.

"Nyonya? Anda... sedang apa?"

Suara Kepala Pelayan, Pak Haris, membuatku tersentak. Beliau berdiri di ambang pintu dengan baki berisi teh melati. Wajahnya tampak sangat terkejut melihatku memegang pensil, bukan kartu kredit.

"Aku sedang bekerja, Pak Haris. Letakkan saja tehnya di sana," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

Pak Haris melangkah mendekat dengan ragu. Saat matanya menangkap sketsa yang baru setengah jadi itu, ia mematung. Nampan teh di tangannya sedikit bergetar.

"Ini... ini karya Anda, Nyonya?" tanya Pak Haris, suaranya penuh kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.

"Memangnya karya siapa lagi? Hantu?" sahutku sedikit galak, meniru gaya Blair asli agar tidak terlalu mencurigakan.

"Maaf, Nyonya. Tapi... selama sepuluh tahun saya bekerja di sini, saya baru pertama kali melihat Anda menggambar dengan begitu... begitu indah. Detail potongannya, perpaduan garisnya... ini luar biasa," puji Pak Haris tulus.

"Sudahlah, jangan banyak bicara. Pastikan tidak ada yang menggangguku sampai makan siang," usirku halus.

Begitu Pak Haris pergi, aku kembali fokus. Rasanya sangat memuaskan. Di bank, aku harus teliti dengan angka. Di sini, aku harus teliti dengan keindahan. Keduanya butuh presisi, tapi yang satu ini memberikan jiwa pada setiap garisnya.

Pukul lima sore.

Langkah kaki yang berat dan tegas terdengar di koridor. Itu suara langkah Liam. Pria itu selalu pulang tepat waktu sekarang, seolah-olah dia takut jika terlambat satu menit saja, aku akan menghilang.

Pintu ruang kerjaku terbuka tanpa ketukan. Liam berdiri di sana, masih mengenakan jas lengkapnya, namun dasinya sudah sedikit longgar. Ia tampak lelah, tapi matanya langsung berbinar saat melihatku masih berada di dalam ruangan yang ia perintahkan untuk disiapkan tadi pagi.

"Kau benar-benar melakukannya?" tanya Liam, suaranya berat namun lembut.

Aku mengangkat kertas sketsaku yang sudah jadi. "Apa aku terlihat sedang bercanda, Tuan Alexander?"

Liam berjalan mendekat. Ia berdiri di belakangku, menunduk untuk melihat sketsa itu. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di puncak kepalaku, membuat bulu kudukku sedikit meremang.

[YA TUHAN! Dia benar-benar jenius! Bagaimana bisa dia menggambar detail serumit ini dalam satu hari? Garis-garis ini... ini bukan sekadar gambar, ini adalah perasaan. Blair... kau penuh dengan kejutan. Aku ingin mencium tangan yang sudah menciptakan keindahan ini.]

Suara hatinya membuatku merona. Liam tidak berkata apa-apa secara lisan, dia hanya menatap sketsa itu dengan sangat lama.

"Safir biru di tengah ini..." Liam menyentuh kertas itu dengan ujung jarinya yang kasar. "Kenapa biru?"

"Karena itu mengingatkanku padamu," jawabku jujur sambil mendongak menatapnya. "Dingin di luar, tapi sangat dalam dan berharga di dalam."

Liam mematung. Matanya membelalak lebar, menatapku dengan tatapan yang sangat intens hingga aku merasa seolah-olah aku akan mencair di bawah pengawasannya.

[Dia... dia bilang safir ini mengingatkannya padaku? Dia menganggapku berharga? Aku ingin berteriak! Aku ingin memeluknya dan tidak melepaskannya sampai besok! Kenapa dia bisa berkata manis seperti itu dengan wajah galaknya? Aku akan mencari safir terbesar di dunia untuk mewujudkan desain ini!]

"Konyol," sahut Liam kaku, mencoba menyembunyikan telinganya yang sudah merah padam. "Tapi... desain ini tidak buruk. Aku akan menyuruh departemen perhiasan Alexander Group untuk membuatkan prototipenya besok."

"Besok?" aku tertawa kecil. "Cepat sekali."

"Aku tidak suka membuang waktu untuk sesuatu yang sempurna," ucap Liam, kali ini ia berani menatap mataku secara langsung.

[Sempurna. Desain ini sempurna, dan kau... kau jauh lebih sempurna, Blair. Terima kasih sudah kembali padaku.]

Aku tersenyum tipis. Ternyata, mewujudkan cita-cita di dunia fiksi dengan dukungan suami yang bucin parah itu rasanya jauh lebih baik daripada naik jabatan di bank BUMN manapun.

"Ayo makan malam. Axelle pasti sudah menunggu," ucapku sambil membereskan peralatan gambarku.

Liam mengangguk, namun sebelum aku berdiri, ia menarik tanganku dan mencium punggung tanganku dengan lembut. "Terima kasih untuk hari ini, Blair."

Aku terdiam, membeku di tempat. Liam... kau benar-benar ingin membunuhku dengan serangan jantung, ya?

1
falea sezi
saking takut d tinggal ya Liam sampe nerobos wkt di jabanin
falea sezi
sweet amat pak liam
Aisyah Suyuti
menarik
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
gasss....
Ariska Kamisa: 💨💨💨💨💨
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya
total 1 replies
aditya rian
🤸🤸🤸🤸🤸🤸
Ariska Kamisa: kenapa jungkir balik kak🤣
total 1 replies
aditya rian
datang ke dunia nyata liamnya??
Ariska Kamisa: yeess
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy//Shy/
aditya rian
semangat blair💪💪
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣👣
Ariska Kamisa: terimakasih jejak nya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
dari novel pindah ke dunia nyata ya thor
Ariska Kamisa: betul kakak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut dong thor
umie chaby_ba
ayo blairr
umie chaby_ba
Liam terpaksa jahat yaa
umie chaby_ba
kasian banget Lo axelle
umie chaby_ba
Liam 😍😍😍
umie chaby_ba
ya Allah axelle
umie chaby_ba
axelle itu emak lo
Ariska Kamisa: axelle ampe demen 🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
😱😱😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!