NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

She's my style

TUJUH TAHUN KEMUDIAN...

 

LAS VEGAS—malam hari yang penuh warna-warni menyala terang di atas gedung-gedung megah kota hiburan.

Suara musik elektronik yang menggelegar menggema dari dalam Club Eclipse, salah satu klub malam mewah yang menjadi tujuan utama para pengunjung kaya dan pencinta kesenangan.

Cahaya neon merah dan biru berkelip-kelip menerangi lorong masuk, sementara aroma parfum mahal dan alkohol mengiringi setiap hembusan udara malam.

Seorang wanita cantik dengan rambut panjang pirang yang mengkilap seperti emas masuk ke dalam klub.

Ia mengenakan kaos putih sederhana yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis dan celana jeans biru tua yang pas di pinggangnya—penampilannya yang berbeda jauh dari para pengunjung wanita lain yang berpakaian glamor dan seksi.

Mata beberapa pria mengikuti langkahnya, tertarik dengan pesonanya yang alami dan aura kuat yang terpancar darinya.

"Dimana pria brengsek itu..." Gumamnya dengan nada rendah namun tegas, mengibaskan rambut depan yang tertiup angin ke belakang dengan gerakan cepat.

Matanya yang berwarna biru kehijauan mengendus setiap sudut klub, mencari sosok tertentu di tengah kerumunan pengunjung yang sedang bergoyang riang mengikuti irama musik.

Setelah beberapa menit menyusuri area dansa dan meja-meja yang penuh sesak, akhirnya ia melihatnya—pria muda tampan dengan rambut coklat keemasan yang sedang duduk di sudut meja VIP, dikelilingi dua wanita seksi dengan gaun ketat berwarna emas.

Ia tertawa riang, tangan kanannya terlentang santai di bahu salah satu wanita, sementara senyum manisnya membuat kedua wanita itu tak berdaya terpikat.

Wanita pirang itu melangkah dengan langkah mantap ke arahnya, sambil dengan cepat mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul tinggi yang membuat lekukan leher dan bahunya tampak lebih menawan.

"Storm!" Suaranya yang jelas dan kuat menerobos deru musik, membuat pria itu yang tengah bersenang-senang langsung kaget.

Wajah Storm Maddox yang tadinya penuh keceriaan langsung memucat seperti kain kertas, matanya melotot ke arah wanita itu. 

"Oh... Shit!" Ucapnya dengan nada terkejut, segera menarik tangannya dari bahu wanita di sebelahnya.

"Aku pergi dulu, Baby." Katanya dengan tergesa-gesa kepada kedua wanita itu, lalu langsung berdiri dan berlari menghindari arah sang kakak, menuju tangga yang mengarah ke lantai dua klub.

"Hei... Storm! Berhenti sekarang juga!" Teriak wanita itu yang bernama Sue, mengikuti langkahnya dengan cepat. Namun Storm tak pernah memalingkan wajah, hanya berlari lebih cepat menjauhinya.

Keributan kecil itu menarik perhatian seorang pria yang sedang duduk di meja eksekutif paling dalam.

Ia memegang gelas whiskey emas di satu tangan dan sebatang rokok di tangan yang lain—wajahnya tampan dengan alis yang tegas dan mata warna coklat tua yang menyala dengan pandangan tajam. Suaranya yang dalam dan bariton terdengar jelas di tengah kebisingan.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya kepada pengawal yang berdiri tegas di sebelahnya.

"Maaf, tuan. Dua orang itu sudah sering seperti ini." Jawab pengawal dengan sikap sopan namun sedikit tertekan.

"Apa maksudmu 'sudah biasa'?" Tanya pria itu dengan nada yang menunjukkan rasa ingin tahu.

"Mereka adalah kakak beradik—Sue dan Storm Maddox. Storm sering datang ke klub ini dan menghabiskan malam dengan berbagai wanita, baik muda maupun tua. Tapi kakaknya Sue sama sekali tidak menyukai kebiasaan adiknya yang selalu menghabiskan waktu di tempat hiburan seperti ini." Jelaskan pengawal dengan sedikit gugup, menyadari bahwa klub ini adalah milik pria di depannya.

"Lalu kalian hanya membiarkan mereka membuat keributan setiap kali seperti ini?" Tanya pria itu dengan tatapan yang semakin mendalam.

"Maaf tuan... Tapi para wanita pengunjung justru selalu mencari Storm. Ia pandai merayu dan membuat setiap wanita yang bersamanya merasa istimewa—jumlah pengunjung wanita di klub kita bahkan meningkat signifikan sejak ia mulai datang secara teratur." Ucap pengawal, mencoba menjelaskan alasannya.

Pria itu terdiam sejenak, matanya tetap menatap kedua kakak beradik yang kini sedang saling kejar-kejar melintasi area dansa.

Sue berlari dengan cepat, rambut sanggulnya sedikit acak karena gerakan kencangnya, sementara Storm terus berlari menghindar dengan tubuh sedikit gemetar ketakutan.

Akhirnya, kejar-kejaran itu membawa mereka tepat ke arah meja di mana pria itu sedang duduk.

"Berhenti aku bilang, Storm!" Teriak Sue dengan nafas terengah-engah. Tanpa berpikir panjang, ia melompat sedikit dan menendang bagian punggung Storm dengan kekuatan yang cukup, membuatnya tersungkur ke lantai dan tepat jatuh di kaki pria itu.

"Aaak!" Merintih Storm saat tubuhnya menyentuh lantai kayu yang licin, tangannya menahan bagian punggung yang sakit.

Ia berusaha segera bangkit dan dengan cepat bersembunyi di belakang pria yang berdiri tinggi di depannya.

"Ayo pulang sekarang!" Ucap Sue dengan wajah merah karena kesal dan kelelahan berlari, matanya memotret Storm yang bersembunyi.

"Tidak! Aku tidak mau pulang!" Jawab Storm dengan keras dari balik sosok pria itu.

"Apa kau ingin aku mematahkan kakimu sendiri agar kau tidak bisa berjalan kemana-mana lagi?" Ancaman Sue dengan wajah yang menunjukkan kesabaran yang sudah hampir habis, matanya tetap tertuju pada adiknya.

"Kau gila! Ingin mematahkan kaki adikmu sendiri... Pantas saja tidak ada pria yang berani mendekatimu—kau terlihat sangat menakutkan!" Ucap Storm dengan nada membantah, masih bersembunyi dengan erat.

"Maaf pak... Bisakah Anda sedikit menyingkir? Aku harus menangkap anak sialan ini sebelum membuat keributan lebih besar lagi." Ucap Sue kepada pria di depannya dengan nada yang sedikit menurun, menunjukkan rasa maaf atas gangguan yang terjadi.

Pria itu hanya tersenyum tipis, kemudian perlahan berbalik dan dengan cepat menahan tangan Storm yang mau mencoba kabur lagi.

Tangan kirinya erat menyambar pergelangan tangan Storm, sementara ia sedikit memutarnya hingga posisi yang membuat Storm tidak bisa bergerak.

"Hei! Lepaskan aku sekarang juga!" Teriak Storm sambil memberontak, namun tak bisa melepaskan diri dari genggaman kuat pria itu.

"Aaak... Hei! Apa yang kau lakukan?" Teriaknya lagi saat rasa sakit menyengat dari pergelangan tangannya.

"Apa perlu aku mengikatnya agar tidak bisa kabur lagi?" Tanya pria itu dengan tatapan yang tenang, memandangi Sue dengan mata yang mulai menunjukkan rasa kagum.

"Tak perlu. Terima kasih banyak atas bantuannya." Jawab Sue dengan senyum singkat yang jarang muncul, lalu menjewer bahu Storm dan menariknya untuk pergi dari situ.

"Hei! Aku akan membalasmu untuk ini!" Ucap Storm sambil masih memberontak, menatap pria yang telah membantunya ditangkap.

Plak...

Suara tamparan yang jelas terdengar saat Sue memukul bagian belakang kepala Storm. "Jangan berani mengancam orang baik yang mau membantuku!" Ucapnya dengan nada tegas.

Pria itu berdiri diam, menatap ke arah kedua kakak beradik yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu keluar klub. Cahaya neon di luar menerangi bentuk tubuh Sue yang gagah saat menarik adiknya pergi.

"Tuan Orion, apakah perlu kami memblokir kedua kakak beradik itu agar tidak bisa masuk ke klub lagi?" Tanya pengawalnya yang sudah berdiri kembali di sebelahnya.

"Tak perlu sama sekali. Biarkan mereka masuk dengan bebas kapan saja. Dan segera kirimkan aku informasi lengkap tentang kedua orang itu—semua yang bisa kamu temukan." Ucap Orion Gordon dengan senyum tipis yang muncul di bibirnya, matanya masih terfokus pada arah keluar klub.

"She's my style," bisiknya dalam hati sebelum berbalik menuju lift yang akan membawanya ke ruang pribadinya di atas lantai tiga—tempat di mana ia akan memeriksa laporan keuangan klub yang sudah lama tidak ia pantau secara langsung.

Beberapa jam kemudian, seorang asisten berpakaian jas hitam masuk ke ruangan Orion yang penuh dengan lemari besi dan meja kerja besar yang terisi tumpukan dokumen.

Cahaya lampu meja yang hangat menerangi wajah Orion yang sedang fokus mengecek setiap angka di layar komputer.

"Tuan, ini data lengkap tentang Storm dan Sue Maddox seperti yang Anda minta." Ucap asisten dengan sopan, memberikan sebuah folder berisi kertas dan beberapa foto ke tangan Orion.

"Baiklah. Kamu boleh pergi sekarang." Jawab Orion tanpa mengalihkan pandangannya dari folder yang baru diterimanya. Setelah asisten keluar, ia segera membukanya dan mulai membaca dengan cermat.

"Sebuah cafe kecil di tepi pantai di kota pantai kecil Santa Monica..." Gumamnya dengan suara rendah saat membaca bagian tentang pekerjaan dan tempat tinggal keluarga Maddox, matanya menunjukkan rasa kagum yang semakin dalam.

"Haaah... Haruskah aku pergi ke sana untuk melihatnya secara langsung?" Ucapnya pelan, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang empuk.

Ia mengambil foto Sue yang terlampir di dalam folder—di foto itu, Sue sedang berdiri di depan cafe milik keluarganya dengan senyum hangat, dengan latar belakang hamparan laut biru yang luas.

Matanya yang biru kehijauan tampak lebih lembut di foto itu, berbeda dengan wajahnya yang penuh kesal saat di klub tadi malam.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!