NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Cinta di Setiap Sudut Rumah Kita

Hari-hari Nono dan Ayu kini berjalan dengan irama yang begitu damai dan menenangkan. Setelah menikmati kebersamaan di taman belakang rumah, mereka mulai menemukan kebahagiaan baru dalam merawat dan memperindah setiap sudut rumah mereka yang sudah menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka selama puluhan tahun. Bagi mereka, rumah ini bukan sekadar bangunan tempat berteduh, melainkan sebuah museum kenangan yang menyimpan setiap tawa, setiap air mata, dan setiap momen indah yang pernah mereka lalui bersama.

Suatu pagi yang cerah, setelah menikmati sarapan sederhana berupa bubur sumsum dan teh hangat buatan Ayu, Nono melihat sebuah sudut ruang tamu yang terlihat sedikit sepi. Di sana, hanya ada sebuah meja kayu tua dan beberapa kursi yang sudah mulai memudar warnanya.

"Yu," kata Nono pelan sambil menunjuk sudut ruang tamu itu. "Aku lagi mikir nih, gimana kalau kita ubah sudut ini jadi sebuah tempat khusus buat nyimpen semua kenangan kita? Kita bisa taruh foto-foto perjalanan kita, piala-piala penghargaan yang pernah kita terima, buku-buku tulisan kita, dan juga barang-barang kenangan kecil yang punya cerita khusus buat kita. Biar setiap kali kita lewat atau duduk di sini, kita bisa langsung ingat betapa indahnya perjalanan kita bareng-bareng selama ini. Gimana menurutmu? Bagus nggak ide ini?" tanya Nono dengan mata berbinar penuh harap.

Ayu yang sedang membersihkan daun-daun kering di vas bunga menoleh ke arah Nono dengan senyum lembut yang begitu indah. Tatapannya penuh dengan pengertian dan cinta yang mendalam. "Wah, ide yang sangat manis dan bermakna itu, Mas! Aku juga udah lama pengen kita punya tempat khusus kayak gini di rumah. Tapi ingat ya, Mas, kita harus atur penempatannya dengan baik ya. Jangan sampai terlalu penuh dan berantakan, nanti malah kelihatan sumpek. Kita harus susun semuanya dengan rapi dan estetik, biar tetap enak dilihat dan bikin hati tenang. Kamu yakin kita bisa kerjain ini bareng-bareng dengan teliti dan hasilnya bagus?" serunya dengan nada yang lembut namun tetap tegas, ciri khas Ayu yang selalu memperhatikan detail.

Nono tertawa renyah mendengar jawaban istrinya itu. Suara tawanya masih terdengar begitu akrab dan hangat seperti dulu. Dia segera berjalan mendekati Ayu dan merangkul bahu istrinya dengan hangat. "Ya ampun, Tuan Putri. Sampai kapan pun kamu tetep sama aja ya. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling teliti, kamu yang paling punya selera bagus, dan aku yang paling beruntung bisa punya kamu. Makanya kan aku butuh banget bantuan kamu buat nyusun semuanya dengan sempurna. Kita kerjain bareng-bareng ya, Yu? Kita bikin sudut ini jadi tempat yang paling indah dan penuh kenangan di rumah kita."

Ayu tersenyum malu, pipinya merona merah muda karena tersipu mendengar pujian manis dari suaminya itu. "Hmph, dasar suami yang manis mulutnya. Tapi ya udah, aku setuju. Kita mulai kerjain sekarang ya. Kita harus kasih yang terbaik buat sudut kenangan kita ini."

"Siap, Tuan Putri! Pasti kita bakal kasih yang terbaik bareng-bareng," jawab Nono sambil tersenyum lebar dan menggenggam tangan Ayu dengan erat.

 

Hari-hari berikutnya pun dipenuhi dengan kesibukan yang sangat menyenangkan dan penuh makna bagi Nono dan Ayu. Mereka mulai mengeluarkan semua kotak-kotak kenangan yang tersimpan di gudang rumah. Mereka membuka satu per satu kotak itu dengan hati-hati, seolah-olah sedang membuka harta karun yang paling berharga di dunia. Setiap barang yang mereka temukan memunculkan cerita baru, tawa baru, dan terkadang air mata haru yang bahagia.

Mereka menemukan foto-foto masa muda mereka yang masih hitam putih, menemukan tiket perjalanan lama yang sudah lusuh, menemukan buku harian yang ditulis tangan dengan tinta yang mulai memudar, dan juga menemukan berbagai macam oleh-oleh kecil yang mereka beli saat berkeliling dunia dulu.

Tentu saja, selama proses menyusun sudut kenangan ini pun, interaksi khas Nono dan Ayu tidak pernah hilang, meskipun dengan nuansa yang lebih lembut dan damai.

"Yu, aku bilang tuh foto-foto perjalanan kita ke luar negeri harus kita taruh di tempat yang paling tinggi dan paling besar gitu, biar langsung kelihatan dan orang tahu kalau kita pernah keliling dunia," kata Nono antusias sambil memegang sebuah bingkai foto besar yang diambil saat mereka berada di Menara Eiffel, Paris.

Ayu yang sedang menyusun beberapa barang kenangan kecil di atas rak kayu dengan teliti langsung menoleh ke arah Nono dengan tatapan tajam yang lembut. "Eh, jangan sembarangan dong, Mas. Kalau foto itu ditaruh terlalu tinggi, nanti susah dilihatnya dan malah kelihatan kurang pas. Lagian, kan kita juga punya banyak kenangan lain yang nggak kalah pentingnya, kayak foto waktu kita baru nikah, foto waktu kita bangun kedai kopi pertama, dan foto anak-anak waktu kecil. Kita harus atur semuanya dengan seimbang, biar semua kenangan itu dapet tempat yang layak dan indah. Kamu tuh ya, kadang kalau lagi senang sama satu hal, suka lupa sama hal-hal lain yang juga berharga kalau nggak ada aku yang ngingetin," seru Ayu dengan lembut.

Nono tertawa lepas mendengar komentar istrinya itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling benar, kamu yang paling bijaksana. Aku sih cuma nawarin pendapat aku aja kok. Ya udah, kita atur semuanya dengan seimbang dan indah bareng-bareng ya. Pasti hasilnya bakal bagus banget."

Ayu tersenyum lebar, matanya berbinar penuh cinta melihat tingkah suaminya yang masih sama seperti dulu. "Hmph, dasar manis. Oke deh, kita lanjutin kerjain ya."

 

Akhirnya, setelah beberapa hari bekerja dengan penuh cinta dan kesabaran, sudut ruang tamu itu pun berubah menjadi sebuah tempat yang sangat indah dan penuh makna. Mereka menamainya "Sudut Kenangan Cinta Nono dan Ayu". Di sana, setiap barang tersusun dengan rapi dan indah, menceritakan sebuah kisah panjang tentang cinta, perjuangan, dan kebahagiaan yang tak terhingga.

Suatu sore yang hangat, Nono dan Ayu duduk bersebelahan di bangku kayu yang mereka letakkan tepat di depan sudut kenangan itu. Mereka memandang semua barang dan foto yang ada di sana dengan hati yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam. Setiap kali mata mereka jatuh pada satu barang, sebuah cerita indah langsung terlintas di pikiran mereka.

"Yu," bisik Nono pelan sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta dan keharuan. "Lihat nih, betapa indahnya perjalanan kita ya. Semua kenangan ini sekarang udah terkumpul di satu tempat yang indah. Rasanya hati aku penuh banget bisa punya semua ini bareng kamu."

Ayu menyandarkan kepalanya di bahu Nono dengan nyaman. "Iya, Mas. Kita emang tim terbaik di dunia. Dan sudut ini bakal jadi saksi bisu cinta kita selamanya. Tapi ingat ya, Mas, ini bukan berarti kita berhenti bikin kenangan baru. Masih banyak waktu yang kita punya buat bikin momen-momen indah lainnya bareng-bareng. Kamu siap kan buat lanjut perjalanan ini bareng aku selamanya?"

Nono mencium puncak kepala Ayu dengan lembut dan menatapnya dengan penuh keyakinan. "Siap, Tuan Putri! Selamanya aku bakal siap nemenin kamu. Selama kita berdua sama-sama, kita bakal terus bikin kenangan indah, dan cinta kita bakal terus mengalir selamanya, mengisi setiap sudut rumah kita dan setiap detik kehidupan kita. Aku sayang banget sama kamu, Yu. Selamanya."

"Aku juga sayang banget sama kamu, Mas. Selamanya," jawab Ayu lembut.

Di bawah cahaya matahari sore yang lembut membelai mereka, Nono dan Ayu tahu bahwa perjalanan cinta mereka tidak pernah berakhir. Setiap sudut rumah mereka adalah cerita, setiap barang adalah kenangan, dan setiap detik yang mereka lewati bersama adalah bukti cinta yang abadi. Dan mereka yakin, selamanya, hidup mereka akan terus dipenuhi dengan harmoni, kedamaian, dan cinta yang tak pernah pudar.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!