NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 14: "Goncangan Dapur Umum dan Rahasia di Balik Sorban"

​Cahaya fajar baru saja menyapa ufuk timur Kediri, namun dapur umum Pesantren Al-Muammar sudah serupa medan tempur. Bunyi dentang sudip raksasa yang beradu dengan kawah besi, aroma bawang merah yang ditumis, serta kepulan uap nasi yang membubung tinggi menciptakan simfoni kesibukan yang luar biasa.

​Shania berdiri di ambang pintu dapur dengan ekspresi seolah-olah ia baru saja mendarat di planet asing. Jika kemarin ia merasa gagah berani menghafal sepuluh sahabat Nabi, hari ini nyalinya sedikit ciut melihat tumpukan kubis setinggi gunung dan karung-karung bawang yang menanti untuk dikupas.

​"Oke, Shania. Focus. Ingat hadiahnya: Menyetir ke Surabaya. Vroom vroom!" gumamnya menyemangati diri sendiri.

​Ia mengenakan celemek bunga-bunga di atas gamis sporty-nya, lengkap dengan cadar yang diikat kencang agar tidak mengganggu pergerakan. Di hadapannya, Mbok Sum, kepala dapur senior yang sudah mengabdi selama tiga puluh tahun, menatapnya dengan senyum maklum.

​"Gimana, Ning? Siap tempur atau mau angkat tangan?" goda Mbok Sum sambil menyerahkan pisau dapur.

​"Eh, jangan panggil Ning dulu kalau di dapur, Mbok. Panggil Shania aja. Dan jangan remehkan tangan yang biasa megang stang motor ini," jawab Shania dengan percaya diri yang dipaksakan.

"​Ujian Kesabaran di Balik Uap Panas"

​Tantangan pertama: Mengupas bawang merah seberat lima kilogram.

Awalnya, Shania merasa ini mudah. Namun, pada kilogram kedua, matanya mulai perih. Air mata mengalir deras di balik cadarnya.

​"Aduh, Mas Zain... ini lebih perih daripada dengerin ceramah tentang siksa kubur," keluhnya sambil sesekali mengelap mata dengan punggung tangan yang masih kotor.

​"Sabar, Ning. Mengupas bawang itu seperti membersihkan hati. Harus pelan, harus sabar, biar tidak banyak daging yang terbuang sia-sia," celetuk seorang santriwati yang membantu di sampingnya.

​Shania tertegun.

'Semuanya di sini kenapa jadi filosofis banget sih?' batinnya.

Namun, ia teringat ucapan Zain kemarin di tepi Brantas:

“Allah melihat bagaimana kamu sekarang berusaha menjinakkan egomu.”

​Ia kembali membedah bawang-bawang itu dengan lebih telaten. Setelah bawang, ia beralih ke tugas yang lebih berat: mengaduk sayur lodeh di kawah raksasa. Panasnya uap air benar-benar menguji staminanya.

Peluh membasahi dahi, dan lengannya mulai terasa pegal.

​Di tengah perjuangan itu, pintu dapur terbuka. Zain muncul dengan jubah abu-abu dan sorban yang tersampir rapi di bahunya. Ia baru saja selesai memberikan pengarahan untuk pembangunan asrama baru.

​Zain berhenti beberapa langkah dari Shania. Ia melihat istrinya yang sedang berjuang dengan sudip kayu sepanjang satu meter. Wajah Shania terlihat memerah dari balik cadarnya karena panas, dan ada noda kunyit di celemeknya.

​"Bagaimana, 'Pembalap Jakarta' kita? Masih sanggup?" tanya Zain dengan nada yang enteng namun penuh perhatian.

​Shania menoleh, mencoba memberikan tatapan tajam namun yang terlihat justru mata yang sembab karena bawang.

"Mas Zain, jangan cuma nonton! Ini berat banget, tahu! Ternyata masak buat ratusan orang itu lebih susah daripada ujian SIM A."

​Zain mendekat, mengambil alih sudip kayu itu dari tangan Shania. Dengan gerakan yang tenang dan bertenaga, ia mulai mengaduk sayur tersebut.

​"Dalam Islam, membantu pekerjaan rumah tangga adalah sunnah Rasulullah. Nabi Muhammad SAW tidak segan menjahit bajunya sendiri atau membantu istrinya di dapur," jelas Zain sambil terus mengaduk.

​Shania terpesona. Melihat suaminya yang biasanya duduk di kursi tinggi memberikan fatwa, kini berkeringat di depan kompor besar hanya untuk membantunya, membuat rasa lelahnya menguap.

​"Mas... makasih ya," bisik Shania lembut.

​Zain mengangguk kecil.

"Istirahatlah sebentar. Minum air hangat. Masih ada tantangan kedua sebelum kita bisa ke Surabaya."

"​Misteri di Balik Lemari Zain"

​Setelah tugas dapur selesai dan waktu ashar tiba, Shania kembali ke rumah mungil mereka. Ia merasa badannya remuk, namun hatinya puas. Saat hendak meletakkan kerudungnya di lemari, ia secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu kecil dari rak paling atas milik Zain.

​Kotak itu terbuka, memperlihatkan sebuah foto lama dan selembar kertas yang sudah menguning. Shania tahu ia tidak boleh lancang, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.

​Ia mengambil foto itu. Di sana terlihat Zain yang jauh lebih muda, mungkin saat masih kuliah di Mesir, berdiri di depan Universitas Al-Azhar bersama seorang gadis yang mengenakan hijab syar’i sangat anggun.

Namun, yang menarik perhatian adalah kertas di bawahnya.

​Itu adalah sebuah surat. Tulisan tangannya rapi, dalam bahasa Arab. Shania, yang baru belajar dasar-dasar bahasa Arab, hanya mampu menangkap beberapa kata: Al-Hubb (Cinta), Al-Amanah (Amanah), dan sebuah nama yang membuatnya mengerutkan kening: Fatimah.

​"Siapa Fatimah?" gumam Shania.

Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini masa lalu Zain? Apakah ini alasan kenapa Zain begitu dingin dan kaku saat mereka pertama kali bertemu?

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Zain berdiri di sana. Matanya langsung tertuju pada kotak kayu di tangan Shania. Suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi tegang. Udara di dalam kamar terasa mendingin.

​"Shania, itu bukan untuk dilihat," suara Zain rendah, ada nada ketegasan yang tidak bisa dibantah.

​Shania menelan ludah. Ia meletakkan kotak itu di atas meja dengan tangan gemetar.

"Maaf, Mas. Tadi jatuh sendiri. Aku... aku cuma nggak sengaja lihat nama, Fatimah. Siapa Fatimah, Mas? Apa dia... orang yang seharusnya Mas nikahi kalau bukan karena perjodohan, kita?"

​Zain menghela napas panjang, ia duduk di tepi ranjang sambil menatap foto itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Fatimah, adalah putri dari guru besar saya di Kairo. Selama di sana, saya sangat mengagumi adab dan kecerdasannya. Dia adalah definisi wanita salihah yang sempurna dalam bayangan saya dulu."

​Dada Shania terasa sesak.

"Jadi... Mas mencintainya?"

​Zain menatap Shania dengan jujur.

"Saya, sempat berniat mengutarakan keinginan saya kepada Abi dan Umi saat pulang ke Indonesia. Saya, ingin meminta restu untuk meminang, Fatimah."

​Shania mengepalkan tangannya di balik gamis. Rasanya seperti ada bongkahan es yang menghantam ulu hatinya.

"Terus... kenapa nggak jadi?"

​"Karena saat saya baru saja sampai di rumah dan hendak membuka mulut, Abi dan Umi sudah lebih dulu bicara," kenang Zain dengan senyum pahit.

"Beliau berdua bilang sudah mengikat janji dengan sahabat karib mereka untuk menjodohkan saya dengan putri mereka. Abi bilang, gadis itu sangat 'liar', pembangkang, dan butuh bimbingan keras. Gadis itu... adalah kamu, Shania."

​Shania terpaku. Rasa sesak itu kian menghimpit, membuatnya sulit bernapas sejenak. Jadi, selama ini ia hanyalah "penghalang" bagi cinta suci Zain? Ia hanyalah beban yang dipaksakan oleh Abi Abdullah dan Umi Zainab kepada putra kebanggaan mereka?

​Shania mencoba memendam rasa perih itu sedalam mungkin. Ia tidak ingin terlihat lemah atau egois, meskipun hatinya menjerit menanyakan apakah ada sedikit saja ruang untuknya di hati Zain yang pernah penuh dengan sosok Fatimah yang sempurna.

​"Lalu... Mas kecewa?"

Suara Shania hampir berbisik, ia menunduk tak berani menatap mata Zain.

​Zain berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Shania. Ia mengangkat dagu istrinya dengan lembut.

"Awalnya, saya merasa itu adalah ujian ketaatan yang sangat berat. Membandingkan Fatimah yang lembut dengan kamu yang... 'meledak-ledak'. Tapi Allah maha tahu apa yang hamba-Nya butuhkan, bukan apa yang hamba-Nya inginkan."

​Ia mengusap kepala Shania dengan sayang.

"Fatimah, adalah masa lalu yang saya kagumi dalam diam. Tapi kamu, Shania... kamu adalah masa depan yang Allah pilihkan untuk saya perjuangkan. Kamu mungkin liar, tapi kamu jujur. Kamu mungkin pembangkang, tapi kamu mau belajar. Dan kejujuranmu itu jauh lebih mahal dari sekadar kesempurnaan di atas kertas."

​Shania memaksakan sebuah senyuman, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia menyembunyikan rasa sesaknya di balik tawa kecil yang getir.

"Jadi, ustadz dingin ini ceritanya lagi bilang kalau dia sudah 'move on' dari anak gurunya yang pinter itu?"

​Zain tersenyum tipis, sorot matanya kembali melunak.

"Fatimah, sudah menikah dengan seorang syekh di Kairo setahun yang lalu. Allah sudah mengatur tempat masing-masing. Dan tempat saya adalah di sini, menjaga seorang pembalap nekat yang hobi makan lodeh."

​Shania tertawa kecil di tengah rasa harunya, mencoba mengubur dalam-dalam rasa cemburu yang masih tersisa.

"Awas ya kalau diam-diam masih bandingin aku sama dia. Aku nggak bisa bahasa Arab se-lancar dia, tapi aku bisa bikin Mas Zain jantungan setiap hari!"

​"Itulah yang membuat hidup saya tidak lagi membosankan," jawab Zain pendek, membuat Shania sedikit merasa lega, meski nama Fatimah tetap tersimpan sebagai pengingat di sudut hatinya.

"​Luka yang Tak Terlihat"

​Suasana di dalam kamar menjadi sunyi senyap. Zain masih menatap kotak kayu itu, sementara Shania merasa seperti ada duri yang tersangkut di tenggorokannya. Jawaban Zain bahwa Fatimah sudah menikah memang sebuah fakta medis bagi logika, tapi bagi perasaan Shania, keberadaan foto itu adalah bukti lain.

​"Kalau memang sudah selesai... kenapa fotonya masih ada, Mas? Kenapa disimpan serapi ini di dalam kotak? Di rak paling atas pula?" tanya Shania.

Suaranya tidak meledak-ledak seperti biasanya, justru terdengar tenang namun penuh luka.

​Zain terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa bagi Shania, kotak itu bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan sebuah kuil kenangan.

​"Shania, itu hanya bagian dari sejarah masa menuntut ilmu, saya. Tidak lebih," jawab Zain mencoba memberi pengertian.

​Shania tersenyum getir. Ia melepaskan pegangan tangannya dari lengan baju Zain.

"Sejarah itu dicatat di buku, Mas, bukan disimpan dalam kotak rahasia sampai istrinya sendiri nggak boleh lihat. Aku, tahu aku nggak sebanding sama dia. Aku, sadar aku ini cuma 'beban' yang dititipkan Abi sama Umi ke, Mas Zain."

​"Bukan begitu maksud saya—"

​"Sudah, Mas. Aku mau istirahat," potong Shania cepat.

Ia membalikkan badan, memunggungi Zain agar suaminya tidak melihat matanya yang sudah mulai memanas.

"​Janji yang Terabaikan"

​Akhir pekan yang dijanjikan pun tiba. SUV hitam milik Zain sudah terparkir di depan kediaman mereka. Sesuai janji, hari ini adalah hari di mana Shania boleh memegang kemudi menuju Surabaya. Sebuah hadiah yang harusnya membuat Shania melompat kegirangan.

​Zain sudah berdiri di samping pintu penumpang, memegang kunci mobil. Ia menunggu Shania keluar dengan semangat "The Flash"-nya.

​Namun, saat Shania keluar, gadis itu tampil berbeda. Tidak ada kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, tidak ada celoteh riang tentang kecepatan. Ia mengenakan gamis hitam polos dan cadar yang menutupi hampir seluruh ekspresi wajahnya.

​"Ini kuncinya. Kamu yang bawa," ucap Zain sambil menyodorkan kunci mobil.

​Shania menggeleng pelan tanpa menatap mata Zain.

"Mas Zain, aja yang nyetir. Aku lagi nggak pengen."

​Zain mengernyitkan dahi.

"Lho? Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu? Kamu bilang ingin menunjukkan kemampuan menyetirmu pada, saya?"

​"Itu kemarin, Mas. Sekarang rasanya... aku nggak layak duduk di kursi itu. Kursi itu harusnya buat orang yang Mas pilih sendiri, bukan yang dipaksakan sama, Abi," jawab Shania datar.

​Kalimat itu menghantam Zain tepat di ulu hati. Ia baru sadar bahwa luka kemarin jauh lebih dalam dari yang ia kira. Shania yang liar dan percaya diri itu tiba-tiba meredup, kehilangan binar yang biasanya membuat Zain terpaku.

​"Shania, saya sudah bilang—"

​"Ayo berangkat, Mas. Nanti kesiangan," potong Shania lagi, lalu ia langsung membuka pintu belakang, bukan pintu depan di samping kursi pengemudi.

​Zain terpaku melihat istrinya duduk di bangku belakang, menciptakan jarak fisik yang sangat lebar di antara mereka. Sepanjang perjalanan dari Kediri menuju Surabaya, kabin mobil yang biasanya bising dengan ocehan Shania, kini hanya diisi oleh suara deru mesin dan detak jarum jam.

​Shania memalingkan wajahnya ke jendela, menatap hamparan sawah yang berlari menjauh. Pikirannya terus tertuju pada foto itu. Ia merasa seperti pemeran pengganti dalam sebuah film yang skenarionya sudah ditulis untuk orang lain.

'​Kenapa Mas Zain masih simpan foto itu? Apa setiap kali Mas lihat aku, Mas diam-diam membandingkan caraku bicara yang kasar dengan kelembutan, Fatimah?' Batin Shania menjerit.

​Zain sesekali melirik dari spion tengah. Ia melihat Shania yang diam membatu. Sang Ustadz yang biasanya ahli dalam merangkai kata-kata hikmah, tiba-tiba merasa lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa membelenggu keliaran Shania dengan mahar mungkin mudah, namun menyembuhkan rasa tidak percaya diri istrinya karena bayang-bayang masa lalu adalah jihad yang jauh lebih berat.

​"Kita, mampir makan sate dulu?" tanya Zain memecah kesunyian saat memasuki wilayah Jombang.

​"Terserah Mas saja," jawab Shania singkat.

​Zain menghela napas panjang. Perjalanan menuju Surabaya kali ini terasa lebih jauh dari ribuan kilometer, karena meskipun mereka berada di dalam satu mobil, hati Shania sedang berada di tempat yang tak bisa ia jangkau.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!