Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Kecil Di Tengah Hujan
Hujan turun tanpa ampun, bukan hujan biasa yang datang dengan lembut dan pergi dengan cepat—tapi hujan yang membersihkan dan menghapus jejak. Andra dan Mei berjalan tanpa arah, tangan mereka terkunci satu sama lain lepas satu detik saja akan membuat tenggelam dalam realitas berat.
Jalanan kota biasanya ramai kini berubah menjadi sungai kecil berwarna hitam, memantulkan cahaya neon toko-toko masih terbuka. Mobil-mobil melintas kencang menyemburkan air hitam ke trotoar. Di tengah semua itu, dua orang basah kuyup berjalan—pria dengan kemeja putih transparan menempel di punggung, dan seorang wanita dengan gaun satin mahal warnanya sudah tidak bisa dikenali lagi.
"Di sana," Andra menunjuk.
Sebuah warung kopi pinggir jalan. Atapnya dari seng bergelombang, bocor di beberapa tempat dengan ember-ember plastik ditata seperti penjaga pasrah menunggu serangan. Dari dalam, terlihat uap mengepul dan beberapa orang duduk dengan tenang, hujan adalah tamu sudah mereka terima sejak lama.
Mereka masuk. Semua mata—tiga pasang mata tengah asyik dengan dunia masing-masing—menatap sekilas, lalu kembali ke piring mi instan dan rokok mereka. Warung ini tidak peduli siapa, asalkan punya uang untuk membayar kopi tiga ribu rupiah.
Mei duduk di bangku plastik warna merah yang lengket. Kursinya goyang, salah satu kakinya lebih pendek. Dia tidak peduli meletakkan tangannya di atas permukaan masih basah bekas lap kain.
Basah. Kotor. Rambutnya yang biasanya diatur dengan hati-hati kini berjumbai seperti tali tambang yang terurai. Makeup nya—maskara, foundation, lipstik mahal—meluncur menjadi sungai-sungai kecil di wajah. Gaunnya, yang harganya bisa membayar sewa apartemen Andra setahun, kini terlihat seperti kain lap bekas cucian.
Tapi Andra melihat sesuatu yang lain, garis rahang begitu manusiawi, mata tanpa bulu mata palsu, masih indah dalam kepolosannya, baru saja melepaskan zirah terpasang sejak lama.
"Mei," Andra berkata, suaranya parau ditengah hujan, "kita gila ya."
Mei tertawa membuat bahunya bergetar dan mata berkaca-kaca. "Gila," dia mengulang, seolah mencicipi kata itu. "Mei tinggalkan rumah mewah untuk warung kopi bocor semua gara-gara mas."
"Ia, Mas juga sinting," Andra membalas senyumnya melebar. "Baru saja kenal Mei, tapi udah berani datang ke rumah orang tua. menculik?"
"Menculik," Ia mengangguk, tawa mereka bertemu di udara yang hangat dengan uap kopi. "Mas penculik terburuk yang pernah Mei temui. Biasanya penculik bawa senjata tajam, mobil gelap, tapi Mas bawa... payung?"
"Payungnya juga rusak."
Mereka tertawa bersama, ada ketakutan di dalamnya, kelegaan, keberanian yang baru saja lahir.
Pemilik warung, seorang ibu paruh baya dengan tato sendok garpu di lengan kirinya, datang dengan dua gelas kopi tubruk. Dia tidak bertanya siapa mereka, tidak menatap gaun Mei dengan penghakiman hanya meletakkan gelas dan berkata, "Hangatkan badan, dek."
Uap mengepul, menari-nari di udara dingin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mei merasa bukan sebagai Meisyah Hartono, putri Hartono Group bukan pula sebagai calon istri Fero Wijaya objek yang harus diatur dan dipajang.
Tapi seorang gadis yang kedinginan dan hanya butuh secangkir kopi hangat.
"Mas, "ini baru awal dari sebuah cerita kita."
Andra menatapnya lekat, bibirnya bergetar.
"Mereka tidak akan berhenti, Fero tidak akan tinggal diam, ini sebuah tragedi besar dalam keluarga."
Andra melihat ketakutan yang sebenarnya di sana lebih sistematis, lebih dingin.
"Mereka punya cara, punya koneksi di mana-mana, pengacara yang bisa memutarbalikkan hitam menjadi putih, dengan segala sesuatu yang kita tidak punya, Mas."
Andra merasakan kepalan tangannya mengencang, pengakuan ketidakberdayaan. Dia hanya karyawan biasa dengan tabungan bisa dihitung dengan jari, tinggal di apartemen sewaan, naik mobil butut ke kantor. Lawannya adalah Hartono Group dan Wijaya Holdings, kerajaan bisnis dengan lengan merentang ke politik, hukum, bahkan media."Mas juga tidak akan berhenti, asalkan Mei mau berjanji."
"Apa itu, Mas?"
"Jangan melakukan sesuatu itu sendiri. Apa pun yang datang, kita hadapi bersama karena..."Dia berhenti, mencari kata yang tepat."...karena mas memilih."
Mei terdiam. Hujan di atap mereka berdentum genderang perang yang jauh. Kota Jakarta terus berputar, tidak peduli dengan dua orang di warung kopi pinggir jalan baru saja mengubah hidup mereka.
"Mei janji,"
---
Hujan mulai mereda.
Mei memandang sekeliling warung. Dinding kayu yang catnya mengelupas. Meja tidak seragam. Lantai retak. Bau kopi, rokok, dan hujan bercampur jadi satu.
Tempat ini seharusnya terasa seperti kehancuran baginya tapi tidak justru… kelegaan seolah beban ini , ternyata bisa dilepaskan.“Mas…” ia berbisik, “Mei baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
Ia menatap tangannya sendiri tangan yang biasanya rapi, kini memegang gelas kopi murah—dan terasa… benar.
“Mei lihat kesungguhan dari Mas,” katanya pelan. “Tapi Mei juga lihat sesuatu dari diri Mei sendiri… yang belum pernah Mei rasakan sebelumnya.”Ia menarik napas “Mei bisa berjuang.”
Sunyi sebentar.
“Dan ternyata… harta tidak selalu menjamin kebahagiaan.”
Andra hanya diam mendengarkan.
“Di rumah,” lanjutnya, “Mei selalu tahu harus apa tapi Mei tidak pernah tahu… apa yang Mei inginkan. Malam ini… Mei memilih.”Matanya berkaca.“Dan Mei memilih… ini.”
---
Gerimis tersisa, mereka tahu—saatnya berpisah untuk sementara.
“Mas antar Mei?” tanyanya pelan.“Ke apartemen sewanya… lebih murah dari parkir mobil di rumah.”
Andra tersenyum kecil, "Tapi ini istana yang mewah."
Mereka naik taksi, diam tapi bukan canggung—melainkan penuh terlalu banyak yang sudah terjadi malam ini.
Taksi berhenti di depan apartemen tua di gang sempit, catnya mengelupas dengan balkon dipenuhi jemuran. Tempat yang tidak akan pernah dilirik dunia Mei sebelumnya.
Kini… justru terasa miliknya.
“Mas… makasih.”
“Mei yang berani,”
“Besok ke panti?”
“Selalu.”
" Mas sayang?"
Ia mengangguk dalam.
Mereka berpisah belum siap berbagi hidup sepenuhnya, dan belum siap berbagi pagi.
Tapi ada sesuatu yang lebih penting yaitu
Keberanian.
---
Di rumah mewah di Pondok Indah, Fero duduk sendiri di ruang tamu. Karpet Persia di bawah kakinya, yang biasanya dia banggakan kepada tamu-tamu, kini terlihat seperti lautan ingin menenggelamkannya.
Orang tua Mei sudah naik ke lantai atas. Ayahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca—wajah pria yang sudah terlalu lama berada dalam bisnis untuk menunjukkan emosi. Ibunya dengan amarah masih menguap, sisa-sisa api yang belum padam sepenuhnya.
Tapi Fero tidak melihat mereka pergi.
Dia hanya melihat foto Meisyah di meja. Foto yang diambil di pesta ulang tahun yang ke-25— kalung berlian, memotong kue pertama, berdiri di sampingnya dengan lengan di pinggang. Foto yang dia pikir akan menjadi foto pre-wedding sekarang terlihat seperti penghinaan.
Dia lari.
Fero Wijaya, calon pengusaha terbaik di bawah 35 versi majalah bisnis. Lulusan Harvard. Pemilik apartemen di tiga negara. Ditinggalkan untuk seorang karyawan biasa di warung kopi bocor.
Ia lalu mengambil ponsel, mengetik pesan ke nomor yang tidak tercantum di kontaknya—nomor yang hanya dia kenal sebagai "M":
"Dia punya pria lain. Karyawan biasa. Tidak penting... tapi dia membuat Meisyah berani. Kita perlu strategi baru."
Balasan datang dalam hitungan detik,
"Biarkan dia merasa menang. Yang penting, pernikahan tetap terjadi. Apapun caranya."
Fero tersenyum dingin mengkalkulasi, dan merencanakan. Dia bukan monster hanya seorang pria yang tidak bisa kalah. Dan dia tidak akan kalah.
---
Pukul 05.30 subuh.
Andra terbangun ponselnya berdenting notif Wa "Mas, Mei sudah bangun, tidur sedikit tapi cukup, hari ini kita hadapi bersama, ya?"
"Siap cantik, tetap semangat."
" Mas gak kekantor?"
" Ya Mei, ini bersiap mandi."
" Ikuuut."
" Huss..."
Andra tergelak meletakan hapenya diatas meja, namun baru saja ia mau ke kamar mandi hapenya berdering panggilan dari kantor.
"Andra," suara HRD, tegas dan asing, "Jam tujuh nanti kamu keruangan, ada... laporan tentang kamu."
" Ada masalah apa Pak?"
"Tidak apa - apa, kami tunggu."
Andra terdiam mematikan ponselnya, namun
pesan lain masuk dari Rei:
"Drei, gue dengar Fero punya saudara di direksi perusahaan kita, hati-hati, genderang baru dimulai "
Andra menatap ponselnya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi mereka berjanji akan hadapi bersama.