NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Kereta Pagi

Cahaya kelabu dari mendung pagi Jakarta menyusup malu-malu melalui retakan kaca jendela kamar nomor 04. Udara terasa pengap oleh sisa-sisa pertarungan semalam. Luna mengerjap, merasakan pegal yang luar biasa di seluruh persendiannya. Ia tertidur dalam posisi duduk bersandar pada tepi kasur, memeluk tas selempangnya seolah nyawanya bergantung pada benda itu.

Ketika matanya sepenuhnya terbuka, pandangan pertamanya langsung tertuju pada lantai keramik. Garam krosok putih yang semalam ia taburkan kini telah berubah wujud menjadi serbuk hitam pekat yang berbau seperti arang basah. Garam itu telah mengorbankan kemurniannya untuk menyerap energi mematikan yang mencoba menerobos masuk.

Luna mendongak. Di sudut ruangan, berdiri Nando. Pria itu menatap lurus ke arah jendela yang retak dengan ekspresi kaku. Jas navy-nya masih tampak rapi, namun pendar biru di sekitar tubuhnya tidak lagi seterang hari-hari sebelumnya. Cahayanya sedikit meredup dan berkedip lambat, mengisyaratkan kelelahan ekstrem dari sebuah jiwa yang dipaksa melampaui batas kewajarannya.

"Kau sudah bangun," ucap Nando pelan, tanpa menoleh. Suaranya terdengar sedikit parau. "Aku tidak pernah berpikir bahwa menjaga sebuah pintu kayu tipis bisa lebih melelahkan daripada negosiasi merger saham selama tiga belas jam tanpa henti."

Luna memaksakan senyum tipis, perlahan bangkit berdiri sambil meregangkan punggungnya yang kaku. "Terima kasih, Nando. Kau menyelamatkanku semalam. Jika kau tidak menahan bayangan-bayangan itu, mantra segelku tidak akan pernah selesai tepat waktu."

Nando akhirnya menoleh, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada jejak arogansi yang tersisa di sudut bibirnya, namun matanya memancarkan kehangatan yang asing. "Jangan ge-er, Nona. Aku hanya melindungi asetku. Tanpamu, aku hanya hantu tersesat yang akan berakhir menangis di bawah jembatan layang. Dan omong-omong, sentuhan semalam..." Nando menatap bahunya sendiri, mengingat momen mustahil di mana tangan Luna terasa padat di tubuh astralnya. "...apakah kau tahu bagaimana itu bisa terjadi?"

Luna mengambil sapu dan mulai membersihkan serbuk garam hitam di lantai. "Aku tidak yakin," jawabnya jujur, mengernyitkan dahi. "Di dunia metafisika, ada konsep yang disebut Resonansi Jiwa. Saat dua energi beresonansi pada frekuensi yang sama kuatnya—entah itu karena ketakutan, tekad, atau niat saling melindungi—batas antara materi dan roh bisa menipis untuk sepersekian detik. Tapi itu sangat langka. Nenekku dulu butuh waktu bertahun-tahun bertapa hanya untuk bisa menyentuh roh penjaga."

"Menarik," gumam Nando, menyentuh dagunya dengan gaya khas seorang analis bisnis yang menemukan celah pasar baru. "Artinya, potensiku di dunia hantu ini sama briliannya dengan di dunia bisnis. Jika aku berlatih, mungkin aku bisa memukul wajah Bara dengan tanganku sendiri."

Luna memutar bola matanya malas, meski ia merasa lega melihat Nando kembali pada mode menyebalkannya. Itu pertanda energi pria itu mulai pulih. "Simpan ambisimu untuk nanti. Cepat bersiap. Kereta Commuter Line pertama ke Bogor berangkat sebentar lagi. Kita harus menemui Ki Ardi sebelum siang."

Stasiun Manggarai di pagi hari adalah definisi nyata dari kekacauan terorganisir. Lautan manusia berseragam rapi, berjaket tebal, dan bermasker berdesakan layaknya kawanan semut yang mengerumuni gula. Suara peluit petugas stasiun bersahutan dengan pengumuman dari pengeras suara.

Luna berdiri di peron jalur enam, menunggu kereta jurusan Bogor. Matanya bengkak kurang tidur, dan ia sengaja memakai topi baseball hitam yang ditarik rendah untuk menutupi wajahnya. Di dalam ransel usangnya, mangkuk keramik berisi buhul yang telah disegel terbungkus rapat oleh kain tebal.

Nando berdiri di sampingnya, menatap kerumunan manusia dengan ekspresi jijik yang luar biasa. "Aku tidak mengerti," gerutunya, melipat tangan di depan dada. "Apakah orang-orang ini tidak memiliki konsep ruang personal? Lihat pria berjaket kulit itu, napasnya nyaris mengenai leher ibu-ibu di depannya. Ini sama sekali tidak higienis."

"Dunia tidak berputar di sekitar layanan VVIP-mu, Tuan Nando," bisik Luna tajam. "Sebagian besar dari kami harus bertarung di sini setiap hari demi sesuap nasi."

Kereta tiba dengan decitan rem logam yang memekakkan telinga. Pintu otomatis terbuka, dan arus penumpang yang keluar masuk bertabrakan. Luna langsung terseret oleh lautan manusia yang berebut masuk. Ia terdorong ke bagian tengah gerbong, terhimpit di antara tiang besi dan punggung seorang bapak-bapak yang membawa ransel besar.

Nando melayang menyusulnya dengan mudah. Melihat posisi Luna yang terjepit hingga nyaris tidak bisa bernapas, insting protektif pria itu kembali menyala. Tanpa aba-aba, Nando memposisikan dirinya tepat di belakang Luna. Ia merentangkan kedua tangannya yang memancarkan hawa dingin es, menciptakan sebuah sangkar tak kasat mata di sekitar gadis itu.

Seketika, orang-orang di sekitar Luna menggigil.

"Duh, kok tiba-tiba AC-nya dingin banget, ya? Sampai merinding," gumam bapak-bapak beransel besar itu, refleks bergeser menjauh, memberikan ruang kosong selebar setengah meter di belakang Luna. Beberapa penumpang lain juga mundur dengan alasan yang sama.

Luna menoleh sedikit ke belakang. Wajah Nando kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Pria itu menatap lurus ke depan, pura-pura tidak peduli, meskipun rahangnya mengeras karena fokus menahan auranya agar tidak melukai manusia di sekitarnya.

"Terima kasih," bisik Luna sangat pelan, nyaris tak terdengar di antara gemuruh roda kereta.

Nando hanya mendengus pelan. "Anggap saja ini Corporate Social Responsibility (CSR) dari NaturaGlow untuk masyarakat kelas pekerja."

Perjalanan memakan waktu hampir satu setengah jam. Berdiri berdekatan dengan Nando membuat Luna menyadari satu hal: aroma citrus dan sandalwood yang menguar dari pria itu entah bagaimana mengisolasi bau keringat dan apak di dalam gerbong. Di balik perlindungan Nando, Luna merasa aman. Sangat aman. Sebuah perasaan yang tak pernah ia miliki sejak pintu lemari pakaian itu tertutup lima belas tahun yang lalu.

Tanpa sadar, Luna menyandarkan sedikit beban tubuhnya ke belakang. Meskipun punggungnya tidak benar-benar menyentuh dada Nando karena pria itu tidak bermassa, hawa dingin yang membalut tubuh astral Nando memberikan ilusi sandaran yang kokoh. Dan anehnya, Nando tidak memprotes. Pria itu membiarkan Luna beristirahat di dalam kungkungan energinya hingga kereta merayap memasuki Stasiun Bogor.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!