Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Istri yang Tertukar dan Pintu Merah Berdarah
Aku berdiri di sebuah lorong putih tanpa ujung. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada mual hamil. Tubuhku terasa ringan, mengenakan pakaian pasien rumah sakit modern.
Di depanku, ada dua "Jendela".
Jendela Kiri:
Kamar ICU Rumah Sakit di Jakarta, tahun 2024.
Aku melihat tubuh asliku (Kirana) terbaring kaku, penuh selang. Ibuku duduk di samping ranjang, memegang tanganku sambil menangis.
"Dokter bilang responsmu bagus, Nak... Bangunlah... Ibu masak sop buntut kesukaanmu..."
Dunia ini aman. Ada AC. Ada Netflix. Ada karirku sebagai Chef Hotel Bintang 5 yang menanti. Dan yang paling penting: Tidak ada risiko mati melahirkan karena teknologi medis canggih.
Jendela Kanan:
Kamar Tidur Utama Kediaman Maha Patih, Majapahit (Antah Berantah).
Aku melihat tubuh Tantri terbaring pucat. Arga... suamiku... sedang menangis terisak sambil memeluk kakiku. Wajah gagahnya hancur oleh air mata. Tabib Li tampak panik memeriksa nadiku.
Di dunia ini ada perang. Ada intrik politik. Ada risiko mati pendarahan saat melahirkan.
Tapi di sana ada Arga. Ada bayi Bara/Lestari yang sedang menendang pelan di dalam perut.
"Waktunya memilih, Jiwa Asing."
Suara tanpa wujud bergema di lorong putih itu.
"Tubuh di masa lalu itu menolakmu. Energi bayi itu terlalu murni, dia menginginkan ibunya yang asli. Jika kau memaksa kembali ke sana, kau akan membakar sisa nyawamu sendiri."
"Kau mungkin bisa bertahan sampai melahirkan. Tapi setelah itu... energimu akan habis. Kau akan mati. Musnah. Tidak bisa kembali ke masa depan, tidak bisa tetap di masa lalu."
Aku gemetar.
"Jadi... kalau aku kembali ke Arga, aku cuma punya waktu 3 bulan? Lalu aku mati permanen?"
"Benar. Tapi jika kau melangkah ke Jendela Kiri sekarang, kau akan sembuh total di tahun 2024. Kau akan melupakan semua memori tentang Majapahit. Arga, bayi itu, semuanya akan dianggap hanya mimpi koma."
Aku menatap Jendela Kiri. Ibu... Maafkan aku.
Lalu aku menatap Jendela Kanan. Arga sedang mencium tangan Tantri, memohon agar dia bangun.
"Tunjukkan padaku..." pintaku pada Suara itu. "Apa yang terjadi kalau aku pergi? Apa yang terjadi pada Arga kalau Tantri yang asli bangun?"
"Lihatlah."
[Dunia Nyata - Kamar Tidur Arga]
Di kamar yang remang-remang itu, jari-jari tangan "Tantri" mulai bergerak.
Arga langsung mengangkat kepalanya, matanya berbinar penuh harap.
"Tantri? Sayang? Kau dengar aku?"
Mata wanita itu terbuka perlahan.
Tapi sorot matanya... berbeda.
Tidak ada tatapan cerdas, hangat, dan jenaka yang biasa Arga lihat 6 bulan terakhir.
Tatapan itu kosong, bingung, dan... angkuh.
Wanita itu melihat sekeliling dengan panik. Lalu matanya tertuju pada Arga yang menggenggam tangannya.
"Lepaskan!" pekik wanita itu, menarik tangannya kasar.
Arga terkejut. "Tantri? Ini aku, Arga. Suamimu."
"Arga?" Wanita itu mengernyit jijik. "Kenapa kau ada di kamarku? Bukankah kau tinggal di barak? Kau bau keringat! Menjijikkan!"
Arga terpaku. Bau keringat? Kirana selalu bilang dia suka bau maskulin Arga.
Wanita itu mencoba bangun, tapi dia merasakan beban berat di perutnya. Dia melihat ke bawah.
Matanya melotot horor melihat perutnya yang buncit besar.
"AAAAAAA!"
Teriakan histeris menggema di kamar.
"Apa ini?! Kenapa perutku besar?! Apa aku kena penyakit busung lapar?! Atau tumor?!"
Arga mencoba menenangkannya. "Tantri, tenang! Kau hamil! Itu anak kita!"
"Hamil?!" Wanita itu menatap Arga nyalang. "Tantri yang Asli" telah kembali. Ingatannya berhenti pada malam badai bulan lalu saat Arga mabuk. Dia tidak ingat 6 bulan terakhir yang dijalani Kirana.
"Anak kita? Jangan gila! Kau cuma menyentuhku sekali karena mabuk! Aku tidak mau anak ini! Ini aib! Ini akan merusak bentuk tubuhku yang indah!"
Tantri asli memukul-mukul perutnya sendiri dengan histeris. "Keluarkaaan! Aku tidak mau jadi gendut! Aku mau pesta! Aku mau belanja!"
"HENTIKAN!"
Arga menangkap kedua tangan Tantri, menahannya agar tidak menyakiti bayi itu.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Wanita di depannya ini... fisiknya adalah istrinya. Wajahnya adalah wajah yang dia cium setiap malam.
Tapi jiwanya... jiwanya adalah monster asing yang dulu dia benci.
"Di mana dia..." bisik Arga, suaranya pecah. "Di mana istriku? Di mana Tantri-ku yang bisa masak? Di mana Tantri yang menemaniku perang? Di mana Tantri yang menyukai es puter?"
Tantri asli meludah. "Masak? Es puter? Kau gila ya? Sejak kapan Putri Selatan masuk dapur?! Itu pekerjaan babu!"
Arga melepaskan pegangannya. Dia mundur perlahan, menabrak meja.
Dia sadar sekarang.
Cerita tentang "Tangan Transparan" tadi...
Istrinya—wanita hebat yang dia cintai setengah mati selama setengah tahun ini—bukanlah Tantri. Dia adalah jiwa lain. Dan jiwa itu sudah pergi.
"Dia pergi..." Arga merosot duduk di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan. Tangisannya pecah. Tangisan seorang Jenderal yang kehilangan segalanya dalam satu malam.
Di atas kasur, Tantri asli masih berteriak-teriak minta pelayan membawakan korset untuk mengecilkan perutnya. Dia tidak peduli pada Arga yang hancur. Dia tidak peduli pada bayi di kandungannya.
[Kembali ke Ruang Antara]
Aku (Kirana) menutup mulutku, menangis melihat pemandangan itu.
Arga hancur.
Anakku... anak yang kujaga dengan segenap jiwa, dipukuli oleh ibunya sendiri. Tantri asli tidak akan merawatnya. Dia akan menelantarkannya, atau lebih buruk... membuangnya.
"Kau lihat?" kata Suara itu. "Itu takdir alamiahnya. Arga akan hidup menderita dengan istri yang tidak mencintainya. Anak itu akan tumbuh tanpa kasih sayang."
"TIDAK!" teriakku.
Aku menghapus air mataku kasar.
Aku menatap Jendela Kiri (Masa Depan). Selamat tinggal, Ibu. Selamat tinggal, karir Chef. Selamat tinggal, AC dan Wifi.
Aku tidak bisa menjadi pengecut yang lari ke zona nyaman sementara orang yang kucintai menderita.
"Aku kembali," kataku tegas pada Suara itu.
"Kau akan mati setelah melahirkan," Suara itu mengingatkan. "Sakitnya akan luar biasa. Kau menukar 40 tahun sisa hidupmu di masa depan hanya untuk 3 bulan di masa lalu?"
"Tiga bulan bersamanya lebih berharga daripada seratus tahun sendirian," jawabku mantap.
"Dan aku tidak akan membiarkan anakku dipegang oleh wanita gila itu."
Aku berlari kencang menuju Jendela Kanan.
Menembus batas kaca.
Menembus ruang dan waktu.
ARGA! TUNGGU AKU!
[Dunia Nyata - Kamar Tidur]
Tantri asli masih berteriak memanggil pelayan. "Sari! Mana Sari?! Ambilkan jamu peluntur janin! Aku tidak mau hamil!"
Arga yang duduk di lantai, perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi kini dingin. Tangannya meraba gagang keris di pinggangnya.
Pikiran gelap melintas.
Jika wanita ini akan membunuh anakku... lebih baik aku...
Tiba-tiba.
Tubuh Tantri di kasur tersentak hebat. Kejang.
Matanya mendelik ke atas.
Napasnya tersengal-sengal seolah sedang berebut oksigen.
"Argh... ugh..."
Lalu, tubuh itu jatuh terkulai lemas kembali ke bantal.
Hening sejenak.
Arga menahan napas. Apa dia mati?
Perlahan, dada wanita itu naik turun lagi. Teratur.
Matanya terbuka.
Kali ini, sorot mata itu sayu, lelah, tapi... hangat.
Wanita itu menoleh ke arah Arga yang duduk di lantai.
Dia tersenyum lemah. Senyum yang sangat Arga kenal.
"Jenderal..." bisiknya serak. "Jangan duduk di lantai... nanti masuk angin."
Arga terlonjak bangun. Dia menerjang ke tepi ranjang, menatap lekat-lekat mata itu.
"Tantri? Ini kau? Kau yang suka masak? Kau yang suka uang?"
Aku tertawa kecil, walau kepalaku rasanya mau pecah.
"Iya, Bodoh. Ini aku. Siapa lagi yang mau menikah dengan Jenderal Iblis yang cerewet sepertimu?"
"TANTRI!"
Arga memelukku erat. Erat sekali sampai aku susah napas. Dia menangis lagi, tapi kali ini tangisan lega.
"Jangan pergi lagi... Jangan pernah berubah jadi wanita gila itu lagi... Aku takut sekali..."
Aku membalas pelukannya, mengelus punggungnya yang bergetar.
"Aku di sini, Arga. Aku di sini."
Tanganku mengelus perutku.
Maafkan Ibu, Nak. Ibu usir pemilik aslinya. Kamu harus betah sama Ibu ya, walau cuma sebentar.
Malam itu, Arga tidak melepaskan pelukannya sedetik pun. Dia tidur sambil memegang tanganku, takut aku menghilang lagi.
Aku menatap langit-langit kamar.
Aku sudah membuat kontrak mati.
Sisa waktuku: 3 Bulan.
Misi terakhirku: Mempersiapkan segala hal untuk Arga dan anak ini agar mereka bisa hidup bahagia tanpaku.
Aku harus menulis Buku Resep Kehidupan setebal mungkin.
Aku harus memastikan bisnis Kedai Nusantara bisa jalan autopilot.
Dan aku harus... mencari calon ibu pengganti? Tidak. Itu terlalu menyakitkan.
Aku akan membuat kenangan sebanyak mungkin.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal