Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak
Xienna menarik napas panjang, membiarkan udara pagi yang dingin menenangkan sarafnya. Ia duduk di pinggiran ranjang, membelakangi Denzzel, sambil menarik selimut sutranya untuk menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda kepemilikan pria itu.
Denzzel baru saja hendak menyentuh bahunya lagi ketika Xienna menepis tangan itu dengan gerakan yang sangat elegan namun dingin.
Ia menoleh, menatap Denzzel dengan tatapan mata yang kembali tajam dan berwibawa topeng The Queen telah terpasang kembali.
"Jangan terlalu percaya diri, Denzzel," ucap Xienna, suaranya kembali datar dan terkendali. "Malam indah itu? Bagiku, itu tidak ada apa-apanya. Itu bukan tentang cinta, bukan tentang komitmen, apalagi tentang penyerahan diri."
Denzzel menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Kau tidak bisa membohongi tubuhmu sendiri, Xienna. Kau menikmatinya."
Xienna tertawa kecil, tawa yang penuh ejekan. "Tentu saja aku menikmatinya. Siapa yang tidak akan menikmati bagaimana perkasanya seorang Riccardo saat dia sedang kehilangan akal? Aku hanya menikmati sensasinya, Denzzel. Anggap saja itu sebagai kompensasi atas semua pengintaian gila yang kau lakukan padaku setahun ini. Tapi jika kau pikir itu memberimu hak atas jiwaku... kau salah besar."
Ia berdiri, berjalan menuju cermin besar dan menatap pantulan dirinya yang tampak berantakan namun tetap terlihat berkuasa. "Sekarang, pergilah lewat jalan yang sama saat kau masuk. Sebelum pengawalku benar-benar menemukanmu dan ayahku melakukan hal yang tidak bisa aku hentikan."
Keesokan harinya di kampus, suasana berubah menjadi sangat kaku. Jika sebelumnya Xienna dan Denzzel adalah musuh yang saling melempar tatapan tajam, kini ada dinding tak kasat mata yang jauh lebih tinggi dan tebal di antara mereka.
Xienna berjalan di koridor dengan pengawalan yang semakin ketat, enam pria berseragam kini mengelilinginya. Ia sengaja mengabaikan keberadaan Denzzel yang berdiri di dekat pilar kelas bisnis.
Denzzel, yang biasanya selalu mencoba mengintimidasi Xienna dengan kata-katanya, kini hanya diam. Ia menatap Xienna dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan, antara amarah yang tertahan karena harga dirinya disentil oleh kata-kata Xienna, dan obsesi yang semakin membara karena ia menyadari bahwa Xienna adalah lawan yang setara.
Mereka berada dalam satu ruangan kelas, namun tidak ada satu kata pun yang terucap. Xienna duduk di barisan depan, fokus pada catatannya seolah Denzzel tidak ada di sana.
Sementara Denzzel duduk di barisan paling belakang, terus-menerus memutar cincin di jarinya, memikirkan bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Xienna yang kini terasa jauh lebih kokoh setelah malam itu.
"Dia benar-benar membangun jarak yang gila," bisik Allen pada Denzzel saat melihat Xienna bahkan tidak melirik saat Denzzel lewat. "Kau apakan dia malam itu sampai dia bersikap seperti kau adalah orang asing yang tak kasat mata?"
Denzzel hanya menyeringai tipis, sebuah seringai yang mengandung rencana gelap.
"Dia pikir dia bisa menggunakan ku hanya untuk kepuasannya lalu membuang ku begitu saja? Dia tidak tahu bahwa setelah apa yang terjadi malam itu, jarak yang dia bangun hanya akan membuatku semakin ingin menghancurkan segalanya untuk sampai padanya."
Malam di Mansion Mapelli Mozzi terasa begitu mencekam. Kamar luas Xienna yang biasanya menjadi tempat perlindungan paling damai, kini berubah menjadi ruang interogasi bagi batinnya sendiri. Di luar kamar, pengawal berjaga dengan senjata tersampir, namun mereka tidak tahu bahwa ancaman terbesar bagi Xienna bukan berada di luar gerbang, melainkan di dalam kepalanya.
Xienna melempar cincin warisan yang dikembalikan Denzzel tadi pagi ke atas meja rias. Bunyi denting logamnya yang beradu dengan marmer seolah mengejeknya.
Ia mencoba memejamkan mata, namun setiap kali kelopaknya tertutup, kegelapan itu justru memutar kembali memori yang seharusnya ia musnahkan. Ia bisa merasakan kembali napas berat Denzzel di ceruk lehernya. Ia bisa merasakan kasar jemari pria itu yang mencengkeram pergelangan tangannya, mengunci posisinya di atas ranjang.
"Sialan kau, Riccardo," gumam Xienna, suaranya parau.
Ia menyibakkan selimut sutranya, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang tidak stabil.
Di bawah guyuran air dingin, Xienna berharap gairah yang membakar kulitnya akan padam. Namun, air dingin itu justru mengingatkannya pada betapa panasnya tubuh Denzzel saat mereka bersatu.
Xienna mulai kehilangan akal. Ia memukul dinding marmer kamar mandinya dengan kepalan tangan. Ia benci bagaimana tubuhnya mengkhianati logikanya. Logikanya berkata bahwa Denzzel adalah musuh, iblis yang harus ia hancurkan.
Namun, sel-sel di tubuhnya justru merindukan rasa sakit dan nikmat yang diberikan pria itu.
Ia teringat bagaimana Denzzel menatapnya di lapangan kampus tadi pagi, tatapan predator yang tahu persis bahwa mangsanya telah jatuh cinta pada racunnya sendiri.
Xienna keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan jubah tidur tipis. Ia berjalan menuju balkon, menatap lampu-lampu Paris di kejauhan. Tangannya menyentuh lehernya sendiri, tepat di titik di mana Denzzel meninggalkan bekas gigitan yang kini sudah memudar tapi masih terasa berdenyut.
"Kenapa harus kau?" bisiknya pada kegelapan malam.
Pikirannya mulai liar. Ia membayangkan jika saat ini Denzzel kembali masuk melalui balkon itu. Ia membayangkan rasa takut yang bercampur dengan keinginan untuk menyerah total. Xienna mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih. Ia merasa gila karena ia menyadari satu hal, ia tidak menginginkan Brandon, ia tidak menginginkan kebebasan dari ayahnya.
Ia menginginkan kegelapan yang dibawa oleh Denzzel.
Xienna kemudian mengambil botol wine dari meja kecil di sudut kamar, meminumnya langsung dari botol tanpa gelas. Ia butuh mati rasa. Namun semakin ia mabuk, bayangan Denzzel semakin nyata. Ia bisa mendengar bisikan Denzzel di telinganya:
"Kau milikku, Heiress. Dan kau menyukai setiap detiknya."
Malam itu, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi, sang ratu dingin dari Sorbonne, menangis dalam diam bukan karena sedih, tapi karena ia frustrasi dengan nafsu yang menghancurkan kewarasannya.
Ia menyadari bahwa Denzzel telah berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan siapa pun, ia telah menjajah pikiran Xienna, bahkan saat ia tidak sedang menyentuhnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰
simple tapi penuh makna