Prita Laura Kiehl, 27 tahun, Dia ini termasuk jajaran penyanyi papan atas tanah air. Sesekali jadi aktor. Tapi hanya untuk film dan film pendek. Selebihnya ogah!
Malas ribet.
Malas berurusan sama drama pertelevisian tanah air yang menye-menye. Selama ini, Prita tidak pernah memikirkan akan ke mana dan pada siapa hatinya berlabuh.
Tapi selama ini juga dia selalu meyakinkan diri bahwa ketika suatu hari nanti bertemu dengan pasangan hidupnya, dia ingin di kejar, di cintai ugal-ugalan, dan di perjuangkan.
Tapi sekarang, sepertinya itu tidak berlaku. Yang penting Mas Dokter mau jadi pacarnya. Titik!
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang dokter spesialis bedah sekaligus pewaris sebuah Rumah Sakit Swasta, Kian Samudra, 29 tahun.
Kisahnya bermula saat Prita mendapatkan peran sebagai seorang dokter bedah. Traumanya pada rumah sakit dan dokter membuatnya kesulitan untuk mengekspresikan diri.
Lalu bagaimana bisa kisah asmaranya akan berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RACAUAN PRITA
"Prita sudah tidur."
Kian keluar dari kamar Prita dan perlahan menutup pintunya rapat-rapat. Perlu waktu sekitar satu setengah jam bagi Kian untuk meyakinkan Prita dan menenangkannya agar mau mendengarkan apa yang ingin Kian utarakan. Sangat sulit, sebab Prita tak mau di sentuh oleh Kian.
Meski belum bertemu kata sepakat, tapi Kian pada akhirnya lebih memilih memberi Prita obat penenang agar Prita bisa tidur dan tidak meracau lagi.
"Gue kotor banget, Dokter Kian."
"Gue hidup aja kayaknya udah enggak pantes."
"Apa yang mau lo beli dari gue? Udah enggak ada yang bisa gue jual ke lo."
"Lo jauh-jauh deh dari gue."
"Gue janji nggak bakalan gangguin Lo lagi."
"Lo pantes dapat yang jauh lebih baik."
"Apa gue mati aja ya?"
"Kayaknya mati lebih baik buat gue."
"Mas Kian gue takut."
"Gue takut banget, Mas Kian..."
"Mas Dokter..."
"Dokter Kian."
Dan masih banyak racauan dan Kian Kian lainnya tadi.
"Saya harus pulang."
Kian menolak saat Kristina mempersilakannya untuk duduk.
"Besok saya ke sini lagi. Bawa cek. Dan pastikan semua urusan Prita untuk saat ini selesai," lanjutnya.
Kristina mengangguk. Tak henti-henti ucapan terima kasih dia haturkan untuk Kian. Sungguh, kenapa sejak dulu dia tidak terpikirkan bahwa dirinya punya teman kaya raya ya?
Padahal ia tau, Kian ini terkenal baik hati dan tidak sombong. Pasti tidak akan segan membantu.
"Kian," Kristina mendadak mendapat keyakinan. "Lo kayaknya memang harus nikahin Prita," ucapnya tanpa ragu.
Padahal dua hari lalu, justru dia yang ragu. Takut menyalahgunakan kebaikan Kian.
"Alasannya?"
Kian bertanya dengan senyum tipis. Padahal dia sudah tahu apa alasannya. Tapi ingin mendengar saja dari Kristina.
Apalagi kalau bukan —
"Uang." Kristina menjawab jujur. "Dan wali."
Lanjutannya itu yang cukup membuat Kian tertarik. Keningnya sedikit berkerut.
"Wali?"
Kepala Kristina terangguk.
"Prita butuh wali baru agar nggak lagi dieksploitasi. Karena selama ini walinya dia, ya ayahnya sendiri."
Oh .... Kian manggut-manggut. Garis besarnya sudah dapat Kian tangkap sekarang.
"Syarat Prita bisa lepas dari Pak Dharma hanya dua."
Kristina melanjutkan. "Membayar jumlah yang nggak kira-kira itu, dan punya wali baru. Menurut gue, lo orangnya."
“Kamu yakin, dengan Prita punya wali baru, itu bisa bikin dia keluar dari eksploitasi gila agensinya?”
“Yakin!” Kristina mengangguk pasti. “Asal walinya orang seperti lo, pasti bisa.”
Kian paham maksud Kristina. Karena memang faktanya, butuh kedudukan yang lebih tinggi dan uang yang banyak untuk mengalahkan sebuah kekuatan. Dan orang sepertinya, punya keduanya.
*****
Selepas dari apartment Prita, Kian memutuskan untuk pulang ke Mansion. Ke rumah orang tuanya. Bukan ingin bertemu papi atau kakek, tapi mami.
Ini masih jam kerja untungnya, jadi Kian tahu kedua orang yang dia hindari itu pasti sedang tidak berada di rumah.
"Silakan, Den." Pintu gerbang terbuka.
Satpam mempersilakan Kian masuk bersama mobilnya yang langsung diparkir di garasi rumah.
Kedatangan si Tuan Muda yang sangat amat jarang itu, kontan membuat pengurus rumah — Bik Ratih — heboh memanggil majikannya.
"Buuu. Ibu. Ada Den Kian."
"Kian?" Mami yang sedang meditasi yoga, langsung melejit bangkit mendengar laporan dari Bik Ratih.
"Bener Kian, Bik?" tanyanya lagi memastikan. Dan begitu Bik Ratih mengangguk, mami langsung bergegas menuju ruang tengah, sebab pasti Kian ada di sana.
Mami Sofia ini sudah rindu sekali pada anak semata wayangnya ini. Jarang pulang dan susah dihubungi. Super super sibuk.
Makanya mami suka menaruh mata-mata supaya dapat foto terbaru Kian setiap saat. Untungnya Kian tidak keberatan meskipun ia tahu. Yang penting tidak mengganggu aktifitas kerjanya.
"Halo, Sayang Mami."
Mami langsung memeluk Kian yang sedang memijit-mijit pelan pangkal hidungnya.
"Mi."
"Kamu dari mana? Kok kayaknya lecek banget? Belum mandi ya? Tumben banget jam segini belum mandi dan udah ke sini? Kamu enggak kerja?"
Berondongan pertanyaan basa basi mami menyembur bagaimana saluran air mampet yang baru saja di lepaskan penyumbat nya.
Sebenarnya Mami Sofia selalu tahu Kian pergi ke mana saja. Tapi yang namanya orang tua, pasti tetap akan bertanya. Lagian, mami kan juga penasaran.
Ini masih jam 9 pagi loh. Tumben banget bocah nggak kerja.
"Mi, saya mandi dulu boleh?"
Kian itu hanya bisa bicara lembut kalau sama mami saja. Kalau sama yang lain, beuuuh... sinis, dingin, bahkan tidak mau bicara.
"Boleh. Boleh." Mami mengangguk-angguk ceria.
"Kamu mau Mami siapin makanan enggak? Laper nggak, Nak? Belum makan kan?"
Mami itu cerewet sekali. Entah Kian yang irit bicara ini menurun dari siapa. Karena Papi pun orangnya supel dan friendly.
"Apa saja boleh." Kian menjawab sambil berdiri.
"Kalau bisa, minta tolong Bik Ratih antar ke kamar ya Mi. Saya mau istirahat sebentar. Nanti saya susul Mami ke gazebo."
Mami melongo sambil tetap mengangguk-angguk.
"Serius ini Mami di anggurin?"
"Maaf ya, Mi. Tapi saya ngantuk banget. Saya tidur sebentar saja. Ya?"
Mami lagi-lagi hanya mengangguk dan tidak lagi bertanya hingga Kian berlalu dan menghilang di pucuk tangga.
"Tumbenan ngomong banyak, jelas dan terperinci lagi," gumam mami.
Pasti ada yang gawat!
Benar-benar asumsi ibu-ibu dengan segala pikiran negatif dan kekhawatiran yang tak bisa di pungkiri melekat di benaknya.
...****************...
Kasian banget Dokter Kian sampe kurang tidur loh jagain Emprit kumat ngelantur semalaman.
Dukung terus yuk kisah mereka dengan like komentar dan subscribe. Terimakasih🥰
(di korsel, udah berapa banyak yg bundir karena 3 hal itu🥺)
kasihan prita entar merasa di PHPin teyus 😭
semoga setelah dpt psikiater pribadi ini prita bisa sembuh dn semakin membaik...