ARC 1 - Reruntuhan Kuno Dimensi ~ END
Sekte Qingyun adalah salah satu dari sekte-sekte besar di benua itu. Murid-muridnya berbakat, dengan kekuatan mereka masing-masing mereka berlomba-lomba untuk menjadi lebih kuat mencapai puncak di sekte itu.
Namun, ada seseorang yang tak bisa melakukan semua itu... Yun Zhi namanya, dia memiliki tubuh yang begitu lemah, membuatnya tak bisa berkultivasi seperti yang lain. Sampai pada akhirnya ia ditemukan dengan wanita cantik yang akan membuatnya lebih kuat.
Ini akan menjadi perjalanan panjangnya, yang terlemah menjadi yang terkuat.
BUAT YG MAU NANYA "KAPAN MC-NYA OP?" MCNYA OP DI BAB 20AN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Fondasi Sempurna
Roda waktu telah berputar genap satu putaran penuh. Satu tahun yang hening, satu tahun yang penuh gejolak di bawah permukaan.
Di atas Lautan Abadi, yang permukaannya serupa cermin tanpa riak, ketenangan itu akhirnya pecah. Energi agung yang terpendam di kedalamannya mulai bergolak, memuntahkan pilar cahaya keperakan yang menembus sembilan lapisan langit. Aura purba yang menyesakkan dada—Energi Qi yang begitu murni dan dahsyat—mengguncang dunia. Ini bukanlah fenomena alam biasa; ini adalah simfoni kelahiran seorang ahli. Seseorang tengah merobohkan gerbang ranah kultivasi yang lebih tinggi.
Nama itu adalah Chen Ling'er. Sang Pedang Keras dari Sekte Pedang Immortal, seorang wanita yang reputasinya ditempa dari keajaiban dan kekuatan, yang konon tebasan pedangnya mampu membelah gunung dan memisahkan lautan.
Pilar energi itu tak lagi tertahan; meledak bagaikan nova perak, memancarkan gelombang kejut spiritual yang menyapu bersih kabut di cakrawala. Dari episentrum cahaya yang membutakan itu, sesosok siluet perlahan turun. Ia melayang, jubah putihnya berkibar tanpa angin, setiap helai rambut hitamnya menari dalam cahaya spiritual. Parasnya, yang kini memancarkan cahaya spiritual samar, lebih menyerupai dewi es daripada manusia. Ialah Chen Ling'er. Ia telah tiba, berhasil menginjakkan kaki di Ranah Nascent Soul yang legendaris.
Dari kejauhan, dua berkas cahaya melesat menembus udara, mendarat dengan keanggunan seorang kultivator beberapa langkah di hadapannya. Mereka membungkuk dalam-dalam, rasa hormat dan kagum terpancar jelas dari mata mereka.
"Selamat pada Kakak Ling'er, karena telah menerobos Nascent Soul," ucap mereka bersamaan, suara mereka serempak dan tulus.
Chen Ling'er, bagaimanapun, mengabaikan sejenak ucapan selamat itu. Ia perlahan membuka telapak tangannya yang seputih giok. Di atas kulitnya yang sempurna, kini terukir beberapa retakan halus berwarna merah darah—bekas luka dari energi yang memberontak saat ia menerobos paksa. Sebuah pengingat menyakitkan akan harga sebuah kekuatan. "Ini benar-benar parah," batin Chen Ling'er, nadanya dingin dan analitis.
Matanya yang tajam kemudian terangkat, menatap dua yuniornya. "Qing Chu, Ning Xin'er. Kita pergi dari sini sekarang juga, waktu telah berlalu tanpa disadari. Cepat!" Perintahnya tegas, tanpa ruang untuk bantahan.
Qing Chu dan Ning Xin'er hanya menjawab singkat, "Baik!"
Tanpa sepatah kata lagi, mereka bertiga berubah menjadi tiga bintang jatuh, melesat pergi dari Lautan Abadi, meninggalkan tempat itu yang kembali sunyi, seakan tak pernah terjadi apa-apa.
...---...
Jika Lautan Abadi adalah perwujudan ketenangan yang beku, maka di seberangnya, terpisahkan oleh jarak yang tak terukur, Lembah Api adalah neraka yang hidup. Udara bergetar oleh panas, bebatuan meleleh, dan lahar mendidih mengukir sungai-sungai baru di tanah yang hangus.
Jauh di jantung neraka ini, di dalam gua yang tersembunyi di balik air terjun magma, sesosok pemuda duduk bersila. Selama setahun penuh, Yun Zhi bukan lagi sekadar menyerap energi api; ia menjadi api itu sendiri.
Alih-alih satu ledakan besar dan agung seperti Chen Ling'er, terobosan Yun Zhi adalah serangkaian dentuman yang tak terputus.
Boom! Boom!
Setiap ledakan energi Qi adalah penghancuran dan penciptaan kembali. Meridiannya hancur luluh, lalu ditempa kembali lebih kuat oleh api murni. Ledakan itu berlangsung lama, mengguncang seluruh lembah, sebelum akhirnya mereda.
Bebatuan gua itu hancur berantakan. Dari dalam debu dan uap, Yun Zhi melangkah keluar. Uap mendesis dari kulitnya yang kini memancarkan cahaya tembaga redup.
Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan, menari liar ditiup angin panas. Wajahnya masih pemuda yang sama dari setahun yang lalu, namun matanya... api emas kini membara di kedalamannya, memancarkan kedewasaan yang ditempa oleh penderitaan. Namun ada hal yang berbeda, yaitu ia kini...
Di hadapannya, bersandar dengan santai pada sebongkah batu obsidian, sesosok wanita menunggunya. Kehadirannya yang dingin dan misterius adalah satu-satunya hal di lembah itu yang tidak tersentuh oleh api.
"Tianqiong, aku telah mencapai Foundation Establishment Pondasi Sempurna," ucap Yun Zhi. Suaranya serak, namun stabil laksana batu karang.
Senyum tipis yang langka terukir di bibir Tianqiong. Sebuah senyuman yang mengandung apresiasi, sedikit keheranan, dan nostalgia yang tersembunyi. Ia benar-benar tidak percaya ini. Dalam hatinya, ia menertawakan takdir. Anak mentah yang setahun lalu bahkan tak mengerti cara menggunakan 'Tubuh Tertinggi' miliknya, kini telah benar-benar menempa dirinya dalam api dan lahir kembali sebagai kultivator sejati.
"Semua teknik yang kuberikan sebelumnya, sudah kau kuasai?" tanyanya pada Yun Zhi, nadanya begitu lembut, menenangkan hati seperti oase di tengah gurun api. Kemudian, dengan gerakan selembut sutra, ia melemparkan satu set jubah hitam baru pada Yun Zhi.
Yun Zhi menangkap jubah itu, menutupi tubuhnya yang penuh dengan bekas luka baru yang saling bersilangan dengan yang lama. "Yah, aku berhasil melakukannya. Bertarung dengan teknik yang sedikit itu cukup sulit. Karena itulah aku harus bisa menguasai semuanya."
"Tidak terlalu buruk," Tianqiong mengakui. "Namun untuk menguasai teknik akan ada kemungkinan gagal jika terburu-buru. Jadi terkadang kau harus berhenti sejenak untuk memahami teknik lebih dalam."
Ia kemudian bangkit dan memilih batang kayu yang telah hangus sebagai tempat duduk. Postur tubuhnya yang seksi, lekuk sempurna yang dibalut gaun hitamnya, tampak kontras namun menyatu dengan kehancuran di sekelilingnya. Mata hitamnya sedalam jurang, seakan bisa menelan segala cahaya dan api.
"Satu tahun telah berlalu. Bukan waktu yang singkat. Untuk mencapai puncak maka harus lebih kuat lagi!" Yun Zhi mengepalkan tangannya, tekad membara di matanya, lebih panas dari lahar di bawah kakinya. Wajahnya serius.
Tianqiong memiringkan kepalanya, sedikit kebingungan—atau mungkin, tertarik—dengan obsesi pemuda itu. "Kenapa kau begitu terpaku dengan puncak. Apa yang ingin kau capai?"
Yun Zhi menatap ke kejauhan, ke langit yang berwarna merah darah. "Suatu tempat dimana aku berdiri sendiri, tanpa ada orang lain diatasku. Aku ingin berdiri di puncak, mendapatkan kebebasan."
Seketika, udara di sekitar Tianqiong seakan membeku. Jawaban itu, begitu naif namun begitu tulus, adalah gema dari sesuatu yang telah lama terkubur dalam ingatannya. Pandangannya menembus Yun Zhi, seakan melihat masa lalu yang jauh.
"Jika mencapai puncak, maka akan mendapatkan kebebasan, yah." Batin Tianqiong, mengulangi kata-kata itu. 'Kebebasan...' bisiknya dalam hati. 'Harga untuk kata itu... jauh lebih mahal daripada puncak manapun.'
Ia hanya menghela nafas panjang, hembusan yang membawa sisa-sisa melankoli yang tak terucap. Tanpa kata lagi, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, melangkah bersama, meninggalkan lembah yang membara itu. Satu menuju puncak yang ia dambakan, dan satu lagi... mungkin, mencari sesuatu yang telah lama hilang.