Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.
Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.
Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14-Kesepakatan
“Karena Kakak enggak mau makan sama gadis kambing.”
Episode 14-Kesepakatan
Reza kembali membukakan pintu mobil di mana Jelita duduk di dalamnya. Bak pangeran yang tengah mengawal seorang putri, pria itu begitu gesit meminta tangan Jelita agar tidak sampai terpeleset. Meski, ia akui debaran hatinya enggan teratur sejak tadi.
Reza menghela napas panjang, tetapi secara diam-diam. Ia mencoba memberikan ketenangan atas ketegangan yang meliputi dirinya saat ini, sesaat setelah gadis pujaannya berhasil keluar.
“Ma-mari, Nona,” ucap Reza begitu manis.
Jelita mengulas senyuman. “Terima kasih, Tuan,” jawabnya sama manisnya.
Lalu, kedua sejoli itu berjalan serempak memasuki restoran. Rasa canggung masih setia bergelayut di antara keduanya. Canggung yang membuat keduanya memilih membisu sembari melangkah mencari tempat nyaman untuk bersantap siang itu.
Juga, bagi Jelita yang detik ini merasakan sesuatu yang tidak biasa dialami oleh hatinya. Bahkan, sejak tadi ia sama sekali tidak kuasa menatap wajah Reza yang gembul, terlebih kedua manik mata pengacara muda itu. Entah! Jelita hanya menduga bahwa perasaan aneh itu muncul sebab jatuh cinta.
Benar, jatuh cinta? Mengingat itu, Jelita terpaksa menelan saliva. Masih teramat sulit untuk ia percayai, mengingat kedekatannya dengan Reza baru terhitung beberapa hari. Bukankah cukup aneh, jika perasaan cinta justru muncul meliputi hati? Kendati, ia sudah mengenal Reza sejak lama sekalipun, tetapi terhitung sebentar ia berbincang dengan Reza.
“Ah ...!” keluh Jelita, pelan.
“Kenapa, Dek? Kamu pusing?” tanya Reza sesaat setelah ia mendengar lirihnya gumaman yang keluar dari bibir Jelita.
Gadis itu sontak menggeragap, sekaligus salah tingkah sebab tidak menyangka Reza mendengar keluhan tipisnya.
“En-enggak kok, Kak,” kilah Jelita.
Reza menggerakkan tangannya, ia menarik salah satu kursi dari meja makan yang telah ia pilih. Lalu, ia berkata, “silakan duduk, Nona Muda.”
Jelita tersipu detik itu juga. Sikap Reza yang lembut sukses menambah debaran hatinya yang sudah ada menjadi lebih kencang lagi. Hal tersebut membuatnya kikuk sekaligus bingung harus bersikap bagaimana lagi.
“Dek? Kok diem?” tanya Reza, lantaran Jelita tidak kunjung mengambil posisi duduk pada kursi yang telah ia tarik.
Gadis itu sontak terkesiap. “Ma-makasih, Kak,” ucapnya gelagapan diiringi gerakan badan—menyisip—di antara kursi dan meja makan. Lalu, ia duduk seiring helaan napas panjang, berharap hatinya tetap tenang.
Reza memanggil salah satu pelayan yang bertugas. Memintanya untuk datang.
Sebuah buku menu disodorkan pada Reza juga Jelita oleh sang pelayan. Beberapa menu mewah dan tentu saja lezat tersaji di sana. Namun, hal itu justru membuat Jelita bergeming bimbang. Beberapa menu yang menyajikan daging, dan beberapa makanan berlemak lainnya. Bisakah ia memesan salah satu dari mereka? Sedangkan ia sangat menghindari berikut santapan-santapan berlemak itu.
Jelita menelan saliva. Ingin ia memesan salad sayur layaknya tadi malam, tetapi bagaimana jika Reza jijik padanya? Ya, Jelita takut ia dianggap gila sebab trauma masih meliputi hatinya.
“Dek? Jangan ragu, pesan apa yang kamu mau. Kalau sama Kakak yang gendut ini, jangan sekali-kali kamu sungkan memesan makanan,” ucap Reza, berharap kalimatnya bisa menghalau setiap keraguan yang saat ini mendera gadis di hadapannya.
Jelita kembali menelan saliva. Jari-jarinya kompak mencengkeram buku menu kuat-kuat. “Aku takut, Kak," lirihnya.
Reza menatap manik mata gadis itu. “Jangan takut, sekali-kali enggak akan berpengaruh kok, Dek. Kalau kamu masih pesan makanan kambing, Kakak bakalan marah karena kamu jatuhnya sedang nyindir Kakak.”
“Makanan kambing?” Dahi Jelita berkerut samar.
“Daun-daunan yang dikocok sama mayo, bukankah sama kayak makanan kambing? Gimana bisa kamu makan kayak gitu, kamu mau disamakan kayak kambing?”
“Mana ada kambing secantik aku? Yang bener aja, Kak!” Jelita mendengkus sebab tidak terima dengan pernyataan pengacara muda itu.
Reza terkekeh kecil. “Nah, kalau gitu kita buat kesepakatan gimana?”
“Kesepakatan?” tanya Jelita, dahinya kembali berkerut samar.
Reza berangsur mengangguk. “Mm ... kalau sama Kakak kamu harus makan yang enak-enak!”
“Hmm? Kenapa Jeli harus mengikuti kesepakatan itu?”
“Karena Kakak enggak mau makan sama gadis kambing.”
“Hah?! Ih, jangan seenaknya nyebut Jeli kayak gitu, Kak! Udah Jeli bilang, enggak ada kambing secantik Jeli!”
Jelita semakin menggerutu sebab sebutan itu tidak bisa ia terima sama sekali. Bibirnya mengerucut, sesekali ia gumamkan dengkusan sebal. Namun, ulahnya sukses membuat Reza tertawa geli. Gadis itu terlihat sangat imut di matanya, kendati dalam keadaan marah-marah. Ya, namanya orang yang tengah dilanda jatuh cinta.
Pada akhirnya, Jelita memesan steak sapi. Mau tidak mau, ia menuruti kesepakatan yang telah Reza buat. Ia akan melawan, melawan ketakutannya sendiri. Juga, ia tidak mau jika Reza merasa tidak nyaman ketika sedang makan bersamanya. Urusan kalori, ia akan membuangnya dengan olahraga setelah pulang nanti.
“Kak, soal semalam, maaf ya?” ucap Jelita.
Reza berangsur menatap wajahnya. “Maaf lagi?” balasnya.
“Mm ... Jeli justru bikin repot Kakak.”
“Eng ... ka-kalau di-direpotin kamu, enggak apa-apa, kok!” Reza mengusap tengkuknya sebab rasa malu mengepung hatinya setelah berusaha mengeluarkan pernyataan itu.
Jelita tersenyum. “Makasih, Kak, rasanya akhir-akhir ini Kakak selalu datang pas Jeli sedang enggak baik-baik aja.”
“Al-alhamdulillah, Dek. Be-berarti, Kakak emang ...." Reza menelan saliva, ia tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
“Emang apa, Kak?”
“En-enggak apa-apa kok, Dek.”
Perbincangan mereka terhenti, sebab pelayan sudah datang kembali. Dua menu yang serupa, dua botol air meniral, jus mangga dan alpukat diletakkan di hadapan Reza dan Jelita. Tentunya dengan pelayan teramah dari sang waitress restoran tersebut.
Jelita menghela napas panjang. Menatap hidangan steak daging dengan gusar. Ia menghitung-hitung jumlah kalori juga lemak yang terkandung di dalam daging itu.
Gimana kalau aku gendut? Tapi, aku enggak mau bikin Kak Reza enggak nyaman.
Tiba-tiba, tangan Reza terulur—meraih piring Jelita. Pria itu mengiris kecil-kecil steak yang ada di atasnya. Dengan telaten dan penuh kesabaran.
Ulah Reza sukses membuat Jelita semakin kewalahan karena hatinya. Debaran jantung kembali ia rasakan, meski sempat teratur berkat gurauan.
“Makan, Dek, pelan-pelan. Nikmati aromanya, bulir yang ada di dagingnya. Jangan mikirin yang lain-lain,” ucap Reza sembari mengembalikan santapan itu pada pemiliknya.
Jelita masih terpaku pada manik mata pria itu. Lalu, senyum terulas manis di detik berikutnya.
“Dek, jangan malah lihatin Kakak. Jadi malu nanti,” ucap Reza seiring rona merah menghiasi kedua pipi gembulnya.
Jelita tertawa kecil.
“Kak?”
“Hmm?”
“Kakak mau jadi suami Jeli, enggak?”
Reza sontak tersedak daging yang hampir ia telan. Melihat respon itu, Jelita gesit mengambilkan air mineral yang juga turut di pesan. Lalu, ia menyerahkannya pada pria yang baru saja ia lamar.
Reza terengah. Masih tidak percaya, sekaligus bagai mimpi mendapat lamaran yang entah benar atau tidak dari gadis di hadapannya itu.
“Jeli, kalau becanda jangan keterlaluan, kenapa?” ucap Reza sesaat setelah mengatur napasnya.
“Jeli serius, Kak. Mana ada becanda,” balas Jelita diiringi gerak malu-malu, meskipun ucapannya begitu berani.
Reza mengembuskan napasnya secara kasar melalui mulutnya. “Kamu emang unik, Dek. Selalu berhasil bikin Kakak jantungan. Tapi, ... permintaan kamu jatuhnya seperti sebuah lamaran. Jangan sembarangan, Nona Muda!”
Jelita mendesis. “Jadi, Kak Reza enggak mau jadi suami aku?!” tanyanya lantang.
Reza tidak menjawab lagi. Ia memilih kembali pada santapan siangnya. Kendati, debaran hatinya begitu menyiksa sebab lamaran dari Jelita. Namun, ia tetap menepis permintaan gadis itu. Toh, hanya ungkapan yang bisa saja dianggap canda. Reza tidak ingin terburu-buru, meski sejatinya ia benar-benar mau.
“Kakak! Jeli serius!” pekik Jelita sebab kesal lantaran Reza justru mengabaikannya.
Reza tidak mengubah sikapnya. Namun, ia tetap berkata, “makan dulu, Dek.”
“Ck! Padahal, Jeli udah berusaha buang rasa malu demi melamar Kakak.”
“Hmm ... nanti Kakak pertimbangin, ya? Setelah kamu enggak jadi gadis kambing lagi.”
“Ih! Jeli bukan gadis kambing, Kak!”
“Makanya makan dulu, buktiin kalau kamu bukan gadis kambing.”
“Hmm!”
Mau tidak mau, Jelita meraih piringnya. Daging-daging yang telah dipotong kecil oleh Reza, berusaha ia masukkan ke dalam mulut.
Enak!
****
Jempulnya, ya, Guys!
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.
bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.