Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sontak Reza meminta Cantika untuk tetap menunggunya di luar, karena Reza akan menemuinya di sana.
Maira juga langsung bersembunyi di kamarnya.
“Maaf, Pak, dadakan,” sapa Cantika saat bosnya itu menemuinya di depan rumah.
“Oke, nanti saya baca dan tanda tangani berkasnya. Terima kasih ya,” ucap Reza bermaksud meminta sekretarisnya untuk pulang.
Dengan nyengir, Cantika seolah bertanya apakah ia tak dipersilakan masuk. Namun, Reza seakan tak peka. Dengan berat hati, Cantika berpamitan pulang.
Namun, saat akan masuk ke dalam mobilnya, ia tak sengaja melihat seorang perempuan yang berdiri di dekat jendela.
Melihat Cantika yang terus melihat ke arah salah satu kamarnya, Reza segera memintanya untuk pulang.
###
Pagi ini, Vany kembali menemui Reza di rumahnya, kali ini ia ingin bermain bersama Alisha.
Karena Alisha juga sedang tak tidur, Vany bisa bermain bersamanya. Reza pun mau tak mau mengantarkannya ke kamar Alisha. Kedatangan Vany membuat Maira ingin menjauh darinya. Namun, karena Vany berada di kamar Alisha, tentu ia tak bisa istirahat di kamar, karena tak mungkin ia akan beristirahat di kamar Reza. Ya, karena Maira masih sering tidur di kamar Alisha.
Tak ada tempat untuk sendiri di dalam rumah, Maira pun menunggu hingga Vany pulang, di taman yang tak jauh dari rumahnya.
Di bangku taman, Maira mulai melamun. Ia sempat mengamati sikap Vany saat bertemu Alisha. “Aku tahu, sikapmu seperti seorang perempuan yang sedang mendekati anaknya, untuk mengambil hati ayahnya.”
Pembahasan tadi pagi dengan Reza juga membuatnya kembali merenung. Air matanya tak sadar menetes pelan. Entah apa yang sedang Yang Maha Kuasa rencanakan untuknya. Di usianya saat ini, seharusnya ia masih bisa menikmati masa mudanya, juga menikmati masa-masa mengejar karir. Namun, yang terjadi justru ia harus menerima takdir pernikahan yang entah akan bagaimana ujungnya.
Perlahan ia mulai menyesal telah menerima pernikahan ini. Ia pikir dengan siri, suatu saat jika berpisah ia masih bisa menikah lagi dengan siapa pun yang ingin meminangnya. Tetapi sepertinya tak akan semudah itu. Jika suatu saat ia jadi bercerai dengan Reza, akan kah masih ada lelaki yang menerima statusnya sebagai janda, sekali pun pernikahannya saat ini hanya sebatas siri.
Namun, jika mengingat Alisha, terkadang penyesalannya mereda. Ia lebih kasihan jika Alisha diasuh oleh orang lain. Baik itu oleh pengasuh atau mama barunya. Apalagi, jika sampai terjadi kelalaian, karena tak mudah bagi orang lain yang tanpa ikatan apa pun, harus mengurus bayi yang bukan siapa-siapanya.
Disekanya air mata yang seakan tak ingin berhenti.
“Kuat, Ra, kuat. Kak Nindy akan bahagia melihat anaknya aman di tanganmu. Tidak apa-apa aku berkorban, Kak Nindy juga pernah mengorbankan masa mudanya untuk membiayai kehidupan kami. Ya, aku baik-baik saja demimu, Kak.”
Tak sadar, ada seorang lelaki yang dari tadi mengamatinya.
“Aku antar pulang yuk, Ra.”
Maira pun menoleh ke arah suara. “Dion?”
Ia seakan bertanya-tanya mengapa Dion bisa ada di sini.
Dion lalu menjelaskan bahwa ia tak sengaja ingin melewati rumah Maira, namun ia malah melihat Maira keluar rumah dan berjalan menuju taman.
“Ada masalah, Ra?” tanya Dion penuh perhatian.
Maira menunduk lalu mengangguk.
“Seperti yang kamu tahu dari Sasa, tentang rumah tanggaku, Di. Hanya kalian, temanku yang tahu kalau aku sudah menikah, karena memang pernikahan ini tak ingin diketahui banyak orang, paling cuma tetangga agar tak ada salah paham. Tapi ya, begitu. Pernikahan tanpa cinta dan diam-diam selalu akan menemui banyak masalah,” ucap Maira tak ingin secara detail menceritakan masalahnya.
Dion pun menghibur Maira, bahwa ia bisa menjadi pendengar yang baik bila Maira ingin bercerita. Ia juga bisa menjadi orang yang selalu ada jika Maira membutuhkannya. "Kalau sedang suntuk, boleh panggil aku, kita bisa jalan-jalan. Mas Reza tak masalah, ‘kan? Dia sendiri ‘kan juga suka pergi sama teman perempuannya. Seperti katamu, kalian tidak melibatkan perasaan dalam pernikahan siri ini, hanya demi Alisha.”
Maira hanya bisa terdiam mendengar ucapan Dion. Namun dalam hatinya berisik. “Seharusnya begitu, Di. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.”
“Ra, kok diam?” tegur Dion yang melihat Maira melamun.
Dion lalu menawarkan mengantarnya pulang, atau Maira ingin diantar ke suatu tempat yang ia mau. Maira menolaknya, ia tak ingin Dion kembali dilibatkan dalam perdebatannya dengan Reza, karena suaminya itu pasti akan menegurnya bila Dion mengantarnya pulang. Maira meminta Dion pulang saja, karena ia juga ingin pulang sendiri sambil berjalan-jalan santai.
Sedikit senyuman tersirat pada wajah lelaki tampan itu. Ia menghargai keputusan Maira yang tak mau diantarnya. Dion pun berpamitan pulang.
“Hati-hati ya, Ra. Sampai jumpa.”
Maira tersenyum mengangguk, dan berjalan pergi meninggalkan taman.
Sampai rumah, ia melihat Vany yang sepertinya sedang berpamitan ingin pulang. Syukurlah, ia bisa segera beristirahat di kamar Alisha. Namun, ada pemandangan yang seakan menusuk hatinya. Kala melihat Vany berpamitan sembari memeluk suaminya.
Melihat Maira yang akan masuk ke dalam rumah, Vany melepaskan pelukannya karena malu. Ia lalu juga berpamitan dengan Maira. Maira pun hanya tersenyum lalu masuk ke dalam.
“Susah-susah aku jaga hati, menjaga jarak dengan Dion, padahal dia temanku sendiri. Tapi Mas Reza malah pasrah saja dipeluk perempuan lain. Oke, kalau memang maunya begitu!” omelnya dalam hati.
Tak lama, Reza mengejar dan memanggil-manggilnya. “Ra, kamu dari mana?”
“Jalan-jalan ke taman sebentar, takut ganggu kalau di sini,” jawabnya datar.
“Ra, dia hanya berpamitan saja,” jelas Reza yang seakan tak diindahkan oleh istrinya itu.
“Ra,” panggil Reza lagi.
Ia kemudian meminta maaf jika Maira tak suka melihatnya, ia hanya ingin menjelaskan agar istrinya itu tidak salah paham.
“Tidak apa-apa kok, Mas. Lakukan apa yang kamu mau, jangan pikirkan aku. Santai saja. Seperti yang aku bilang, ikuti saja alurnya. Kalau pun kamu akan menyukainya, aku tidak masalah. Sepertinya, dia sering menemuimu karena dia suka denganmu. Aku rasa dia juga lebih tepat menjadi mama baru untuk Alisha dari pada si Cantika yang judes itu,” jawab Maira santai lalu menutup pintu kamar.
Reza dengan cekatan menahan pintu itu agar tak jadi tertutup. Ia tak ingin Maira berpikiran sejauh itu. Ia lalu mengajak Maira ke kamarnya jika memang Maira mau beristirahat, karena Alisha baru saja tidur dan dia aman bersama baby sitternya. “Ayo, Ra.”
Reza setengah menarik tangan Maira dan memaksanya mengikuti dirinya menuju kamarnya.
Reza mempersilakan Maira untuk tidur, karena ini lah kesempatan istrinya itu untuk istirahat setelah sering begadang menjaga Alisha. Meski kesal, Maira mengikuti ucapan suaminya. Ia pun merebahkan tubuhnya menghadap ke samping membelakangi Reza yang berdiri di seberangnya, lalu ia memejamkan matanya sejenak.
Sementara Reza, terus mengamati Maira yang tampak sudah mulai terlelap, lalu dengan pelan ia duduk di kasur bersandarkan heardboard di sebelah Maira, dengan tetap memandangi punggung istrinya itu.
Hingga Reza pun ikut mengantuk dan mulai terlelap lalu ia baringkan tubuhnya di sebelah tubuh Maira.
1 jam berlalu, Maira terbangun, didapatinya tangan Reza yang sudah memeluk perutnya, dengan posisi mereka yang searah. Hatinya berdesir. Jantungnya berdebar. Perasaannya campur aduk. Pertama kalinya ia merasakan sedekat ini dengan laki-laki yang perlahan sudah dicintainya itu.
Tak ingin terbawa perasaan, digesernya tangan suaminya itu menjauh, namun Reza kembali memeluknya, semakin erat. Dicobanya untuk kedua kalinya, namun tetap sama. Meski dengan mata terpejam, Reza seolah tak ingin melepaskan pelukannya pada Maira.
Tak ada pilihan lain, Maira pun menikmati kedekatan yang langka ini, dengan kembali memejamkan matanya.
###
Keesokan paginya, tiba-tiba Reza mengalami demam. Seakan merasa hanya sedang kelelahan, Reza tak berminat untuk periksa ke rumah sakit. Dokter langganannya pun juga sudah tentu sedang libur praktek di hari minggu begini. Ia memutuskan untuk beristirahat saja di kamar.
Setelah memastikan Alisha sedang tertidur, Maira meminta asisten rumah tangganya untuk menjaga Alisha sebentar saja karena ia ingin memasak.
Melihat suaminya yang sakit, Maira ingin sekali memasakkan untuknya, karena Reza menolak saat Maira menawarkan ingin membelikannya makanan. Setidaknya agar Reza bisa segera meminum obat penurun demam. Sekedar membuatkan capcay hangat sepertinya pilihan yang cocok.
Hingga saat masakannya sudah siap, ada seseorang yang bertamu ke rumahnya, yang ia pikir adalah mama mertunya yang terkadang mengunjungi rumahnya ketika akhir pekan.
Saat membuka pintu, hatinya melemas melihat sosok perempuan itu lagi.
"Aku dengar Reza sakit ya, ini aku bawakan soto kesukaannya dulu kalau dia belum sarapan,” ujar Vany yang menyodorkan bungkusan makanan pada Maira.
...****************...
""' nyesss 😭