Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Dompet Marisa Hilang
Raka bingung mau mengembalikan dompet itu kemana, kalau ke alamat kantornya Marisa, dia tidak menemukan alamat kantor di dalam dompetnya. Sedangkan jika ke rumah orang tuanya, Raka takut kedatangannya justru menjadi pemicu gosip di kalangan tetangga rumah kedua mertuanya atau justru pemicu salah paham mantan mertuanya.
"Aneh juga perempuan sesupel dia dan pergaulannya banyak dengan kaum cowok, tapi selama lima tahun masih betah menjanda." Raka tidak habis pikir dengan Marisa yang betah menjanda selama itu. "Tapi ada untungnya dia masih sendiri, itu artinya jika aku mendatanginya ke sana, tidak ada yang akan merasa cemburu. Duhhh, nasib sial apalagi yang menimpaku harus menemukan dompetnya di meja kasir?"
****
"Sepertinya kalian itu jodoh, dipertemukan lagi secara tidak sengaja. Dan kini dompetnya tertinggal, lalu elu yang menemukannya. Apa lagi namanya kalau bukan jodoh?" seru Rama teman satu profesi Raka di agen properti.
"Jodoh? Jodoh dari Hongkong? Gua tidak mau, ya, balikan lagi dengan mantan yang dulunya tidak bertanggung jawab, kelakuannya itu kayak ABG. Bisa-bisa gagal dua kali kalau gua nikah lagi sama dia," ucapnya sesumbar dan ngotot.
"Ampun deh, sepertinya setelah elu ditinggal pergi sama Marsela, elu sensitif dan ambekan. Tapi, elu masih muda Ka, 35 tahun masih perlu belaian, terlebih elu udah ditinggal Marsela hampir tiga tahun, masa elu belum mau buka hati elu sama perempuan lain? Kalau elu nikah lagi, kan lumayan ada yang menjaga Cila dan mengantar jemput Cila sekolah. Atau kalau tidak, terima saja si Mardiah, dia ngebet juga, kan sama elu," celoteh Rama lagi membuat Raka illfeel. Soalnya kalau sudah menyangkut Mardiah, teman sekantornya yang selama ini ngejar-ngejar Raka, bawaannya illfeel dan rusak mood.
"Jangan sebut lagi Mardiah, gua nggak suka nama dia disebut. Apalagi kalau dia sudah ngintil kemana gua pergi, gua enek," larang Raka tidak suka dengan wajah yang memberengut.
"Gua belum bisa mencari pengganti Marsela. Marsela bagi gua perempuan sempura yang tidak ada duanya. Dia istri sekaligus Ibu yang baik dan bertanggung jawab pada keluarga. Sayangnya, Allah lebih sayang pada Marsela," ungkap Raka sembari menunduk sedih mengingat Marsela sang mantan istri yang sudah tiga tahun meninggalkan dirinya dan Cila anak semata wayangnya, karena sakit leukimia.
"Sudah, jangan sedih lagi. Kasihan Marsela di surga sana, kalau dia melihat elu menangis, alangkah berat dan sedihnya dia berada di alam kubur." Rama mencoba membesarkan hati Raka yang hancur saat mengingat kembali Marsela sang mantan istri.
Raka menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian dikeluarkan perlahan.
****
Sementara itu di rumah kediaman orang tua Marisa. Marisa yang sudah pulang dari liburan, tiba-tiba harus dikejutkan dengan dompetnya yang hilang. Sebab setelah dicari di dalam tasnya, ternyata dompet merek Deasy berwarna kuning mencolok itu raib entah kemana. Uang tiga juta lebih, KTP, katu ATM, kartu vaksin Covid juga beberapa foto yang diselip di dompet ikut raib.
"Ya ampun, kok tidak ada sih, padahal kemarin diletak di sini, tapi kenapa bisa raib? Duhhhh, bahaya. Mana KTP juga ada di dalam dompet, kalau harus bikin lagi males. Belum ini itunya yang jadi persyaratannya, ribet," keluhnya sembari ngubek-ngubek isi tasnya mencari dompet itu.
"Kenapa, sih, Kak, dari tadi ngubek-ngubek isi tas seperti orang bingung?" tegur Marqisa yang kebetulan melewati kamarnya.
"Dompet aku raib. Qisa, kemarin kamu lihat, nggak, dompet aku di mana? Atau siapa tahu ada di tas koper kamu atau tas ransel kamu, coba cari dulu. Aku benar-benar sudah ngubek-ngubek tas dan koper aku, tapi hasilnya nihil," ujar Marisa seraya tangannya tidak henti menyuai-nyuai helaian baju yang ada di kopernya bekas kemarin.
"Seingat aku tidak ada di tas atau koper aku, sebab aku sudah membongkar isi koper dan tas aku. Jadi, dipastikan dompet Kak Risa tidak ada di aku. Kak Risa yang teliti carinya. Coba cari lagi, siapa tahu nyelip di sela baju," usul Marqisa.
"Sudah aku bongkar semua isi tas dan koper aku. Nih kalau tidak percaya." Marisa memperlihatkan aksinya yang sudah menguak isi kopernya. Dan hasilnya nihil. Marisa semakin dilanda bingung, dia benar-benar tidak ingat di mana dompetnya tertinggal ataukah jatuh. Dia hanya ingat bahwa dompetnya berada di dalam tas selendangnya.
"Huhhhh, sudah lelah, ditambah lagi dompet raib, dobel penderitaanku," keluhnya sembari berdiri dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Jadi dompet kamu hilang, Teh?" Tiba-tiba Pak Maryana menimpali dan masuk ke dalam kamar anak yang paling tuanya itu.
"Iya, Pak. Tapi Risa tidak tahu hilangnya di mana. Risa tahunya setelah di sini saat Risa mau ambil dompet, tapi saat dicari rupanya dompetnya tidak ada lagi," terang Marisa pada Pak Maryana.
"Pantesan kamarnya berantakan seperti ini, rupanya sedang mencari dompet." Pak Maryana mencoba memahami kamar Marisa yang berantakan setelah beliau tahu apa penyebabnya.
"Duhh ... kemana lagi aku harus mencari dompet itu?" Sementara di depan rumah terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Semua terkejut dan penasaran siapa yang bertamu siang-siang begini?
tak gibengae