"Tapi tahukah kau, bahwa semua itu adalah tipuan Georges semata. Pernikahan mu hanyalah panggung sandiwara agar dia bisa menikmati tubuhmu tanpa perlawanan." ucap Angela dengan nada menghina.
"Kau bukan wanita pertama baginya. Georges sudah banyak berhubungan dengan bayak wanita dan sebagaimana dia lari dariku, dia akan selalu kembali ke dalam pelukanku. Kau tahu kenapa? karena dia milikku."
"Pergi sebelum Georges mempermalukanmu dan hati mu semakin sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taurus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Suara apakah itu ?
Pagi tadi begitu cerah, semua terasa indah. Sayangnya sore hari ini cuaca mulai gelap. Awan hitam dengan congkaknya berpesta diatas langit, bergerombol bak permandani hitam menghalangi cahaya matahari yang berusaha untuk masuk. Dalam sekejap cahaya matahari pudar. Suara kicau burubg sudah tidak terdengar lagi. Kupu - kupu pun pergi berlindung. Beberapa bunga pun mengatupkan mahkotanya.
"Bibi hari ini tampaknya akan turun hujan deras ya." Tanya Felicia sambil memandang langit.
"Benar nona. Biasanya kalau hujan begini bisa seharian. Semoga saja tidak ada badai." sahut bibi Ruth.
"Badai bibi?" tanya Felicia bergetar. Masih teringat kenyataan dirinya pernah terombang ambing di lautan.
"Iya nona beberapa waktu lalu ada badai besar. ombak lautan sangat tinggi. Semua nelayan berlindung tidak ada yang berani menuju lautan."
"Apakah itu ketika..."Suara Felicia tertahan.
"Iya, disaat badai redah tak lama Sanches dan Fernandes menemukanmu." Kepala Felicia mengangguk mendengar penjelasan bibi Ruth.
"Saat itu tuan Georges juga sedang di perkampungan nelayan untuk melihat keadaan mereka setelah badai. Dan Sanches membawamu kepadanya." Cerita bibi Ruth terhenti sejenak dan memandang Felicia lembut.
"Kau sangat pucat saat itu, tapi kau tetap tampak cantik. Aku masih heran kenapa kau mengantongi kacamata yang jelak itu, bahkan matamu pun tetap cantik dan sehat tanpa kacamata." Kembali bibi Ruth menghentikan perkataannya.
"Apakah kau mengingat sesuatu ?"
"Tidak bibi. Samar - samar saja aku mengingat diriku terombang - ambing dilautan." Lirih suara Felicia bercerita.
"Sudah lupakan. Aku harap kau akan tinggal bersama kami selamanya."
Felicia tersenyum mendengar perkataan bibi Ruth karena itupun yang dia inginkan.
"Bagaimana dengan yang lainnya bila hendak pulang bibi?"Tanya Felicia penasaran. Karena setiap harinya Bibi Elisabeth, Leticia, Linda, Lila dan Lolita selalu pulang kerumah mereka masing - masing.
"Kalau hujan sangat deras dan suami mereka tidak bisa menjemput, mereka akan tinggal disini. Ada beberapa kamar kosong di belakang." Jawab bibi Ruth. Felicia mengangguk - angguk lega mendengarkan jawaban dari bibi Ruth.
"Kenapa mereka tergesa - gesa bibi ?" Felicia menunjuk pada paman Juan dan chili yang ditemani Leticia da Lolita kearah kebun belakang.
"Mereka hendak memastikan kalau kandang ayam tertutup rapat. Juga menutupi beberapa tanamanan."
" O.o.oo." bibir Felicia membentuk bulatan kecil.
"Nona Felicia, bisakah kau membantu bibi, antarkan teh dan cemilan ini keruang kerja tuan Georges.
"Baik bi."Felicia segera membawa teh dan cemilan ke ruang kerja tuan muda Georges, kali ini tanpa kesalahan. Dia segera keluar setelah meletakan nampan teh di meja kerja tanpa menunggu tuan muda Georges mengatakan sepatah katapun dan kembali kedapur. Saat itu tuan muda Georges tampaknya berbicara dengan seseorang wanita melalui laptop dan membuat janji untuk bertemu.
"Bibi bisakah aku membawa teh ke perpustakaan, aku hendak menghabiskan waktu disana." tanya Felicia.
"Tentu saja nona, Sebentar bibi siapkan." Bibi Ruth segera menyeduh teh dan meletakan beberapa macam biscuits di kotak kecil dan menyerahkan nampan itu kepada Felicia.
"Terimakasih bibi. Apakah tidak ada diantara kalian yang mau menghabiskan waktu bersamaku di perpustakaan?" Ajak Felicia.
"Tidak nona, nikmatilah waktumu diatas dan turunlah untuk makan malam dengan tuan muda." Felicia mengangguk dan segera melangkah menuju perpustakaan di lantai atas.
Masih ada rasa penasaran dalam hatinya ketika melewati kamar tuan muda Georges di lantai atas.
"Dengan tongkatnya seperti itu, apakah dia tidak kesusahan melangkah keatas?" gumamnya sendiri.
Sesampainya di perpustakaan Felicia segera meletakan teh dan memilah buku yang hendak dia baca. Terlalu banyak buku dengan berbagai jenisnya. Akhirnya Felicia memilih buku yang membahas tentang perkebunan dan perekonomiannya.
Ditennah - tengah asyik membaca, pikirannya terganggu dengan perkataan tuan muda Georges tadi pagi.
"Seperti janjiku besuk aku akan ke kota besar dan aku akan mencari informasi mengenai kecelakaan kapal serta mungkin ada keluargamu yang mencari."
Ingin sekali saat itu dia berkata, " Jangan pergi tuan." dan "Aku ingin tinggal disini." serta "Bisakah aku bekerja disini?" tapi lidahnya kelu. Dia hanya menundukan wajah menyembunyikan persaan dan berkata, "baiklah tuan. Terimakasih."
Hatinya masih terasa sedih hingga saat ini. Kebaikan yang dia terima dan rasakan di tempat ini membuatnya berat meninggalkan mereka semua. Apapun yang terjadi sebelum kecelakaan itu tentu tidaklah lebih bagus daripada keadaan disini. Kecelakaan itu membawa berkah bagi dirinya.
Hujan mulai turun dengan lebat. Dibalik jendela perpustakaan yang besar dia melihat Awan yang dengan leganya menurunkan air hujan dengan deras.
Kilat tiba - tiba menyambar diiringi dengan bunyi gubtur tampak begitu jelas di jendela kaca besar lantai atas ini membuat Felicia terkejut. Felicia segera berlari kebawah sambil menutup kedua telinganya dan menuju ke dapur.
Tidak ada siapapun di dapur. Tampaknya semua orang sudah berkumpul di rumah belakang. Dengan melipatkan tangan di dadanya Felicia berjalan menyusuri lorong. Suasana sore menjadi gelap gulita seperti malam. Tampaknya para pelayan sudah terbiasa dengan situasi ini. Lampu - lampu ruangan sudah menyala dan gorden sudah tertutup rapat.
Pikiran Felicia tertuju pada tuan muda Georges. Hari ini tuan muda tidak pergi ke perkebunan maupun ke pantai. Patrick datang pagi tadi dengan membawakan laporan yang bisa di periksa di rumah ini. Setelah beberapa saat bersama tuan muda di ruang kerja, dia pergi meninggalkan rumah ketika dilihatnya cuaca mulai mendung.
Apa yang dilakukan tuan Georges saat ini ?
Di depan pintu ruang kerja tuan muda dia mendengar suara yang aneh. Seperti lenguhan kasar. Langkahnya tercekat tepat di depan pintu. Ditempelkan telinganya di daun pintu. Dia tidak dapat mendengar dengan jelas karena derasnya suara air hujan dan petir yang menyambar.
Suara itu terdengar lagi. Suara tuan muda Georges yang sedang mengerang. Antara penasaran dan takut. Tangan Felicia memegang gagang pintu. Diurungkan niatannya membuka pintu. Dia teringat amarah tuan muda kepadanya ketika masuk tanpa permisi.
Felicia berjalan bolak balik didepan pintu ruang kerja dengan gelisah. Suara itu terdengar lagi dengan lebih keras. Arghhh.. Dan suara benda yang jatuh pecah dilantai. Felicia mundur badannya gemetar menyandar pada dinding.
aku harus menemui bibi Ruth dan yang lainnya.
Dengan setengah berlari, Felicia menuju ke belakang, keluar dari dapur hendak menuju rumah belakang. Tapi langkahnya terhenti. Dia baru menyadari antara rumah belakang dan rumah utama ini tidak tersambung dipisahkan oleh taman ditengah- tengah sedangkan hujan mengguyur begitu keras dan dia tidak tahu dimana payung berada.
Apa yang harus aku lakukan ?
Kenapa tidak ada seorangpun yang datang, apakah tuan muda tidak membunyikan bel ?
Ditengah - tengah kegelisaannya Felicia teringat bel di dapur. Dan dia memencet interkom itu berulang - ulang. Sayang nya tidak ada yang menjawab. Suara hujan dan petir yang menyambar terlalu keras. Angin begitu kencang udara begitu dingin.
Apa salurannya putus ? Apa yang harus aku lakukan saat ini ?
Tapi langsung ambyar ketika relate sama makanan Thor .ini Eropa apa asia?😁