Karna sebuah kesalah pahaman, Rinjani ChiMa Wardhana memilih memendam cintanya pada sosok Lintang yang seolah menjadi pelangi di hari harinya yang sempat mendung sebab pengkhianatan dari Sang mantan kekasihnya yang dulu..
Lintang yang tak tahu apa-apa dan mendadak di jauhi pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada gadis itu.
"Jujur sama Lilin, atau masuk Neraka?"
***********
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
🍂🍂🍂🍂🍂
"Jani," panggil seseorang yang masih di hapal suaranya oleh gadis itu hingga tak salah jika ia reflek menoleh karna tepat di belakangnya.
"Zian!"
Rinjani yang kaget sampai terlonjak bangun dan itu membuat Lintang mengernyitkan dahi melihat sikap gadis kesayangannya yang di luar dugaan.
"Apa kabar? senang bertemu denganmu," ucap Si mantan kekasih sambil mengulurkan tangan.
Rinjani yang masih tertegun hanya melihat kearah tangan yang menggantung berharap di sambut olehnya. Tapi, ia tentu mengabaikannya sebab jangan kan untuk bersentuh karna bertemu di alam mimpi pun Rinjani tak pernah mau lagi.
"Aku baik, sangat-sangat baik," jawabnya tanpa membalas basa basi Zian dengan cara bertanya kembali.
"Syukurlah, kapan pulang? sudah liburankah?" tanya Zian lagi yang tahu jika Rinjani kuliah di ibu kota, meski tak tahu langsung dari mulut gadis itu tapi Zian mendengar dari teman temannya yang lain.
"Tidak, lusa aku pulang. Bukan begitu, Lim?" Rinjani menjawab sambil menoleh kearah Lintang yang jadi penonton dua insan manusia yang baru bertemu besok.
Zian pun menoleh, ia ikut melihat kemana sorot mata sang mantan tertuju saat ini.
"Hem, dapet gantinya gue orang kota ya?" sindir Zian dengan tawa sinis sebab ada yang mengganjal dalam hati pria Playboy cap kodok bengek.
Rinjani hanya tersenyum simpul tapi tidak dengan Lintang yang menatap tajam tanpa Ekspresi kearah Zian. Wajahnya begitu dingin namun seolah siapa memakan lawannya itu secara hidup hidup.
Sadar sedang di perhatikan secara tak wajar, Zian pun berpamitan karna kekasihnya pun sudah menunggu, meski Zian tak berubah tapi tetap saja ia menyesal di tinggalkan Rinjani yang sudah dua tahun sabar bersamanya.
.
.
.
Niat hati ingin berlibur sejenak sebelum pulang ke ibu kota, nyatanya malah harus di patahkan dengan kenyataan bertemu dengan orang yang namanya sudah di kubur dalam dalam oleh Rinjani selama ini dan usahanya itu di permudah saat hadirnya Lintang yang langsung dengan cepat bukan lagi menggeser tapi menggantikan hingga ke akar akarnya.
"Lin, Lilin marah ya? kok diem aja?" tanya Rinjani yang tak di respon sama sekali oleh pria yang kini sedang sibuk memutar setir mobil dengan tatapan lurus ke depan.
Ya, mereka akhirnya pulang setelah Zian juga pergi. Sebagus apapun pemandangan di sana tetap tak berkesan jika suasana hati mendadak kacau. Ingin sekali Lintang menghabisi pria tadi sebelum ia lempar ke neraka tapi ia sadar diri tak punya hak apanpun atas Rinjani yang cuma teman dekatnya selama ini.
Lalu, ia harus jawab apa jika gadis itu meminta alasan nantinya?
Lintang hanya bisa mempertanggung jawabkan amukannya saja tapi tidak dengan perasaannya yang tak ingin di ketahui oleh siapa pun termasuk oleh Rinjani sendiri.
"Lin, ChiMa nanya loh, kok gak jawab?" Rinjani mengulangnya lagi dan kali ini ia berharap pria tampan itu keceplosan atau memang sengaja mengutarakan isi hatinya tersebut.
"Bingung mau jawab apa. Orang Lilin gak apa apa," sahutnya tanpa menoleh dan itu sangat berhasil membuat Rinjani kesal bukan main seolah menuduhnya sangat berlebihan sampai mengulang pertanyaan yang sama,
"Oh, gitu? syukurlah kalau Lilin gak apa-apa," balas Rinjani sambil menggigit bibir bawahnya karna hatinya sedang merutuk dirinya sendiri yang terlalu percaya diri.
Rinjani yang kini membuang pandangan ke luar jendela tak sadar jika Lintang saat ini sedang menatapnya sendu sambil berbisik lirih dalam hati...
.
.
.
Maaf ya, Lilin gak bisa senyum sambil nahan cemburu..
kek gimana pula tuh gayanya Thor... bleh dicoba gak tuh. 🤣🤣🤣
lama² gak jelas,gak konsisten