Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Ponsel
Hari kedua yang membosankan dan melelahkan, Clarissa menghabiskan waktunya diruangan itu hanya berbaring. Hari ini Elgar tidak berangkat ke kantor, hanya memantau dari asisten kepercayaannya.
Setelah kedua orangtuanya kembali ke rumah sakit, mereka menikmati waktu hingga siang hari. Mama mendapat kabar kalau salah satu temannya di rawat di rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit yang mereka tempati kini.
Elgar memberi saran agar kedua orangtuanya pergi menjenguk temannya, lagipula menjaga Clarissa tidak terlalu merepotkan. Ada suster yang bisa diminta bantuan jika ada hal yang mendesak.
Setelah menimbang cukup lama kedua pasangan itu akhirnya setuju namun akan berangkat setelah selesai menyuapi Clarissa makan siang.
Siang telah menjulang di langit yang terik, keduanya berpamitan dan meninggalkan ruangan itu. Menyisakan keheningan kembali diantara kakak beradik itu.
"Kak dimana ponselku? " tanya Clarissa setelah cukup lama menahan rasa penasaran itu.
"Tertinggal di rumah" balas Elgar yang tampak berpikir sejenak seolah mencoba mengingat benda yang dicari adiknya.
Clarissa kembali hening dengan pikiran yang menerka, membayangkan siapa saja yang mencarinya, menghubunginya. Timbul harapan besar, suaminya mulai pontang-panting mencarinya.
"Ada apa?, kamu boleh pakai ponselku" Elgar menangkap gelagat gelisah dari raut wajah adiknya lalu menyodorkan ponselnya ke arah Clarissa.
Clarissa masih mematung dengan tatapan yang mengarah ke ponsel itu. Ada rasa enggan untuk menyentuh barang yang bukan miliknya.
Elgar meletakkan ponselnya dipangkuan Clarissa karena tak kunjung ada gerakan meraih benda itu.
"kapan aku bisa pulang dari rumah sakit ini? " Clarissa mulai tidak sabar ingin keluar dari tempat yang membosankan tanpa ada kegiatan lain.
"Kita tunggu pemeriksaan dokter, hari ini dokter belum datang" Elgar berusaha memberi pengertian karena memang pemeriksaan pagi tadi dokter belum mengatakan jadwal pulang kepada mereka. Mereka berbuat menanyakan jika dokter datang memeriksa siang ini.
"Kamu tidak jadi memakai ponselku, pakai saja agar kamu tidak bosan"
Clarissa akhirnya meraih ponsel dari pangkuannya dan mulai menggerakkan jemarinya di layar ponsel. Elgar memberi tahu sandinya sehingga layar ponsel itu dapat terbuka.
Clarissa mulai membuka sosial media dan melihat beberapa postingan dari akun kakaknya. Lalu beralih ke aplikasi yang dapat menayangkan berbagai genre film. Dia mulai menikmati tontonan dari layar kecil itu.
Elgar bahkan ikut menonton di sampingnya dia duduk dengan nyaman diatas kursi dan lengannya yang bersandar di tepi ranjang. Mereka sesekali memberi komentar dari beberapa adegan yang perankan oleh tokoh yang cukup terkenal.
Waktu berjalan cepat, sore menjadi penutup yang indah dari segala kegiatan panjang dari pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, kedua orangtuanya telah tiba dan menyapa keduanya yang masih menikmati tontonannya. Ponsel itu sudah panas dan mulai kehabisan saya, Clarissa menyerahkan kepada kakaknya lalu Elgar mendekat kearah pengisi daya dan membiarkan benda itu beristirahat.
Clarissa berniat untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, untung saja tadi pagi setelah kembali dari rumah telah membawa pakaian ganti untuknya. Mama memaksa untuk ikut masuk ke dalam meski ditolak beberapa kali.
Terjadi perdebatan ruangan diantara dua wanita yang berbeda usia itu. Atas bujukan Papanya akhirnya dia mengalah. Mereka sangat mengkhawatirkan tubuh Clarissa yang meski terlihat membaik namun wajahnya tidak bisa menipu.
Sesekali tergambar menahan rasa nyeri, bersandar dan berbaring dengan perlahan bahkan jika ke kamar mandi membutuhkan waktu yang cukup lama mulai dari menginjakkan kaki di lantai hingga menyeret langkah kaki dengan terbata-bata.
Alasan itulah yang membuat Mamanya khawatir kalau Clarissa terjatuh di kamar mandi. Clarissa mengalah lalu menuruni ranjang dengan dipapah oleh kedua orangtuanya. Langkah yang sangat pelan namun tanpa ada keluhan. Papanya berhenti hingga didepan pintu kamar mandi, dan membiarkan istrinya melaksanakan tugasnya.
Sejak pagi sebenarnya Clarissa sudah ingin mandi, namun ada rasa ngilu yang menakuti membayangkan rasanya tetesan air membasuh kulitnya. Namun kali ini rasa tak nyaman mulai tak tertahankan hingga memutuskan untuk berani menyentuh air.
Pakaiannya dilepas dengan perlahan dan masih dibantu Mamanya, meski ada rasa malu yang samar namun Mamanya memberi pengertian dengan menceritakan kenangan masa kecilnya yang selalu dimandikan.
Air dingin mengguyur dengan lembut, hingga kulitnya menjadi terbiasa. Ada rasa nyeri sesekali membuatnya bergidik namun segera disingkirkan dengan raut wajah yang normal.
Mamanya tidak banyak berkomentar hanya bercerita masa kecil Clarissa yang di selingi tawa kecil yang masih terdengar dari luar.
Elgar dan Papanya tampak sibuk dengan pembicaraan mereka tidak terlalu mendengar jelas isi obrolan kedua wanita itu dari dalam.
Clarissa selesai dengan mandinya, Mamanya keluar sejenak untuk meraih pakaian bersih lalu membawanya kembali dalam kamar mandi. Tangannya sangat telaten merawat putrinya, dengan lembut membantu Clarissa memakai pakaiannya. Hingga mereka keluar berjalan beriringan.
Begitu pintu terbuka dan memunculkan kedua wanita itu, Papa langsung bangkit dari duduknya dan mendekat. Ikut memapah Clarissa menuju ranjang.
Tubuhnya terasa lebih ringan dan segar. Dia bersandar dengan posisi ternyaman. Mendengarkan kakak dan Papanya nyang melanjutkan obrolan mereka. Mama tampak merapikan pakaian kotor yang dimasukkan rapi ke dalam tas.
Sesekali mereka ikut menyahut pembicaraan kedua lelaki dewasa itu, mereka membicarakan banyak hal. Beberapa menit yang lalu terdengar membahas pekerjaan dan keuntungan yang sering menurun. Sekarang pembicaraan mereka beralih ke politik dan masalah yang sedang viral.
Clarissa sudah biasanya dengan hal itu, keluarga itu memang sangat terbuka untuk membicarakan apapun. Dan menjadi hal yang menarik saat mereka saling mengeluarkan ide daan sarannya.
Ditengah obrolan yang kritis itu, dokter akhirnya datang bersama perawat. Tidak lupa membawa nampan dan obat.
"Dokter, kapan saya bisa pulang?" Pertanyaan itu keluar disela tangan dokter yang menyodorkan stetoskop ke kulitnya.
"Besok pagi sudah bisa pulang"
Mendengar itu serasa memberi rasa gembira dihati Clarissa yang memang merasakan kejenuhan.
"Tapi dok, lukanya bagaimana? " ada rasa tidak puas di hati Mamanya sehingga menanyakan keadaan putrinya lebih dalam.
"Luka ini akan pulih secara bertahap, tetap oleskan salep yang sudah di resep dokter"
Mama mengangguk pelan dan mendengarkan penuh perhatian. Dan melontarkan pertanyaan lain yang menurutnya terasa membingungkan.
"Apa ada keluhan, Nona Clarissa? " Dokter kembali menanyakan perasaan pasiennya sebelum keluar dari ruangan itu.
"Dokter, ada beberapa bagian yang masih terasa nyeri. Dan tubuhku terasa pegal di pundak dan pinggang" Clarissa mengungkapkan perasaannya yang sesekali memang merasakan nyeri.
"Dari hasil pemeriksaan, tidak ada cedera serius yang membutuhkan penangan lebih lanjut. obat yang diberikan sudah termasuk pereda nyeri. Nona Clarissa harus banyak istirahat dan jangan stress"
Clarissa mendengarkan dokter dengan seksama dan mengangguk pelan. Keluarganya juga menyimak tak ingin ketinggalan info sedikit pun.
Dokter pamit undur diri meninggalkan ruangan dan Mama mulai meraih nampan untuk menyuapi Clarissa. Mereka cukup lega karena kondisi Clarissa yang tidak terlalu mengkhawatirkan ditambah besok mereka sudah bisa pulang ke rumah.