Memang sakit rasanya, saat dulu kita sedekat Nadi, namun kini akhirnya harus sejauh Matahari, bahkan Matahari yang sudah tenggelam tergantikan dengan terangnya sinar Rembulan malam.
Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan ketika menunggu seseorang, namun sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika kita harus melupakan, tapi yang paling sakit sebenarnya adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan.
"Niar... kamu tahu kan kalau seorang dokter itu paling ahli masalah suntik menyuntik, jika biasanya suntikan itu menyembuhkan penyakit pasien, tapi suntikan dariku, pasti akan menorehkan luka dalam hubungan kalian, cukup sekian dan terima kasih sudah menjadikan aku sang mantan, walau tidak kamu akui."
Walau pedih namun dokter Marvin harus bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak menjadi pilihan dari seorang Niar, dia tetap saja menerima lamaran dari Dito kekasih hatinya yang memang sudah berhubungan bertahun-tah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.Sebuah Kesalahan?
...Happy Reading...
Akhirnya keempat orang itu bersorak, saat bocah Ajaib yang bernama Yoyo itu muncul dengan santainya dari balik pintu, bahkan terlihat sehat wal'afiat tanpa tergores atau terluka sedikitpun dari bagian tubuh mungilnya.
"YOYO!"
Mereka langsung duduk berjongkok mengelilingi tubuh Yoyo untuk melihat kondisi tubuhnya.
"Kalian itu kenapa?" Tanya Yoyo sambil melirik kearah mereka dengan tatapan jengah.
"Kamu tidak apa-apa nak? apa ada yang sakit?" Samuel langsung memeluk tubuh Yoyo dengan erat.
"No, i'm okey Dad." Jawab Yoyo dengan santainya, seolah tidak terjadi apapun dengannya.
"Yoyo, maafkan Uncle ya, tadi Uncle panik saat Auntymu pingsan, jadi lupa menjemputmu kembali." Marvin bahkan menangkupkan kedua tangannya didepan Yoyo karena merasa bersalah dengan bocil itu.
"Cih... benar kata orang-orang dewasa di Vlog mereka itu, kalau cinta terkadang memang bisa membuat orang lupa segalanya, huh!" Yoyo langsung melengos saat mendengarnya.
"Alamak oii, bocah yang satu ini?" Marvin hanya bisa garuk-garuk kepala dalam menanggapinya.
"Yoyo, bagaimana kamu bisa pulang? siapa yang mengantarkan kamu kemari nak?" Niar masih penasaran akan hal itu.
"Sopir taksi lah." Jawab Yoyo dengan singkat, padat dan jelas.
"Kamu naik taksi Yo? Sendirian?" Tanya Rinjani dengan wajah takjubnya.
"Kan ada sopirnya, jadi Yoyo tidak sendirian Mom bahkan rame-rame." Jawab Yoyo dengan mantap.
"Tapi sopirnya tidak berbuat jahat denganmu kan nak?"
"No, jika ada uang, semua masalah bisa terselesaikan dengan mudah, bukan begitu Dad?" Ucap Yoyo sambil bertos ria dengan Daddynya yang sebenarnya masih sedikit bingung.
Singkat cerita, saat Yoyo kemarin melewati pedagang kaki lima ditrotoar jalan, dia memborong semua dagangan milik mereka dengan meminta satu syarat, yaitu mencarikan kendaraan menuju alamat rumah yang selalu dia ingat, karena itu juga salah satu ajaran dari gurunya dengan jaminan selamat.
Pada awalnya pedagang kaki lima itu hanya tersenyum saja saat mendengar celotehan Yoyo, namun saat Yoyo mengeluarkan kartu ajaib yang selalu dia letakkan ditas miliknya,salah satu dari mereka ada yang percaya dan mencoba membeli satu barang di toko dengan menggesekkan kartu Yoyo dan memang bisa, akhirnya mereka percaya dengan Yoyo dan bahkan mereka mengantarkan dirinya pulang kerumah.
"Tull...! woah... kamu benar-benar putra terhebat Daddy Yo, aish... Daddy benar-benar takut kalau terjadi apa-apa denganmu, sini peluk Daddy!" Samuel langsung memeluk tubuh anaknya dengan ucapan penuh syukur karena dia selamat.
"Tapi uang tabunganku berkurang banyak Dad, mungkin hampir satu atau dua digit!"
"Hah? Kok bisa? tapi ya sudahlah, kalau hanya masalah uang tidak masalah, yang penting kamu selamat nak." Samuel bahkan tidak menanyakan dengan detailnya seperti apa, yang penting Yoyo sehat tanpa kurang satu apapun saat ini.
"Huuh... akhirnya kita bisa selamat dokter!" Niar mengusap dadaanya dengan lega.
"Apa kamu senang, karena tetap bisa menikah tanpa gangguan?" Cibir Marvin.
"Dokter, jangan mulai lagi deh!" Umpat Niar yang sudah merasa capek saat meladeni rengekan dari Marvin.
Tulilut
Tulilut
Terlihat nama calon suami Niar tertera dilayar ponselnya, membuat Niar langsung sedikit menjauh dari keberadaan Marvin yang sudah memasang tampang jealous nya.
"Hallo mas, ada apa?" Niar langsung menjawabnya.
"Sayang kamu dimana?" Tanya Dito yang terdengar berada didalam keramaian kendaraan.
"Emm... aku sedang ada diluar rumah mas, tapi sudah mau pulang kok, kenapa?"
"Pulang sekarang juga!"
"Iya, tapi kenapa?"
"Mas dalam perjalanan pulang, pernikahan kita diajukan besok siang saja."
Degh!
"HAH? MENIKAH BESOK SIANG!" Kenyataan itu semakin sulit Niar mengerti dan pahami, namun dia seolah tidak mampu untuk mengelaknya kembali.
"Kenapa sih yank, bukannya lebih cepat lebih baik, kenapa suaramu terdengar panik begitu? Kamu tidak suka mendengarnya!" Suara Dito langaung berubah menjadi kurang sedap didengar.
"Bukan begitu mas, tapi kenapa mendadak, bagaimana dengan persiapan lainnya?" Tanya Niar yang kembali harus memutar otak untuk memikirkan hal itu.
"Persiapan resepsinya bisa sesuai undangan saja, tapi Ijab Qobulnya kita ajukan besok siang."
"Iya, tapi kenapa? bukannya hanya tinggal minggu depan saja? kenapa nggak sesuai rencana aja sih mas?" Niar pun ingin tahu alasannya, namun seolah Dito terus saja mengelaknya.
"Sudahlah, jangan banyak protes, aku sudah nggak sabar ingin menikah denganmu!" Jawab Dito tanpa mau dibantah.
"Tapi mas?"
"Kamu kenapa sih, nggak suka menikah cepat denganku? atau ada yang kamu sembunyikan dariku?" Dia kembali melemparkan pertanyaan tuduhan untuk melindungi dirinya sendiri.
"Apasih mas, aku cuma terkejut aja, kenapa jadi dadakan begini?"
"Pokoknya kamu pulang saja sekarang, jangan kelayapan, besok kita menikah, titik!"
Jika Dito sudah berkehendak seperti itu, semua ucapan dan keinginan Niar pun tidak akan berlaku lagi disana.
"Ya sudah mas, nanti aku bicarakan dengan keluarga besar kita dulu ya?" Akhirnya untuk sementara dia mengalah terlebih dahulu, karena percuma jika berdebat hanya lewat ponsel saja.
"Okey, sebentar lagi mas sudah mau sampai ini, bye sayang!"
Tut
Tut
Tut
Panggilan terputus begitu saja, suara Dito terdengar sangat terburu-buru, seolah dirinya seperti dikejar-kejar oleh Depkolektor.
"Emm... Maaf, karena Yoyo juga sudah ditemukan, saya harus pulang terlebih dahulu." Niar langsung saja pamit dengan mereka.
"Buru-buru amat, masih jam segini, kenapa Niar?" Tanya Rinjani.
"Mas Dito mengajukan acara Ijab Qobulnya besok siang, jadi aku harus siap-siap terlebih dahulu."
"HAH? Kenapa, apa kamu hamil?" Marvin lah orang pertama yang protes dan ingin menentang akan hal itu.
"Hush.. aku tidak segila itu ya dokter, aku wanita baik-baik, tau nggak!" Sangkal Niar seketika.
"Lalu kenapa dia mengajukan hari Ijab Qobul kalian?"
"Entahlah, lagian mau besok atau minggu depan juga sama aja, kami pasti akan menikah dokter."
Jleb!
Seolah ulu hati Marvin tertusuk oleh pisau yang begitu tajam saat mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan resepsinya, nggak protes apa nanti WO sama tukang Catering makanannya?" Rinjani pun ikut terheran mendengarnya, sedangkan mengajukan semua itu menjadi besok siang itu tidak lah mudah pikirnya.
"Hanya Ijab Qobulnya saja, resepsinya tetap dihari yang sama, jadi tidak terlalu ribet untuk mengurusnya kembali."
"Hmm.. Okeylah kalau begitu, istirahat yang cukup Niar, jangan sampai besok kamu juga kembali pingsan, karena hatimu sudah bercabang, okey?" Ledek Rinjani tanpa melihat situasi.
"Apa sih Jan! Jangan ngomong aneh-aneh deh!"
"Hehe... Bercanda, take care, semoga semuanya lancar ya, waktu dan tempatnya jangan lupa kasih tau gue ya?" Rinjani hanya bisa menaikkan kedua bahunya.
"Siap, kalau begitu aku pamit pulang dulu, sekali lagi maafkan kakak ya Yoyo, bye!" Niar langsung melambaikan tangan kearah mereka semua dengan terburu-buru.
"NIAR!" Marvin langsung berlari mengejarnya.
"Iya Dokter, lain kali saja kalau mau ngobrol, soalnya aku buru-buru ini." Niar tidak mau berhenti kembali.
"Niar, tidak bisakah kamu membatalkan pernikahan itu demi aku?" Marvin masih berusaha di titik terakhir.
"Dokter, aku sudah membahas ini dengan dokter berulang kali kan?"
"Tapi aku tidak sanggup melihatmu bersama pria lain Niar,cobalah mengerti dari sisi aku."
"Maaf dokter, semua sudah terlambat dan sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, aku pamit ya Dokter, mohon doa restunya, bye." Kebetulan ada taksi lewat disana dan Niar langsung menyetopnya.
"NIAR!" Teriak Marvin kembali dengan wajah yang sulit terlukiskan lagi.
"Lupakan aku dokter, anggap saja hubungan kita adalah sebuah kesalahan, maafkan aku pamit!" Niar langsung menutup pintu mobil taksi itu dengan kedua mata yang sudah memerah.
"Ini bukan sebuah kesalahan Niar, hei... Niar, jangan pergi dulu, hei...!" Marvin berlari ingin mengejar, namun taksi itu tetap melaju bahkan lebih kencang.
Sebenarnya Niar pun merasa belum siap akan hal ini, namun semua sudah terlanjur terencana, bahkan acara sakralnya maju menjadi besok pagi, jadi memang tidak ada ruang lagi untuk Marvin kali ini, walau sebenarnya hati Niar hampir dipenuhi oleh sosok Marvin.
masih anak aayam aja dah digoreng, sudah menetas dimasukkan kurungan, eh udah besar dipotong
jadi jgn terlalu ngeluh sama hidupmu
penderitaanmu gak ada apa²nya sana deritanya ayam
cerita Nya bagus thor
sdh mengiris kalbu rasane....