Series Kedua
Sebelum membaca novel ini hendaknya terlebih dulu baca novel Terjerat Rasa.
Sebuah kisah cinta yang kembali terulang dalam ruang waktu dan jiwa yang berbeda, bertemu kembali merangkai kisah cinta dan mengarungi peliknya kehidupan.
Mutiara Mikha Aditama adalah gadis kalem nan cantik yang tangguh, ia jarang tersenyum karena badai kehidupan itu terlalu kuat mengepungnya.
Akankah ada seseorang yang mampu membebaskan Mutiara dari kepungan badai kehidupan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Terharu
Mutiara masih berdiri di hadapan layar proyektor besar.
Lalu Adinda menutup laptopnya.
"Mutiara, Ini adalah pertanyaan saya yang terakhir kalinya dan pertanyaan ini pula sebagai penentu. Apakah Woong, bersedia membawa kamu ke dunia publik investor yang lebih luas. Syaratnya, kamu harus menjawab dengan jujur, pakai hati, karena kepercayaan adalah modal yang paling utama. Saya tidak suka dengan ucapan manusia yang terlalu berlebihan atau lebih dikenal dengan drama!" ucap Adinda dengan bahasa Indonesia yang jelas dan tegas.
"Baik Ibu!"
"Apa motivasi kamu, sehingga berhasil sampai dititik ini?" pertanyaan simpel Adinda.
Mendengar pertanyaan Adinda, mata Mutiara terlihat langsung berkaca-kaca, ia berpikir pertanyaan penentu itu adalah tentang seputar cake nya, ternyata tidak! Gadis manis itu sedikit menunduk, berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh, kemudian menjawabnya dengan tegas;
"Keluarga. Saya tidak memiliki motivasi apapun selain ingin melihat keluarga saya bahagia. Sejak saya lahir, saya sudah ditakdirkan tidak memiliki seorang Ayah dan ibu yang mengalami gangguan kejiwaan mental akut, bahkan sampai usia saya sudah 23 tahun, akal sehat ibu saya belum juga kembali.
Saya dibesarkan oleh kakek dan Nenek saya, saat ini mereka sudah berusia di atas 60 tahun. Waktu terus berlalu, badai itu kembali datang menerjang kami. Kakek jatuh sakit, lumpuh bertahun-tahun karena serangan struk, tapi Alhamdulillah, sekarang ia jauh lebih sehat dan saya hanya punya satu orang nenek, dialah support sistem terbesar saya sejak lahir.
Selama ini orang-orang memandang kami seperti sampah masyarakat yang tidak berguna atau barang rongsokan yang hanya memenuhi isi bumi. Motivasi inilah yang menguatkan tekad saya ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa kami, bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk orang lain!" Airmata Mutiara jatuh tak tertahankan, lalu ia bergegas mengambil tisu begitu juga dengan Adinda.
Adinda Aira begitu terharu mendengarnya ia bangkit dan berjalan mendapati Mutiara, kemudian langsung memeluk gadis itu dengan penuh kebahagiaan. Ia sangat senang bisa bertemu dengan sosok gadis yang menurutnya hebat dan cerdas. Mengingat di zaman yang sudah canggih ini, banyak anak gadis yang lebih memilih mencari uang dengan mudahnya menggadaikan kehormatan mereka, namun tidak dengan Mutiara.
"Kamu yang terbaik dan ini cukup membuat saya terkagum-kagum, jangan khawatir Mutiara. Insya Allah saya akan membantu kamu!" ucap Adinda dengan mata berkaca-kaca pula, Adinda yang pernah berada di posisi terpuruk namun tidak sehebat Mutiara.
Mutiara ingin bersujud dihadapan Adinda, ia tidak bisa menahan Airmata keharuan.
"Terima kasih Bu, terima kasih banyak, ternyata di dunia ini masih ada orang kaya berhati mulia seperti ibu. Selama ini kami selalu mendapat penolakan bantuan kerjasama...hiks...hiks...hiks...!"
Mutiara tidak bisa menahan tangis keharuannya, mengingat perjuangannya yang keras dan Adinda kembali memeluk gadis itu.
"Mutiara, ketika Allah akan menaikkan derajatmu maka tidak akan ada satupun yang mampu menghalaunya, meskipun seribu anak panah menghujani mu, teruslah berjuang dan bersyukur, kau akan merasakan betapa manisnya hasil kerja kerasmu nanti. Ini adalah buah dari kesabaran kamu selama ini, semoga semuanya berjalan dengan lancar!"
Mutiara mengangguk bahagia menatap Adinda.
"Sungguh sempurna wanita ini! Apakah dia Ibu Bastian, wajah mereka mirip," gumam Mutiara.
"Apakah Perusahaan Woong, tidak malu jika menampilkan saya ke ke dunia publik investor!" tanya polos Mutiara.
"Kenapa harus malu, sementara kamu itu luar biasa Mutiara, tidak mendapat dukungan saja kamu sehebat ini, bagaimana jika kami mendukungmu. Seperti Mutiara, meskipun ia berada di sebuah cangkang tertutup rapat dan terletak dilautan gelap, ia tetap berharga, apalagi jika sudah di poles, diletakkan di tempat mewah bersama perhiasan berharga lainnya, sungguh sinarnya akan menjadi luar biasa!"
*
Hari itu Adinda deal memilih Super Cake sebagai Brand makanan ke sepuluh yang akan di ia tampilkan di acara pelantikan Bastian Enzo, karena selain acara pelantikan, PT Woong Asian Group bekerja sama dengan Perusahaan Raksasa lainnya akan memberi peluang kesempatan kepada seluruh investor besar di Jakarta untuk mengangkat perusahaan kecil menengah dengan melakukan kerja sama.
*
"Mutiara, suatu hari nanti, kamu boleh dong memperkenalkan Oma kamu kepada saya, karena saya sangat penasaran dengan manusia hebat seperti itu, saya yakin Oma kamu adalah titisan dari orang-orang yang hebat pula, sehingga bisa berhasil membentuk kamu seperti ini!"
"Kami hanya orang biasa saja Bu!" jawabnya menunduk, membuat Adinda tersenyum.
"Baik Bu, Mutiara akan memperkenalkan Ibu kepada kepada Oma saya."
Mutiara tidak mengenal bahwa wanita yang di hadapannya adalah mantan kekasih Ayahnya dulu, begitu juga dengan Adinda, tidak mengetahui jika gadis yang ada dihadapannya adalah putri tunggal dari pasangan Frans Albar dan Nia Devira yang memang dari keturunan orang-orang bangsawan.
ketika lahir dan masih merah, wajah Mutiara mirip persis dengan Frans Albar, namun seiring waktu berjalan, wajah Mutiara berubah dan dominan mirip dengan Anggita, sementara Adinda tidak begitu mengingat persis wajah Anggita di dua puluh tahunan yang lalu.
"Baiklah Mutiara, saya akan menunggunya!"
"Sekali lagi Mutiara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu, Mutiara janji akan menggunakan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya, Semoga Allah membalas kebaikan ibu dan membuat Perusahaan Woong semakin luar biasa kejayaannya!"
(Setiap tahun PT Woong dalam naungan Ryan Alaska mencari perusahaan menengah, kecil, UMKM agar mendapat dukungan baik itu dari Perusahaan Woong sendiri ataupun aliansi investornya. Momen ini sangat ditunggu oleh jutaan para pengusaha kecil di Indonesia)
"Amiiin!"
Saya permisi dulu yah Bu!"
"Eh, kamu naik apa?"
"Tadi di jemput oleh Asisten ibu!"
"Sekarang?"
"Saya bisa naik taxi ibu, tidak apa-apa!"
"Eh Jangan, tamu adalah Raja, saya akan panggil supir dulunya!"
Namun para supir juga sibuk dengan perintah Ryan Alaska.
"Sebentar yah, kamu jangan kemana-mana dulu!" ucap Adinda.
"Tapi Bu...!" Mutiara yang merasa tidak perlu di antar.
*
Terlihat Bastian lagi keluar dari kamarnya, bertepatan segala kegiatan super aktif Bastian sedang dinonaktifkan, agar kondisinya fit ketika hari H nanti.
Adinda reflek menarik tangan Bastian.
"Ada apa sih Mah?"
"Tolong kamu antarkan pulang gadis itu ya," tunjuk Adinda dari layar cctv lantai dua.
"Mah, ada supir, kenapa harus Bastian?"
"Karena semua supir pada sibuk!"
"Tapi Maaaaa!" rengek Bastian terlihat suntuk.
"Dia bakal menjadi calon partner bisnis kita, lagian dia tamu disini, kamu masih ingatkan apa salah satu Moto Woong, Tamu adalah Raja?" pungkas tegas Adinda.
"Haduh, tapi kan lihat-lihat tamunya juga!" ucap kesal Bastian.
"Hem!" decap geleng Adinda.
"Ada taxi online juga, udah mobile kan" alasan Bastian.
"Yah sudah kalau begitu, Biar Mama saja yang mengantarnya pulang!"
"Eee, iya..iya..iya!" ucap Bastian berat hati, kembali masuk ke dalam kamarnya mengambil kunci mobil.
"kamu jangan khawatir, gadis itu tidak akan jatuh cinta dengan kamu!" ucap Adinda.
"Hahahaha!" Bastian reflek tertawa mendengar pernyataan gokil sang bunda.
"Dengar yah Mah, di kasih gratisan, Bastian juga No (ogah)!" ucap sombong putra sulung Adinda.
"Idih, kamu sama saja tengil dan sombongnya seperti Papa mu dulu."
"Mau di antar enggak nih!" ucap Bastian.
"Sudah cepetan!" perintah Adinda.
ikut merasa senang dan gembira dengan akhir cerita yang berakhir bahagia, Farel pun akhirnya mnyadari kesalahannya serta mau meminta maaf.
Setiap kehidupan ada hal2 yang harus kita lalui baik ataupun buruk. terkadang kita menanyakan mengapa hal2 buruk harus menimpa diri kita..namun yakinlah setiap kejadian yg kita lalui adalah garis hidup yg harus kita lalui yang mngkin saja memberikan pelangi buat hidup kita kedepannya.
Begitu juga dengan kehidupan Mutiara..yg sedari kecil harus menderita, memiliki ibu yg gila dan ayah yg sudah tiada. Namun berkat doa, jerih payah, usaha, kepintaran dan hati yang tulus menerima semua kehidupannya dengan ikhlas dan sabar semuanya akhirnya berakhir bahagia dan indah untuknya
Tentunya banyak hal yg dapat kita petik dari novel ini seperti ttg kasih sayang seorang nenek dan Bunda Adinda kpd cucu dan anaknya. Serta ketulusan hati mutiara dalam mnjalani kehidupannya
Terima kasih Kak Mai atas novelnya..ditunggu utk novel berikutnya.
Tetap semangat, sehat selalu dan sukses utk karya2nya...🙏
ini adiknya Mutiara akan seumuran sama anaknya dong 🤭🤭🤭
semoga bs mngikuti jejak Bastian dan Mutiara 🤭🤭
jgn kalah lahh..coba dekatin Tiffani
itulah buah dari kedengkian dan keserakahanmu..
dan alhamdulillah semua happy ending dengan pasangan'y masing", trimakasih banyak buat ka'Sarah yang telah membuat karya luar biasa ini banyak hikma yang di petik dari kisah MH banyak pelajaran hidup terutama PERJUANGAN, SABAR juga Keikhlasan... jangan menyerah dengan ke ada'n di saat qita berasa dalam titik terendah selalu berserah diri dan berpasrah kepada Allah...
trimakasih banyak ka'sarah di tunggu lagi karya" hebat mu tetep semangat dan sehat selalu ya🤗🤗🤗🥰🥰🥰🥰