Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Teror Kuli Proyek
Malam itu begitu sepi dan dingin saat para pekerja sibuk bekerja membangun mall di sana. Lampu sorot besar menerangi lahan luas yang berada di dekat pohon di area taman. Suara mesin gergaji yang sedang memotong kayu terdengar samar. Beberapa pekerja masih sibuk beraktivitas sejak sore tadi. Namun, entah kenapa, suasana malam itu terasa sedikit mencekam.
Seorang satpam berjalan pelan menyusuri wilayah pembangunan itu dengan hati-hati. Dia memandang sekitar, memastikan keadaan supaya tetap aman. Pria itu membawa senter dan menyalakannya agar bisa melihat dengan jelas. Cahaya senter itu bergerak ke kanan dan kiri, menyorot tumpukan besi, sementara, genteng.
Saat dia tengah berjaga, tiba-tiba saja ada salah satu kuli berlari dengan napas terengah-engah. Wajahnya sedikit pucat dan keringat dingin mulai bercucuran. Dengan jantung yang berdebar-debar seperti mau lepas, dia menatap satpam dengan rasa takut penuh khawatir.
"Tadi saya dengar ada suara bisik-bisik dari belakang rumah panti asuhan itu," ucap kuli itu dengan suara lirih dan gemetar. Dia menunjuk ke dalam panti asuhan itu, berusaha memberi isyarat agar satpam tersebut mau membantu menyelidiki.
Bukannya khawatir atau waspada, satpam itu justru tersenyum sinis dan memandang remeh kuli itu. "Mungkin cuma tikus itu," jawabnya dingin.
Kuli itu mengerutkan kening lalu menggelengkan kepala, tidak percaya dengan ucapan satpam. "Tapi pak, di sana juga ada penampakan bayangan. Saya takut—"
"Kalau kamu takut, tidak usah bekerja! Pulang dan jangan harap kamu akan dapat bayaran," sindir satpam itu membuat kuli tersebut kecewa.
Alih-alih memasuki rumah panti asuhan untuk mengecek isi rumah panti asuhan, satpam itu justru melanjutkan perjalanan memeriksa keadaan di area lain. Dengan berat hati, kuli tadi kembali ke dalam panti asuhan untuk mengerjakan tugas yang belum selesai.
Dengan langkah pelan dan rasa takut yang terus menghantui pikiran, kuli itu mencoba tetap tenang. Sebisa mungkin dia berusaha fokus pada apa yang dikerjakan. Sementara di sekitar terus saja ada suara-suara aneh yang mengganggu. Suara pintu yang buka tutup sendiri, suara meja yang bergesek, serta gorden yang berembus kencang.
Di balik jendela, ada sosok bayangan yang sangat menyeramkan. Sosok itu menatapnya dengan seringai tajam. Wajahnya setengah cantik setengah rusak. Mata sosok itu menyala merah seolah sedang memandangnya dengan rasa lapar. Di punggung sosok itu, ada dua sayap yang terus berkibar. Salah satu sayap itu dipenuhi api yang menyala-nyala.
Tanpa sadar, air mata mulai menetes membasahi wajahnya yang pucat. Kuli itu mulai merasa gemetaran, kepalanya terasa berat. Pandangan matanya tidak lagi bisa fokus dengan apa yang terjadi. Semakin dipaksakan hanya akan membuat dia terluka. Awalnya luka itu kecil tapi karena sering terjadi membuat pria itu meringis kesakitan.
"Heh, apa yang kau lakukan? Cepat lakukan pekerjaanmu dengan benar!" tegur insinyur yang baru saja memasuki rumah panti asuhan itu. Dia sengaja datang untuk memeriksa keadaan yang ada di dalam karena satpam penjaga sibuk menjaga area lapangan.
Tidak ada sahutan. Suasana di dalam rumah itu makin hening dan mencekam.
“Heh! Udah miskin, malas lagi. Jawab dong!”
Insinyur itu pun menyalakan senter untuk melihat jelas apa yang terjadi. Pria itu seketika membulatkan mata melihat kuli itu sudah tak sadarkan diri dengan punggung tangan yang penuh luka sayatan.
‘MANUSIA SAMPAH’
‘MANUSIA SAMPAH’
‘MANUSIA SAMPAH’
Goresan tak beraturan memenuhi sekujur tangan kuli.
Insinyur yang tadinya sok berani, akhirnya malah takut juga. Lalu dengan segera memanggil bantuan untuk membawa kuli ini pergi dari rumah panti.
Beberapa pekerja mengobati kuli yang tidak sadarkan diri dengan obat seadanya, sebelum mereka membalutnya dengan perban. Mereka juga menidurkan kuli itu di atas ranjang yang sedikit keras papan kayunya. Beruntung, luka yang ada di tangannya itu tidak parah. Setidaknya, tangannya masih bisa digunakan lagi.
Keesokan paginya, semua orang dikumpulkan di lapangan. Sementara kuli tadi malam itu juga ikut berkumpul tapi dengan posisi setengah berbaring, berbeda dengan yang lain yang berdiri. Mereka semua menatap insinyur yang berada di depan mereka dengan hikmat saat mendengar amanat dari pria itu.
"Saya tidak mau tahu seberapa lelah kalian bekerja. Kalau kalian lelah, lebih baik mundur. Ini proyek penting, saya tidak mau kemalasan kalian membuat pekerjaan tertunda," tegas insinyur itu pada semua orang.
Insinyur itu melirik satpam penjaga sesaat, tatapannya makin tajam dan ada kekesalan di dalamnya. "Dan untuk Arman, saya perintahkan fokus memeriksa keadaan sekitar. Bukan cuma di luar doang, tapi juga di dalam bangunan. Terutama awasi pekerjaan para kuli." lanjutnya.
Arman, satpam tersebut mengangguk dengan wajah datar. "Baik, Pak Kamal."
Setelah amanat selesai, para pekerja pun kembali melanjutkan pekerjaan. Akan tetapi, khusus kuli semalam, dia diberi izin untuk bekerja berdua bersama rekannya pada pekerjaan yang lebih ringan. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar kejadian tadi malam tidak terulang lagi.
Selama bekerja seharian, tidak ada kejadian aneh sama sekali. Semua berjalan normal dan tenang. Bahkan dua kuli itu saling bercanda di sela-sela mengobrol saat bekerja agar tidak jenuh. Hingga malam hari pun tiba. Hawa dingin mulai menyelimuti daerah pembangunan itu.
Sudah dua jam sejak adzan magrib berkumandang, mereka terdiam dan fokus bekerja. Karena tak mau membuat suasana sunyi, teman kuli itu iseng mengajaknya mengobrol kembali. Sebenarnya ada beberapa kuli juga, namun sedang mengerjakan di lokasi berbeda. Sementara sang satpam Arman sekarang juga berkeliling dengan aktif ke seluruh penjuru panti yang luas.
"Aku masih tidak mengerti, Reno," ucapnya pelan membuat kuli semalam yang bernama Reno itu menoleh sekilas. "Aku penasaran apa yang terjadi semalam sampai kamu bisa terluka seperti ini."
Mendengar itu, Reno pun terdiam sesaat. Dia menghentikan pekerjaannya dan menceritakan kejadian semalam. "Aku coba untuk fokus bekerja tapi sosok itu terus memantauku sampai aku terluka tanpa sadar, Artha," jelas Reno.
Artha—teman Reno tidak percaya akan sosok penampakan yang dimaksud. Dia terkekeh sambil mengerutkan kening, matanya menatap Reno dengan ragu. Pria itu menggelengkan kepala.
"Mungkin itu karena kelelahan saja. Hantu itu tidak ada, itu hanya halusinasi," jawab Artha.
Reno menggelengkan kepala cepat. Tatapan matanya berubah tajam. "Aku serius, kemarin ada sosok seram di balik jendela. Wujudnya...," Reno menceritakan penampakan Naja semalam pada Artha tapi temannya justru tertawa kecil.
"Itu hanya mitos. Aku tidak percaya zaman sekarang masih ada begituan," sindir Artha.
Tak mau berdebat, Reno pun memilih melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin malam ini bisa menyelesaikan target pekerjaan. Artha juga begitu, mereka sama-sama fokus bekerja. Suasana menjadi hening kembali.
Saat sedang fokus bekerja, mereka kembali mendengar suara aneh. Kali ini bukan hanya suara benda-benda bergesekan atau bergerak sendiri, mereka juga mendengar suara tawa dan tangis anak kecil. Merasa ada yang aneh, Reno melirik Artha. Mereka saling berpandangan dengan rasa penasaran.
"Apa kau dengar apa yang aku dengar?" tanya Reno pada Artha dengan suara berbisik, mencoba memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi.
Artha mengangguk. "Aku juga mendengarnya. Sudah lebih baik lanjut pekerjaan daripada nanti Pak Insinyur marah," tegurnya.
Saat pekerjaan di salah satu ruangan di panti asuhan selesai, mereka pun beranjak untuk mencari sumber suara. Khawatir jika masih ada anak panti asuhan yang masih di sini. Namun, saat mereka hendak membuka pintu ....
DEG
Betapa terkejutnya mereka saat sosok Naja sudah ada di balik pintu ruangan yang akan mereka masuki. Penampilan Naja yang menyeramkan dengan separuh wajah gelap, mata merah menyala, sayap berapi. Sosok itu menyeringai dan mendekatkan wajah itu pada mereka membuat jantung mereka seperti mau lepas.
“Halo bapak-bapak ganteng, main yuk?”
Seketika mereka berdua pingsan ditempat.
tp ini kesempatan buat kamu jujur Raka, Satria bakal bantu kamu kok.
kira" bakal cinlok ga ya mereka 🤣🤣🤣