Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Ryan. Ryan Jamaludin."
Ryan perkenalkan dirinya sendiri, di saat menjabat tangan Leo, waktu diperkenalkan Nona Elly pada kakak keduanya.
Leo menoleh ke arah Jhonson, berganti ke arah Alex, kemudian menganggukkan kepalanya paham, dengan melepas jabatan tangannya.
"Ternyata seorang Ryan Jamaludin, yang sedang banyak dibicarakan oleh orang-orang kantor itu adalah Kamu?" Leo bertanya dengan memperhatikan penampilan Ryan.
Saat ini Ryan berpenampilan layaknya orang kantoran pada umumnya, dengan model dan bahan pakaian yang biasa. Tidak terlihat adanya kemewahan dan kelebihan yang dikenakan Ryan, sehingga senyuman sinis terbit di sudut bibirnya Leo.
"Kak Aku ke sana ya!"
"Yuk Ryan! Juta cari tempat duduk dulu, baru setelah itu kita memesan makanan."
Nona Elly pamit pada kakaknya, Leo, kemudian mengajak Ryan untuk pergi ke meja yang lain. Dia sudah merasa tidak nyaman, pada saat kakaknya perkenalkan dengan Ryan tadi. Tapi tentunya nona Elly tidak mengatakannya secara langsung.
Tanpa menunggu persetujuan dari kakaknya, Nona Elly menarik tangan Ryan, supaya menjauh dari tempat kakaknya berada. Dia tidak mau jika kakaknya itu akan bertanya tentang banyak hal, setelah tahu siapa Ryan yang saat ini bersama dengannya.
"Maaf ya Ryan! Aku harus menjauhkan Kamu dari kakak segera. Dia itu mulutnya kasar, jika berhadapan dengan orang yang dianggap tidak selevel dengannya."
Nona Elly mencoba memberikan penjelasan kepada Ryan, mengenai alasannya membawa Ryan pergi dari tempat Leo berada.
Setelah menemukan tempat duduk yang dirasa nyaman, Ryan bersama dengan Nona Elly duduk, latihan memesan makanan kepada pelayan restoran.
Di saat menunggu pesanan datang, Nona Elly pamit untuk pergi ke kamar kecil lebih dahulu. "Wait a minute! I'm going to the restroom first."
Melihat kepergian adiknya, Leo bersama dengan Alex dan Jhonson, datang mendekat ke tempat duduknya Ryan.
"Hehhh! Kamu jangan pernah mencoba untuk memanfaatkan adikku! Jika sampai itu terjadi, nyawamu akan segera pergi ke neraka!" Leo mengancam Ryan.
Tapi Ryan tetap tenang menghadapi ancaman tersebut. Dia tidak pernah menghadapi mereka bertiga, apalagi hanya dengan gertakan semacam ini.
Melihat wajah Ryan yang terlihat tenang, Alex menatap tajam. Begitu juga dengan Jhonson, bos Amerika yang merupakan musuh Ryan, yang ada di bawah naungan nona Elly juga, bersama dengannya.
"You're not stupid are you?"
"Jika Kamu adalah laki-laki yang cerdas, maka segeralah pergi dari sisi Elly!"
Setelah memberikan ancaman dan peringatan seperti itu, Leo berlalu, bersama dengan kedua orang yang mengikutinya tadi. Yaitu Alex dan Jhonson.
"Huhhh..."
Ryan membuang nafas kasar, begitu mereka bertiga pergi dari hadapannya. Dia bisa saja membantah atau melawan, tapi saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran, yang tentunya cukup ramai pada saat jam istirahat kantor seperti siang ini.
Tapi di dalam hatinya Ryan bertekad untuk mewujudkan ancaman dari kakaknya Nona Elly, "Aku justru merasa tertantang, setelah Kamu mengatakan hal yang tadinya tidak pernah ada di dalam rencana ku."
Ryan Jamaludin justru menemukan sebuah rencana baru, supaya bisa menjadi orang yang berkuasa di perusahaan ST. Dia ingin mengetahui kebenaran tentang semua usaha yang dijalankan oleh perusahaan tersebut.
Semua itu dilakukan oleh Ryan Jamaludin, karena dia merasa ada banyak sekali rahasia besar yang disimpan oleh perusahaan sebesar ST ini. Termasuk dengan isi flashdisk, yang tadi dia temukan secara tidak sengaja, dan sekarang ini flashdisk tersebut aman di saku jasnya.
Teka teki tentang cek besar 1 milyar, yang tercantum dalam cek tersebut, membuat Ryan berpikir keras, karena nama pamannya Ilham Jamaludin, yang tertera cek tersebut. Apalagi di tambah dengan adanya memo, yang terbaca seperti sebuah perintah untuk menyingkirkan seseorang.
Jadi bisa disimpulkan bahwa, cek sebesar itu adalah kompensasi yang diberikan oleh pemilik perusahaan ST, pada pamannya Ryan, guna menyingkirkan seseorang yang menjadi target mereka.
Tapi seseorang itulah yang belum bisa ditemukan oleh Ryan, karena tidak ada satu pun nama seseorang, hingga flashdisk itu tertutup dan ada-ada lagi sesuatu yang tersimpan.
"Ini murni dari sebuah perintah, atau kebetulan Paman adalah orang yang dikenal baik oleh pemilik perusahaan ST, sehingga memberinya modal untuk membuka usaha?"
Ryan masih menghubungkan peristiwa demi peristiwa, potongan-potongan kehidupan pada masa lalu yang masih dia ingat.
Puk!
"Melamun aja hobbynya!"
Nona Elly menepuk lengan Ryan, dengan kata-kata protesnya, membuat Ryan terkejut.
"Ehhh, maaf... Maaf Nona!"
Dengan gugup Ryan meminta maaf pada Nona Elly, yang baru saja kembali dari kamar kecil. "Dia denger nggak ya, apa yang Aku katakan tadi?" batin Ryan cemas.
Melihat Ryan yang terkuat gugup, Nona Elly berinisiatif untuk bertanya, " apakah pesanan makanan kita belum sampai?"
Di atas meja mereka, belum ada satu makanan pun yang datang. Hanya ada 2 gelas jus mangga, yang sudah tersedia di atas meja, rena mereka tadi memang memesan jus mangga.
"Wahhh... tumben lama sekali pesanan datang," gerutu Nona Elly, melihat restoran ini lamban dalam pelayanan.
"Lho kakak sudah balik?"
Nona Elly kembali bertanya, meskipun itu tidak memerlukan sebuah jawaban, disaat melihat meja kakaknya tadi sudah kosong.
Ryan hanya menanggapi dengan sebuah anggukan kepala, karena tak lama kemudian pelayan datang, membawakan pesanan makanan mereka.
Akhirnya Nona Elly mempersilahkan Ryan untuk menyantap makanan terlebih dahulu, sebelum nanti mereka berbincang ringan.
"Udah yuk makan dulu!"
"Kita bisa bicara hal lain setelah selesai makan," ajak Nona Elly, yang sebenarnya juga sudah merasa lapar.
*****
Di perusahaan ST, ruangan Leo.
Tangan Leo terkepal kuat, saat mendengar penuturan Jhonson, mengenai ryan Jamaludin.
"Iya Bos Leo. Ryan itulah yang udah menjebak Nona Elly, dengan kerjasama dengan game perusahaan Moonton. Dan itu bernilai sangat besar." Jhonson memberitahu Leo.
"Apa kelebihan laki-laki tersebut?" tanya Leo, dengan m3r3mas kertas yang saat ini berada di depannya.
Akhirnya Jhonson membeberkan kemampuan Ryan dalam mengelola game baru, yang telah mengalahkan game miliknya.
"Bisa saja kan Bos, semua ini adalah taktik dari Ryan Jamaludin, yang ingin mendekati Nona Elly?" Jhonson semakin mempengaruhi Leo, karena selain dia memang memiliki dendam pada Ryan di kantor, Jhonson juga dendam pada laki-laki tersebut, Ryan, sebab sudah menggagalkan rencana kencannya bersama dengan Mira, seorang gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama dua minggu.
Akhirnya Leo memanggil bawahannya, "Alex! Aku ingin Kamu melakukan sesuatu untuk menggagalkan semua rencana Ryan, yang ingin mendekati adikku. Jika Kamu berhasil dalam tugas ini, posisimu sebagai ketua divisi akan Aku kembalikan lagi."
"Tapi ingat!! Jika Kamu gagal, apalagi sampai ketahuan dan tertangkap, maka bersiap-siaplah seandainya lehermu putus!"
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!