Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Sampai di toko buku, Shofi langsung bergegas masuk dan mencari beberapa buku yang ia butuhkan, sedangkan Adit hanya memantaunya saja.
"Sudah dapat bukunya?" tanya Adit melihat Shofi berjalan menghampirinya.
"Nah, ini dia" ucap Shofi menunjukan kantong berisi buku di dalamnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang" ucap Adit melangkahkan kakinya ke parkiran mobil.
Shofi mengangguk kepala dan berjalan mengikuti Adit.
Adit menyetir mobilnya menuju kediaman rumah Shofi, namun na'asnya mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba ada masalah.
"Loh, kok berhenti?" tanya Shofi penasaran menatap Adit.
"Gak tau. Tunggu gue cek dulu" ucap Adit sembari turun. Ia mengecek ke seluruhan mobilnya, ternyata mobilnya mengalami kempes ban.
Ia segera kembali ke dalam mobil dan mengambil ponselnya.
"Kenapa?" tanya Shofi mengernyit keningnya.
"Kempes ban"
"Hah? loh! kok bisa?" tanya Shofi khawatir.
"Gak tau, kayanya kepijak paku" ucap Adit sambil mencoba menghubungi seseorang.
Tut..tut..tut..
Beberapa kali ia mencoba menghubunginya tapi tidak juga diangkat, ia mencoba menghubungi Rangga, Eri, dan kedua orangtuanya juga gak diangkat, mungkin saja karena sudah larut malam, sehingga mereka semuanya harus istirahat mengingat besok semuanya harus kerja.
"Gimana?" tanya Shofi menatap Adit.
"Gak dijawab" ucap Adit menggeleng kepala.
"Coba hubungi lagi, kak Eri, kak Rangga?"
"Udah gue hubungi berkali-kali, tapi nihil. Mungkin mereka sudah tidur" jelas Adit memelas.
"Ya Allah, gimana ini?" ucap Shofi mulai khawatir.
Shofi melihat jam di tangannya yang sudah menuju jam 11 malam, ini sangat larut baginya, karena ia harus ke toko buku sehingga tak terasa jam terus berjalan tanpa menunggu mereka sedikitpun.
Kekhawatiran Shofi semakin meningkat ditambah lagi dengan tugasnya yang harus selesai sebelum jam 4 pagi, membuatnya semakin frustasi.
"Lo tenang dikit, jangan bikin gue panik" ucap Adit melihat Shofi yang dari tadi duduknya tidak tenang.
"Gimana gue bisa tenang, ini udah larut, dan tugas gue belum gue kerjakan" ucap Shofi frustasi.
"Kalau lo cerocos mulu gimana gue mau cari jalan keluar buat lo" ketus Adit kesal.
Shofi terdiam ia berusaha tenang dan memikirkan jalan keluarnya sendiri. Tak perlu lama sebuah ide muncul di kepalanya, ia merasa sedikit lebih lega.
"Lo bawa laptop gak?" tanya Shofi menatap Adit penuh harapan.
"Ada, kenapa?" tanya Adit penasaran.
"Pinjam, gue mau bikin tugas" ucap Shofi memohon.
"Lo tunggu disini, biar gue ambil" ucap Adit membuka pintu dan berjalan keluar, mengambil laptop di bagasinya, kemudian ia kembali dan menyerahkan kepada Shofi.
Shofi langsung mengambil laptop dari tangan Adit, ia langsung mengerjakan tugasnya. Adit juga ikut membantunya mengerjakan tugasnya. Meskipun Shofi sangat menjengkelkan, ia tetap harus membantunya, mengingat ini menjadi tanggung jawabnya, kalau saja ban tidak kempes, sudah dari tadi mereka kembali ke rumah dan Shofi tidak repot-repot mengerjakan tugas di dalam mobil. Tidak butuh waktu berjam-jam, akhirnya Shofi menyelesaikan tugasnya, ini semua berkat Adit yang sudah membantu Shofi. Shofi langsung mengirim tugasnya ke email pak Boy. Setelah semuanya clear Shofi merasa tubuhnya sangat pegal-pegal, matanya pun begitu lelah. Ia menutup laptopnya dan meletakkan di sampingnya, ia pun memejamkan matanya, ia berharap bisa istirahat sebentar di mobil.
Drrrtt...drrttt...
Adit langsung mengambil ponselnya dari sakunya.
"Assalamualaikum, Bos" ucap Dimas, asistennya Adit.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah"
"Ada apa, Bos?" tanya Dimas parau, nada baru bangun tidur.
"Ban mobil gue kempes, lo bisa kesini bantuin gue?" pinta Adit penuh harapan.
"Ok bos. Langsung share loc"
"Ok. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah".
Adit merasa lega, akhirnya ada juga yang bisa membantunya. Ia melihat Shofi yang sudah terlelap. Ia hanya tersenyum melihat Shofi yang sedang tidur. Shofi terlihat cantik ketika sedang tidur, wajahnya begitu tenang, kalau sedang bangun bagaikan singa betina, yang selalu mengaung saat bertemu dengannya.
Tok..tok..tok..
Dimas mengetuk kaca pintu mobil membuat lamunan Adit membuyar, Adit dengan segera membuka pintu.
Beberapa saat kemudian mobilnya berhasil diganti bannya, ia merasa lega akhirnya ia bisa mengantarkan Shofi kembali ke rumahnya dan ia juga bisa kembali ke rumahnya untuk istirahat.
"Thanks ya, Dim" ucap Adit dengan senyum dibibirnya.
"Sama-sama, Bos. Gue balik ya" ucap Dimas berjalan ke mobilnya.
Adit langsung masuk ke mobilnya dan melaju ke kediaman Shofi.
"Shofi.. Shofi.. Bangun" panggil Adit berusaha membangunkannya.
"Hoammm.. Udah pagi ya?" tanya Shofi membuka matanya perlahan-lahan.
"Cepat lo turun, gue mau pulang" ketus Adit.
"Oh, ok. Terima kasih ya" ucap Shofi mengambil tas dan bukunya, ia segera keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya.
Adit langsung pergi dan meninggalkan kediaman Shofi.
Begitu juga dengan Shofi, ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan ia membawa kunci serapnya sehingga ia tidak kualahan membangunkan mereka semua.
Shofi berjalan ke kamarnya, ia meletakan buku dan tasnya, kemudian ia mengganti pakaiannya dan langsung tidur. Ia merasa sangat lelah.
Adit sampai di rumah, Adit memakirkan mobil di garasi. Ia melihat semua lampu di kamar telah dimatikan, itu menandakan semuanya telah tidur, ia melihat jam, dan sangat wajar, kini jam menuju pukul 1 pagi. Mata Adit pun sangat lelah, sehingga ia harus segera ke kamarnya. Tak butuh waktu kama ia segera menggantikan bajunya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, seakan semua uratnya menjadi lebih enakan, ia pun tertidur.
Hari yang melelahkan bagi keduanya, sehingga tidur menjadi jalan terbaik untuk tubuh mereka.