Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.
Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.
Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIV NIGHTMARE
Matanya terpejam erat, bibirnya terkatup rapat. Tubuhnya mengigil di hawa yang ada di bawah derajat manudia dapat bertahan tanpa baju hangat. Tapi Nadine kecil di sana, memeluk erat kedua lututnya dan merapatkan diri di delat dinding.
Suara hujan dan petir saling bersahutan menjadi sayu kesatuan. Menyeramkan dalam kedinginan yang dalam.
"Hey, jangan takut, di sini tidak seram, hanya gelap."
Sayup-sayup Nadine mendengar sebuah suara yang familiar di telinganya. Suara itu menggema di seluruh ruangan yang membuat Nadine akhirnya mengangkat kepalanya. Rambutnya yang dikepang dua bergerak seraya perpindahan posisi.
Akhirnya Nadine menatap sekitar dengan cahaya remang-remang entah dari mana asalnya. Hanya ada gelap, gemerlap cahaya dari petir di luar membuatnya sedikit demi sedikit mulai melihat isi ruangan. Air hujan yang dingin justru menenangkannya dan seolah memberitahu jika dia tidak ssndirian. Bahwa kegelapan tidak menakutkan, tapi justru menentramkan.
Nadine melihat hujan di luar sedikit demi sedikit tersenyum. "Woah, cantiknya, hujan selalu punya cara untuk memberitau kalau yang takut bukan hanya kita, tapi dia juga."
"Kau benar gadis kecil."
Nadine terperanjat lagi-lagi mendengar suara itu. Tadi dia pikir, jika dirinya hanya berhalusinasi karena memejam terlalu erat dan hanya fokus pada pikirannya. Tapi mendengar suara itu membalas, Nadine benar-benar kebingungan.
"Kau siapa?" Tanyanya takut.
"Jangan takut, gadis kecil, aku akan menemanimu," Ujar suara itu menenangkan Nadine.
Dari suaranya yang lembut seorang wanita, Nadine tidak merasakan ketakutan. "Aku tidak takut."
"Bagus, gadis yang pintar. Apa kau kedinginan?"
Tangan Nadine memang bergetar sejak tadi, bahkan kali ini badannya ikut bergetar. Kaos lengan pendek dengan celana terusan sangat tidak cocok untik udara sedingin ini.
Nadine mengangguk membenarkan.
"Buka salah satu kaus kaki yang menggantung di perapian, di situ kau akan menemukan satu korek api, lalu kau bisa menyalakan tungku perapian di depanmu."
Nadine bangkit dan melakukan apa yang suara itu perintahkan. Di atas perapian terdapat kaus kaki-kaus kaki yang tergantung seperti saat natalan, berwarna biru muda, coklat dan merah berjejer sepasang dengan rapi. Nadine tidak bertanya mana kaus kaki yang harus di ambil, dia hanya mengambil di dalam kaus kaki dengan warna yang dia sukai.
Nadine memasukkan tangan kecilnya ke dalam kaus kaki biru muda dan menemukan sebuah benda di sana. Setelah mengeluarkan isinya, ternyata itulah korek api yang dimaksud sang suara.
Satu tarikan puntung korek, Nadine bisa menghidupkan tungku itu. Perlahan-lahan udara di ruangan mulai menghangat dan kegelapan tak lagi menakutinya.
Setelah mendapatkan penerangan meskipun samar-samar, Nadine baru menyadari jika semua hal di ruangan ini berwarna gelap, entah itu hitam atau abu-abu. Satu-satunya hal yang berwarna adalah api yang menyala di perapian dan kaus kaki yang tergantung di atasnya.
Pikirannya menggantung tatkala sebuah bayangan tiba-tiba bergerak. Mulanya Nadine abai, akan tetapi bayangan itu perlahan-lahan mendekat ke arah dirinya. Bayangan itu membentuk sebuah tangan, seperti hendak mencengkeram kakinya yang dia tekuk.
Kaki dan tangan Nadine bergetar, tiba-tiba perasaan takut mencekik tenggorokannya. Kaki kecilnya meninggalkan ruang tengah dan menarik kenop pintu menuju keluar.
"Aaaaaa!" Nadine berteriak kencang tatkala petir menyambar bersamaan dengan dirinya keluar dari rumah itu. Matanya terpejam erat dan kedua tangannya menutupi masing-masing telinga. Dia dapat merasakan rintik hujan mulai perlahan membasahi punggungnya.
Kaki-kaki telanjangnya menyentuh tanah basah, bajunya pun redam akan air hujan. Bagaimana ruangan itu membuatnya takut adalah tidak ada warna yang sepadan seperti yang biasa dilihatnya. Bagaimana jika kedua matanya sudah tidak normal untuk dapat melihat warna. Tanpa mengetahui bahwa benda lainnya juga memiliki warna.
Kaki-kaki telanjangnya menyentuh tanah basah, bajunya pun redam akan air hujan. Bagaimana ruangan itu membuatnya takut adalah tidak ada warna yang sepadan seperti yang biasa dilihatnya. Bagaimana jika kedua matanya sudah tidak normal untuk dapat melihat warna. Tanpa mengetahui bahwa benda lainnya juga memiliki warna.
Lalu kakinya tak merasakan tanah basah lagi, digantikan sebuah benda halus yang menyapu pergelangan kakinya. Nadine dapat merasakan punggungnya juga tak basah lagi. Perasaan hangat dapat dirasakan oleh badannya.
Nadine melonggarkan pejaman matanya, melihat dengan pelan apa yang berubah dari hujan badai menyeramkan itu. Ternyata Nadine kembali pada sebuah gurun yang hangat. Menghangatkan seluruh badannya yang ternyata sudah menggiggil, entah karena ketakutan atau kedinginan.
Nadine pernah kemari, rasa hangat yang tidak asing dengan pasir yang mengubur kakinya. Ketika dia membalikkan badan, benar saja, reruntuhan kerajaan masih dia lihat berdiri dengan kokoh di sana. Seolah tidak akan runtuh oleh gumpalan pasir yang membawa angin.
Terakhir kali nya, Nadine tidak pernah bisa menerka kerajaan apa yang memiliki aura kegelapan itu. Dimanakan dirinya bermimpi dengan lokasi yang sama dan bisa dia ingat. Kakinya tak lagi memaku ketika dia berhasil mengajak mereka berjalan.
Mengikis jarak, menuju reruntuhan kerajaan yang tidak asing itu. Nadine penasaran, jikalau dia memang ada di abad pertengahan, lantas ada di negara manakah saat ini. Budaya manakah yang akan dia temui nanti.
Tidak enggan, Nadine memasuki gerbang yang memiliki gerbang roboh dari kerajaan itu. Bahkan simbol ular yang terpatri di depan gerbang sebagai pajangan pun menyatu dengan tanah. Kakinya menyentuh dengan batu marmer hitam yang sedikitnya memantulkan bayangan.
Siang itu terik, tapi dengan kaki telanjang Nadine tak merasakan panas membakar kakinya.
Nadine melihat bahwa kerajaan itu dipenuhi dengan tanaman yang aneh. Seperti bunga pemakan binatang berwarna hitam, mawar hitam, dan sebuah pohon berdiameter besar seolah mengawasi tanaman-tanaman di bawahnya. Agak terpaku sejenak sebelum sebuah elang menyeruakkan suaranya dan masuk ke dalam kerajaan lewat celah atap yang bolong.
Tepat di depannya pintu setinggi dua meter berdiri dengan kokoh. Memiliki simbol-simbol yang terasa asing dalam ingatannya. Jikapun pernah melihat, mustahil baginya untuk dapat mengingat simbol-simbol rumit itu.
Mendorong dengan satu tangan pintu itu disusul dengan decitan yang mengudara menjadi sebuah gema. Nadine mendorong dirinya untuk masuk di celah yang terbuka.
Dirasuki rasa penasaran, Nadine menelusuri dalam kerajaan itu. Menurutnya kerajaan ini terlalu sepi, usang, dan gelap, tidak seperti kerajaan yang ada dalam bayangannya yang memiliki pasukan di setiap sudut. Kegelapan seolah menjadi fondasi utama kerajaan ini dibangun.
Tidak ada foto di dinding-dinding kerajaan, hanya kekosongan dan monoton warna netral bebatuan yang terpasang. Nadine berpikir jika adapun seseorang yang tinggal ditempat membosankan seperti ini. Dia pasti tidak ingin, akan menempatkan banyak barang dan gambar sebagai hiasan. Toh gambar sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Nadine melihat cahaya dari satu ruangan, mendorong pintu dari salah satu lorong, yang mungkin satu-satunya ruangan yang dia bisa temui. Sebuah taman yang agak normal bisa dia lihat. Rumput hijau dan suara burung bernyanyian terdengar asri di telinganya. Udara yang menyapa pun tampak bersahabat. Ditengah-tengah taman itu ada sebuah danau dengan warna air biru jernih.
Samar-samar terdengar suara, seperti suara dua orang yang saling bersahutan satu sama lain. Anehnya Nadine merasa tidak asing dengan suara itu.
Nadine berlari kecil untuk menemukan sumber suara itu. Dengan perasaan menggebu-gebu dirinya mengabaikan semua perasaan takutnya. Dia menemukan lorong lainnya setelah menginjakkan kaki di rerumputan, menyeberangi taman dan mengikuti suara itu.
Lalu matanya menangkap sebuah siluet yang tidak asing. Proporsi badan yang sempurna yang sulit sekali untuk tidak dia ingat. Tampak sedang berhadapan dengan seseorang entah sesuatu, seperti bayangan seekor ular.
"Anak hawa itu entah akan membawa kebaikan atau keburukan bagi Anda, Tuan. Begitulah arti dari Pheony, sebuah bunga yang memiliki arti."
"Dan Tuan, sepertinya Anda akan menghadapi perang darah."
"Eli?" lirihnya dalam keheningan.
Tubuhnya lantas seperti di tarik ke belakang oleh semesta. Suaranya tak mampu terdengar sekalipun berteriak sekeras mungkin. Seperti sebuah tali yang sedang menariknya untuk kembali ke awal. Baru saja Nadine pikir dia akan menemukan penyelamatnya sekarang dia harus pergi meninggalkan tempat itu. Tidak, dia tidak ingin kembali ke rumah itu, rumah yang mencekik dan menyeramkan itu.
Rumah itu adalah mimpi yang sangat buruk.
"Tidaaakkk!"
Kedua bola matanya terbuka sempurna, bayangan hitam itu berubah menjadi atap putih bersih. Matanya masih menyesuaikan, pikirannya yang kalut masih dia usahakan untuk kembali. Nadine mencoba mengumpulkan kembali kepingan ingatan tentang apa yang terjadi sebelumnya.
"Nadine! Are you okay?" Dan menemukan raut khawatir Aileen.
...****************...