Di Ibu Kota Jakarta, Ilham Alamsyah seorang pemuda yang menjadi menantu sampah, dibunuh oleh kekasih dari istrinya dan bereinkarnasi di dunia kultivator.
Hahahaha AKU??
AKU ADALAH XINCHEN
Aku akan membantai kalian semua yang ingin menjadi musuhku!!!
APAA? PARA DEWA???
Hahahaha akan ku injak-injak para dewa sialan itu!!!!!
Karya pertama
Jadi maaf, masih banyak salahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Semartis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14 - Pembantaian Klan Yan & Menyiksa Yan Mo
Setelah Xinchen selesai makan dan minum, ia bergegas keluar dari rumah makan tersebut. Di luar rumah makan, Xinchen melihat hari sudah malam dan ia juga melihat orang-orang yang ia kenali.
"Tuan muda, bagaimana keadaanmu?" Tanya orang yang dikenali Xinchen.
Melihat dan mendengar orang itu, Xinchen tersenyum menakutkan. Orang itu adalah tetua keenam klan Yan, Yan Su.
Tetua Yan Su juga merupakan orang yang sering menghina dan menghajar Xinchen dulu.
Tidak mendapat jawaban dari Xinchen, tetua Yan Su segera bertanya kembali. "Tuan muda, apakah anda baik-baik saja" sembari berjalan ke arah Xinchen dan mencoba memegang pundaknya.
Slasshh
Saat tetua Yan Si hendak memegang pundak Xinchen, ia langsung menebas tangan tetua tersebut dengan cepat menggunakan pedang yang terbuat dari energi Qi.
Aaaaaarrghhhh
Darah tetua Yan Sin memunrat deras. "Tuan muda apa yang kau lak-". Belum juga selesai menyelesaikan kalimatnya, Xinchen langsung menebas leher tetua Yan.
Slasshh....pluk
Melihat badan dan kepala tetua mereka terpisah, salah satu prajurit klan Yan panik "Tuan muda, kenapa kau membunuh tetua Yan Si?".
"Bukan hanya orang itu saja, melainkan kalian dan seluruh anggota klan Yan akan mati" Ucap Xinchen dengan dingin sembari memandang dan menunjuk ke arah semua prajurit klan Yan yang ada di sana.
Belum sempat bereaksi, Xinchen telah menebas satu per satu kepala prajurit klan Yan dalam kedipan mata.
Slasshh pluk slash pluk slash pluk
Darah para prajurit klan Yan mengucur deras. Semua orang yang melihat tetua dan prajurit klan Yan yang berjumlah lebih dari 20 mati dengan kepala terpisah dari tubuhnya segera berteriak dan melarikan diri.
"Klan Yan, malam ini adalah malam kehancuran kalian" gumam Xinchen dan langsung hilang seketika dari tempat kejadian.
Di tempat yang tak jauh dari kediaman muncul seorang pemuda tampang secara tiba-tiba. Pemuda yang tak laik dan tak bukan ada Xinchen yang sudah bernafsu membantai klan Yan.
Melihat 4 prajurit yang sedang berjaga di depan pintu gerbang klan Yan, Xinchen langsung menebas leher mereka menggunakan pedang berwana ungu gelap yang terbuat energi Qi.
Melihat ada beberapa penjaga lain yang menuju kearahnya, Xinchen juga langsung menebas leher mereka semua. Xinchen melakukan itu semua tanpa menimbulkan suara.
Kediaman klan Yan dibagi menjadi 3 bagian. Bagian luar di huni oleh pelayan dan prajurit tingkat rendah. Bagian dalam, dihuni oleh tetua tingkat rendah,tinggi, prajurit tingkat menengah dan tinggi.
Bagian Inti, dihuni oleh tetua tingkat tinggi dan keluarga Patriak yaitu adik kandung Patriak, istri, anak, termasuk leluhur klan Yan.
Disaat Xinchen telah membantai semua anggota klan Yan di bagian luar dan siap untuk membantai penghuni bagian dalam, di salah satu kamar kediaman klan Yan bagian inti. Terdapat pemuda tanpa busana dan 2 wanita yang juga tanpa busana dengan keringat di sekujur tubuhnya.
Pemuda tersebut adalah Yan Mo, kakak kandung dari Xinchen dan 2 wanita tersebut adalah pelayan klan Yan.
Dapat dilihat dari situasi tersebut, bahwa mereka bertiga telah melakukan olahraga malam.
"Tuan muda, apakah tuan muda telah mendengar kabar baru-baru ini di ibu kota?" Tanya salah satu wanita tersebut sembari menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut.
"Tak kusangka sampah itu masih hidup, padahal pembunuh bayaran yang di sewa ayah telah memastikan, bahwa sampah itu sudah tak bernyawa. Tapi kenapa sekarang ia masih hidup dan menurut kabar itu, ia sangat kuat?" geram Yan Mo sembari mengepalkan telapak tangannya.
"Lantas bagaimana dengan pernikahan tuan muda dengan nona Zhu Lan?" tanya pelayan yang lain.
Mendengar hal itu, Yan Mo sangat kesal. "Klan Zhu pasti sudah tahu akan kabar kekuatan Xinchen, maka dari itu sudah dipastikan bahwa pernikahan kami batal dan si sampah itu yang menggantikan ku untuk menikahi Zhu Lan" Jawab Yan Mo dengan marah.
"Tuan muda, dulu kau sering menghina dan memukuli dia, jika dia membalas dendam dengan membunuhmu bagaimana?" Tanya pelayan yang berada diperlukan kiri Yan Mo.
"Hahahaha aku sangat mengenal sampah itu, ia adalah orang yang pemaaf. Jadi jangankan membunuh, bahkan ia tidak akan mungkin balas dendam kepada kakak kandungnya sendiri" Ucap Yan Mo dengan nada bangga dan diselingi tawa, tapi tiba-tiba.
"Oh ya? Apakah yang kamu ucapkan itu benar kakakku tercinta?" Tanya Xinchen yang tiba-tiba muncul di kamar tersebut dengan senyum menakutkan.
Ya, Xinchen telah membantai semua anggota klan Yan dari berbagai usia dan jenis kelamin. kecuali penghuni kamar ini, orang tua Xinchen, dan Kakek Xinchen.
Melihat orang yang sangat ia kenali, Yan Mo sangat terkejut. "A-adik bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Yan Mo dengan gelisah.
"Aku datang untuk membunuh mu kak" Ucap Xinchen dengan polos sembari menampilkan senyuman menakutkan.
Mendengar dan melihat hal itu, Yan Mo dan kedua pelayan bergedik ngeri. "A-adik aku minta maaf atas semua per-" Belum juga Yan Mo menyelesaikan permohonan maafnya. Xinchen langsung menebas kedua tangan Yan Mo.
arrghhh arrghhh kyaaa kyaaa
Melihat tuan mudanya sudah tidak memiliki kedua tangan, kedua pelayan langsung berteriak ketakutan. Sedangkan Yan Mo berteriak kesakitan.
Mendengar teriakan kedua pelayan, Xinchen langsung menebas leher mereka dan hanya menyisakan Yan Mo yang masih guling-guling di kasur.
"Bagaimana kak? Apakah sakit?" Tanya Xinchen dengan senyuman. Yan Mo sangat dan hendak mengumpati Xinchen tapi kedua kakinya langsung ditebas oleh Xinchen.
Slash slasshh arrghhh arrghhh
"Kak, ayo dong jawab. kan aku tanya" Ucap Xinchen yang masih menampilkan senyuman mengerikan.
"B-bajingan kau sampah, A-AYAAH, K-KAAKEEEK TOLONG AKUU!!" Marah dan teriak Yan Mo meminta pertolongan sembari guling-guling di kasur.
"Hahaha....Berteriak lah sesukamu!! Tidak ada seorang pun yang akan datang dan menolong!" Ucap Xinchen.
Xinchen telah memandang array kedap suara terlebih dahulu sebelum menyiksa Yan Mo. Selain master alkemis, master array, Xinchen juga master Penempa. Semua itu ia dapat dari mempelajari buku kuno dulu.
Melihat Yan Mo yang terus berteriak dan guling-guling sampai saat Xinchen melihat tongkat sakti milik Yan Mo. Ia tersenyum psikopat dan langsung menebas tongkat sakti Yan Mo.
Slasshh aarrgghh
"B-bunuh, b-bunuh aku bajingann!" Yan Mo yang sudah tak kuasa menahan rasa sakit.
Kehilangan dua tangan, dua kaki, dan tingkat saktinya. Membuat Yan Mo berpikir lebih baik Xinchen langsung membunuhnya dari pada menyiksanya begini.
Tentu saja Xinchen tidak ingin langsung membunuh Yan Mo, ia lebih dulu menyiksanya. Karena Xinchen tahu Pemiliki tubuh ini sebelumnya sangat menderita karena orang didepannya ini.
Belum puas menyiksa Yan Mo, Xinchen langsung mencabut mata Yan Mo dan memasukannya kedalam mulut orang itu.
Setelah itu, Xinchen meninggalkan Yan Mo yang sedang kesakitan menunggu kematiannya. Xinchen bergegas menuju ke kamar orang tuanya.
Dalam sekejap Xinchen sudah berada didalam kamar orang tuanya. Ia melihat kedua orang tuanya tengah tertidur. Kedua orang tuanya tidak merasakan keberadaan Xinchen.
"Kalian tidak pantas menjadi orang tua, bagaimana mungkin kalian mencoba membunuh anak kandungnya sendiri!" gumam Xinchen yang tidak dapat di dengar oleh mereka yang lagi tidur.
Xinchen segera memasang array penyegel dan array kedap suara. Array penyegel untuk menyegel kamar tersebut agar orang didalamnya tidak dapat keluar kecuali pembuat array.
Setelah memasang array, Xinchen mengeluarkan.....