Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Gara-gara memikirkan pertanyaan Bagas, semalaman Yasmin tidak tidur. Wanita bahkan bangun kesiangan dengan lingkar hitam di matanya.
"Yasmin, kamu sakit?" Tanya bu Mita khawatir.
"Enggak kok bu," jawab Yasmin dengan suara lesu.
"Tapi kok mata kamu hitam banget. Kenapa? Kamu gak tidur semalaman?"
"Semua ini gara-gara mas Bagas," ucap Yasmin.
"Lah, kok gara-gara aku. Kenapa?" Bagas tidak terima.
"Gara-gara mas Bagas ngajak nikah, aku gak tidur semalaman."
Huft......
Bu Mita membuang nafas kasar.
"Ternyata gerak cepat juga!" Seru bu Mita.
"Bu, saya nanti aja ya sarapannya. Udah gak kuat, mau lanjut tidur." Ujar Yasmin.
"Jangan dong, jawab dulu pertanyaan mas."
"Bagas, kamu ini apa-apaan sih? Kalau Yasmin sakit bagaimana?"
"Eh, jangan. Ya udah, tidur aja!"
Dengan langkah lesu Yasmin menuju kamarnya. Wanita ini langsung terlelap tidur begitu saja.
"Gak sabaran banget, gini kok minta tolong sama mamah!" Bu Mita mengomel.
"Gimana ya mah, kalau ada niat baik itu harus di segerakan. Makanya aku langsung ngomong tadi malam sama Yasmin."
"Terus, dia mau?"
"Masih menunggu jawaban. Jika di lihat, Yasmin masih trauma sama pernikahan."
"Mau gimana lagi, sudah begitu jalannya." Sahut bu Mita.
Bagas bergegas menghabiskan sarapannya. Pria ini rela berangkat siang hanya untuk melihat Yasmin pagi ini.
Di kantor, Bagas merasa gelisah memikirkan jawaban apa yang akan di katakan Yasmin nanti.
"Bagas, ada meeting. Kenapa belum berangkat?" Tegur Vania, teman semasa kuliah yang kini bekerja sebagai Sekretaris Bagas.
"Tidak bisakah kau sopan sedikit pada bos mu?"
Wajah Bagas terlihat dingin.
"Maksudnya gimana?" Tanya Vania tidak mengerti. "Bukankah kita sudah biasa seperti ini?"
"Kau harus mengubah cara mu, Vania. Kita memang teman, tapi ini kantor dan aku bos mu. Hargai aku sebagai bos mu!"
Bagas beranjak pergi dari ruangannya.
"Bagas kenapa sih? Gak biasanya di seperti ini....!"
Vania mengacuhkan teguran Bagas tadi, wanita ini bergegas pergi karena ia harus menghadiri meeting bersama karyawan.
"Bagas, kamu kok mau pulang. Meeting-nya gimana?" Tanya Vania bingung.
"Tolong harga saya sebagai bos. Ini kantor ku, tolong panggil aku yang sopan!"
Sekali lagi Bagas menegur Vania.
"Kamu kenapa sih Gas? Gak seperti biasanya seperti ini....!"
"Vania, jika kamu banyak tanya tentang urusan pribadi ku. Akan ku pecat kau!" Ancam Bagas.
Bagas langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
"Ada masalah apa sih, itu orang? Gak biasanya dia ngancam aku seperti ini. Dasar aneh!"
Vania tidak peduli, wanita ini kembali masuk ke dalam. Bisa di katakan jika selama ini Vania memendam perasaan pada Bagas tapi ia tak berani mengungkapkan.
Sementara itu, Bagas yang gelisah memutuskan untuk pulang ke rumah. Pria ini sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Yasmin.
"Yasmin, semoga kau tidak sama seperti dia yang pernah mengecewakan aku," ucap Bagas penuh harap.
Huft,.......
Bagas mengatur nafas sebelum keluar dari mobil. Ia melirik jam yang melingkar di tangan.
"Jam dua siang, Yasmin pasti sudah bangun!"
Bergegas Bagas masuk ke dalam rumah. Ternyata bu Mita tidak ada, ia pergi arisan di antar oleh pak Don.
"Yasmin,....!" Sapa Bagas saat Yasmin sedang menonton televisi.
"Mas,....!" Yasmin mendadak panik.
"Kok panik. Kenapa?" Tanya Bagas heran.
"Gak, itu...anu.....!"
"Anu apa?"
"Gak ada mas!"
"Tentang pertanyaan tadi malam. Mas menunggu jawaban mu. Mas harap, kamu tidak mengecewakan mas!"
Yasmin menggaruk kepalanya tak gatal.
"Kita baru kenal tiga bulan loh mas. Masa kamu udah yakin mau nikahin aku?"
"Aku bukan tipe laki-laki pemain. Jika serius maka aku akan serius."
"Aku janda, mas. Apa kata orang jika kamu menikahi janda seperti aku ini?"
"Soal cinta, mas tidak pernah memandang latar belakang."
"Ada baiknya di pikirkan dulu sebelum mas kecewa. Aku janda di cerai hidup, bukan di tinggal mati."
"Yasmin,....!" Bagas menatap mata indah milik Yasmin. "Mas serius!" Ujar Bagas.
"Bu Mita tidak akan setuju mas," ucap Yasmin.
"Mamah sudah setuju, masa iya mamah belum ngomong sama kamu?"
Yasmin menggelengkan kepalanya.
Huft.......
Bagas membuang nafas kasar.
"Yasmin. Jawab mas ya, kamu mau enggak nikah sama mas?"
Yasmin meremas kedua tangannya, bagaimana bisa ia menolak pria yang begitu baik di depannya ini. Meskipun Yasmin pernah kecewa, tapi jujur ia juga menyukai Bagas.
"Kalau kamu mau nikah sama mas, malam ini juga kita nikah!" Ucap Bagas yang benar-benar serius.
"Eh, mas pikir nikah segampang itu?"
"Kita nikah siri aja dulu, setelah itu baru kita mempersiapkan semuanya."
"Eh, aduh....aku bingung." Ujar Yasmin yang masih bimbang.
"Jawab cepat, biar mas persiapkan dari sekarang." Desak Bagas.
"Kok cepat gini sih?"
"Kamu udah janji mau beri jawaban hari ini. Cepat jawab!"
"Mas serius?" Tanya Yasmin ragu.
"Mas serius Yasmin. Dari pada kita tinggal satu atap tanpa ikatan lebih baik kita nikah. Mas suka sama kamu, mas cinta sama kamu. Mau berapa kali sih mas harus ngomong sama kamu?"
"Em,.....!" Yasmin menimbang diri.
"Cepat Yasmin sayang....!"
"Iya deh mas. Aku mau!" Jawab Yasmin membuat senyum Bagas melebar.
Pria ini langsung menelpon sang mamah menyuruhnya untuk pulang.
Bagas mengajak Yasmin pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan mereka.
Bu Mita yang sudah pulang ke rumah langsung mempersiapkan pernikahan Bagas dan Yasmin malam ini.
Masih pukul lima sore, sedangkan acara pernikahan akan di laksanakan jam setengah delapan malam.
"Perasaan waktu kok lambat banget. Tuh, jarum jam di angka enam sejak tadi." Ujar Bagas yang sudah tidak sabar untuk menjadikan Yasmin sebagai istrinya.
"Sabar dong Bagas!" Seru bu Mita.
"Iya mas, gak sabaran banget!" Sambung Yasmin.
"Mas takut gagal lagi," ucap Bagas membuat Yasmin mengerutkan keningnya heran.
"Maksudnya gimana mas?" Tanya Yasmin.
Wajah Bagas mendadak gugup.
"Eh, enggak. Bercanda, jangan di dengar!"
"Cincinnya mana, udah di siapin belum?" Tanya bu Mita.
"Aduh, ada di kamar....!"
Bergegas Bagas pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Pak Mun, itu tetangga samping dan depan sudah di undang?" Tanya bu Mita.
"Sudah bu,....!"
"Bi, hidangan buat tamu udah siap semua?"
"Sudah beres semua bu."
"Syukurlah," ucap bu Mita.
"Mah, ini cincinnya." Ujar Bagas.
"Sini, biar mamah yang pegang." Kata bu Mita. "Anu, itu maharnya sudah siap belum?"
"Oh, belum....!" Jawab Bagas. "Sayang, kamu mau mahar berapa?" Tanya Bagas pada Yasmin.
"Semampu mas aja, yang penting tidak memberatkan." Jawab Yasmin.
"Aduh, bijaknya calon istri."
Bagas pun mempersiapkan maharnya untuk menikahi Yasmin nanti.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya