NovelToon NovelToon
Mama

Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arina rizqin

"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"

Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.

Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.

"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.

"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.

"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.

Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

Bara meringis tatkala mendengar percakapan antara Nadia dan mamanya. Apakah ia jahat dengan memisahkan Rida dan Rara? Ia tahu rasanya berpisah dari seorang mama, namun mengapa ia melakukan ini pada keluarganya?

Flashback on.

"Nak, Bara," sapa seseorang membuatku terkejut. Pasalnya aku sedang duduk sendirian di kafe, Rara dan Rida pergi berbelanja di mall dan aku menunggu di kafe ini.

"Mohon maaf, Ibu siapa ya?" tanyaku sembari mengernyit heran, aku tak kenal wanita di depanku ini.

"Perkenalkan nama saya Sari mamanya Nadia," ucapnya sembari memajukan tangannya.

Aku meraihnya sembari berkata, "Ibu kenal saya?" tanyaku masih heran. Pasalnya aku tahu Nadia adalah temannya Rida, sudah beberapa kali kami bertemu. Dan ibu di depanku ini terlihat mirip dengan Nadia walaupun tidak 100%.

"Ouh, tentu saja saya kenal. Kamu anaknya Devina, kan?" Sontak perkataannya membuatku terkejut dan syok. Bahkan Rida pun tidak tahu nama asli mamaku, bagaimana wanita di hadapanku ini tahu?

"Boleh saya duduk?" Aku mempersilakannya duduk di kursi yang kosong.

Ia duduk dengan anggun, gayanya benar-benar bukan seperti seorang wanita paruh baya.

"Saya tahu cerita kematian mama kamu, ia di bunuh saat kamu dan papa kamu sedang pergi, kan?" Ia menyeringai melihat reaksiku.

Aku benar-benar di buat terkejut lagi dengan perkataan wanita ini. Padahal aku dan papa tidak pernah mengungkap masalah ini pada publik, walau kuakui kalau keluargaku cukup terkemuka.

"Bagaimana Tante tahu tentang mama!?" Aku bertanya dengan desisan dari bibirku. Aku sangat geram dengan wanita yang duduk di sampingku ini.

"Jangan berpikir kalau saya yang membunuhnya, saya meretas cctv yang berada di kamar mama kamu. Walaupun agak sulit karena sempat ada seseorang yang ingin menghapusnya, tetapi saya berusaha semampu saya hingga akhirnya saya mendapatkan rekaman cctv itu."

Dia menyodorkan sebuah hard disk ke mejaku, "Di dalam itu ada rekamannya, saya sudah menaruh data pembunuhnya di sana juga. Selamat menikmati tontonan itu. Dan ini nomor telepon saya, hubungi saya jika kamu ingin bertanya sesuatu. " Ia berlalu dari hadapanku setelah memberikan hard disk dan nomor teleponnya. Aku benar-benar tidak tahan untuk cepat-cepat membuka file ini.

Tak lama setelah kepergian wanita tadi, Rida dan Rara datang sembari membawa beberapa paper bag di tangan mereka.

"Wajah kamu kenapa pucat, Mas?" Ia bertanya sembari memperhatikan wajahku dengan seksama. Sial! Wanita tadi membuatku seperti ini.

"Ah, anu itu, tadi aduh," ucapku tidak jelas.

"Aneh banget kamu, di tanya kok malah anu-anu."

"Ayo pulang, kasian Rara capek dari tadi muter-muter mall." Mereka meninggalkanku menuju mobil. Sedangkan aku sendiri rasanya masih terlalu terkejut ketika ada yang membahas sesuatu yang selama ini ku sembunyikan dari semua orang.

Flashback off.

...***...

Rida keluar dari apartemennya, entah kemana tujuannya. Ketika sudah selesai bersiap, tiba-tiba perasaan cemas menghantuinya jikalau Bara menampar dan menghinanya kembali.

Rasa trauma akan rasa pedih dan panasnya tamparan masih ia rasakan walau sudah hilang bekasnya.

Ia melangkahkan kaki keluar gedung apartemen, ia akan jalan-jalan untuk sekedar meringankan masalah yang seolah tidak ada habisnya dan terus menerus datang beberapa waktu terakhir.

Ia butuh Rara di sisinya. Namun, ia yakin kalau Bara dan Nadia tidak akan mengizinkannya bertemu dengan anaknya.

Taman. Ia akan ke taman untuk melihat anak-anak bermain di sana. Walaupun bukan Rara, setidaknya ia bisa tersenyum walau hanya dengan melihat anak lain tertawa bahagia bersama keluarga ataupun temannya.

Ia menaiki taksi menuju taman, dalam kendaraan benar-benar hening. Sepertinya sang supir pendiam dan Rida juga sedang tidak mood untuk berbicara.

Sampai di taman, ia membayar argo taksi dan turun tepat di samping tukang es krim. Ia jadi teringat ketika pergi bersama Rara ke taman ini, Rara akan meminta es krim rasa vanila dan coklat kesukaannya.

Ia menggeleng untuk tidak mengingat hal yang menyakitkan. Ia kemari untuk membuat hatinya sedikit tenang. Ya, hanya sedikit.

Ia duduk di bangku yang ada di pinggir taman, menyaksikan anak-anak kecil berlarian dan berkejaran dengan teman sebayanya ataupun orangtuanya.

Hal yang dulu ia rasakan bersama Bara dan Rara. Tak terasa air matanya keliar dari pelupuk matanya, hatinya kembali berdenyut perih.

Tiba-tiba ia melihat anak-anak tadi bergerombol membentuk sebuah lingkaran padat, seperti menyaksikan sesuatu yang menarik.

Ia ingin melihat hal gerangan apa yang membuat anak-anak tadi berlarian ke arah sana.

Saat ingin berjalan, seorang anak kecil menabraknya hingga ia sedikit oleng.

"Maaf, tan ...," uacapan anak itu terhenti kala melihat Rida meneteskan air mata.

Rara. Anak yang tadi menabraknya adalah Rara, gadis kecilnya.

"Mama ...," ujarnya lirih. Rida berjongkok dan meraih Rara ke dalam pelukannya. Hatinya berdesir hangat kala Rara membisikkan kata-kata rindu tepat di telinganya. Ia juga rindu, bahkan lebih dari sekedar kata.

Hikss ...

Rida menangis deras dalam pelukan Rara, katakanlah ia kalah dengan Rara yang hanya menangis biasa tidak sepertinya. Namun, ibu mana yang biasa saja setelah sekian lama tidak bertemu anaknya? Anak satu-satunya yang ia miliki.

"Mama jangan ... hiks ... nangis," ucap Rara sembari mengelus punggung belakang sang mama. Rida semakin menangis kencang tatkala mendengar suara yang selama ini selalu menjadi penenangnya.

"Rara!"

...$$$...

Loh? Siapa yang mengganggu temu rindu antara anak dan ibu itu?

1
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
belum jd istri sah uda berlagak. kujambak nanti kau ya nadia
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
semoga saja berhasil biar terbongkar tuh kebusukan Nadia.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
ayo Rida ungkap sampai tuntas
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hilih, kesal sama Nadia. tega banget ngefitnah orang...
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
katanya ga selingkuh tapi sauang2an. apa sih ini orang? ngajak ribut??
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
suami istri sibuk dgn dunia masing-masing sehingga anaklah yg terbengkalai.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
aku kok ya kasian sama bayinya.
Yusniar Zebua
lanjut
Wani Ikhwani
GWS mbak
ditunggu lanjutannya
A2NNALUP: Terima kasih, Ka. 💚
total 1 replies
Sh❤️≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ
jejak like dlu
Rahmalia Maricar
udah mampir ya like komen rate bintang 5 💞
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
makin penasaran aku
Yusniar Zebua
lanjut
Eka
nyimak
Elfrina Tinambunan
up nya jangan dikit2 dan lama thor.. suka ceritanya
Herlin Herlina Herlin Her
lanjut thor,
Yusniar Zebua
lanjut
Rizqi
tetap semangat ya...
HIATUS
mampir sayang semangat
A2NNALUP: Makasih, Ka Dhe. 💜
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!