"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Boleh kuledakkan kepalamu menggunakan ini?” Aqeel memamerkan pistolnya yang dia ambil dari saku celana, “sebagai ganti kamu yang sudah meledakkan gedung indah yang ingin kuhadiahkan pada istriku? Kamu tahu berapa banyak uang halal yang kubuang untuk membangun hotel itu dan berapa waktu yang kutunggu agar bisa menyelesaikannya?”
Aqeel menekan-nekan mulut pistol ke kepala Aefar, lelaki itu terlihat ketakutan.
Aqeel menyeringai, “atau kuhadiahkan saja kepalamu kepada istriku sebagai gantinya? Mungkin wanita itu akan senang, karena suaminya menghadiahkan kepada lelaki yang jarang pulang ke rumah seperti suaminya, sebagai ganti kepalaku karena tidak suka pulang selama ini.” Aqeel masih senang menakut-nakuti.
“Ah tentu saja. Bukan hanya kepalamu yang akan kuledakkan, masih ada empat kepala wanita lain yang akan menyusul.”
Aefar langsung panik, dipeluknya kaki Aqeel yang terlipat. “Maafkan saya, Tuan … jangan ganggu keluarga saya, saya mohon. Mereka sudah cukup menderita karena saya jarang pulang, menafkahi dengan uang panas, membohongi mereka. Saya mohon, jangan ganggu mereka.”
“Aku tidak akan menganggu mereka, asal kamu menerima tawaranku.” Aqeel memain-mainkan senjatanya. “Kamu dan keluargamu akan selamat. Jika kamu menolaknya, kamu akan mendapatkan yang sebaliknya, kamu dan keluargamu akan terancam.” Aqeel memasukkan ujung pistol ke mulut Aefar, siap-siap menembak jika Aefar menggeleng.
Aefar menggeleng-gelengkan kepala. Memohon untuk tidak dibunuh. Aqeel mengeluarkan pistolnya, dengan senyuman menanti jawaban Aefar yang terbatuk-batuk keras. “Tuan Daniel akan membunuh keluarga saya, jika saya berkhianat padanya. Jadi, sekalipun saya menerima tawaran Tuan, saya tetap akan kehilangan istri dan ketiga putri saya.”
“Ayolah,” Aqeel berdecak kesal. “Sudah kukatakan sebelumnya, jika kamu menerima tawaranku, akan kujamin keselamatanmu dan keluargamu. Mungkin untuk menghindari Daniel Lavigne, aku akan membawa mereka ke Indonesia. Istrimu dan istriku, mungkin bisa berteman di sana.” Aqeel tidak sungkan mengumbar tentang istrinya, karena jika Daniel menolak, peluru akan menembus lehernya. Orang mati tidak akan bisa membuka mulut.
Aefar tidak terkejut mendengar Aqeel yang digosipkan lajang dan playboy ternyata memiliki seorang istri. Karena seluruh keluarga Lavigne tahu itu, mereka menjadikan istri Aqeel sebagai rencana cadangan untuk menjatuhkan lelaki itu. Mereka tidak menjadikannya rencana utama, karena berpikir mungkin Aqeel tidak terlalu menganggap istrinya berharga seperti wanita-wanita lain.
“Bagaimana Aefar Hamsel?”
Aefar dengan lambat mengangguk. Mungkin dia akan menyesali keputusan ini, tapi tak ada pilihan. Daripada terbunuh di sini dan empat mayat istri dan anaknya akan menyusulnya.
Aqeel terlihat puas. Dilepaskannya pistol di tangannya, benda itu tergeletak setelah membentur lantai. “Yudhistira,” Aqeel memanggil. “Culik istri dan ketiga anak lelaki ini.” Mendengar perintah Aqeel, Aefar berteriak parau. “Kenapa, Tuan? Ingin kamu apakan istri dan anak-anak saya?” Lelaki itu terisak ketakutan. Tidak bisa membayangkan istri dan ketiga anaknya mati.
“Kenapa kamu setakut itu, hah?” Aqeel bertanya geli.
“Bunuh saya saja, Tuan! Atau manfaatkan saya semau Anda! Saya akan berpihak padamu dan membeberkan semua yang saya tahu! Tapi saya mohon, jangan ganggu mereka! Anda memiliki seorang istri, mungkin akan menjadi seorang Ayah. Anda … pasti mengerti perasaan saya.”
“Aku suka disebut seorang suami, tapi jangan panggil aku seorang Ayah.” Aqeel memperingatkan.
“Saya mohon, Tuan … jangan ganggu mereka.” Aefar menyembah di kaki Aqeel.
Aqeel menghembuskan napas lelah, “siapa yang ingin membunuh keluargamu?" Lelaki itu terdengar kesal. Entah kenapa semua tindakannya selalu disalahartikan oleh semua orang terlebih Maura.
"Sebentar lagi aku akan pulang, akan kubawakan istrimu untuk istriku, sebagai teman, karena di sana dia kesepian. Mungkin Maura akan menyukainya. Apalagi ketiga putrimu bisa meramaikan rumah kami, selagi aku tidak ada.”