Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Belanja Bulanan
Karena sudah memutuskan untuk tinggal bersama, aku dan Andra berniat belanja beberapa kebutuhan rumah, terutama bahan makanan.
"Ini kartu ATM untuk kamu, kodenya 121314, kamu boleh pakai untuk belanja apapun sesukamu, Sil,"
Andra menyodorkan kartu berwarna biru kepadaku.
"Mas, jangan berlebihan. Aku masih punya tabungan kok," Aku mencoba untuk menolak pemberian Andra.
"Ini kewajiban aku loh, aku ini suamimu yang harus memberimu nafkah, jadi tolong di terima ya,"
Andra memaksaku untuk menerimanya.
"Baiklah, aku terima. Terimakasih,mas."
Aku memasukkan kartu itu ke dalam dompet, Andra tersenyum sumringah. Ia sangat bahagia aku menghargai pemberiannya.
Lalu dia menggandengku, membukakan pintu mobil dan membiarkan aku duduk manis di sana dan dia menyusulku. Aku merasa seperti seorang putri. Bagaimanapun perasaanku padanya, aku tidak melihat Andra sedikitpun berubah, dia malah semakin menunjukkan kalau ia adalah orang yang pantas menjadi lelakiku.
"Mas, terimakasih..." Aku menggenggam tangan Andra yang sudah bersiap untuk menyetir di atas kemudi.
"Untuk apa?" Tanyanya sambil menatapku bingung.
"Karena mas udah berusaha jadi suami yang baik untuk aku," Aku masih memegang erat tangannya.
"Aku akan terus berusaha, sampai kamu bisa menerima aku sepenuhnya," Andra meyakinkan aku dan menggenggam erat tanganku dengan tangannya yang satu lagi.
Andra menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Aku dan dia mendengarkan lagu favorit kami dan bernyanyi bersama. Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku pasti akan jatuh cinta pada lelaki romantis di sampingku ini, bukan Andre.
Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari ketulusan Andra lebih besar daripada Andre. Kalau memang dia tahu aku mencintainya, kenapa Andre membiarkan aku mencintainya sendirian? Aku mulai merasa bodoh, kenapa aku mencintai orang yang tidak menghargai perasaanku, dan membuangku pada orang lain.
" Hayo, lagi mikirin apa?" Andra membuyarkan lamunanku.
"Mikirin perasaanku, Mas," kataku jujur.
"Jangan memaksakan perasaan, Sila. Semakin di paksa akan semakin menyakitkan. Biarkan perasaanmu memilih sendiri," Lagi-lagi Andra bersikap baik.
"Mas, Hatimu terbuat dari apa sih, bisa baik banget gitu?" Pertanyaan konyolku muncul, Andra tertawa.
"Sayang, hati aku sama dengan hati kamu,
bedanya... hatiku udah buta,"
"Buta?"Aku mengulangi kata terakhir kalimat Andra dengan penasaran.
"Buta karena mencintaimu," Andra tertawa lepas. Senang sekali melihat suamiku tertawa. Mengurangi beban rasa bersalahku padanya.
Akhirnya kami sampai juga di sebuah super market. Andra menggandeng tanganku, kami berdua berjalan beriringan masuk ke dalam. Hiruk pikuk pengunjung terlihat di sana-sini. Terlebih di area barang diskon. Aku dan Andra hanya fokus ke lantai dua. karena di sana tempat bahan makanan berada. super market ini terdiri dari empat lantai, lantai satu untuk elektronik, lantai dua untuk sayur dan bahan makanan, lantai tiga serba serbi dalaman wanita dan pria, sedangkan lantai paling atas itu berisi toko perhiasan.
"setelah dari sini kita ke lantai tiga, Yuk,"Andra setengah berbisik. Aku tersenyum geli.
"Buat apa ke sana? isinya daleman semua, mas," Aku berbalik membisikinya.
"Aku tau, sila. barangkali kamu ingin membeli daleman yang seksi," Andra kembali berbisik.
"Mas, kamu genit tau nggak?" Aku tertawa kecil sambil mencubit lengan Andra.
"Genit sama istri sendiri siapa yang mau ngelarang?" Dia menjawab sambil meringis kesakitan. Aku kemudian melepas cubitanku dan pura-pura asik memilih buah-buahan.
Selain bersama orangtua, aku belum pernah belanja bulanan sebanyak ini. Belanjaan kami sudah satu troli. padahal belum ada satu jam.
"Mas, kamu pengen makan buah apa?" Aku berinisiatif menanyakan buah kesukaan Andra.
"Semua aku suka kalau kamu yang pilihin,"
Andra mendekat ke arahku. Aku mengambil alpukat, jambu kristal, jeruk dan apel lalu memasukkan ke troli.
"Kamu nggak beli buah plum?" Tanyanya.
"Buat apa, mas? buahnya asam, nggak suka." Aku memandang wajah Andra penuh tanya.
"Katanya buah plum bagus buat promil loh," Aku terkejut mendengar kalimat Andra, ternyata dia sudah sejauh itu. Apakah dia sudah sangat menginginkan seorang anak sampai memikirkan promil segala?
"Mas, jangan sekarang ya." Aku memelas. Andra tersenyum jahil sambil mengelus rambutku.
"Bercanda sayang, aku ngerti kok. Udah yuk lanjut belanjanya, kamu mau beli apa lagi?" Andra sepertinya sengaja mengalihkan perhatianku.
Sebenarnya aku juga ingin segera punya momongan saat menikah, tapi situasinya masih seperti ini. Rasanya kurang tepat memikirkannya sekarang.
Akhirnya selesai juga acara berbelanja hari ini. Andra membantuku mendorong troli ke parkiran setelah semuanya di bayar. Dia bilang tidak ingin melihat aku kecapekan.
"Sayang, makan seafood yuk," Celetuk Andra di tengah perjalanan. Aku memang pecinta seafood, terutama kepiting dan tiram. Kalau sudah makan keduanya, bisa habis beberapa porsi.
"Yuk mas, mau makan di mana mas? apa di Floresta Cafe lagi?" Dengan sangat semangat aku mengiyakan ajakan Andra.
"Boleh tuh, masakannya enak dan tempatnya juga romantis," Andra menyetujui usulanku.
"Tapi kan mahal mas," Aku sedikit protes.
"Aku nggak akan ragu beli makanan yang tiga kali lipat lebih mahal dari itu, asalkan kamu suka,"
Andra seperti sedang merayuku.
" Mas, jangan boros. Jangan hambur-hamburin uang gitu aja, hemat mas... Inget besok atau lusa masih ada kebutuhan yang lainnya." Aku mengingatkan Andra. Andra tersenyum.
"Ini nih yang aku suka dari kamu, kamu itu sederhana dan nggak materialistis. Biasanya cewek-cewek di luar sana kalau di ajak belanja, pasti sibuk minta ini itu,"
"Kan nggak setiap orang sama, Mas. Aku nggak suka berlebihan karena hidup aku memang pas-pasan. Mungkin kalau aku orang kaya, aku juga akan seperti yang lainnya," Aku coba merendah.
"Kamu sangat spesial buat aku, Sila. Tidak ada yang bisa nyamain kamu, meskipun dia ratu,"
"Halah, gombal mas-mas,"
Aku mencubit lengan Andra, dia tertawa sambil meringis kesakitan.
Hari ini aku dan Andra seperti menghabiskan hari panjang dan manis. Setelah berbelanja kami makan-makan, lanjut main game berdua seperti sepasang remaja sedang kasmaran, di tutup dengan makan es krim berdua.
Ada rasa bahagia setiap melihat ulasan senyum dari suamiku itu. Seperti aku mulai bisa menebus satu per satu kesalahan yang kuperbuat padanya. Aku ingin dia bahagia, dia sosok laki-laki yang pantas untuk dicintai. Mungkin di luar sana banyak wanita yang mendambakan pasangan yang seperti dia dan aku bisa mendapatkannya dengan tidak sengaja. Apakah ini memang kebetulan?
"Terimakasih sayang untuk hari ini, kamu tahu, aku merasa ini hari yang sangat indah. Hari ini aku bisa ketawa dan bercanda bareng kamu, wanita yang sangat berarti kedua setelah mamaku. Aku berharap kita bisa selalu seperti ini, Sayang." Kata-kata Andra sangat menyentuh hatiku. Selalu indah dan membutku merasa sangat di hargai.
"Sama-sama mas, Aku seneng kalau kamu bisa bahagia jalan sama aku," Aku memandangnya, dia pun menatapku dan mata kami bertemu. Indahnya pacaran setelah menikah, itu yang aku rasakan saat ini.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.