Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Bunda
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Sementara di dalam ruangan mewah itu terlihat dua anak kembar identik dan satu orang dewasa sedang bergelut di depan komputer dengan kesibukan masing-masing.
Kefokusan seorang Ferdinan hanya tertuju pada layar dan keyboard. Dia sedang sibuk mengotak-atik sistem cctv untuk mencari jejak sang bunda.
Niko sibuk dengan ponselnya, menghubungi Kaila yang sejak tadi sambungannya di luar jangkauan.
Sementara Faustine sibuk mengagumi setiap sudut desain interior ruangan pribadi Niko. Bibirnya tidak pernah berhenti menggumamkan kata 'wow'. Dia tidak menduga ternyata Niko adalah seorang miliyarder, bagaimana tidak setiap desain di rumah itu berlapiskan emas.
Dalam suasana tegang seperti ini, anak itu malah sibuk menilai ruangan tersebut. Tapi itu bukan salahnya, salahkan naluri kearsitekannya yang muncul begitu saja tanpa permisi. Meskipun begitu suasana hatinya juga sangat cemas sekarang. Siapa yang menculik bundanya? Dia tidak akan memaafkan orang itu. pikirnya.
Tangan kecilnya pun terkepal kuat. Pandangannya berhenti berkeliling dan kembali fokus pada komputer.
"Uncle keluar dulu. Kalian tetap disini. Jangan kemana-mana sampai uncle datang lagi. Ok." Niko memberi perintah pada mereka, saat merasakan ponselnya bergetar.
Pria itu pun beranjak keluar dari ruangan tersebut sambil menempelkan benda pipi itu di telinganya, berbicara dengan seseorang.
Sementara Ferdinan semakin gencar mengotak atik sistem. Mata besarnya seolah tak merasakan kantuk oleh bara api yang membara. Dia harus menemukan siapa yang menculik bundanya. Begitu juga dengan Faustine yang duduk di sampingnya. Manik abu-abunya sangat tajam menembus komputer tersebut.
Rekaman terakhir yang berhasil mereka temukan selain di persimpangan jalan adalah di parkiran bawah tanah bandara. Di dalam rekaman cctv tersebut menampilkan mobil hitam lain yang mencegat mobil yang menculik bundanya. Beberapa pria dari mobil tersebut kembali bertarung. Terlihat pria berseragam hitam dari mobil yang menculik bundanya kalah dan pihak yang menangpun mengambil alih bundanya. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi memindahkan bundanya yang tidak sadarkan diri ke mobil yang lain.
Melihat rekaman itu membuat kedua anak itu murka. Mereka memperlakukan bundanya seperti barang yang dioper sana-sini.
Jika bundanya mengatakan bahwa mereka adalah malaikat, namun sepertinya sekarang jiwa malaikat di dalam diri anak itu hilang. Jiwa iblis mereka lebih mendominasi memenuhi relung jiwanya saat ini.
Siapapun dalang dari penculikan pada bundanya akan menanggung akibatnya. Tangan Fau mencengkam sudut meja sangat kuat begitupun Fer juga mencengkeram mouse sangat kuat.
"Aku menemukannya."
Setelah bergelut hampir tiga jam, akhirnya sebuah titik merah memberi mereka harapan.
Bola mata mengkilap Fau dan Fer menatap tajam titik merah yang berlokasi di pusat kota, tepatnya di sebuah penthouse yang sangat megah.
"Apa bunda disekap di sana?" Faustine bertanya dengan tatapan yang masih berfokus pada titik itu.
"Sepertinya." Ferdinan masih sibuk menekan keyboard. Dia masih berusaha mencari rekaman cctv di dekat bangunan megah itu dan ketemu.
Ferdinan memutar rekaman itu, terlihat dari arah sebelah kiri mobil yang membawa bundanya masuk ke dalam bangunan itu melewati gerbang yang menjulang tinggi. Setelah itu gerbang itu pun tertutup. Sial! Dia tidak menemukan apa-apa.
Ferdinan kembali mencari cctv yang ada di dalam gedung tersebut. Dengan susah payah akhirnya anak itu berhasil meretas seluruh cctv di dalam ruangan itu. Ada puluhan cctv di dalam sana. Ferdinan mengamati satu-persatu setiap sudut ruangan yang terekam di dalam sana. Anak itu mempelajarinya agar dia bisa mencari celah untuk bisa menyelamatkan sang Bunda.
Sementara Faustine, lagi-lagi mengagumi bangunan megah itu. Astaga.
"Kemana Uncle Niko? Kita harus menyelamatkan bunda sebelum matahari muncul ke permukaan." Tegas Ferdinan saat matanya masih terus menonton pergerakan pria berpakaian hitam sedang berbicara dengan seorang pria yang sedang memunggungi cctv menghadap jendela besar. Ferdinan yakin itu adalah atasan mereka. Dalang dari penculikan bundanya. Rekaman itu sekitar dua jam yang lalu, itu artinya bundanya masih disana.
Faustine kembali pada kesadarannya.
"Aku akan mencarinya." Anak itu pun beranjak keluar ruangan untuk mencari Niko.
Sementara Ferdinan mulai mematikan beberapa komputer lalu melipat laptop untuk dia bawa ke lokasi dimana bundanya berada dan kembali membenahi duduknya, melipat tangan di atas meja. Pikirannya kembali membawanya pada pria berpostur tinggu tegap di dalam rekaman yang tadi dilihatnya. Siapa pria itu? Kenapa dia menculik bundanya? Pertanyaan itu secara otomatis terlintas di dalam benaknya. Pasalnya, dia merasa bundanya tidak memiliki masalah apapun dengan orang lain. Terutama pada pria itu. Pria yang terlihat bukan orang biasa.
Setelah beberapa menit, Faustine kembali dengan napas tersengal-sengal. Anak itu kelelahan menjelajahi rumah Niko yang seluas lapangan bola.
"Uncle Niko pergi." Fau mengatur deru napasnya yang tidak beraturan.
"Kemana dia?" Ferdinan berkerut heran.
Fau mengedikkan bahunya, "entahlah."
Fer tampak berpikir, lalu kembali menatap jam dinding di dalam ruangan itu, sudah jam empat pagi.
"Apa yang kau pikirkan? Jangan mengharapkan orang lain di situasi seperti ini." Faustine berucap. "Kita yang akan bergerak untuk menyelamatkan bunda."
"Are you sure?" Ferdinan menatap ragu kakaknya.
"Lalu?" Fau tampak geram, "Kau akan menunggu uncle Niko untuk bergerak. Sementara waktu kita tidak banyak. Bisa saja saat matahari mulai muncul, orang itu akan membawa bunda ke tempat yang lebih jauh."
Ferdinan meneguk ludahnya sendiri. Wajahnya terlihat bimbang saat ini. Apakah tidak salah keputusan Faustine? Rasanya tidak mungkin mereka pergi tanpa pengawasan orang dewasa. Tapi saat ini bundanya sedang dalam bahaya, bagaimana jika orang yang menculik bundanya itu adalah mafia sindikat penjualan organ manusia. Astaga.
Baiklah. Persetan dengan pengawasan orang dewasa. Bukankah mereka juga orang dewasa yang tertunda. Meskipun tubuh mereka kecil namun mereka bisa mengawasi dan melindungi dirinya sendiri.
"Kita pergi sekarang." Ferdinan lalu mengambil laptop dan mengambil beberapa peralatan yang dia perlukan untuk melancarkan aksinya. Anak itu memasukkan berbagai macam benda itu ke dalam sebuah tas bersama dengan laptop.
Fer menyandang tas berukuran sedang itu di punggungnya lalu mereka pun berjalan beriringan. Dengan langkah yang gagah mereka berhasil keluar dari rumah besar itu.
"Hei kau!" Seru Faustine pada pengawal yang berdiri di depan pintu utama.
"Ada apa?" Pria itu terlihat tidak senang dengan sikap tidak sopan Faustine.
"Kau bisa menyetir?" Ferdinan kali ini.
Pria tinggi itu terlihat mengerutkan dahinya heran, "kau mengira aku bocah seperti kalian?" kesalnya.
"Kalau begitu menyetirlah untuk kami." Faustine menunjuk mobil yang terparkir di depan rumah.
"Berani sekali kau memerintahku." Pria itu membungkuk sedikit, menatap kedua anak itu dengan tajam.
"Ini perintah." Ferdinan berucap dengan tenang. "Dari uncle Niko. Dia memintamu mengantarkan kami ke suatu tempat." jelasnya berbohong.
"Benarkah?" Pria itu menyelidik menatap mata mereka satu persatu.
"Kau tak percaya. Baiklah, kami akan mengadu pada uncle Niko bahwa kau menentang perintahnya." Faustine mengancam kini.
Pria itu terperanjat kaget. Tentu saja dia tidak ingin menentang atasannya. Tapi apa mereka tidak sedang berbohong. Harga dirinya akan jatuh ketika seorang anak kecil membodohinya.
"Sepertinya kau tak mengenal kami. Asal kau tau, kami itu keponakan uncle Niko."
Bola matanya membelalak, dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobil itu. Astaga dia belum lama bekerja sebagai pengawal di tempat itu, jadi dia tidak tahu ternyata atasannya memiliki keponakan kembar yang sangat otoriter.
"Silakan naik tuan muda." Pria itu membuka pintu mobil jok belakang untuk Fau dan Fer.
Kedua anak itu tersenyum bangga, lalu berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalam. Pria itu pun menutup pintu dengan kasar lalu mengitari mobil, mengambil alih kemudi.
"Kemana tujuan kalian tuan muda." Pria itu memasang seatbelt lalu menghidupkan mobil.
"Ke Penthouse Rayan." cetus Ferdinan.
"Baiklah." Pria itu pun segera menancapkan gas sangat kencang karena suasana hatinya sedang tidak senang.
Sementara dua manusia kembar itu tidak mempedulikan mobil yang hampir melayang, di jok belakang mereka sibuk mengatur strategi. Fau akan masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan bundanya karena dia pandai bela diri sementara Fer akan berjaga diluar untuk memantau dan memanipulasi cctv dan juga mencari tahu lokasi bundanya di dalam ruangan besar itu. Fer pun menyerahkan earpiece pada Fer. Alat itu akan terhubung satu sama lain dengan mereka berdua.
...Happy Reading ❤...
Jangan lupa tinggalkan dukungannya yah para readersku. Karena karya author ini sedang ikut lomba. Jadi auhtor harap kemurahan hati kalian untuk mendukung author. terima kasih.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂