Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT2. Bab 13
...Jangan lupa like, gias. Lope-lopeku...
Gemilang Dirga.
Ntah sudah yang keberapa kali ia menghubungi handpone adiknya, Elang tahu jika saat ini waktu Indonesia belum lah terlalu larut malam. Adiknya itu tidak bisa tidur sebelum mengirimkan pesan untuknya, tapi sampai sekarang Aisha belum mengirimkan pesan. Seperti itulah hubungan antara kakak dan adik ini meski terpisah jarak dan waktu tapi komunikasi diantara mereka tidak pernah terputus. Elang sangat menyayangi adiknya begitupun sebaliknya.
Niat menghubungi papa juga diurungkan sebab tidak mau mengganggu papa yang mungkin saat ini masih menjalankan tugas di rumah sakit.
"Padahal aku punya kabar bagus untukmu." Elang melemparkan ponselnya di atas tempat tidur lalu duduk di balik meja dan menatap laptop yang menampilkan hasil desain Aisha yang dikirimkan dua minggu yang lalu.
"Aku pastikan kelak kau akan meraih cita-citamu, kau akan menjadi adik kebanggaanku, tidak akan ada yang bisa menghentikanmu."
Elang membuka akun sosial milik Aisha. Sudah menjadi kebiasaannya memastikan tidak ada poto laki-laki manapun selain dirinya dan papa Endi. Elang selalu memberi peringatan kepada Aisha untuk menjauh dari laki-laki yang berusaha mendekatinya. Sebab baginya menjalin hubungan asmara di usia muda hanya akan membuang waktu dan menghambat cita-cita Aisha. Aisha harus menjadi apa yang diinginkannya.
Gemilang sudah biasa hidup bebas di luar negri, dulu bersama Aarick Erlangga mereka belajar menaklukkan dunia luar, namun tidak pernah melupakan norma yang ada. Apa lagi bermain wanita tidak pernah sedikitpun terlintas di kepala. Elang dan Aarick begitu dekat sampai akhirnya Aarick menciptakan jarak diantara mereka. Aarick memilih kembali ke Indonesia membawa segudang pertanyaan yang belum sempat terjawab.
"Sial!!"
Elang mengumpat saat mengingat Aarick. Teman lama yang sudah menjadi musuh di dalam selimut, itulah yang dipikirkannya.
Elang melemparkan tubuhnya di atas kasur, ia berusaha memejamkan mata saat keping-keping kejadian mengerikan itu terlintas lagi.
Beberapa tahun yang lalu.
London
Dor! Dor! Dor!
"Don't run!"
Suara tembakan begitu jelas terdengar di telinga, hentakan kaki beberapa petugas polisi yang mengejar mereka memenuhi lorong gelap beberapa gedung apartmen yang tidak lagi berpenghuni. Tempat ini seperti kota mati dengan minimnya penerangan cahaya karena sudah lama ditinggalkan penduduk akibat bencana alam beberapa tahun yang lalu.
Dor! Dor!
Dua laki-laki yang masih muda ini terus berlari dan menghindari polisi, mereka masuk ke dalam gorong-gorong untuk mengecoh polisi. Napas keduanya masih belum beraturan, kaki keduanya masih gemetaran hebat mendengar suara amunisi yang kemali melayang di udara.
"How did they know I was here? Did you report me to the police?" (Kau yang melaporkan aku ke polisi?" Dalam udara yang pengap Elang masih saja menyalahkan Aarick.
"Shit up! Stop your bullshit I couldon't possibly do that!" (Diam! Hentikan omong kosongmu, aku tidak melakukannya)"
Elang mendengus kesal, sudah lebih dari satu minggu Elang sembunyi di tempat ini. Semua aman dan terkendali sampai Aarick datang dan polisi mengejarnya, siapa lagi yang salah kalau bukan Aarick?
"Turns out're the enemy in the blanket. You'are just like them." ( Ternyata kau musuh dalam selimut. Kau sama seperti mereka)
Elang masih mengumpat Aarick.
"Stop accusing me! Berhenti menyalahkanku. Sudah aku bilang "jauhi mereka" NARKOBA bukan dunia kita."
Aarick hampir saja menendang Elang yang meringkuk di depannya. Andai saja mereka bebas bergerak pasti sudah terjadi pertumpahan darah di sini.
"Dammit" Sialan!" kesal Elang.
KLANG!!!!!
Kaleng bekas yang dilempar Elang mengelinding di dalam lorong yang memang tidak ada air di dalamnya. Kebodohan yang berakibat fatal untuknya, suara kaleng itu masih saja menggema di telinga dan kedua orang ini saling menatap tanpa ada lagi yang berani membuka suara, hingga....
"Raise your hands!"
Dua orang polisi sudah mengarahkan pistol. Aarick dan Elang sama-sama pasrah melihat polisi berada dekat dengan mereka.
*****
Sindikat pengedar narkoba terbesar di London menjadi incaran petugas keamanan, kelompok ini juga dicurigai sudah melakukan tindakan kejahatan seperti merampok beberapa bank dan juga tidak segan melenyapkan nyawa orang lain. Polisi sudah memegang nama dan sedang mengejar target selama berbulan-bulan lamanya, dan hari ini mereka menemukan tempat persembunyian salah satu dari mereka.
Gemilang Dirga dan Aarick Erlangga.
Keduanya digelandang ke kantor polisi tanpa berani memberontak, polisi memulai interogasi dan memisahkan keduanya. Elang tidak mengakui jika dirinya terlibat sindikat pengedar narkoba, ia bersembunyi dari polisi karena anjuran salah satu temannya yang sudah menjadi tersangka.
Elang dan Aarick melakukan tes urine, keduanya dinyatakan sama-sama negatif dan bersih dari narkoba, setelah hampir 24 jam polisi membebaskan mereka.
"Go on ... I hate you!" Elang melemparkan baju yang tadi dipakainya dan tepat mengenai wajah Aarick. "Pergilah ... aku membenci pengkhianat sepertimu!"
Bug!!!
Aarik meninju rahang elang. Padahal, ia sudah sedari tadi mencoba menahan emosi. Namun, Elang sudah semakin keterlaluan.
Elang masih terduduk di halaman kantor polisi, ia meludah sebelum menatap Aarick dengan penuh kebencian.
"Aku pikir kau memahamiku seperti aku memahamimu. Tapi ternyata kau terlalu picik." Aarick menunjuk wajah Elang. "Baik-baiklah di sini!" ucapnya dengan sorot mata yang menakutkan.
Elang tersenyum sinis menatap punggung Aarick yang semakin menjauh pergi.
"Aarick!!!
"Dammit!!!!"
****
Masa Sekarang.
"Aarkkkkh!!!" Elang melemparkan ponsel hingga mengenai cermin yang berada tepat di depan kasurnya, menjadikan serpihan beling sudah berserak di atas marmer licin kamarnya.
"Aku bukan orang yang lemah, kau harus tau itu Aarick," gumam Elang dengan rahang yang mengeras.
****
"Kak udah malam anterin aku pulang," rengek Aisha saat Aarick masih memeluknya dari belakang.
"Jangan sekarang," jawab Aarick yang justru semakin membenamkan kepalanya di leher Aisha.
"Sudah tengah malam, kita nggak boleh berduaan di dalam apartmen ini, apa lagi di atas tempat tidur ini," jawab Aisha.
"Apa yang kamu khawatirkan? Aku cuma mau meluk kamu aja, papa dan mama kamu aja percaya sama aku, mereka tau kalau aku nggak akan mungkin berbuat yang macam-macam, jadi mereka ijinin aku bawa kamu ke sini," ucap Aarick.
"Aku nggak habis pikir, kenapa mama dan papa sampai segitunya sama kamu."
"Sama seperti mama dan papa aku yang segitunya sama kamu," jawab Aarick.
Keduanya sama-sama tertawa.
"Tidurlah ... kita pulang besok pagi." Aarick melepaskan pelukannya lalu meraih bantal. "Aku tidur di sofa," ucap Aarick.
Aisha tersenyum lalu meraba sesuatu di bawah bantalnya.
"Cari apa lagi? Tidurlah udah malam," titah Aarick.
"Aku nggak bisa tidur kalau belum ngirim pesan untuk kak Elang...!"
Mendengar nama Elang membuat rahang Aarick mengeras, ia hampir lupa jika Elang pasti akan menjadi benteng diantara hubungannya dengan Aisha.