Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Austin bersandar santai di sisi mobilnya sambil menunggu.
Sosoknya tinggi dengan setelan hitam rapi yang membuatnya terlihat mencolok di depan gedung konferensi. Banyak orang berlalu-lalang di sekitar sana, tetapi auranya tetap paling menonjol.
Tak lama kemudian, Yurika berlari kecil menghampirinya sambil membawa map dokumen di dada.
Napasnya sedikit terengah.
Austin menatapnya sekilas lalu bertanya malas, “Kenapa kau ada di sini?”
Yurika langsung merasa serba salah. Sebenarnya dia sendiri juga tidak ingin tiba-tiba dikirim ke sini.
Namun sebagai pegawai baru, dirinya memang seperti batu bata bisa dipindahkan ke mana saja saat dibutuhkan.
Asisten Austin baru saja dipecat, sementara rekan lain yang seharusnya mengantarkan dokumen mendadak sibuk mengurus proyek lain. Karena melihat Yurika sedang tidak terlalu banyak pekerjaan, akhirnya dia yang dikirim.
“Ada sesuatu di departemen tadi,” jelasnya cepat. “Jadi aku diminta mengantarkan dokumen ini.”
Ia buru-buru menyerahkan map di tangannya.
“Ini.”
Austin menerima dokumen itu dengan tenang.
“Kerja bagus.”
Setelah itu, tanpa banyak bicara, ia membuka pintu kursi penumpang dengan satu tangan panjangnya.
“Masuk.”
Yurika membeku. “Hah?”
Austin mengangkat alis tipis. “Apa kau mau terus berdiri di sana?”
Yurika langsung tersadar dan buru-buru masuk ke mobil.
Jujur saja, kalau bukan karena Austin, mungkin seumur hidupnya ia tidak akan pernah duduk di dalam Maybach semewah ini.
Interior mobil terasa tenang dan elegan dengan aroma samar parfum kayu yang dingin. Saat tanpa sadar ia menyentuh kursi di sampingnya, Yurika baru menyadari suhu AC di dalam mobil ternyata hangat dan nyaman.
Austin meliriknya sekilas. “Kedinginan?”
“Tidak.. tidak apa-apa.”
“Tenangkan napasmu dulu.”
Baru saat itu Yurika sadar.
Austin mempersilahkannya masuk bukan sekadar formalitas. Pria itu benar-benar memberinya waktu untuk menenangkan diri setelah berlari terburu-buru.
Entah kenapa, perhatian kecil itu justru membuat dadanya terasa aneh. Namun beberapa saat kemudian, Austin menyalakan mobil dan berkata santai,
“Aku akan membahas kerja sama sebentar lagi. Bantu aku mencatat beberapa hal.”
Yurika langsung mengangguk cepat. “Oke.”
Mobil mulai melaju perlahan. Tangan Austin bertumpu santai di atas kemudi.
Tanpa sengaja, Yurika melirik ke arahnya.
Pria itu mengenakan jam tangan Rolex hitam di pergelangan tangan kirinya. Jemarinya panjang dan tegas saat menggenggam setir, menciptakan kesan dingin dan berwibawa yang sulit dijelaskan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yurika merasa laki-laki yang sedang menyetir terlihat.. sangat seksi.
Begitu menyadarinya, ia langsung menoleh ke jendela dengan wajah panas.
Austin yang sedang fokus mengemudi tiba-tiba berkata, “Ngomong-ngomong, Joshua memintaku menyampaikan terima kasih.”
Yurika menoleh bingung. “Untuk apa?”
“Dia membawa lukisan cloisonné yang kau berikan lalu menggunakannya untuk mengejar pacarnya.”
Yurika langsung berkedip beberapa kali sebelum tertawa kecil.
“Kalau begitu aku harus mengucapkan selamat pada senior.”
Austin sedikit mengangkat alis.
Joshua memang punya banyak junior perempuan yang dekat dengannya. Namun dari nada Yurika, jelas gadis itu cukup menghormatinya.
Austin berkata pelan, “Karena itu berhasil, katanya dia ingin mentraktirmu makan lain kali.”
“Baiklah,” jawab Yurika ringan. “Kalau ada waktu, aku akan datang.”
***
Hari itu Yurika menemani Austin membahas kerja sama bisnis.
Meskipun hanya menjadi pengganti sementara, ia tetap berusaha serius mencatat seluruh poin penting selama pertemuan berlangsung.
Saat makan siang, ia hanya sempat menyelesaikan makan dengan cepat sebelum kembali ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan.
Begitu tiba di kantor, Joshua langsung memanggilnya.
Pria itu memandang Yurika beberapa detik sebelum tertawa kecil.
“Awalnya aku pikir kemampuanmu biasa saja karena latar pendidikanmu standar. Tidak kusangka ternyata kau cukup berbakat.”
Yurika tampak bingung. “Ada apa?”
Joshua menyandarkan tubuh ke kursi.
“Tuan Austin sudah membaca proposal perencanaan yang kau buat sebelumnya.”
Yurika sedikit terkejut.
“Beliau membacanya?”
“Dan beliau cukup puas.”
Joshua melanjutkan, “Belakangan ini departemen sedang kacau. Dua senior sudah keluar, jadi proyek itu butuh orang baru untuk fokus menanganinya.”
Ia menatap Yurika penuh arti.
“Tuan Austin menganggap proyek ini penting. Karena proposalmu ditulis dengan bagus, mulai sekarang kau bisa langsung berhubungan dengannya untuk urusan proyek.”
Yurika terdiam beberapa saat.
Ia tidak menyangka Austin benar-benar membaca proposal miliknya.
Sementara itu, Joshua sendiri masih merasa tidak nyaman setiap kali mengingat kejadian sebelumnya.
Dua pegawai senior di departemen mereka sempat bertengkar hebat karena saling menuduh menjiplak proposal kerja. Masalah itu membesar hingga langsung sampai ke Austin.
Dan hasil akhirnya.. Keduanya mengundurkan diri.
Austin bahkan sempat menegurnya secara langsung karena dianggap lalai menangani konflik.
Hanya mengingat tatapan dingin pria itu saja sudah cukup membuat Joshua berkeringat dingin.
Karena itulah sekarang ia jauh lebih berhati-hati.
“Kau naik saja ke atas,” katanya lagi. “Tanyakan apakah ada bagian proposal yang perlu direvisi.”
Yurika mengangguk.
“Baik.”
Saat tiba di kantor Austin, ia mengetuk pintu pelan.
“Masuk.”
Suara rendah pria itu terdengar dari dalam. Namun ketika Yurika masuk, Austin ternyata sedang melakukan konferensi video.
Pria itu hanya melirik sekilas ke arahnya sebelum berkata singkat, “Tunggu sebentar.”
Yurika mengangguk lalu berdiri diam di dekat meja.
Selama menunggu, matanya tanpa sadar tertuju pada Austin.
Pria itu kini mengenakan kacamata berbingkai emas tipis yang memberinya kesan semakin dingin dan elegan. Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka santai, memperlihatkan sedikit garis leher yang bersih dan tegas.
Aura dewasa dan tenang yang dimilikinya terasa terlalu kuat.
Ditambah lagi cara Austin berbicara selama rapat sangat tenang, tajam, dan penuh kendali, membuat orang sulit mengalihkan perhatian darinya.
Sepuluh menit kemudian, konferensi video itu akhirnya selesai.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏