Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Garis Dingin di Quai André Citroën
Kiandra mematung di atas bangku taman yang dinginnya seolah menembus hingga ke sumsum tulang. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak kaku, seolah-olah waktu di sekitar Quai André Citroën baru saja berhenti berputar.
Embusan angin musim dingin yang menyapu dedaunan mapel kering di bawah kakinya tidak lagi terasa menggigit, karena rasa dingin yang lebih hebat baru saja menghantam dadanya.
"Dia Enzo Romano, kan?"
Bisikan Mei Ling itu terdengar lebih nyaring daripada ledakan bom di telinga Kiandra. Ia menatap sahabatnya dengan mata membelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada satu pun kata yang sanggup lolos dari tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
Mei Ling masih mencondongkan tubuh, melipat tangan di depan dada dengan senyum yang mulai tertahan di sudut bibirnya. Tatapannya tidak lagi mengadili, melainkan penuh dengan binar kemenangan seorang detektif yang baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki paling rumit di Paris.
Kiandra melirik sekeliling taman dengan gerakan panik. Ia memastikan Diya Kapoor, Juliette, dan yang lain sedang sibuk berdiskusi di jarak yang cukup jauh sehingga tidak bisa mendengar percakapan rahasia ini. Setelah yakin situasi aman, Kiandra menarik napas panjang, bahunya merosot pasrah.
"Iya, Mei," bisik Kiandra, suaranya nyaris hilang ditelan desau angin. "Dia teman sekamarku. Tapi tolong... aku mohon dengan sangat, rahasiakan ini dari siapa pun. Terutama dari Diya dan anak-anak kampus."
Mei Ling tertegun sejenak. Wajah seriusnya yang tadi mengintimidasi perlahan memudar, berganti dengan senyuman cerah yang sangat lebar hingga matanya menyipit. Ia menegakkan punggung, menepuk tangannya sekali dengan gemas.
"Boleh saja aku rahasiakan, Ki," ucap Mei Ling dengan nada riang yang membuat Kiandra curiga. "Tapi ada syaratnya. Kamu tidak boleh melarang kalau aku mau main ke apartemenmu. Aku mau lihat 'pemandangan' itu lagi secara legal!"
Kiandra menghela napas pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tahu ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui kesepakatan dengan iblis kecil di depannya ini. Dengan berat hati, ia mengangguk terpaksa.
"Oke. Tapi jangan sering-sering," gumam Kiandra.
Mei Ling tertawa kecil, menepuk bahu Kiandra pelan untuk menenangkan sahabatnya yang tampak seperti baru saja menjual jiwanya. "Tenang saja, Ki. Rahasiamu aman di tanganku. Selama stok camilan di apartemenmu aman, aku bakal tutup mulut rapat-rapat."
Diya Kapoor mendekat, menyipitkan mata curiga ke arah mereka berdua. Ia mencoba membaca ekspresi wajah Kiandra yang masih pucat dan Mei Ling yang mendadak terlihat terlalu bahagia.
"Kalian membicarakan apa? Kenapa wajah Mei Ling tiba-tiba senang begitu?" tanya Diya dengan nada menyelidik.
Kiandra segera merapikan mantel wolnya, berdiri dengan kaku untuk menutupi kegugupannya. "Nggak ada, Diya. Mei cuma... cuma kasih tahu kalau ada diskon di butik dekat Le Marais. Aku cuma kaget dengar harganya."
"Oh, benarkah?" Diya mengangkat satu alisnya, tampak tidak sepenuhnya percaya namun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. "Ya sudah. Ayo kembali ke dalam. Kita tidak mau terlambat untuk kelas sore."
***
Jarum jam di dinding koridor kampus berputar dengan kecepatan yang menyiksa, menunjukkan pukul 14:00 tepat saat bel masuk berbunyi nyaring, bergema di seluruh penjuru gedung Le Cordon Bleu.
Kiandra melangkah masuk ke ruang teater kelas dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada biasanya. Ia merapikan apron putihnya yang kaku, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menghindari tatapan menusuk dari mahasiswi lain yang masih sibuk berbisik-bisik di sudut ruangan.
Suasana di dalam ruang teater terasa sangat pengap dan mencekam. Di sudut ruangan, dua orang perwakilan administrasi kampus berdiri tegak dengan wajah formal yang dingin. Mereka memegang papan ujian, mata mereka mengawasi setiap pergerakan mahasiswa dengan tajam, seolah sedang mencari satu kesalahan kecil untuk dicatat.
Kiandra menata set pisau fillet-nya di atas meja stainless steel yang berkilau tajam di bawah lampu neon putih. Ia mengusap telapak tangannya yang mendadak dingin dan lembap ke samping apronnya.
Mei Ling melirik dari stasiun sebelah, memberikan tatapan cemas yang sangat nyata. Ia meremas gagang pisaunya sendiri, seolah ikut merasakan beban yang sedang menghimpit Kiandra.
Di barisan lain, Diya Kapoor berdiri tegak, merapikan kunciran rambutnya sambil sesekali melirik ke arah perwakilan administrasi kampus yang tiba-tiba ikut bergabung.
Ceklek!
Pintu kayu besar teater terbuka kasar, memecah kebisingan kelas dalam sekejap. Seluruh perhatian mahasiswa langsung terkunci pada sosok yang melangkah masuk dengan wibawa yang menghancurkan.
Enzo Romano.
Pria itu mengenakan seragam Chef yang sangat kaku dan bersih tanpa noda sedikit pun. Ia membawa map penilaian di tangan kirinya, melangkah mantap menuju tengah podium.
Wajahnya sangat dingin, kaku seperti pahatan marmer, tanpa ada sedikit pun sisa kehangatan atau kilatan jahil yang ia tunjukkan di apartemen semalam.
Enzo berdiri di tengah podium, tidak menyapa siapa pun. Mata hazel-nya memindai seluruh ruangan dengan pandangan predator yang sedang mencari titik lemah. Pandangannya melewati Kiandra begitu saja.
"Hari ini adalah ujian praktik pembuatan Canard à l'Orange secara langsung," suara Enzo menggelegar, berat dan penuh otoritas.
"Aku ingin presisi suhu tinggi. Kesalahan satu derajat berarti kegagalan mutlak bagi kalian."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan ketakutan merayap di antara para mahasiswa.
"Mademoiselle Zanitha, silakan maju ke meja demonstrasi utama sekarang."
Kiandra tersentak kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Enzo dengan tatapan tidak percaya, merasakan tenggorokannya mendadak kering kerontang. Kenapa harus dia? Kenapa di depan perwakilan administrasi?
Dengan lutut yang terasa seperti jeli, Kiandra melangkah maju. Ia membawa pisau fillet-nya, berdiri di depan meja demonstrasi utama, tepat di hadapan Enzo yang menatapnya tanpa ekspresi.
Perwakilan administrasi mencatat sesuatu di papan mereka, melirik Kiandra dengan tatapan penuh selidik yang membuat suasana semakin mencekam. Seekor bebek utuh diletakkan di depan Kiandra. Kulitnya licin, memantulkan cahaya neon putih yang dingin.
"Mulailah, Mademoiselle. Waktu Anda terus berjalan di papan penilaian," ucap Enzo datar, melipat tangan di depan dadanya yang bidang.
Kiandra mengangkat pisaunya. Tangannya gemetar hebat, sebuah reaksi fisik yang tidak bisa ia kendalikan meski ia sudah mencoba menarik napas sedalam mungkin. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Ia mencoba memosisikan mata pisau di sendi paha bebek. Namun, tekanan dari tatapan Enzo dan para pengawas membuat fokusnya buyar.
Sret!
Pisau itu tergelincir sedikit karena kulit bebek yang licin. Kiandra menekan terlalu keras karena panik, membuat potongan dagingnya menjadi tidak rata dan berantakan.
"Sial," desis Kiandra pelan. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu yang luar biasa.
Enzo melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk menatap potongan daging bebek yang rusak itu. Jarak mereka begitu dekat, namun Enzo tidak memberikan bantuan sedikit pun.
"Teknik filleting Anda sangat kasar, Mademoiselle. Tidak mencerminkan standar Le Cordon Bleu sedikit pun," suara Enzo tajam seperti mata pisau, menusuk tepat di harga diri Kiandra.
Kiandra mendongak, menatap mata hazel Enzo, mencari sedikit saja pembelaan atau petunjuk di sana. Namun, ia hanya menemukan tatapab dingin yang mematikan.
"Aku... aku mencoba memisahkan sendinya dengan hati-hati, Monsieur," ucap Kiandra dengan suara bergetar.
"Hasilnya berantakan," potong Enzo tanpa ampun. "Anda menghancurkan serat dagingnya karena terlalu banyak ragu. Di dapur ini, keraguan adalah dosa besar."
Perwakilan administrasi berbisik pelan satu sama lain, menulis sesuatu dengan cepat di papan ujian mereka sambil menggelengkan kepala kecewa.
Mei Ling menahan napas di barisannya, meremas apronnya sendiri dengan wajah yang tampak ngeri. Diya memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengembuskan napas panjang yang sarat akan ketegangan.
Kiandra membersihkan sisa lemak bebek di tangannya dengan gerakan kaku. Ia menundukkan kepala sedalam mungkin.
Enzo mengambil nampan hasil potongan Kiandra, menunjukkannya ke arah perwakilan administrasi kampus dengan ekspresi tanpa perasaan.
"Kerja yang ceroboh, tidak fokus, dan sangat jauh dari kata layak untuk ujian tingkat ini," ucap Enzo dingin.
Kiandra mengepalkan tangannya di samping tubuh, meremas kain celananya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum.
Enzo mengambil pulpen tinta merah dari saku seragamnya, membuka tutupnya dengan satu sentakan kasar. Ia menggoreskan nilai di atas lembar penilaian Kiandra dengan coretan tajam yang mencolok.
Huruf C- tertulis besar dengan tinta merah yang seolah berteriak mengejek kegagalan Kiandra.
"Kembali ke tempat Anda. Pelajari lagi dasar-dasarnya sebelum ujian akhir minggu depan. Jangan buang-buang waktuku lagi dengan performa sampah seperti ini," ucap Enzo, suaranya datar namun menghancurkan.
Kiandra menyambar pisaunya dengan gerakan kasar. Ia berbalik dengan cepat, berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gontai dan pandangan yang mulai kabur oleh air mata.
Enzo melangkah pergi meninggalkan meja demonstrasi tanpa menoleh lagi. Ia mengabaikan keberadaan Kiandra sepenuhnya, menyapa mahasiswa berikutnya dengan nada dingin yang sama.