"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ciuman paksa lagi
Bab 13— Ciuman paksa lagi
•••
Zayn memilih berdiam diri di bengkel miliknya. Ia tak ada kegiatan hari ini. Ia mencoba menutup matanya. Namun, bayangan Varisha yang berkendaraan dengan pria lain membuat ia tak fokus.
Mood nya benar-benar hancur saat ini.
"Peduli apa aku dengannya." ujar Zayn langsung memilih untuk keluar kantor.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pun masuk.
Sebuah pesan yang ia terima dari Adinda.
"Temui aku di apartemenku, please."
Disisi lain, Adinda sedang melakukan sesi pemotretan. Dengan lampu yang begitu terang sekali dan beberapa kali suara jepretan kamera terdengar jelas sekali. Adinda mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Ia hanya mengenakan bikin saja, memperlihatkan kulitnya yang begitu menggoda.
Bahkan, pose foto tersebut tak kalah menggoda. Tak lama sesi foto pun selesai.
"Lily, kau dipanggil bos Steven!" ujar seorang pria.
"Baiklah, aku akan berpakaian dulu."
"Tak perlu. Ia ingin kau menemuinya sekarang di ruangannya."
Adinda pun nampak heran. Ia pun hanya mengiyakan saja. Ia berjalan kedalam sebuah ruangan yang cukup luas sekali. Terlihat seorang pria yang umurnya sekitar 40 tahunan menatapnya dengan senyuman lebar.
"Ini dia super model ku!" seru Steven membentangkan kedua tangannya. Adinda pun langsung paham dan memeluk Steven dengan erat. Bahkan, Steven sempat meremas bokong milik Adinda sebentar.
Tapi, wanita itu hanya biasa saja. Seolah hal ini sudah biasa terjadi padanya.
"Ada apa bos?" tanya Adinda.
"Aku punya suatu hal yang bagus padamu."
" Apa itu?" tanyanya.
"Apa kau ingin jadi super model terkenal?".
"Tentu saja. Kali tidak, untuk apa aku disini?" Adinda mulai duduk. Steven bahkan bisa melihat lebih jelas lagi belahan dada tersebut.
"Kau harus melakukan suatu hal padaku." kata Steven dengan kedua tangan tertaut.
"Aku akan menjadikanmu super model dengan lebih cepat. Tapi, kau harus melakukan suatu hal." senyum Steven dengan maksud tertentu.
Adinda yang mendengar hal itu nampak antusias sekali. Ia begitu gembira.
"Apa itu, bos? Aku akan melakukan apapun."
"Baiklah."
•••
Disatu sisi, Zayn sedang menunggu Adinda di dalam apartemen milik wanita tersebut. Tak lama, Adinda pun datang.
"Ada apa kau memanggilku?"tanya Zayn sembari mencium bibir Adinda.
"Aku hanya merasa kesepian saja. Ayo temani aku minum sebentar!" ajak Adinda dengan membawa dua botol minuman di tangannya.
"Baiklah." jawab Zayn sambil tersenyum manis.
•••
Varisha baru saja menjelaskan materi pelajaran pada siswa didiknya. Ia pun menundukkan dirinya di kursi guru, sembari menatap seluruh muridnya yang sibuk mengerjakan soal.
Ia pun menatap ponsel miliknya. Ia tersenyum senang melihat jumlah view di novel onlinenya melejit pesat.
Selain sebagai seorang guru. Varisha juga punya pekerjaan sampingan. Yaitu, sebagai seorang author penulis novel online. Pekerjaan ini sudah hampir 6 bulan ia geluti.
Dan kini ia baru mendapatkan hasilnya.
Ia menatap senang angkat pendapatan yang tertera disana. Yaitu, $5000.
"Andai Adam ada disini, pasti dia akan kagum padamu, Varisha." gumam Varisha yang Masih mengingat tentang Adam.
Sedetik kemudian, ia pun langsung menggeleng.
"Tidak, tidak, aku tidak boleh memikirkannya lagi. Aku harus fokus pada Zayn saja." Lirihnya.
Sedetik kemudian.
"Tapi, sampai kapan Zayn akan membuka hatinya untukku?" Varisha mulai menunduk sedih.
Mendadak salah satu siswa memanggil dirinya, "Ibu Varisha, aku gak ngerti soal nomor 10!"
Varisha langsung tersigap,"baiklah, akan ibu ulangi lagi ya." ujarnya begitu bersemangat.
•••
"Zayn, jangan lupa untuk menjemput Varisha ya." ujar Lestari beberapa menit yang lalu melalui sambungan telepon.
Kini, Zayn harus dengan terpaksa menjemput Varisha kembali. Meski, ia menolaknya. Namun, ia harus melakukannya. Sebab, Lestari akan mengajak Varisha hari ini ke toko butik.
"Bikin repot saja!" ketusnya.
Tak lama, Zayn pun tiba di depan gerbang sekolah. Di depan gerbang, ia menatap Varisha dan Brian yang sedang berdiri disana. Dengan Brian yang berada diatas sepeda motor.
"Tidak perlu, Brian. Aku bisa pulang sendiri saja." tolak Varisha dengan halus.
"Tapi—"
Zayn yang melihat hal itu langsung membunyikan klakson mobilnya dengan kencang. Rahangnya mengeras dan tatapannya begitu tajam.
TIN! TIN!!!
Varisha langsung tersadar.
Itu kan mobil Zayn, Pikirnya.
"Zayn sudah menjemputku, Brian." ujar Varisha sembari menatap kearah mobil milik Zayn.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Brian pun langsung pergi.
Dan Varisha berjalan menuju mobil Zayn. Belum sempat wanita itu mengenakan sabuk pengaman. Zayn sudah lebih dahulu menancapkan pedal gasnya.
Varisha yang ketakutan ,langsung memengang jok mobil dengan erat.
Zayn membawa mobil dengan kecepatan tinggi sekali. Varisha merasa ketakutan. Ada apa dengan Zayn? Apa ia membuat kesalahan lagi?
"Zayn hati-hati! Banyak mobil!" seru Varisha ketakutan.
Zayn tidak peduli.
Ia terus ngebut.
Varisha semakin takut.
Bahkan, refleks memegang lengan Zayn.
Melihat hal itu, Zayn langsung mengerem.
Ckitt!!!
Zayn langsung menekan rem secara mendadak. Membuat dahi Varisha langsung membentur kaca mobil. Dahinya langsung memerah.
"Akh!" ringis Varisha. Ia merasa kepalanya akan terbelah langsung.
Dengan secepat kilat, Zayn langsung memojokkan tubuh Varisha hingga ke jendela kaca mobil. Tatapan Zayn begitu menakutkan sekali. Varisha bahkan kaget. Jilbab yang semula rapi, kini nampak berantakan.
Tak hanya disitu.
Malah, Zayn dengan sengaja menarik jilbab tersebut. Kini, rambut itu sudah terurai dan berantakan. Dan tentu saja, menjadi terlihat cantik.
“Jilbabku!”
Apalagi ini?
Zayn langsung mencengkram kedua pundak Varisha dengan begitu kuatnya. Varisha berusaha melepaskan diri.
"Sakit, Zayn." lirihnya menatap Zayn dengan tatapan takut.
"Dasar tukang selingkuh!" tuduh Zayn.
Varisha kaget dengan tunduhan Zayn yang mendadak dan tidak mendasar.
“Hah? aku tidak selingkuh."bantahnya mencoba memberontak. Tapi, cengkraman tangan Zayn pada kedua pundaknya semakin sakit.
"Zayn sakit!"
Varisha terus memberontak untuk melepaskan diri.
Tiba-tiba Zayn langsung mencium bibirnya dengan paksa dan penekanan mendalam.
Varisha kaget.
Ini sudah kedua kalinya, Zayn mencium dirinya. Dan dengan paksa.
Ia memberontak, namun kedua tangan Zayn kini sudah beralih ke kedua pipinya.
Ia tak bisa mengelak sama sekali. Zayn tak peduli dengan Varisha yang menangis. Ia sibuk dengan dunianya sendiri melumat bibir merah ranum tersebut, bahkan menghisapnya sesekali.
Varisha berusaha memukul punggung Zayn dengan sekuat tenaga. Ia benci pemaksaan seperti ini. Zayn malah mencengkram kedua tangan Varisha dengan erat.
"Dasar bekas orang lain!" desis Zayn disela ciuman mereka.
Airmata Varisha sontak saja langsung turun. Lagi-lagi ia mendengar penghinaan dari mulut Zayn.
Dirinya adalah bekas orang lain. Lalu, kenapa Zayn kini malah menciumnya secara brutal seperti ini?
Taklama, Zayn pun menyudahi ciuman mereka. Varisha hanya menunduk dan menatap keluar kaca. Ia bolak-balik menyeka airmatanya yang turun terus menerus.
Zayn yang melihat hal tersebut hanya tersenyum menyeringai sembari mengelap sudut bibirnya. Ia pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.
Seolah tak ada rasa bersalah sama sekali.
Bahkan, ia begitu bahagia mendengar Isak tangis dari Varisha.
'Aku begitu hina dan menyedihkan. Bahkan, di mata suamiku sendiri.' batin Varisha.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam saja. Varisha sibuk dengan dunianya sembari menatap kearah jendela. Cuaca di kota hari ini cukup cerah sekali. Banyak mobil berlalu lalang diluar sana.
Taklama, tiba-tiba mobil berhenti.
Varisha bingung.
‘Apa dia mau nurunin aku di tengah jalan lagi?’ batin Varisha begitu cemas.
Ia pun melihat dari cctv mobil bagian depan. Terlihat Zayn yang sedang memunguti beberapa buah apel milik seorang wanita tua.
Varisha melihat dengan jelas lagi melalui kaca depan mobil.
Terlihat sang wanita tua yang begitu senang sekali. Karna, Zayn menolong dirinya.
"Terimakasih anak muda. Kau baik sekali."
"Bukan apa-apa, nyonya. Lain kali berhati-hatilah."
Varisha tersenyum tipis, hatinya sedikit meluluh.
Meski, ia baru saja dilukai oleh Zayn. Namun, sedikit kemudian hatinya luluh melihat sikap baik Zayn pada orang lain.
"Meski bukan padaku. Setidaknya ia baik pada orang lain."
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya