Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di laci terkunci
Malam itu, rumah minimalis milik Ravion terasa lebih luas dan dingin dari biasanya. Sesuai perkataannya, Ravion tidak pulang. Elfesya duduk di ruang tengah, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia mencoba memejamkan mata, namun cerita Ravion tentang ibunya terus berputar di kepalanya. Pria itu adalah produk dari kehancuran rumah tangga, sebuah jiwa yang patah karena menyaksikan ibunya mati dalam penantian.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Elfesya. Mengapa Nenek Lastri begitu gigih menjadikannya bagian dari keluarga ini? Jika ini hanya soal mencari "gadis baik", bukankah banyak gadis dari kalangan mereka sendiri yang lebih pantas?
Rasa penasaran itu membawanya ke ruang kerja pribadi Ravion di sudut lantai dua. Sebuah ruangan yang sebelumnya dilarang keras untuk ia masuki. Dengan langkah ragu, Elfesya memutar knop pintu. Tidak terkunci.
Ruangan itu sangat rapi, berbau kayu cendana dan maskulin. Elfesya mulai merapikan beberapa buku di rak yang tampak sedikit berdebu, sekadar alasan jika tiba-tiba Ravion pulang dan memergokinya. Saat ia mengelap meja kerja mahoni yang besar itu, ia menyadari salah satu laci bagian bawah sedikit terbuka. Sesuatu tersangkut di sana, mencegah laci itu tertutup sempurna.
Elfesya menarik laci itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran kuno. Di balik laci, sebuah kunci kecil tergantung pada seutas tali. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka kotak tersebut.
Isinya bukan dokumen perusahaan atau tumpukan uang. Di dalamnya terdapat sebuah foto usang seorang wanita cantik yang sedang menggendong bayi laki-laki. Wanita itu memiliki mata yang persis seperti mata Ravion, namun tampak lebih lembut. Di bawah foto itu, ada beberapa surat dengan tulisan tangan yang rapi namun memudar.
Elfesya mengambil selembar memo kecil yang terselip di antara surat-surat itu. Saat ia membaca kop suratnya, napasnya seolah berhenti.
Winda Jaya Konstruksi.
Itu adalah nama perusahaan ayah Elfesya sebelum bangkrut total sepuluh tahun yang lalu. Memo itu bertanggal beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal dalam kecelakaan.
"Proyek pembangunan pelabuhan di utara resmi dialihkan ke Arshaka Group. Semua aset Winda Jaya disita sebagai jaminan hutang yang telah dibeli oleh kami. Maaf, ini murni bisnis." > — Tanda tangan: Arshaka.
Tubuh Elfesya mendadak lemas. Ia terduduk di lantai dingin, memegang memo itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ingatannya kembali ke masa kecil, saat ayahnya pulang dengan wajah kuyu, mengatakan mereka kehilangan segalanya dalam semalam. Ayahnya yang depresi kemudian sering mabuk-mabukan, hingga suatu sore, mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan. Ibunya yang ada di sampingnya ikut pergi selamanya.
"Jadi... ini?" gumam Elfesya dengan suara pecah.
Keluarga Arshaka bukan sekadar penyelamat yang memberinya pekerjaan. Mereka adalah algojo yang menghancurkan keluarganya. Ravion, pria yang baru saja ia kasihani karena traumanya, adalah putra dari pria yang merampas masa depan Elfesya dan adiknya.
Kemarahan yang selama ini ia tekan mulai mendidih. Rasa kasihan yang sempat muncul di kantor tadi sore menguap, berganti dengan rasa jijik. Ia merasa dipermainkan. Nenek Lastri, keramahan itu, perjodohan ini—apakah semuanya hanya bentuk penebusan dosa yang murah? Atau mereka ingin memastikan bahwa keturunan dari orang yang mereka hancurkan tetap berada di bawah kendali mereka?
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari halaman depan. Elfesya tersentak. Dengan cepat, ia memasukkan kembali foto dan memo itu ke dalam kotak, menguncinya, dan menutup laci. Ia mengatur napasnya, mencoba menghapus jejak air mata yang sempat jatuh.
Ia baru saja keluar dari ruang kerja saat pintu depan terbuka. Ravion masuk dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Aroma alkohol dan parfum wanita yang menyengat segera memenuhi ruangan. Ia melihat Elfesya berdiri di lantai dua, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Belum tidur?" tanya Ravion, suaranya serak. Ia mencoba melepas jasnya namun kesulitan.
Elfesya tidak turun untuk membantu. Ia tetap berdiri di sana, menatap suaminya dengan sorot mata yang dingin dan tajam, lebih tajam dari biasanya.
"Saya baru saja menyadari satu hal, Pak Ravion," ucap Elfesya. Suaranya datar, tanpa emosi, namun terasa sangat menekan.
Ravion mendongak, menyipitkan mata untuk memperjelas pandangannya. "Apa?"
"Ternyata, kegelapan di rumah ini bukan berasal dari gorden yang Bapak tutup setiap sore," kata Elfesya sambil melangkah perlahan menuju kamarnya. "Tapi berasal dari fondasi rumah ini yang dibangun di atas penderitaan orang lain."
Ravion mengerutkan kening, bingung dengan ucapan istrinya yang tiba-tiba. "Kamu bicara apa? Kamu mabuk?"
"Saya sangat sadar, Ravion. Lebih sadar dari sebelumnya," sahut Elfesya sebelum menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras.
Ravion terpaku di ruang tengah. Ia merasa ada yang berubah dari atmosfer di sekitarnya. Gadis yang biasanya hanya diam menerima hinaannya kini tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Ia ingin mengejar dan bertanya, namun rasa pening di kepalanya akibat alkohol membuatnya hanya bisa terjatuh di sofa, menatap gorden ruang tamu yang tertutup rapat, bertanya-tanya rahasia apa lagi yang akan terbongkar saat matahari terbit nanti.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...