"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Pertama Baskoro
Pagi hari di kantor pusat Arania International dimulai dengan suasana yang tidak biasa. Udara di lantai eksekutif yang biasanya tenang, kini terasa tegang. Rania baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja ketika pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru.
Sekretarisnya, seorang wanita muda bernama Maya, masuk dengan wajah pucat sembari membawa beberapa lembar dokumen cetak. "Selamat pagi, Ibu Rania. Maaf mengganggu sepagi ini, tapi kita memiliki masalah besar di divisi pengembangan korporat."
Rania mengernyitkan keningnya, duduk di kursi kebesarannya dengan tenang tapi waspada. "Ada apa, Maya? Bicara yang jelas."
"Aset lahan di Cikarang, Bu... lahan strategis yang rencananya akan kita gunakan sebagai pusat logistik utama Danuarta Group dan Arania International untuk proyek nasional bulan depan," ucap Maya, suaranya sedikit bergetar. "Pihak otoritas wilayah baru saja mengirimkan surat pembatalan izin prinsip. Lahan itu... ternyata sudah beralih kepemilikan atas nama Baskoro Group sejak dua jam yang lalu melalui transaksi kilat."
Mendengar nama Baskoro Group, jantung Rania berdegup sedikit lebih kencang. "Bagaimana mungkin? Bukankah seluruh aset Wijaya Corp yang tersisa sudah dibekukan dan disita oleh negara?"
"Itulah masalahnya, Ibu. Lahan Cikarang tersebut ternyata berstatus harta waris yang belum dibagi atas nama almarhum ayah Pak Rendra. Enam bulan lalu, tim hukum pengadilan melewatkan aset ini karena tidak terdaftar dalam aset operasional perusahaan. Dan pagi ini, seseorang bernama Tyas Wijaya datang bersama pengacara Baskoro Group membawa Sertifikat Asli beserta Surat Kuasa mutlak yang ditandatangani oleh Pak Rendra dari dalam lapas."
Rania tertegun. Tangannya yang memegang pena sesaat membeku.
"Tyas? Bagaimana bisa anak manja itu tahu celah hukum seperti ini? Dan dari mana dia mendapatkan sertifikat asli itu?" Rania membatin, dadanya mendadak terasa sesak. Ia harus mengakui, kali ini ia benar-benar kecolongan. Ia terlalu fokus membersihkan sisa-sisa hutang vendor di permukaan hingga melewatkan satu kartu truf yang disimpan Rendra di bawah karpet.
Sebelum Rania sempat mencerna informasi tersebut, telepon internal di mejanya berdering nyaring. Itu panggilan langsung dari Elang Danuarta.
"Rania, kamu sudah dengar berita soal Cikarang?" suara Elang di seberang telepon terdengar berat dan dipenuhi tekanan.
"Aku baru saja mengetahuinya dari Maya, El," jawab Rania, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun pikirannya sedang berputar cepat.
"Baskoro bener-bener mengunci pergerakan kita," ucap Elang di seberang sana. "Bukan cuma soal tanah. Tim IT kami baru saja mendeteksi adanya anomali pada sistem keamanan enkripsi data pelanggan Arania International. Ada seseorang dari luar yang mencoba meretas menggunakan kunci dasarnya. Dan yang membuat kami bingung, kode peretasan itu sangat mirip dengan struktur algoritma lama yang pernah kamu buat dulu."
Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya menatap lurus ke langit-langit ruangan. Kali ini, rasa terkejutnya berubah menjadi sebuah kesadaran yang pahit.
Tyas tidak bergerak sendirian. Dia membawa seluruh masa lalu Rania, dokumen-dokumen lama yang dulu pernah Rania susun saat masih menjadi "otak" di balik Wijaya Corp, menyerahkannya pada Baskoro—pria yang memiliki modal tak terbatas dan dendam kesumat pada Elang.
"Mereka menggunakan masa laluku untuk menyerang masa depanku, El," bisik Rania, suaranya mendingin.
"Kita harus mengadakan rapat darurat sekarang, Rania. Baskoro mengundang kita untuk menghadiri pertemuan mediasi di hotel Grand Hyatt siang ini. Dia bilang, jika kita ingin jalur logistik kita aman, kita harus membeli tanah itu darinya dengan harga sepuluh kali lipat dari harga pasar. Ini pemerasan terang-terangan," kata Elang dengan nada beringas.
"Aku akan datang, El. Berikan aku waktu dua jam untuk memeriksa sistem," ujar Rania sebelum menutup telepon.
Siang harinya, di dalam ruang pertemuan VIP Hotel Grand Hyatt yang mewah dan privat.
Aroma cerutu mahal menguar di udara. Tuan Baskoro, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan rambut yang memutih seluruhnya, duduk di sofa kulit dengan senyuman kemenangan yang angkuh. Di sampingnya, berdiri Tyas Wijaya dengan pakaian yang sangat kontras dibandingkan enam bulan lalu.
Tyas kini mengenakan blazer formal bermerek, tas mewah di lengannya, dan riasan wajah yang tebal. Ia berdiri dengan dagu terangkat, menatap pintu masuk dengan tatapan tidak sabar. Ia ingin segera melihat wajah hancur mantan kakak iparnya.
Pintu ruangan terbuka. Rania masuk bersama Elang Danuarta, diikuti oleh dua orang pengacara mereka.
Begitu Rania melangkah masuk, Tyas langsung menyunggingkan senyum sinisnya. "Selamat siang, Ibu CEO Arania International yang terhormat. Senang melihat Anda bersedia meluangkan waktu untuk menemui kami."
Rania tidak membalas sapaan Tyas. Ia hanya menatap Tyas sekilas, kemudian
beralih menatap Tuan Baskoro. Rania mengambil tempat duduk di seberang pria tua itu, sementara Elang duduk di sampingnya dengan wajah tegang.
"Langsung saja, Tuan Baskoro," ucap Elang tanpa basa-basi. "Apa maumu? Kamu tahu tindakan membeli lahan sitaan yang sengaja disembunyikan itu berisiko hukum?"
Tuan Baskoro tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat memekakkan telinga. "Risiko hukum apa, Anak Muda? Surat kuasa itu sah, ditandatangani oleh Rendra Wijaya sebagai ahli waris tunggal yang sah sebelum dia divonis. Pengadilan belum menyita lahan itu, jadi secara hukum, kepemilikanku mutlak. Dan sekarang... proyek logistik nasional kalian terikat pada tanahku. Tanpa tanah itu, Danuarta Group harus membayar denda pinalti kepada pemerintah sebesar ratusan miliar karena keterlambatan proyek."
Baskoro mengetukkan jarinya ke meja. "Aku menawarkan solusi mudah. Bayar aku lima ratus miliar, dan tanah itu jadi milik kalian. Atau... biarkan proyek kalian hancur, dan saham Arania International akan terjun bebas besok pagi karena gagal memenuhi kontrak nasional."
Elang mengepalkan tangannya di bawah meja, rahangnya mengeras. Tekanan ini bener-bener nyata. Mereka berada di posisi yang sangat merugikan.
Tyas melangkah maju, meletakkan selembar kertas di depan Rania. Kertas itu berisi grafik peretasan sistem yang sedang terjadi secara real-time di server Arania International.
"Dan untukmu, Rania..." Tyas berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental. "Jangan pikir sistem enkripsi 'hebat' buatanmu itu tidak punya celah. Tuan Baskoro memiliki tim IT terbaik dari Rusia. Dalam waktu dua puluh empat jam, jika kesepakatan tanah ini tidak ditandatangani, seluruh data rahasia klien perusahanmu akan bocor ke publik. Kamu akan kembali jadi janda melarat yang tidak punya apa-apa, persis seperti saat kami mengusirmu malam itu!"
Ibu Ratna, yang ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang, ikut menimpali dengan suara melengking. "Benar! Rasakan kamu, Rania! Kamu pikir kamu bisa di atas angin selamanya?! Sekarang kamu tahu rasa, dikencingi oleh keluarga yang pernah kamu hancurkan!"
Ruangan itu mendadak hening. Pengacara Elang tampak panik, sesekali berbisik memeriksa pasal-pasal hukum yang sayangnya memang lemah dalam posisi ini karena sertifikat asli berada di tangan Baskoro.
Rania menatap kertas di depannya. Detak jantungnya sempat tidak beraturan. Ia menatap Tyas, kemudian menatap Baskoro. Rania saat ini bener-bener sedang berada di titik terpojok. Dia kecolongan oleh dendam keluarga mantan suaminya yang bersekutu dengan raksasa bisnis.
Namun, di tengah keheningan yang mencekam itu, Rania perlahan melepaskan napas beratnya. Ia menutup dokumen di depannya, menyandarkan tubuhnya. Ketakutan yang diharapkan Tyas muncul di wajah Rania, sama sekali tidak terlihat. Yang ada hanyalah sebuah helaan napas panjang seorang wanita yang baru saja menyadari betapa bodohnya musuh di depannya.
Rania menatap Tyas dengan pandangan yang tidak lagi terkejut, melainkan pandangan kasihan yang sangat mendalam.
"Tyas..." ucap Rania perlahan, suaranya sangat tenang di tengah badai. "Kamu bener-bener tidak pernah berubah ya? Enam bulan hidup di kontrakan kumuh ternyata belum cukup membuat otakmu berfungsi dengan baik."
Senyum di wajah Tyas seketika memudar. "Apa kamu bilang?!"
Rania beralih menatap Tuan Baskoro, menyilangkan kakinya dengan anggun. "Tuan Baskoro, Anda adalah pengusaha senior yang cerdas. Tapi sayang sekali, Anda membiarkan diri Anda dituntun oleh seorang anak kecil yang matanya buta karena dendam."
Rania mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, lalu meletakkannya di tengah meja. "Anda bilang sistem enkripsi lamaku sedang diretas oleh tim Rusia Anda? Silakan hubungi tim IT Anda sekarang juga, Tuan Baskoro. Tanya pada mereka... apakah mereka sedang meretas serverku, atau mereka sebenarnya... sedang masuk ke dalam 'lubang umpan' (honeypot) yang sengaja aku tinggalkan di sistem lama Wijaya Corp sejak dua tahun lalu?"
Wajah Tuan Baskoro yang tadinya merah karena tertawa, mendadak berubah menjadi sedikit kaku.
pst dapat cap pelakor😄🤭