Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #13
Della merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri, jangan kan berterima kasih, minta maaf pun ia belum sempat kepada Cery, namun malah di tinggal untuk selama-lamanya.
Rasa menyesal terus menyelimuti hati Della, ia masih terbayang-bayang saat semalam Cery menyelamatkan nya dari perampok.
Di sana juga ada Raja, Rena dan beberapa teman lainnya, namun wajah Rena terlihat biasa saja, ia malah sesekali tersenyum tipis, tidak ada penyesalan melainkan kebahagiaan karena menerima kabar ini, dia menghadiri pemakaman hanya karena untuk melihat apakah itu benar-benar Cery.
Namun di sana tidak terlihat Linus sama sekali, entah kemana perginya dia, apakah dia tidak tau soal ini atau memang tidak peduli dan tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Bi, kalau boleh tau, kau ini siapa nya Cery? Kami temannya tidak pernah tau prihal kelaurga Cery," ujar Della penasaran.
Bi Suni menatap wajah Della, ia terlihat sedikit aneh dan mengerutkan keningnya.
"Della, udah dong, gak usah banyak tanya, orang lagi berduka Lo malah bahas silsilah keluarga, Lo pikir Cery bakal seneng Lo kayak gitu? Selama ini kan Lo yang paling jahat sama dia, sekarang ngapain sok peduli?" ujar Rena yang ada di belakang.
"Lo yang diam, gak usah ikut campur, Cery meningal juga gara-gara Lo, Lo yang fitnah dia!" Della menghampiri Rena dan kemudian mendorong nya.
"Cukup! Kalian apa-apaan? Ini pemakaman di sini juga Lo berdua harus berantem? Gak kasian sama bi Suni?" ucap Raja melerai Rena dan Della.
Begitu juga dengan teman-teman lain yang ikut membantu, mereka juga tidak habis firkir, dalam keadaan yang seperti ini masih saja Della dan Rena bertengkar.
Beberapa jam pun akhirnya berlalu.
Pemakaman yang masih basah kini tidak ada seorang pun lagi di sana, semua orang termasuk teman-teman Cery, mereka telah pergi dari pemakaman tersebut.
Sementara itu, Della meminta bi Suni untuk duduk di taman tak jauh dari pemakaman untuk mengobrol sebentar, ia cukup ingin tau kehidupan Cery dan siapa bi Suni bagi Cery.
Mereka pun mengobrol begitu lama, bi Suni menceritakan apa saja yang di tanya Della kepada nya.
"Makasih ya bi, udah mau jawab semua pertanyaan aku, aku benar-benar minta maaf bi, maaf kan aku ya, aku menyesali semuanya," Della berlutut di depan bi Suni, meminta Maaf setelah ia mendengarkan penjelasan tentang Cery dari BI Suni.
Bi Suni tersenyum tipis, ia membangunkan Della, dan kemudian berkata." Sudah jangan minta maaf, setidaknya kau sudah menyesali perbuatan mu dan berani minta maaf, aku ingin pulang dan istirahat, kau juga pergilah, semua pertanyaan mu sudah ku jawab,"
Della memeluk bi Suni, begitu juga dengan bi Suni, ia membalas pelukan Della, dan kemudian mereka segera bubar dari tempat itu.
Della sempat ingin menawarkan untuk mengantar bi Suni pulang, namun bi Suni sangat kekeh menolak.
Ia pun akhirnya pasrah pergi meninggalkan bi Suni.
Sementara itu di kediaman keluarga Linus.
"Linus! Keluar Lo!" ucap Raja yang baru saja tiba, ia sudah seperti orang gila mengamuk dan memaksa untuk bertemu Linus.
Ia bahkan menghajar penjaga gerbang karena tidak memberikan ia masuk ke dalam.
Linus yang melihat dari balkon kamar nya sudah tau apa yang akan terjadi, ia bergegas turun ke bawah dan keluar dari rumah untuk menemui Raja.
"Ada apa Lo ke sini? Kayak orang kesurupan, Lo gak punya etika lagi apa gimana?" tanya Linus yang kini berhadapan dengan Raja.
Raja yang melihat Linus mengepalkan tangannya, ia terlihat sangat marah.
Bukh ... Bukh ...
Dua pukulan keras itu akhirnya mendarat tepat dua kali di pipi Linus, sangking kuatnya pukulan Raja, sudut bibir Linus sampai terluka dan menyeluruh darah segar.
"Raja! Lo udah gila ya? Salah gue apa? Datang-datang langsung mukulin!?" Linus memegang bibir nya dan melihat darah di tangannya.
"Masih nanya Lo? Lo udah bikin gue kehilangan Cery, orang yang baru aja bikin gue seneng dan tertarik! Lo bikin dia meningal! Semua yang terjadi gara-gara Lo, dan sekarang Lo diam di rumah sama sekali gak merasa bersalah bahkan di pemakaman nya aja Lo gak datang, manusia macam apa Lo?!" Raja semakin emosi, ia membuat Linus tercengang dengan apa yang ia ucapkan.
Awalnya Linus memang sudah melihat berita tentang kecelakaan beruntun yang menewaskan seorang siswi di sekolah Mawar Mekar, namun ia tidak menyangka kalau itu adalah Cery, ia juga belum memegang ponsel nya sama sekali sejak pesta tadi malam.
"Cery? Maksud Lo apa?" ujar Linus meminta penjelasan kepada Raja.
"Linus, Lo gak tau? Gadis SMA Mawar Mekar yang masuk berita di televisi itu Cery," ujar Della yang saat itu baru saja tiba dan melihat perkelahian Linus dan Raja.
"Gak, gak mungkin, Lo berdua bercanda kan? Lagian apa hubungannya sama gue?" jelas-jelas pernyataan ini membuktikan bahwa Linus masih tidak merasa bersalah.
"Masih nanya? Linus Lo gak punya otak ya memang gak ada pikiran nya sama sekali Lo!" bukan hanya Raja, Della juga kecewa melihat reaksi Linus.
"Udah Della, Lo gak perlu ngomong sama dia lagi, dan mulai sekarang Linus, Lo bukan sahabat gue lagi," Tidak ingin terlalu emosional lagi, Raja pun dengan hati yang remuk segera meninggalkan rumah Linus, percuma ia bicara dengan Linus yang menurut nya bukan manusia.
Linus tercengang melihat punggung Raja yang kian menajuh keluar dari gerbang rumah nya, ia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Della, gue beneran gak salah kan? Ini bukan salah gue kan? Cery gak meningal ini pasti akal-akalan kalian mau bikin gue bersalah ya kan?" ujar Linus lagi sambil memegang pundak sepupunya.
"Lepasin!" Della dengan kasar menyingkirkan tangan Linus dari pundak nya.
"Gue malu Linus, gue malu jadi bagian dari keluarga Lo, sama kayak Raja, mulai sekarang kita gak perlu saling kenal, asal Lo tau Cery adalah orang yang nyelamatin gue saat gue di rampok, dan gue nyesel udah jahat sama dia selama ini, Lo juga harus tau kalau buat beliin hadiah Lo dia bongkar celengan nya, dan tadi malam gue juga lihat sendiri Rena yang ngejatuhin diri nya sendiri ke kolam renang!" Amarah Della sudah tidak bisa ia bendung lagi, bukan hanya amarah air matanya juga tak dapat di tahan.
"Lo juga harus tau Linus, dia lakuin semua itu buat minta maaf sama Lo, padahal jelas-jelas dia gak bersalah Lo terlalu sombong dan jahat ke Cery, gue pikir cuma gue yang paling jahat ternyata Lo lebih jahat,"
Linus yang mendengar itu seketika mematung, tidak tau harus berkata apa, baru kali ini ia melihat Raja dan Della berbicara lantang dengan nya bahkan sampai memutuskan hubungan antara sahabat dan juga persaudaraan.
Cctv tidak ada yang mengarah ke kolam renang, maka dari itu Linus tidak percaya kalau Rena sengaja menjatuhkan dirinya sendiri.
Setelah puas mengumpat, Della juga meninggal kan rumah Linus, meninggal kan Linus yang terpaku tampa suara. Kata-kata Della barusan menusuk di hatinya.
Rasa bersalah kini mulai menyelimuti Linus, mama dan papanya sedang tidak berada di rumah, ia tidak tau harus berbuat apalagi saat ini.
Dua Minggu pun berlalu begitu cepat, sejak kepergian Cery, suasana kelas Della sangat sepi seluruh anak-anak kelas selalu memandangi bangku tempat duduk Cery dengan tatapan sedih.
"Cery, andaikan Lo masih ada, gue bakal duduk di samping Lo minta maaf sama Lo kalau perlu gue sujud sekalian juga gak masalah," ungkap Della dalam hatinya.
Teman-teman Della juga menyadari kalau sejak kepergian Cery, Della begitu murung mereka yakin Della selalu ingat apa yang sudah ia lakukan sebelumnya kepada Cery.
Selama dua Minggu juga, Linus, Raja selalu bertengkar, bahkan saat berpapasan saja mereka langsung berkelahi.
Bel sekolah berdering, menandakan bahwa pelajaran pertama segera di mulai, seluruh siswa dan siswi yang sebelumnya masih berada di luar bergegas masuk ke dalam kelas.
Begitu juga dengan Linus, akhir-akhir ini ia sering terlambat, tidak mengerjakan tugas dan sudah beberapa kali di panggil ke guru BK untuk memastikan bahwa ia tidak punya masalah. Karena itu pertama kali nya Linus menjadi seseorang yang teledor.
Tap ... Tap ... Tap ...
Langkah kaki Linus terdengar di koridor sekolah,ia berlari kecil agar segera tiba di kelas.
Namun ia tidak konsentrasi sepenuhnya dan terus fokus melihat pintu kelas yang akan segera di tutup guru MTK kiler yang mengajar di jam pertama hari ini.
Brak ...
Suara benturan tubuh beradu tubuh terdengar cukup jelas, seorang gadis terduduk jatuh di hadapan Linus dengan memegang jidat nya.
"Astaga, maaf-maaf, maafin gue, Lo gak apa-apa kan?" tanya Linus kepada seorang gadis yang ternyata baru keluar dari ruang kepala sekolah dan di tabrak hingga jatuh oleh Linus.
Linus membungkuk untuk membantu gadis tersebut berdiri.
"Sakit banget kayak nabrak tiang listrik," ujar nya sambil berdiri dan menyingkirkan segala debu yang menempel di pakaian sekolah nya.
"Maaf ya," ujar Linus lagi sambil memperhatikan wajah gadis tersebut.
Ia tidak menjawab ucapan Linus, gadis tersebut sibuk dengan dirinya sendiri.
Wajah gadis itu tertutup rambut panjang nya nan lurus, berponi, bibir merah seperti buah Cery matang, serta kulit putih, membuat siapapun yang melihatnya nya jadi terpesona karena keimutan yang ia miliki.
Namun Linus merasa tidak asing dengan mata dan bibir serta warna kulit yang di miliki wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Hal ini membuat tangan Linus bergerak dan menyingkirkan rambut gadis itu untuk melihat wajah nya lebih jelas.
"Hey! Ngapain Lo? Udah nabrak malah megang-megang rambut gue! Udah bisa mastiin tangan Lo gak kotor?" ujar gadis itu segera menepis tangan Linus.
Ia juga merapikan rambut nya dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Linus.
Namun Linus masih terpaku tidak percaya dengan apa yang ia lihat, wajah itu tidak asing karena memang Linus mengenali nya, itu adalah wajah Cery ya hanya saja terlihat jauh lebih cantik dan mengemaskan.
Bersambung ....