Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Setelah berhasil menenangkan Aluna dan memastikan gadis itu terlelap dalam pelukannya, Arka perlahan melepaskan pelukannya.
Ia bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar dengan langkah yang berat namun tegas.
Pintu kamar tertutup rapat memisahkan antara dunia di dalam dan dunia di luar. Begitu berada di koridor yang gelap dan sepi itu, topeng lembut di wajah Arka seketika runtuh digantikan oleh tatapan dingin dan datar seperti biasanya.
Ia bersandar di dinding menatap langit-langit rumah dengan napas yang panjang dan terdalam.
"Maafkan aku Aluna..." gumam Arka pelan hampir tak terdengar, berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku tahu kata-kataku tadi manis dan menenangkan. Tapi kau harus tahu... itu semua hanya kebohongan belaka."
"Aku bilang kau istimewa, aku bilang aku akan belajar mencintaimu... itu semua aku ucapkan hanya supaya kau tenang dan emosimu stabil. Aku tidak mau anakku kenapa-napa hanya karena ibunya stres dan sedih memikirkan hal-hal tidak penting."
Wajah pria itu berubah menjadi sangat serius dan tanpa ampun.
"Jangan salah paham nona manis. Kontrak tetaplah kontrak. Kesepakatan tetaplah kesepakatan," gumam Arka dingin.
"Tugasmu hanyalah melahirkan anakku yang wajahnya mirip Aira. Setelah bayi itu lahir dan sehat... tugasmu selesai. Kau akan menerima uangmu dan kau harus pergi dari hidupku selamanya."
"Tidak ada kata bersama selamanya atau keluarga di antara kita. Kau hanyalah wadah yang aku sewa. Dan aku tidak akan pernah membiarkan perasaan apa pun mengacaukan logika dan rencanaku."
Setelah menguatkan kembali hati dan prinsipnya, Arka berjalan pergi menuju ruang kerjanya meninggalkan kamar tidur itu seolah tidak pernah ada kehangatan yang tercipta sedetik pun sebelumnya.
.........
WAKTU TERUS BERJALAN...
Bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Kini usia kehamilan Aluna sudah memasuki bulan kesembilan atau bulan-bulan terakhir.
Perutnya sudah sangat besar dan berat, membuat gerakannya sangat terbatas dan sering kali merasa lelah serta nyeri di bagian pinggang.
Namun, fisiknya terlihat sangat bugar dan bersinar. Wajahnya yang semakin mirip Aira di masa dewasa itu terpancar aura keibuan yang sangat lembut dan cantik.
Hubungannya dengan Arka berada dalam fase yang aneh dan membingungkan. Di depan orang lain mereka terlihat sangat harmonis dan mesra. Arka selalu memanjakan, melindungi, dan memperhatikan setiap kebutuhan Aluna.
Tapi di balik pintu tertutup, jarak di antara mereka tetap ada. Arka tidak pernah menyinggung soal masa depan setelah melahirkan, dan Aluna pun pasrah menerima apa adanya sambil berharap keajaiban cinta bisa terjadi suatu saat nanti.
Namun ketenangan itu kembali terganggu pada suatu sore yang cerah.
Nyonya Soraya tampak sangat bersemangat dan wajahnya terlihat sangat bangga serta puas. Ia memanggil seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu utama dengan alasan ada tamu kehormatan yang ingin diperkenalkan.
Datanglah seorang wanita muda yang sangat cantik, anggun, dan berpakaian sangat mewah serta berkelas. Wanita itu memiliki postur tubuh yang tinggi, kulit putih, dan tatapan mata yang cerdas serta percaya diri.
"Selamat sore semuanya," sapa wanita itu dengan suara yang lembut namun tegas.
Nyonya Soraya langsung memegang lengan wanita itu dengan bangga lalu memperkenalkannya di hadapan Arka, Raka, dan Aluna yang duduk di sofa dengan wajah bingung.
"Anak-anak, perkenalkan ini adalah Nanda. Putri tunggal dari sahabat bisnis Ibu yang baru saja pulang dari studi di luar negeri," ucap Nyonya Soraya dengan senyum lebar yang jarang terlihat.
"Wanita ini sangat sempurna Arka. Keluarganya terpandang, hartanya berlimpah, pendidikannya tinggi, dan yang paling penting... dia sudah setuju dengan usulan Ibu!"
Arka menatap wanita bernama Nanda itu dengan tatapan datar menilai. "Setuju soal apa?"
"Tentu saja soal pernikahan!" jawab Nyonya Soraya semangat.
"Ibu sudah bicara baik-baik dengan Nanda dan orang tuanya. Mereka bersedia dan sangat berkenan kalau Nanda menjadi istri sah kamu Arka."
"Tapi... anakku belum lahir," potong Arka pelan.
"Justru itu!" potong Nyonya Soraya cepat.
"Nanda ini wanita yang sangat baik hati dan lapang dada. Dia tahu semua kondisi. Dia tahu kalau di perut Aluna ini ada anak kandungmu. Dan dia bersedia... dia bersedia menerima anak itu sebagai anaknya sendiri!"
"Dia siap merawat, mendidik, dan membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang layaknya ibu kandung sendiri. Anak itu nanti akan hidup bergelimang kemewahan, status, dan didikan keluarga bangsawan yang sempurna!"
Mendengar pengumuman itu seketika suasana ruangan menjadi hening total.
Aluna merasa darah di seluruh tubuhnya seakan berhenti mengalir. Tubuhnya lemas seketika. Ia menatap Nanda yang tampak sempurna dan berkelas itu lalu menatap dirinya sendiri yang hanya seorang gadis desa dengan status rahim bayaran.
Jadi ini rencananya...
Jadi selama ini Arka memanjakannya, melindunginya, itu semua hanya sampai di sini saja. Setelah anak lahir, anak akan diambil dan diberikan ke wanita sempurna ini. Dan Aluna, ia akan dibuang seperti barang bekas.
Air mata Aluna mulai menggenang namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan orang asing itu.
"Bagaimana Arka? Ibu rasa ini solusi paling sempurna," ucap Nyonya Soraya penuh harap.
"Kamu dapat istri yang setara derajatnya, keluarga kita gengsinya terjaga, dan anakmu mendapatkan ibu tiri yang sangat mampu dan mapan," lanjut Nyonya Soraya menggebu-gebu.
Nanda tersenyum manis lalu berjalan mendekati Aluna. Ia menatap perut besar gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan, campur antara rasa iba dan rasa menang.
"Halo Aluna. Senang bertemu denganmu," sapa Nanda sopan namun dingin.
"Tenang saja ya. Nanti kalau bayinya lahir, aku janji akan merawatnya sangat baik. Dia akan jadi pangeran kecil yang hidup bahagia selamanya. Kamu tidak perlu khawatir soal masa depannya. Serahkan saja padaku. Tugas kamu sudah selesai dengan sangat baik kok," ucap Nanda.
Kata-kata itu bagai pisau tajam yang menikam jantung Aluna tepat di ulu hati.
"Tugas kamu sudah selesai..."
Benar-benar kalimat yang paling menyakitkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Aluna menoleh cepat menatap Arka yang duduk di sofa utama. Ia menunggu pria itu menolak. Ia menunggu pria itu bilang tidak dan membela perasaannya. Ia berharap kata-kata manis Arka tempo hari tentang "belajar mencintai" itu bukan bohong belaka.
"Tu... Tuan Arka..." panggil Aluna dengan suara bergetar hebat.
"Benarkah... benarkah Tuan setuju dengan semua ini?"
Seluruh mata di ruangan itu tertuju pada Arka. Pria itu duduk tegak dengan wajah yang sangat sulit dibaca. Ia menatap Aluna dalam-dalam, lalu menatap ibunya, dan terakhir menatap Nanda.
Hening mencekam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam bagi Aluna.
Akhirnya Arka menghela napas panjang lalu mengucapkan kalimat yang memecah keheningan dan sekaligus menghancurkan hati Aluna menjadi berkeping-keping.
"Ide ini... memang cukup masuk akal dan menguntungkan bagi masa depan anakku," ucap Arka pelan, namun terdengar sangat jelas dan tegas.
"Baiklah. Aku setuju. Persiapan pernikahan bisa dimulai segera setelah anak ini lahir dan kondisinya stabil."
Brak!
Seolah ada petir yang menyambar tepat di kepala Aluna. Dunianya seakan runtuh dan gelap gulita seketika. Ia tidak kuat menahan beban berat di hati dan fisiknya. Matanya berkunang-kunang dan sebelum sempat jatuh, pandangannya menghitam total dan ia pingsan di tempat.
"ALUNA!!" teriak Raka dan Arka bersahutan saat melihat tubuh gadis itu ambruk ke lantai.