Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi sang veteran
Mbah Sidik kembali mengenang masa-masa sulit itu, saat ia harus membuat keputusan berat demi keselamatan darah dagingnya. Di bawah pohon beringin, ia menatap Ahmad yang masih asyik dengan ketapelnya, lalu mulai bercerita tentang perjalanan panjang membawa ketiga kakaknya ke tanah pengasingan yang suci.
"Ahmad," panggil Mbah Sidik. "Dulu, saat kakak-kakakmu masih muda, bapak harus menyembunyikan mereka. Penjajah masih berkeliaran, intelijen mereka mencari sisa-sisa keturunan pejuang. Maka, bapak putuskan untuk memondokkan mereka di tiga arah angin yang berbeda."
Bagi Mbah Sidik, mendidik anak di pesantren bukan sekadar belajar kitab, tapi sebuah strategi militer dan spiritual. Ia memiliki filosofi yang dalam tentang tiga wilayah besar di Jawa ini.
"Ibarat sebilah pusaka, Ahmad...
Jawa Tengah (adalah tempat menempa kerisnya—dasar ilmu dan sanad atau bisa di katakan gudangnya Ilmu sareat.
Jawa Timur adalah isinya-
Gudangnya ilmu thorekot
Sedangkan Jawa Barat adalah warangkanya atau sarungnya—etika, estetika, dan cara bersosialisasi dengan dunia. Gudangnya ilmu modern
Perjalanan itu tidaklah mudah. Zaman itu, aspal masih jarang dan kendaraan umum adalah kemewahan yang mustahil. Mbah Sidik mengawali perjalanannya ke arah Timur terlebih dahulu.
Dua anak tertuanya diajak berjalan kaki menyusuri rel kereta api dan pematang sawah. Kadang, mereka beruntung bisa menumpang gerobak sapi milik petani yang searah. Sidik berjalan dengan waspada, matanya terus memantau sekitar, memastikan tidak ada patroli penjajah yang curiga melihat seorang pria gagah membawa dua pemuda membawa buntalan kain.
Setelah meninggalkan dua anaknya di pesantren Sarang dan pesantren Gontor dengan hati yang berat namun mantap, Sidik kembali pulang ke rumah hanya untuk menjemput si bungsu. Kali ini perjalanannya berbalik arah menuju Jawa Barat.
"Kaki bapak sampai kapalan, Ahmad. Tapi setiap langkah bapak adalah doa agar mereka punya ilmu yang agama yang matang dan tidak tersentuh oleh tangan-tangan jahat yang ingin menghancurkan keturunan pejuang," kenang Mbah Sidik.
Selama berbulan-bulan Sidik berkelana mengantar anak-anaknya, Zaenab-lah yang menjadi tiang penyangga di rumah, sekaligus menjadi mata dan telinga bagi Sidik jika ada pergerakan musuh di desa.
Setiap kali Sidik pulang dari mengantar anaknya, Zaenab selalu menyambut dengan air cucian kaki dan doa syukur. Mereka sepakat, lebih baik berjauhan dengan anak namun mereka aman dan berilmu, daripada berkumpul namun selalu dalam ancaman bayang-bayang penjara kolonial.
Satu ke Timur membawa ketajaman nalar,
Satu ke Tengah agar akar agamanya tak pudar.
Satu ke Barat mencari sarung bagi jiwa,
Agar kelak mereka menjadi keris yang sempurna.
Gerobak sapi dan debu jalanan menjadi saksi,
Tentang ayah yang menyimpan anaknya dalam sunyi.
Bukan karena benci atau ingin berpisah,
Tapi agar mereka tak layu sebelum merekah.
Ahmad, kau tetap di sini menjadi teman di kala tua,
Menjaga rumah bersama ibu yang penuh doa.
Sebab keris yang baik butuh tempat untuk pulang,
Dan kaulah rumah bagi kakak-kakakmu saat perang usai menjelang.
Mbah Sidik mengusap kepala Ahmad. "Bapak sengaja memisahkan mereka agar jika satu arah tertangkap, yang lain masih bisa meneruskan perjuangan. Itulah taktik gerilya dalam mendidik keluarga."
Ahmad mendongak, matanya berbinar penuh kekaguman. "Lalu kapan Ahmad sekolah di pondok seperti kakak, Pak?"
Mbah Sidik tertawa, suaranya menggelegar hangat. "Tunggu sampai kau bisa menjatuhkan mangga itu dengan mata tertutup."
Tiba - tiba... Sore itu, suasana desa mendadak mencekam. Tangisan seorang ibu memecah kesunyian senja, meratap di depan rumah Mbah Sidik. Anaknya, bocah laki-laki berusia tujuh tahun, hilang saat bermain di dekat rumpun bambu besar di pinggir desa.
Mbah Sidik tidak bertanya dua kali. Ia meletakkan cangkulnya, menyambar sarung yang ia ikatkan di pinggang, dan memberikan instruksi singkat kepada Zaenab.
"Zae, jaga Ahmad di dalam. Jangan biarkan pintu terbuka sampai aku kembali."
Mbah Sidik tidak butuh waktu lama untuk melacak. Dengan Ilmu Terawangan yang ia warisi dari Mbah Pupus, ia merasakan hawa dingin yang tidak wajar di balik rumpun bambu yang bergoyang meski tidak ada angin. Di sana, di atas pohon beringin tua yang menjulang, sesosok makhluk bertubuh besar dengan mata merah menyala—seorang Genderuwo—sedang mendekap tubuh anak kecil yang tak sadarkan diri.
Mbah Sidik tidak membuang waktu. Ia berdiri tepat di bawah pohon, menatap langsung ke arah mata makhluk itu. Genderuwo itu menyeringai, mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat dedaunan di sekitar mereka meranggas kering. Ia merasa berkuasa karena memiliki sandera manusia di tangan.
"Turunkan anak itu, atau kau akan menyesal telah menapakkan kaki di desa ini," suara Mbah Sidik tenang, namun setiap katanya memiliki bobot yang menggetarkan dahan-dahan pohon.
Genderuwo itu tertawa, suara tawa yang menyerupai gesekan batu besar. Makhluk itu justru merapatkan cengkeramannya pada sang bocah, menantang Sidik.
Mbah Sidik tidak lagi berurusan dengan manusia. Ia memejamkan mata, memusatkan energi dari Tafsir Al-Qur'an dan kewibawaan yang ia bawa dari tanah suci. Tubuhnya mulai memancarkan cahaya putih keemasan yang redup namun tajam. Ia tidak menyerang dengan otot, melainkan dengan Ajian Sirrullah.
Genderuwo itu melompat turun, gerakannya sangat cepat, mencoba mencakar wajah Mbah Sidik. Namun, Sidik bergerak lebih cepat. Dengan satu langkah kaki yang enteng, ia bergeser dan menghantamkan telapak tangannya ke dada makhluk itu.
Bum!
Bukan suara daging beradu, melainkan suara guntur yang tertahan. Genderuwo itu terpental, menghantam batang pohon hingga retak. Makhluk itu murka, ia memanggil kabut hitam untuk menutupi pandangan Mbah Sidik.
Namun, Mbah Sidik justru tersenyum. "Kau pikir aku tidak bisa melihat dalam kegelapan?"
Sidik mengambil segenggam tanah, membacakan doa, lalu menyebarkannya ke udara. Tanah itu menjelma menjadi ribuan percikan api kecil yang membakar kabut hitam tersebut. Genderuwo itu terdesak. Sidik maju, jari telunjuknya teracung ke arah dada sang Genderuwo, membacakan ayat-ayat perlindungan dengan suara yang menggelegar.
“...wa la ya’uduhu hifzhuhuma wa huwal ‘aliyyul ‘azhim!”
Cahaya menyilaukan meledak dari ujung jari Mbah Sidik, menghantam dada Genderuwo itu. Makhluk itu menjerit, tubuh raksasanya perlahan mengecil dan kehilangan kekuatannya. Tak sanggup menahan energi suci itu, Genderuwo itu melepaskan sanderanya dan melarikan diri ke dalam hutan, menghilang sebelum sempat menyentuh batas desa.
Bukan senjata yang kusemat di pinggang,
Hanya doa yang membuat kegelapan surut dan hilang.
Kau menculik bocah dengan taring yang angkuh,
Namun di hadapan iman, kau hanyalah debu yang rapuh.
Rumpun bambu bergetar menyaksikan perang,
Tentang seorang kakek yang nyalinya tak pernah terang.
Genderuwo hanyalah bayangan di balik tabir,
Yang akan tunduk saat kalam Ilahi mulai mengalir.
Ahmad, lihatlah dari kejauhan cara bapak bekerja,
Bukan dengan tangan besi, tapi dengan rida yang terjaga.
Sebab makhluk pun takut pada hati yang bersih,
Yang menjadikan dunia tempat yang teduh dan tak lagi perih.
Mbah Sidik segera menangkap bocah itu sebelum menyentuh tanah. Ia membacakan doa penawar agar anak itu tidak trauma. Setelah memastikan anak itu sadar dan selamat, Sidik mengantarnya pulang ke pelukan ibunya yang sedang menangis tersedu di depan rumah.
Mbah Sidik kembali ke rumahnya dengan langkah tenang, seolah baru saja pulang dari kebun. Ia mencuci tangan, mengambil segelas teh hangat yang disiapkan Zaenab, lalu tersenyum pada Ahmad yang mengintip dari balik pintu.
"Sudah selesai, Ahmad. Makhluk itu sudah pulang ke tempatnya. Sekarang, mari kita lanjut mengaji."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?