NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Ruang kerja utama di kantor pusat Halstrom Group pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit di luar jendela tinggi tampak cerah, kota mulai bergerak seperti hari-hari lain, namun suasana di dalam ruangan justru terasa berat. Pendingin ruangan bekerja seperti biasa, kopi hitam di sisi meja masih mengepulkan aroma pahit tipis, tetapi pria yang duduk di balik meja besar itu sama sekali tidak berada dalam suasana hati yang baik.

Darius Halstrom duduk bersandar sambil menatap layar laptop cukup lama. Jemarinya berhenti di atas touchpad, lalu bergerak lagi membuka laporan demi laporan yang selama dua minggu terakhir terus membuat kesabarannya menipis. Rahangnya mengeras samar saat angka-angka di layar kembali menunjukkan pola yang sama. Jalur investasi mulai berubah. Beberapa dana sulit dipindahkan. Akses yang selama bertahun-tahun terasa begitu mudah kini perlahan menjadi rumit.

Hal yang paling mengganggunya bukan soal nominal uang.

Bukan juga soal prosedur tambahan.

Melainkan rasa kehilangan kendali yang mulai muncul sedikit demi sedikit.

Selama bertahun-tahun, semuanya berjalan nyaris sempurna. Walaupun sebagian besar aset keluarga secara hukum berasal dari warisan keluarga Seraphina, pada praktiknya Darius sudah terbiasa mengambil keputusan besar tanpa hambatan berarti. Persetujuan hampir selalu datang dengan mudah, jalur keuangan bergerak sesuai arah yang ia mau, dan Seraphina tidak pernah terlalu banyak ikut campur.

Atau setidaknya begitu yang selalu ia yakini.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Sangat berbeda.

Darius membuka dokumen legal lain. Tatapannya menyipit saat melihat revisi otorisasi kembali berubah. Persetujuan investasi yang sebelumnya hanya membutuhkan tanda tangan administratif kini harus melewati validasi tambahan. Beberapa akun perusahaan dibatasi aksesnya, bahkan dana cadangan tertentu mendadak memiliki sistem pengawasan baru.

Pelan.

Rapi.

Tidak mencolok.

Namun cukup mengganggu untuk membuatnya mulai kehilangan kesabaran.

“Masuk.”

Suara pintu terbuka perlahan. Asisten keuangan masuk sambil membawa satu map tambahan dengan ekspresi hati-hati, seperti seseorang yang sudah tahu suasana hati atasannya sedang tidak baik.

“Tuan, laporan revisi dari divisi legal sudah selesai diperiksa.”

Darius mengulurkan tangan tanpa banyak bicara. Map itu berpindah ke mejanya, lalu langsung dibuka cepat. Beberapa halaman dibalik satu per satu. Semakin lama ekspresi pria itu berubah semakin dingin.

“Kenapa validasi berubah lagi?” tanyanya pelan.

Nada suaranya rendah.

Namun justru itu yang membuat orang di depannya menegang.

Asisten itu menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Permintaan langsung dari pemegang otoritas utama, Tuan.”

Darius berhenti membalik halaman.

Tatapannya terangkat perlahan.

“Seraphina?”

Pria itu mengangguk kecil.

Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Darius menutup map sedikit lebih keras dari seharusnya. Tidak sampai membanting, tapi cukup menunjukkan rasa kesal yang mulai sulit ia sembunyikan. Lagi. Nama itu lagi. Hampir setiap masalah belakangan ini selalu berujung pada satu nama yang sama.

Seraphina.

Akses berubah.

Keputusan legal direvisi.

Dana mulai berpindah jalur.

Staf tertentu diganti diam-diam.

Dan yang paling membuatnya tidak nyaman, semuanya dilakukan dengan cara yang terlalu rapi.

Tidak emosional.

Tidak impulsif.

Tidak seperti wanita yang selama ini ia kenal.

Karena Seraphina biasanya terlalu lembut. Terlalu percaya. Bahkan sering kali terlihat malas membahas urusan bisnis yang menurutnya membosankan. Wanita itu lebih suka fokus pada keluarga, acara sosial, atau memastikan semuanya terlihat sempurna dari luar.

Namun sekarang?

Wanita itu justru terlihat seperti seseorang yang sedang menyusun ulang papan permainan.

Dan itu membuat Darius mulai tidak tenang.

“Keluar dulu,” ucapnya akhirnya.

Asisten itu langsung mengangguk kecil lalu pergi tanpa banyak bicara.

Begitu pintu tertutup, Darius menyandarkan tubuh ke kursi. Tatapannya bergerak ke arah jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Biasanya pemandangan seperti itu cukup membuat pikirannya lebih tenang. Hari ini tidak.

Karena semakin ia mencoba menyusun semuanya, semakin banyak bagian yang terasa tidak cocok.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Kenapa Seraphina tiba-tiba berubah?

Apa wanita itu tahu sesuatu?

Atau seseorang sedang memengaruhinya?

Pertanyaan itu mulai berputar semakin sering di kepalanya.

---

Malam itu, makan malam keluarga berlangsung seperti biasa di permukaan. Meja panjang tertata rapi, lilin kecil menyala samar, dan pelayan bergerak diam-diam tanpa membuat suara berlebihan. Dari luar, keluarga Halstrom masih tampak seperti keluarga sempurna yang selalu terlihat di acara sosial kelas atas.

Namun suasana di meja terasa sedikit berbeda.

Lysandra masih terlihat kesal sejak pembatasan dana beberapa hari lalu. Gadis itu memang berusaha terlihat biasa, tetapi ekspresinya terlalu mudah dibaca. Kael tetap duduk tenang sambil sesekali melihat layar ponselnya, meskipun sesekali tatapannya diam-diam mengarah pada ibunya.

Sedangkan Seraphina?

Wanita itu terlihat sama seperti biasanya.

Anggun.

Rapi.

Tenang.

Gaun sederhana berwarna gelap membuat penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan. Rambutnya tersusun rapi, gerakannya tetap lembut, dan wajahnya sulit ditebak seperti beberapa minggu terakhir.

Justru itu yang mulai mengganggu.

Karena Darius merasa tidak lagi bisa membaca pikirannya.

Saat Lysandra kembali membahas soal dana acara sosialnya, Seraphina tetap menjawab dengan nada stabil.

“Sesuaikan kebutuhanmu.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tidak terdengar menghakimi. Namun cukup tegas untuk membuat Lysandra langsung mengembuskan napas kesal.

“Tapi itu gak cukup,” gumam gadis itu pelan.

“Kamu masih punya anggaran,” jawab Seraphina sambil meletakkan gelas.

“Kalau ingin lebih, pikirkan prioritasnya.”

Kalimat sederhana.

Masuk akal.

Namun tetap terasa asing.

Karena dulu, Seraphina akan lebih cepat luluh. Bahkan sebelum diminta dua kali, wanita itu biasanya sudah menawarkan bantuan tambahan.

Sekarang tidak.

Dan perubahan itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Darius memperhatikan semuanya diam-diam. Cara istrinya bicara. Cara wanita itu merespons tekanan kecil tanpa kehilangan ketenangan. Bahkan cara Seraphina memandang anak-anak mereka terasa berbeda.

Ada jarak.

Halus.

Namun nyata.

Setelah makan malam selesai, Darius akhirnya mengikuti Seraphina ke ruang baca pribadi. Wanita itu sedang menuang teh hangat dengan gerakan santai, seolah tidak menyadari dirinya sedang diamati sejak tadi.

“Kamu sibuk akhir-akhir ini,” ujar Darius sambil berdiri dekat rak buku.

Seraphina mengangkat pandangan pelan.

“Lumayan.”

“Dengan perusahaan?”

“Sedikit.”

Jawaban pendek lagi.

Terlalu rapi.

Sulit dicari celah.

Darius tersenyum tipis, masih memakai nada lembut yang akhir-akhir ini sengaja ia pertahankan.

“Aku cuma merasa kamu berubah.”

Seraphina diam beberapa detik sebelum tersenyum kecil.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Kita semua berubah.”

Jawaban itu terdengar biasa saja.

Namun entah kenapa terasa seperti memiliki makna lain.

Darius memperhatikannya lebih lama. Wanita di depannya masih Seraphina yang sama secara wajah, suara, bahkan kebiasaan kecilnya. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda di balik semua itu.

Terlalu tenang.

Terlalu hati-hati.

Dan jauh lebih sulit dipengaruhi.

Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul.

Karena semakin lama, ia mulai merasa tertinggal beberapa langkah.

---

Beberapa hari berikutnya, Darius mulai bergerak diam-diam. Kalau Seraphina berubah, maka ia harus tahu kenapa. Ia mulai meminta laporan internal lebih rinci, memeriksa ulang jalur legal, hingga menelusuri keputusan yang beberapa minggu terakhir terasa aneh.

Awalnya semuanya terlihat kecil.

Tidak cukup besar untuk dicurigai.

Namun saat potongan-potongan itu mulai disusun…

Pola perlahan muncul.

Aset pribadi dipisahkan.

Validasi investasi berubah.

Hak otorisasi kembali ke Seraphina.

Staf lama menghilang satu per satu.

Dan beberapa keputusan besar mulai bergerak tanpa melewati dirinya.

Ekspresi Darius perlahan mengeras.

Karena sekarang ia sadar ini bukan perubahan spontan.

Seseorang sudah menyusunnya.

Pelan.

Terukur.

Dan cukup lama.

Yang paling mengganggu adalah satu pertanyaan sederhana.

Kenapa baru sekarang?

Apa Seraphina menemukan sesuatu?

Atau ada seseorang yang akhirnya membuka mata wanita itu?

---

Sementara itu, Seraphina justru terlihat semakin tenang.

Pagi harinya tetap berjalan biasa. Ia sarapan sambil membaca laporan, menghadiri rapat seperlunya, lalu mengurus beberapa revisi perusahaan tanpa tergesa-gesa. Saat Lysandra kembali meminta tambahan dana, ia tetap menjawab dengan sabar. Ketika Kael diam-diam mulai mengamati perubahan sikapnya, Seraphina hanya memberi senyum tipis yang sulit dibaca.

Dan saat Darius kembali mencoba bermain sebagai suami penuh perhatian…

Ia memilih ikut bermain.

Karena semakin mereka merasa semuanya masih terkendali, semakin mudah dirinya bergerak tanpa dicurigai terlalu jauh.

Sore itu, Seraphina duduk di lounge privat hotel lama bersama Evelyn Hart. Tempat itu cukup tenang, jauh dari kantor pusat dan terlalu biasa untuk menarik perhatian. Di meja kecil dekat jendela, beberapa dokumen terbuka rapi.

Tak lama kemudian, Alden Verrow datang.

Pria paruh baya itu tetap terlihat formal seperti biasa. Jas gelapnya rapi, ekspresinya tenang, dan tatapannya masih sama seperti dulu, tajam namun tidak banyak bicara.

“Semuanya berjalan cukup baik,” katanya setelah duduk.

Seraphina mengangguk kecil.

“Belum cukup.”

Alden memperhatikannya beberapa detik.

“Kamu bergerak cepat.”

Tatapan Seraphina turun pada dokumen di depannya.

“Aku terlalu lama diam sebelumnya.”

Kalimat itu keluar pelan.

Nyaris seperti sesuatu yang ia katakan untuk dirinya sendiri.

Evelyn membuka tablet.

“Darius mulai curiga.”

Seraphina tetap tenang.

“Biarkan.”

“Kamu yakin?” tanya Evelyn hati-hati.

“Dia akan melawan cepat atau lambat.”

Nada suara Seraphina terdengar stabil. Tidak marah. Tidak terburu-buru. Hanya seseorang yang sudah siap menghadapi apa yang akan datang.

“Aku justru menunggu itu.”

---

Di sisi lain kota, malam itu Darius masih duduk sendiri di ruang kerjanya. Lampu meja menyala redup, dokumen tersebar di berbagai sisi, dan kopi di sampingnya sudah kehilangan panas sejak lama.

Ia membaca ulang laporan legal untuk kesekian kali.

Sampai akhirnya…

Tangannya berhenti.

Tatapannya menyempit pelan.

Lalu kembali membaca nama itu sekali lagi.

Alden Verrow.

Nama itu muncul di dokumen legal internal perusahaan.

Pengacara lama keluarga.

Orang dekat ayah Seraphina.

Dan seseorang yang sudah lama tidak terlibat dalam urusan mereka.

Ekspresi Darius berubah perlahan.

Karena ia masih mengingat sesuatu dengan sangat jelas.

Alden tidak pernah benar-benar menyukainya.

Pria tua itu bahkan pernah memperingatkan Seraphina soal terlalu banyak menyerahkan kendali. Namun waktu itu, istrinya terlalu percaya padanya untuk mendengarkan.

Lalu sekarang…

Nama Alden muncul lagi.

Di saat Seraphina berubah.

Di saat akses mulai ditutup.

Di saat semuanya terasa bergerak di luar kendalinya.

Rahang Darius mengeras samar.

Karena akhirnya ia mulai menemukan satu benang merah.

Dan firasat buruk mulai tumbuh perlahan di kepalanya.

1
Ma Em
Seraphina semangat semoga kamu bisa mengendalikan lagi perusahaan yg duluan nya dikuasai Darius dan sekarang bisa beralih kembali pada kekuasaan Seraphina , biar para benalu yg selalu moroti uangmu itu sadar meskipun itu suami dan anak2 mu Seraphina .
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!