NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: AIR MATA DI RERUNTUHAN AL-AZHAR

​Langit pagi di pinggiran Jakarta tampak mendung, seolah-olah awan pun enggan menyaksikan kepedihan yang akan terungkap di bawahnya. Sebuah iring-iringan mobil SUV hitam antipeluru membelah jalanan pedesaan yang mulai rusak, menuju sebuah komplek yang dulunya adalah mercusuar ilmu dan spiritualitas. Di dalam mobil utama, keheningan terasa begitu pekat, hanya dipecahkan oleh suara napas Aaliyah Humaira yang terdengar berat dan tersenggal.

​Aaliyah menatap ke luar jendela. Semakin dekat mereka dengan lokasi Pesantren Al-Azhar, semakin kencang jantungnya berdegup. Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam menggenggam erat tasbih kayu peninggalan ayahnya.

​(Batin Aaliyah: Ya Allah... kuatkan kaki hamba. Setiap jengkal tanah yang kami lewati ini menyimpan memori masa kecil hamba. Di bawah pohon besar itu hamba dulu setoran hafalan... di warung kecil itu hamba dulu tertawa bersama santri-santri lainnya. Sekarang, mengapa semuanya tampak begitu asing dan sunyi? Mengapa aroma harum melati yang dulu selalu tercium, kini berganti menjadi bau hangus yang menyengat? Apakah hamba sanggup melihat sisa-sisa pengabdian ayah hamba yang telah mereka hancurkan?)

​Zayn Al-Fatih, yang duduk di sampingnya, tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Aaliyah. Ia bisa merasakan gelombang duka yang terpancar dari tubuh wanita itu. Zayn tidak mengenakan jas hari ini, ia hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, namun auranya sebagai pelindung tetap terasa sangat dominan.

​(Zayn membatin: Lihatlah tangannya... dia gemetar begitu hebat. Aaliyah, aku ingin sekali merengkuhmu dan mengatakan bahwa kau tidak perlu melihat semua ini jika kau tidak sanggup. Tapi aku tahu, kau adalah wanita yang kuat. Kau butuh melihat ini untuk membasuh lukamu dengan kebenaran. Sabrina dan antek-anteknya mungkin telah membakar bangunan fisik pesantren ini, tapi mereka tidak sadar bahwa mereka baru saja menyalakan api abadi di dalam hatiku untuk membalaskan setiap tetes air matamu. Siapa pun 'S' yang mengirim pesan ancaman itu... dia akan menyesal karena telah membiarkanku tetap hidup.)

​Mobil berhenti tepat di depan gerbang utama yang kini telah roboh dan dipenuhi coretan-coretan fitnah yang menyakitkan hati. Zayn turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aaliyah. Saat kaki Aaliyah menyentuh tanah pesantren, ia hampir saja tersungkur jika Zayn tidak dengan sigap menahan lengannya.

​"Berpeganglah padaku, Aaliyah. Jangan biarkan tanah ini melihatmu jatuh lagi," bisik Zayn, suaranya dalam dan penuh perlindungan.

​Aaliyah mengangguk pelan, meskipun matanya sudah mulai berkaca-kaca di balik niqab. Mereka berjalan masuk. Pemandangan di depan mereka sungguh memilukan. Bangunan aula utama yang dulunya megah dengan kubah hijau, kini hanya menyisakan tiang-tiang hitam yang hangus terbakar. Asrama santri putri telah rata dengan tanah, dan perpustakaan tempat Aaliyah menghabiskan ribuan jam belajar IT secara otodidak, kini hanya tumpukan abu dan kertas yang terbakar.

​(Batin Aaliyah menjerit: Aula itu... tempat hamba diwisuda sebagai Hafizah... tempat Ayah memberikan pidato yang begitu indah tentang kejujuran. Kini hanya tinggal arang! Mengapa mereka begitu kejam? Mereka tidak hanya ingin mengusirku, mereka ingin menghapus setiap jejak suci di tempat ini! Ya Allah, fitnah itu bukan hanya membunuh namaku, tapi membunuh harapan ribuan anak yatim yang dulu belajar di sini. Perih... rasanya lebih perih daripada disiram air mendidih. Aku tidak sanggup... aku tidak sanggup melihat ini!)

​Aaliyah jatuh berlutut di tengah reruntuhan aula. Ia menyentuh lantai marmer yang kini tertutup jelaga hitam. Isakannya pecah, menggema di antara puing-puing yang sunyi.

​Zayn berdiri di belakangnya, memberi isyarat kepada sepuluh pengawal pribadinya untuk menjaga jarak dan memberikan ruang bagi Aaliyah. Zayn menengadah ke langit, mencoba menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.

​(Zayn membatin: Bajingan! Bagaimana bisa manusia melakukan ini atas nama persaingan bisnis? Mereka menghancurkan tempat ibadah, mereka menghancurkan masa depan anak-anak tak berdosa hanya untuk sebidang tanah yang ingin mereka jadikan kasino! Baskoro... meskipun kau sudah di penjara, aku akan memastikan kekayaanmu habis untuk membangun kembali setiap jengkal tempat ini. Dan 'S'... jika kau bersembunyi di balik reruntuhan ini sekarang, muncullah! Hadapi aku sebagai pria, jangan bersembunyi di balik ancaman terhadap seorang wanita!)

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang menginjak ranting kering terdengar dari balik sisa bangunan perpustakaan. Para pengawal Zayn segera bersiaga, menodongkan senjata ke arah sumber suara.

​"Siapa di sana?! Keluar!" bentak kepala pengawal Zayn.

​Sesosok pria muda dengan pakaian kumal dan wajah yang penuh luka memar muncul dari kegelapan reruntuhan. Ia tampak ketakutan, namun matanya memancarkan kerinduan saat melihat Aaliyah.

​"N-Ning Aaliyah?" suara pria itu bergetar.

​Aaliyah mendongak, matanya yang sembab membelalak. "Syarif? Kau... kau masih di sini?"

​Pria itu adalah Syarif, salah satu santri yatim yang dulu paling setia membantu Kyai Abdullah. Ia berlari mendekat dan bersujud di depan Aaliyah.

​"Maafkan Syarif, Ning... Syarif tidak bisa menjaga pesantren... mereka datang di tengah malam dengan preman-preman itu... mereka membakar semuanya dan mengusir kami dengan paksa... mereka bilang Ning Aaliyah sudah mati..." Syarif menangis tersedu-sedu.

​(Batin Aaliyah: Syarif... syukur kepada Allah engkau selamat. Jadi benar, mereka menggunakan kekerasan fisik juga? Mereka tidak hanya meretas server kami, tapi mereka menyerang secara fisik. Ya Allah, betapa mengerikannya konspirasi ini.)

​Zayn membantu Syarif berdiri. "Siapa yang memimpin serangan itu, Syarif? Katakan padaku. Apakah kau melihat wajahnya?"

​Syarif menoleh ke arah Zayn dengan ragu, lalu ia mengangguk pelan. "Saya tidak tahu namanya, tapi dia selalu dipanggil 'Tuan S' oleh anak buahnya. Dia bukan Tuan Baskoro. Dia lebih muda, wajahnya sangat dingin, dan dia memiliki bekas luka di telinga kirinya."

​Zayn tertegun. Bekas luka di telinga kiri? Ingatannya terbang ke masa lalu, ke sebuah persaingan bisnis lama yang ia pikir sudah selesai.

​(Zayn membatin: Bekas luka di telinga... Sultan?! Apakah mungkin Sultan kembali dari pelariannya di luar negeri? Sultan adalah sepupu Sabrina yang dulu hampir bangkrut karena aku bongkar kasus korupsinya. Jadi dia yang selama ini menjadi otak di balik Baskoro? Dia menggunakan Sabrina sebagai pion untuk menghancurkanku dan Aaliyah sekaligus? Jika benar dia orangnya, maka ini bukan sekadar bisnis. Ini dendam pribadi yang berdarah.)

​"Dia memberikan ini, Ning," Syarif merogoh saku bajunya dan menyerahkan sebuah surat kecil yang kotor. "Dia bilang, jika Ning Aaliyah benar-benar kembali dari kematian, surat ini adalah undangan untuk 'pertemuan terakhir' di menara pengawas."

​Aaliyah menerima surat itu. Di dalamnya tertulis: "Mutiara yang retak tidak akan pernah bisa kembali utuh. Pilihannya hanya dua: tenggelam selamanya, atau terbakar bersama kenanganmu. Aku menunggumu di atas. - S"

​Aaliyah menatap ke arah menara pengawas pesantren yang masih berdiri kokoh di ujung komplek. Menara itu adalah titik tertinggi di daerah tersebut.

​"Zayn, saya harus ke sana," ucap Aaliyah mantap. Ketakutannya kini telah berganti menjadi keberanian yang dingin.

​"Kau gila? Itu jebakan!" Zayn menarik lengan Aaliyah. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam jebakannya sendirian!"

​"Dia ingin aku, Zayn. Jika kita membawa pasukan, dia mungkin akan meledakkan sisa bangunan ini atau melukai Syarif dan yang lainnya. Saya harus menghadapinya," Aaliyah menatap Zayn dengan tatapan yang sangat dalam. "Percayalah pada saya, Zayn. Bukankah Anda bilang saya adalah partner Anda?"

​Zayn terdiam. Ia melihat kekuatan yang luar biasa di mata Aaliyah. Kekuatan seorang Hafizah yang sedang membela agamanya dan harga diri keluarganya.

​(Zayn membatin: Bagaimana aku bisa melarangmu jika kau menatapku seperti itu? Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku akan membayangi setiap langkahmu. Jika dia berani menarik pelatuk atau menyentuhmu, aku akan memastikan menara itu menjadi makamnya.)

​"Baiklah. Tapi kau harus memakai alat penyadap dan pelacak ini," Zayn memasangkan sebuah anting kecil yang merupakan alat komunikasi ke telinga Aaliyah. Tangannya menyentuh kulit Aaliyah sejenak, memberikan getaran yang menguatkan. "Aku akan berada tepat di belakangmu, Aaliyah. Jangan pernah lepaskan komunikasi ini."

​Aaliyah melangkah menuju menara pengawas dengan langkah yang pasti. Setiap anak tangga yang ia naiki terasa seperti perjalanan menuju masa lalunya. Di puncak menara, sesosok pria berdiri membelakanginya, menatap hamparan reruntuhan pesantren dengan rokok di tangannya.

​"Kau datang lebih cepat dari yang kukira, Aaliyah," suara pria itu dingin dan tajam.

​Pria itu berbalik. Wajahnya tampan namun penuh dengan aura kegelapan. Luka di telinganya tampak sangat jelas. Dia adalah Sultan Al-Fahri, sepupu Sabrina.

​"Sultan... mengapa kau melakukan semua ini?" suara Aaliyah tenang, namun setiap kata mengandung kekuatan.

​"Mengapa? Karena keluargamu adalah simbol kesucian yang memuakkan bagi rencanaku! Dan Zayn... dia adalah orang yang menghancurkan masa depanku. Membayangkan kalian berdua bersatu untuk melawanku adalah hal yang sangat menarik. Tapi sayangnya, cerita ini harus berakhir di sini," Sultan mengeluarkan sebuah remote kecil dari sakunya. "Seluruh reruntuhan ini sudah kupasangi bahan peledak. Satu tekan saja, dan sejarah Al-Azhar akan terhapus dari muka bumi selamanya."

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah! Dia gila! Dia ingin menghancurkan segalanya! Hamba harus melakukan sesuatu. Laptop... hamba membawa ponsel yang sudah tersambung dengan server The Ark! Jika hamba bisa mematikan frekuensi remote itu... hamba butuh waktu tiga puluh detik!)

​Aaliyah secara diam-diam merogoh ponsel di balik gamisnya. Melalui alat komunikasi di telinganya, ia berbisik sangat pelan, "Zayn... tahan dia. Beri aku tiga puluh detik untuk meretas frekuensi detonatornya."

​Tiba-tiba, dari arah tangga, Zayn muncul dengan pistol di tangannya. "Sultan! Letakkan remote itu!"

​Sultan tertawa terbahak-bahak. "Zayn! Kau selalu datang tepat waktu untuk menyaksikan kehancuranmu sendiri! Kau mencintai wanita ini, bukan? Ironis sekali, Singa Dingin jatuh cinta pada buronan pezina!"

​Zayn melirik Aaliyah yang jemarinya sedang menari cepat di layar ponsel yang tersembunyi. Zayn tahu ia harus memancing emosi Sultan.

​"Kau hanya pengecut, Sultan! Kau menggunakan fitnah karena kau tidak mampu bersaing denganku secara bisnis! Kau menghancurkan pesantren ini karena kau takut pada cahaya yang terpancar dari sini! Kau hanyalah sampah yang bersembunyi di balik nama besar Baskoro!" bentak Zayn.

​Sultan geram, wajahnya merah padam. "Sampah?! Aku akan menunjukkan padamu siapa yang sampah!"

​Sultan hendak menekan tombol merah pada remote tersebut, namun tepat pada saat itu, ponsel Aaliyah bergetar.

​"Signal Jammed. Detonator Disabled."

​Aaliyah mendongak dengan tatapan tajam. "Sekarang, Zayn!"

​Zayn menerjang Sultan dengan gerakan yang sangat cepat. Terjadi perkelahian fisik yang sengit di atas menara yang sempit tersebut. Aaliyah segera berlari menjauh, namun Sultan berhasil menarik ujung hijab Aaliyah hingga Aaliyah tersentak ke belakang.

​Zayn yang melihat itu menjadi kalap. Ia memberikan pukulan telak ke rahang Sultan hingga pria itu tersungkur ke lantai menara. Zayn segera memeluk Aaliyah, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

​"Kau tidak apa-apa?!" tanya Zayn panik, suaranya dipenuhi ketakutan yang nyata.

​Aaliyah mengangguk, napasnya tersenggal. Ia melihat Sultan yang sudah tak berdaya di lantai. Tak lama kemudian, para pengawal Zayn naik dan meringkus Sultan.

​Zayn membawa Aaliyah keluar dari menara itu. Di bawah, di antara puing-puing pesantren yang mulai diterangi cahaya matahari yang menembus awan, Zayn berhenti dan menatap Aaliyah.

​(Zayn membatin: Tadi aku hampir kehilanganmu lagi. Melihat Sultan menarikmu... jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku sadar sekarang, aku tidak peduli pada harta atau perusahaan lagi. Selama kau ada di sampingku, itulah kekayaanku yang sebenarnya. Aaliyah... aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.)

​Zayn melepaskan sapu tangan putih dari sakunya dan menyeka debu dari tangan Aaliyah. "Kita akan membangunnya kembali, Aaliyah. Bukan hanya bangunannya, tapi juga nama baikmu. Aku berjanji."

​Aaliyah menatap Zayn dengan tatapan penuh haru. Di tengah reruntuhan yang hancur, sebuah ikatan baru yang lebih kuat dari baja telah terbentuk. Namun, saat mereka hendak menuju mobil, Syarif berlari mendekat dengan wajah pucat.

​"Ning... Tuan Muda... Ayah Ning... Kyai Abdullah... baru saja pihak rumah sakit menelepon... beliau... beliau kritis kembali!"

​Dunia Aaliyah seketika runtuh kembali. Kebahagiaan sesaat itu sirna ditelan kabar duka yang baru.

​(Batin Aaliyah: Ayah... jangan tinggalkan Aaliyah! Belum saatnya... namamu baru saja mulai bersih! Ya Allah, jangan cabut nyawanya sekarang!)

​Zayn segera menggendong Aaliyah masuk ke dalam mobil. "Ke rumah sakit! Sekarang! Lakukan pengawalan penuh!"

​Sinetron kehidupan ini kembali memberikan tikungan yang tajam. Akankah Kyai Abdullah bertahan, ataukah kemenangan Aaliyah harus dibayar dengan kehilangan orang yang paling ia cintai?

1
Erni Yustriyanti
Keren bgt
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!