Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Puskesmas
Makanan di piring Zivanna sama sekali tidak berkurang. Kali ini Minah memasak sayur asam, yang juga menjadi favoritnya ketika berkunjung ke desa, tetapi Zivanna sama sekali tidak berselera.
Padahal sebelumnya Zivanna membayangkan tubuhnya akan membulat selama tinggal bersama neneknya. Dia hafal betul neneknya itu pasti akan memasakkan berbagai macam makanan kesukaannya. Tetapi nyatanya nafsu makan Zivanna turun drastis sejak tinggal di sana.
Sejak pulang dari jalan-jalan bersama Rani tadi Zivanna hampir tidak berbicara. Wajahnya juga terlihat murung. Dia teringat perkebunan tebu yang katanya menjadi angker karena sering terdengar teriakan minta tolong.
Zivanna tidak ingin berpikiran buruk. Tetapi di dalam mimpinya, gadis bernama Ayu mengalami kejadian memilukan di sana. Dia terus berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang mendengarnya. Apakah ini ada kaitannya? Jika banyak kesamaan begini, apakah ini masih bisa disebut "hanya" sebuah mimpi belaka yang tidak ada artinya?
Semakin Ziva memikirkannya semakin dia bingung mencari jawabannya.
"Memikirkan apa, Zi?" Suara Minah membuat Zivanna terbangun dari lamunannya.
"Nggak memikirkan apa-apa, Nek. Hanya penasaran saja sebenarnya mataku ini kenapa," jawabnya sambil mengaduk-aduk isi piringnya.
"Besok jadi ke puskesmas, kan? Atau kalau kamu mau lebih yakin kamu bisa kembali ke kota. Nenek akan menghubungi papamu agar dia menjemputmu."
"Nggak usah, Nek. Di puskesmas saja tidak apa-apa," jawabnya tanpa minat.
Zivanna tidak yakin matanya itu akan mendapatkan solusi meski dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas terbaik yang biasa dia dapatkan. Dia merasa jika air mata yang tiba-tiba menetes itu bukan karena efek operasi mata, melainkan karena hal lain yang tidak bisa dia jelaskan.
"Di makan, Zi. Jangan cuma diaduk-aduk saja. Atau kamu mau makan yang lain? Mau apa? Nenek masakkan sekarang."
Sebenarnya Minah khawatir melihat kondisi Zivanna. Wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di sekitar mata yang terlihat semakin jelas, tubuhnya juga semakin kuyu. Bahkan ketika Zivanna buta pun kondisinya tidak terlihat seburuk ini.
Minah yakin tinggal menunggu hitungan hari saja Zivanna akan ambruk dan di rawat di rumah sakit kalau tidak segera ditangani.
"Nggak usah, Nek. Aku makan ini saja." Lalu Zivanna menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, hanya untuk membuat neneknya lega.
* * *
Rani datang pagi-pagi sekali untuk memasak dan bersih-bersih di rumah Minah seperti biasa. Dia langsung masuk melalui pintu belakang.
"Loh, Ibuk?" Rani terkejut ketika memasuki dapur mendapati majikannya sudah di sana, sepertinya sedang memasak air.
"Ran, kamu panggil Budi sekarang! Suruh dia bersiap-siap lalu mengantar Zizi ke puskesmas. Dari tadi malam badannya panas," ucapnya dengan nada khawatir yang begitu jelas.
"Iya Bu, saya panggil Budi sekarang." Rani bergegas pulang untuk memanggil suaminya.
Tidak berselang lama, Rani kembali bersama suaminya. Rani segera menuju ke kamar Zivanna, sementara Budi segera mengambil kunci dan menyiapkan mobil tanpa menunggu perintah.
"Bu, mobilnya sudah siap. Kapan mau berangkat?"
Mendengar laporan Rani, Minah segera membangunkan cucunya. "Zi, kita ke puskesmas, ya?"
Empat puluh lima menit kemudian mobil yang dikemudikan Budi sampai di halaman parkir puskesmas.
Budi segera membukakan pintu. Setelah itu Minah turun, disusul Zivanna yang terlihat begitu pucat. Sepertinya mereka datang paling pagi karena kondisi puskesmas masih sepi.
Biasanya antrean pengunjung akan mengular lebih panjang daripada antrean pemberian sembako gratis karena puskesmas ini adalah satu-satunya fasilitas kesehatan di desa Suka Makmur.
Budi bergegas pergi ke pendaftaran sementara Minah berjalan beriringan dengan Zivanna. Gadis itu ngotot tidak ingin di gandeng atau dipapah karena merasa masih mampu berjalan sendiri.
"Bu, ini daftarnya ke dokter mata atau dokter umum?" Budi kembali untuk memastikan karena rencana sebelumnya Zivanna akan menemui dokter spesialis mata.
"Ke dokter umum saja, Pak Budi. Sepertinya mataku sudah tidak apa-apa," sahut Zivanna dengan mata terpejam. Saat ini dia duduk di kursi tunggu panjang sambil menyandarkan kepalanya di bahu neneknya.
Tidak sampai lima menit, Zivanna dipanggil masuk ke ruangan dokter umum. Minah dengan setia mendampingi cucunya. Baru juga melangkahkan kakinya memasuki ruang periksa, Zivanna tiba-tiba pingsan.
* * *
"Kalau infusnya sudah habis dan pasien sudah sadar, boleh langsung pulang," ucap seorang perawat yang sedang mengecek infus yang baru saja di pasangkan di tangan Zivanna.
Beberapa kali diam-diam melirik ke arah Minah, dan tanpa bertanya pun perawat itu tahu siapa perempuan tua itu, bahkan hampir seluruh warga desa Suka Makmur tahu siapa Minah. Selain karena dia kaya, Minah juga satu-satunya perempuan berkulit putih (bule) yang tinggal di desa itu jadi dia mudah dikenali.
Saat ini Zivanna sudah dipindahkan ke kamar khusus rawat inap karena kondisinya sangat lemas. Puskesmas ini juga menyediakan rawat inap untuk kasus yang tidak membutuhkan penanganan dokter spesialis. Dalam kasus ini, Zivanna demam karena kekurangan cairan. Jadi, dia bisa diberi tindakan di puskesmas tanpa perlu di rujuk ke rumah sakit.
Minah duduk di samping tempat tidur Zivanna. Dia sudah memberi tahu Wisnu mengenai kondisi putrinya tetapi anak laki-lakinya itu sedang berada di luar kota. Mungkin nanti malam Anita yang akan datang untuk menjemput Zivanna.
Pukul dua belas siang...
Zivanna sudah sadar dari tadi. Demamnya sudah turun dan tubuhnya juga tidak selemas tadi ketika dia datang. Cairan infusnya tinggal sedikit. Minah sudah melaporkannya kepada perawat yang berjaga.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka seorang dokter masuk diikuti seorang perawat di belakangnya.
Perawat itu langsung melepaskan selang infus dari tangan Zivanna sementara dokter laki-laki di depannya langsung menghampiri sisi lain ranjang untuk kembali mengecek kondisi pasiennya.
Dokter itu meletakkan stetoskop di dada Zivanna lalu diam mendengarkan selama beberapa saat. "Bagus, sudah boleh pulang." Dokter itu memasukkan kembali stetoskop ke dalam saku jas putihnya.
Zivanna hampir tidak berkedip memandangi dokter itu. Wajahnya tampan, hidung mancung tapi tidak seperti dirinya yang mancung karena ada keturunan blasteran. Dokter ini berhidung mancung khas lokal.
Perawat yang menangani Zivanna terlihat tidak suka melihat cara Zivanna memandangi dokter di hadapannya. Bukan sekedar mencuri-curi pandang seperti kebanyakan pasien perempuan yang datang, pasien di hadapannya ini terang-terangan memperlihatkan kekagumannya. Dan sialnya, pasiennya kali ini berwajah cantik.
Perawat itu hampir saja mendengus memperlihatkan ketidaksukaannya. Dokter Alvaro sudah dia incar sejak lama. Dia sudah bersusah payah sekolah perawat agar bisa mendampingi dokter pujaannya. Akan sangat menjengkelkan kalau semua usahanya itu sia-sia karena dokter Alvaro jatuh cinta pada pasiennya.
"Ehem... "