Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Wadah Ajaib Untuk Menyimpan Ramuan
Aku mendengar langkah kaki orang-orang itu menjauh, lalu perlahan menghilang. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Zhiyi Pingkan masuk sambil menggendong Sonika dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membawa semangkuk obat.
Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja di samping tempat tidur, lalu berkata singkat, “Minumlah obatnya dulu. Nanti aku kembali untuk mengambil mangkuknya.”
Tanpa menunggu jawabanku, ia segera berbalik dan pergi, seolah tak tertarik memastikan apakah aku benar-benar meminumnya atau tidak.
Aku menatap cairan obat di dalam mangkuk itu dengan sorot mata penuh perhitungan. Pikiranku berputar cepat. Ini mungkin satu-satunya kesempatan aku harus mengambil sampel obat ini dan mengirimkannya keluar. Belum tentu nanti aku akan mendapat peluang seperti ini lagi.
Tanpa membuang waktu, aku turun dari tempat tidur dan mulai menggeledah seluruh ruangan. Laci demi laci kubuka, sudut demi sudut kuperiksa. Namun, setelah mencari ke mana-mana, aku tidak menemukan satu pun wadah yang benar-benar aman untuk menyimpan cairan itu.
Pandanganku sempat jatuh pada botol-botol kosmetik di meja rias. Namun aku langsung menggeleng. Meski isinya dibuang, sisa bahan kimia di dalamnya bisa mencemari obat ini dan merusak hasil uji nanti. Belum lagi jika Zhiyi Pingkan menyadari ada obat yang berkurang itu hanya akan menimbulkan kecurigaan baru.
Dari aroma parfum yang melekat pada tubuhnya, aku tahu betul dia sangat teliti dan memperhatikan detail. Apalagi, semua peralatan kosmetikku pun sudah kuhafal luar kepala tak ada yang bisa dipakai tanpa meninggalkan jejak.
Kepanikan mulai merayap. Zhiyi Pingkan bisa kembali kapan saja untuk mengambil mangkuk itu. Jika aku terlambat sedikit saja, aku tidak akan punya pilihan selain meneguk habis obat pahit ini.
Saat aku hampir putus asa dan berniat membuang isi mangkuk itu demi memikirkan rencana lain, tiba-tiba sebuah ide nekat melintas di benakku.
Aku terdiam sejenak, lalu hampir saja menepuk keningku sendiri karena baru terpikir sekarang.
Dengan cepat, aku membuka laci kecil di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah kotak. Tanganku bergerak cekatan mengambil satu bungkus kondom, lalu aku membawa mangkuk itu ke kamar mandi.
Tanpa ragu, kutuangkan seluruh cairan obat ke dalamnya. Setelah itu, kuikat ujungnya erat-erat hingga membentuk seperti sosis kecil yang hangat saat kugenggam.
“Heh… sempurna,” gumamku pelan, merasa lega.
Setelah menyembunyikan benda itu di tempat yang aman, aku kembali ke tempat tidur. Aku berbaring, mencoba mengatur napas dan menenangkan detak jantungku yang masih berdegup kencang akibat ketegangan barusan.
Tak lama kemudian, setelah menyuap sedikit sarapan sekadarnya, aku memasang wajah lemah dan berkata kepada Zhiyi Pingkan saat ia muncul kembali,
“Aku ingin tidur sebentar. Jangan biarkan siapa pun menggangguku… pagi-pagi begini sudah terlalu berisik.”
Aku memejamkan mata, berharap ia tidak mencurigai apa pun.
Kurasa, setelah terjaga semalaman tanpa istirahat, aku tak perlu lagi berpura-pura. Wajahku pasti sudah terlihat kacau pucat, lelah, dan jauh dari kata baik-baik saja.
Begitu sampai di kamar, aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak langsung menyelinap ke dalam selimut, seolah itu satu-satunya tempat aman yang tersisa untukku. Dengan tangan sedikit gemetar, aku menyalakan ponsel, menyambungkannya ke Wi-Fi, lalu membuka aplikasi WeChat.
Benar saja, di daftar teman hanya ada satu nama Zea Helia. Itu semakin menegaskan bahwa ini memang nomor baru yang sengaja disiapkan.
Aku segera mengatur ponsel ke mode hening, berjaga-jaga jika ada suara tiba-tiba yang bisa menarik perhatian. Setelah itu, aku cepat-cepat mengirim pesan kepada Helia, menanyakan kenapa dia tidak datang hari ini.
Tak butuh waktu lama, balasannya langsung muncul—sebuah pesan suara.
Aku mengecilkan volumenya hingga hampir tak terdengar, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Dari sana, terdengar suara Helia yang penuh emosi dan jelas menahan amarah:
“Jangan ditanya lagi! Aku sudah ke sana kemarin, tapi pembantu itu sama sekali tidak mengizinkanku masuk. Katanya, Tuan sudah membawamu berobat ke luar negeri dan belum pulang!”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin kesal.
“Sebenarnya sebelum itu pun aku sudah beberapa kali ke rumahmu mencarimu, tapi dia terus-terusan memberiku alasan yang sama. Dan bodohnya aku… aku percaya begitu saja!”
Napasnya terdengar berat sebelum ia melanjutkan lagi.
“Pantas saja aku tidak pernah bisa menghubungimu. Ponselmu selalu mati, dan kalaupun sempat aktif, tidak pernah ada yang mengangkat!”
Suara Helia kini terdengar lebih pelan, namun sarat emosi.
“Kalau saja kamu tidak meneleponku kemarin, aku mungkin sudah benar-benar percaya dengan omong kosong itu. Aku kira kamu memang di luar negeri… bahkan aku sengaja tidak mengganggumu karena takut beda waktu dan mengganggu istirahatmu.”
Mendengar semua itu, hatiku terasa hangat sekaligus perih. Tanpa sadar, air mataku jatuh satu per satu. Namun kali ini, itu bukan hanya karena sedih ada rasa lega dan bahagia yang bercampur di dalamnya.
Dengan suara lirih, aku akhirnya membalas, “Aku kira… kamu tidak percaya dengan penjelasanku kemarin. Aku juga tidak menyangka kalau orang yang datang untuk memperbaiki itu… ternyata orangmu.”
Belum sempat aku menenangkan diri, tiba-tiba layar ponselku berubah Zea Helia langsung melakukan panggilan video.
Aku tersentak kaget. Jantungku berdegup lebih cepat. Refleks, aku menggenggam ponsel erat-erat sambil menajamkan pendengaran ke arah pintu. Di luar masih sunyi, tidak ada tanda-tanda siapa pun mendekat.
Setelah memastikan keadaan aman, aku menarik napas dalam-dalam, lalu dengan ragu mengangkat panggilan itu.
Begitu wajahku muncul di layar, ekspresi Helia langsung berubah drastis.
Ia terdiam, membeku di tempatnya, dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang menatapku tak percaya. Pandangannya seperti kosong, seolah butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihatnya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berseru dengan suara bergetar, penuh keterkejutan,
“…Danny… bagaimana bisa kamu jadi seperti ini…?”
Aku tahu persis apa yang dilihatnya tubuhku yang kurus, wajahku yang pucat, dan kondisi menyedihkan yang tak lagi bisa kusembunyikan.
Melihat reaksinya, semua pertahananku runtuh begitu saja.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah. Aku menangis tersedu-sedu, bahuku bergetar, namun tak satu kata pun mampu keluar dari mulutku.
Di seberang sana, Helia langsung kehilangan kendali. Amarahnya meledak begitu saja.
“Lapor polisi!” teriaknya dengan suara penuh emosi. “Danny, lapor polisi sekarang! Kamu masih tunggu apa lagi?!”
“Apa?”
Aku mengusap wajahku yang basah oleh air mata, lalu menggeleng pelan, berusaha menahan Helia agar tidak bertindak gegabah. “Belum saatnya. Aku belum punya bukti yang cukup… Kalau aku melapor sekarang, apa yang bisa kuajukan ke polisi?”
Di seberang layar, wajah Zea Helia langsung memerah karena emosi. Ia jelas tidak terima.
“Tapi kita tidak bisa membiarkan pasangan bajingan itu lolos begitu saja!” serunya dengan nada bergetar penuh amarah. “Laki-laki itu sudah kehilangan hati nuraninya! Danny, kamu tidak sedang mencoba melindunginya, kan?”
Ia menarik napas tajam, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih keras.
“Dia jelas-jelas menyekapmu! Ini bukan hal kecil! Kamu masih mau menunggu apa lagi? Kalau kamu terus menunda seperti ini, yang dipertaruhkan itu nyawamu sendiri!”
Aku terdiam sejenak, menggigit bibir, sementara kata-katanya menghantamku tanpa ampun.
Helia belum berhenti.
“Orang lain mungkin tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi aku tahu!” lanjutnya dengan nada sinis. “Kalau bukan karena kamu, Luna Danny, dia tidak akan pernah bisa sampai di titik ini. Paling-paling dia cuma jadi tukang potong rambut di salon! Memangnya dia punya apa?”
Nada suaranya dipenuhi ejekan dan kemarahan yang tertahan.
“Bahkan kalau dia bekerja seumur hidup sampai mati pun, dia tidak akan pernah bisa bergaya sok hebat seperti sekarang!” katanya lagi. “Bukan maksudku ikut campur, tapi dulu kamu tidak seharusnya melepaskan perusahaanmu begitu saja…”
Ia terdiam sejenak, seolah menyadari ucapannya sendiri, lalu menambahkan dengan nada sedikit menurun, “Ah… Danny, jangan marah, ya. Aku cuma… tidak tahan melihatmu seperti ini.”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri meski dadaku terasa sesak.
“Justru karena itu…” suaraku terdengar lirih, namun tegas, “aku harus tahu apa sebenarnya rencana Dean Junxian.”
Air mataku kembali jatuh, tapi kali ini aku tidak menyekanya.
“Aku ingin kebenaran,” lanjutku pelan, suaraku bergetar. “Aku ingin tahu kenapa mereka bisa setega ini padaku… kenapa semuanya berubah jadi seperti ini…”
Tanganku mengepal tanpa sadar. Rasa sakit di dadaku perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin lebih tajam.
Aku terisak pelan, lalu menggertakkan gigi, setiap kata keluar seperti bisikan penuh tekad,
“Aku tidak akan menyerah begitu saja.”
Aku menatap layar dengan mata merah, dipenuhi amarah yang mulai membara.
“Aku akan membuat mereka membayar semuanya… Aku akan membuat hidup mereka lebih buruk dari kematian itu sendiri sampai mereka hancur tanpa sisa, tanpa jalan untuk kembali.”