Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 13
Sore ini aku sudah pulang membawa seplastik nasi bungkus seperti biasa. Aku juga membeli beberapa camilan.
"Ibu ga mandi dulu? Takut nanti kak Toni tiba-tiba datang."
Ibu masih duduk di ruang tamu. Memakan camilan yang aku beli tadi. Wajah ibu sudah lebih segar dari kemarin. Sudah tidak pucat lagi. Aku jadi tenang kalau besok aku kerja meninggalkan ibu.
"Iya. Ini ibu mau mandi." Ibu meninggalkanku diruang tamu.
Tok.. tok...
Aku membuka pintu. Ternyata kak Toni sudah datang. Dia sepertinya kelihatan baru selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah. Tangannya juga menenteng sebuah plastik yang kutebak isinya adalah biskuit.
"Masuk kak." Aku mempersilahkan kak Toni untuk duduk. Layaknya tamu aku membuatkan minuman teh hangat untuknya.
"Ini, kakak bawa biskuit buat kamu sama ibu." Kak Toni menyerahkan plastik itu padaku. "Maaf cuma bisa bawa itu aja."
Aku tersenyum. "Ini saja udah cukup kak." Aku meletakkan plastik itu di meja. "Kan yang penting kakak kesini."
Kak Toni mengangguk pelan. Dia seperti asing di rumahnya sendiri. Gugup. Yang kulihat dari wajahnya dan gerak-gerik tubuhnya.
"Ibu.. mana?"
"Ibu lagi man-"
"Siapa manda?" Ibu tiba-tiba datang dari belakang. Sudah berganti baju.
"Itu ibu." Aku menunjuk ibu yang diam memandang kak Toni. Kak Toni yang dipandang begitu oleh ibu hanya menunduk.
"Ibu sini duduk. Katanya mau ngobrol sama kak Toni."
Ibu menurut perkataan ku. Ibu menghampiriku, duduk di sampingku.
"Ibu..." Suara kak Toni terdengar tercekat. "Aku.. minta maaf sama ibu." Suaranya pelan. Serak seperti menahan tangis.
Akupun jadi ikut suasana. Air mataku menetes tak bisa dibendung lagi.
"Bu.." aku memegang lengan ibu pelan.
Kudengar ibu menghembuskan nafas berat.
"Iya. Ibu maafin." Suara ibu membuat kak Toni mendongakkan wajahnya. Senyumnya terbit. Akupun ikut tersenyum lega.
"Bu.. aku benar-benar minta maaf sama ibu."
Ibu tiba-tiba menangis lagi. "Kamu sudah buat ibu kecewa Toni."
Kak Toni mengangguk keras. "Iya bu. Aku udah buat ibu kecewa. Kesalahanku benar-benar besar. Aku minta maaf." Kak Toni bersimpuh di kaki ibu.
Ibu yang awalnya diam hatinya mungkin luluh juga. Ibu menuntun tubuh kak Toni untuk bangun. Dan mengarahkannya untuk duduk di samping ibu.
Ibu menangis sesenggukan. Memeluk tubuh kak Toni yang masih menunduk.
"Sudah, nak." Kata ibu sambil terus mengelus punggung kak Toni yang masih bergetar.
Kak Toni mengelap wajahnya dengan kaosnya. Aku juga ikutan mengelap air mataku dengan punggung tangan.
"Ibu udah maafin." Ibu berusaha tersenyum walaupun air matanya tidak bisa bohong seberapa sedihnya dia.
Dengan sesenggukan kak Toni bilang maaf beberapa kali. Bahkan kepadaku juga.
"Iya kak. Aku udah maafin." Aku mengelus punggung tangan kakakku.
Setelah suasana mulai tenang. Ibu duduk menghadap kak Toni. "Jadi? Ini mau bagaimana?"
Kak Toni menghembuskan nafasnya berat. "Ya.. aku harus tetep tanggung jawab bu."
"Kamu ada uang berapa emangnya?"
Kak Toni merogoh sakunya. Diambilnya dompetnya dari dalam saku. Mengeluarkan uang yang sebagian sudah lecek.
"Cuma segitu? Nikah ga murah Ton."
Kak Toni segera menjawab. "Iya bu aku tau. Tapi mau gimana lagi? Cuma ini yang aku punya."
Ibu dan kak Toni menatapku yang dari tadi hanya diam.
"Kamu? Punya berapa man?" Ibu bertanya padaku.
Aku menunjuk diriku sendiri. "Aku? Uangku habis buat bayar rumah sakit bu. Aku juga belum kerja lagi."
Ibu merebahkan badannya di kursi. Menghembuskan nafasnya berat.
"Ibu apalagi. Ga punya uang sama sekali." Ibu menatap kak Toni. "Pacarmu.. apa ga papa kalau cuma nikah di KUA?"
Kak Toni diam. "Aku ga tau bu. Aku belum ngobrol soal itu."
"Terus? Apa kamu udah ketemu sama keluarganya?" Ibu kembali bertanya pada kak Toni. Aku menyimak saja. Diam menatap dua orang di sampingku.
Kak Toni menggeleng. "Belum."
Ibu kembali duduk tegak. "Jangan-jangan keluarganya juga belum tau kalau anaknya hamil?"
Kak Toni mengangguk pelan. "Iya bu belum."
Ibu mengusap wajahnya sendiri. "Kenapa bisa?"
Kak Toni mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kami terlalu kalut bu. Bingung harus bagaimana."
"Tolol kamu!" Ibu menoyor kepala kak Toni. Kak Toni terima saja kepalanya di toyor begitu.
"Terus mau mu gimana?"
Kak Toni diam beberapa detik. Ibu menunggu jawaban dari kak Toni.
"Apa bisa bu... Kalau kita pinjam bank dulu?"
Ibu diam. Berpikir. Sampai hampir satu menit lamanya ibu diam.
"Atas nama siapa?"
"Ya.. atas nama ibu. Jaminannya sertifikat rumah ini."
"Kalau ga bisa bayar, rumah ini disita dong."
Aku terkejut atas perkataan kak Toni. Benar kata ibu kalau tidak bisa bayar rumah ini disita. Ini harya peninggalan ayah satu-satunya kan.
"Ya jangan sampai ga bisa bayar lah bu."
Ibu menatap kak Toni. "Kamu bikin susah ibu saja, Ton." Ucap ibu geram. "Memangnya kamu kerja apa bisa bilang begitu?"
Kak Toni menggaruk kepalanya. "Jadi... Tukang sapu jalanan bu." Ucap kak Toni sambil meringis.
Ibu menggeplak lengan kak Toni. "Pantesan duitmu itu lecek semua."
Kak Toni tertawa.
"Pokoknya kamu harus cari kerja yang gajinya lebih gede dari disitu, Ton."
Kak Toni mengangguk pasti. "Iya bu. Ini aja aku lagi cari info lagi. Kamu ada ga, man?" Kak Toni menatapku.
"Pas kemarin aku tawarin ikut bangun toko di depan kakak ga mau. Sekarang ya udah hampir selesai pembangunannya."
"Ck.. ya yang lain."
Aku menggeleng. Aku tidak ada info apapun soal kerjaan.
"Ya sudah. Pokoknya kamu harus cepat cari kerjaan lain. Biar bisa cepet juga ibu pengajuan ke bank buat pinjaman. Jangan sampai itu perutnya udah keliatan sama orang duluan sebelum kamu nikahin."
Kak Toni mendengus. "Ya pinjem sekarang aja bu. Cari kerja kan bisa sambil berjalan nanti."
"Terus yang bakal bayar tagihan pertamanya siapa?"
Kak Toni memandangku. "Ya manda bantuin lah bu. Dia kan juga nanti bakal makan uangnya juga."
"Loh? Kok gitu sih kak. Ini kan buat keperluan kakak. Kenapa aku jadi ikut-ikutan juga?" Aku tidak terima. Sudah cukup selama ini dia membiayai keluarganya.
"Iya man. Bantu kakakmu kalau nanti dia belum ada uangnya, ya?" Ibu meremas tanganku pelan.
"Tapi bu.."
"Ga papa. Kan kamu keluarganya kan?" Ibu mengucapkan itu dengan nada yang halus sekali. Seakan-akan ingin membuatku terbuai dan setuju.
"Iya man. Masa sama kakakmu sendiri perhitungan begitu." Kak Toni menimpali.
Aku diam. Takut semua keputusanku membuatku susah sendiri di masa depan.
"Tinggal bilang iya. Susah banget sih."
Aku menatap kak Toni dan ibu bergantian. Keduanya juga sedang menatapku. Menunggu jawabanku.
"Tapi kakak juga harus ada usaha dulu. Baru aku mau bantu." Ucapku setelahnya.
"Tenang itu man. Kalau kakak bisa bayar, kakak ga perlu minta bantuanmu." Ucap kak Toni berusaha menenangkan ku.
Hatiku sebenarnya terasa mengganjal. Benar-benar takut dibodohi. Tapi, benar kata ibu. Kita keluarga yang harus saling tolong menolong. Siapa tau dimasa depan aku butuh bantuan kak Toni, dia bisa bergantian membantuku. Begitu kan?