NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Ikatan Tahta

Tepat saat Ara bersiap memprotes jalannya sesi foto, perhatian seluruh isi ruangan mendadak teralihkan sepenuhnya. Pintu masuk studio yang besar terbuka lebar, diiringi oleh langkah kaki yang tegas dan berwibawa yang menggema di seluruh ruangan. Suasana studio yang tadinya riuh mendadak sunyi dan membeku. Kehadiran seseorang mampu menghebohkan area pemotretan.

Arsyad Kaivan Wijaya melangkah masuk dengan setelan jas formalnya yang memancarkan aura seorang bos besar. Namun, pandangan matanya sama sekali tidak melirik ke sekeliling; fokusnya langsung terkunci penuh dengan binar hangat ke arah sang istri, Zara.

Dan di sebelah Arsyad, berjalan seorang pria yang auranya bahkan jauh lebih pekat dan mengintimidasi. Pria yang mengenakan kemeja hitam satin dengan lengan digulung hingga siku, menampilkan aksen merah tua (crimson) yang sangat serasi dengan tema hari itu. Dia adalah puncak tertinggi dari lingkaran finansial kota ini—sang Matahari, Raditya Arya Wijaya.

Semuanya terkejut tak terkecuali  Hariyanto dan Tania, mereka terkejut dengan kedatangan Arya yang secara tiba-tiba ke area pemotretan. Apalagi pakaian yang dikenakannya adalah salah satu pakaian edisi utama pemotretan kali ini dan itu berpasangan pakaian yang akan dikenakan oleh Nala.

Kemudian Hari teringat dengan perbincangan antara dirinya dengan Arsyad tempo hari mengenai model yang ia minta.

 

Flashback On

“Aku tau satu nama, hanya saja aku tidak tau kalian akan setuju atau tidak.”

“Siapa?”

“Dia bukan model, tapi dia punya pengaruh ekonomi terbesar di kota ini, dan yang paling penting... dia akan sangat cocok menjadi pasangan Nala!”

Hari merasa tertarik dengan tawaran dari Arsyad. Penilaian Arsyad tidak mungkin melesat. Setiap artis yang berada dalam naungan manajemen milik Arsyad memiliki keberhasilan yang tinggi karena bakat mereka.

“Tidak masalah. Asalkan dia bisa diajak bekerja sama dan cocok dengan Nala, maka akan kubayar berapa pun!” Hari sangat ingin agenda kali ini mengalami sukses yang besar. Adanya Zara dan Arbela sudah menjadi pion utama apalagi adanya Nala maka pion itu telah berdiri kokoh. Memilih pasangan foto untuk ketiganya adalah hal yang penting. Rekan milik Nala lah yang belum bisa ia temukan. Hari tau, tania merasa model yang diajukan tak ada yang sesuai dengan kriteria model yang diinginkan. Apalagi pakaian yang akan dikenakan Nala adalah pakaian favorit dari sang desainer semdiri.

“Baiklah, nanti saat hari pemotretan akan saya bawa. Anda hanya perlu menyiapkan sesuai dengan prosedurnya.”

“Dia tidak bisa kemari. Kami ingin melihat dia terlebih dahulu, apakah dia cocok.”

“Benar Arsyad, takutnya kau sudah mengundangnya dan ternyata tidak cocok.”

Zara yang sedari tadi menyimak, akhirnya angkat bicara. “Tenang saja om, tante. Kalian akan puas dengan orang yang akan diajukan Arsyad. Dan sepertinya aku mengenalnya, mengenalnya dengan sangat baik.” Arsyad yang merasa rencananya terbaca segera mendekat ke arah Zara.

“Kau tau?”

“Terbaca?”

Hari yang sedang menyiapkan dokumen yang diminta Arsyad, melirik sekilas ke arah Zara.

“Kenapa kalian saling berbisik?” Mendengar itu Tania segera memukul pelan suaminya.

“Eh, kau ini masa ingin tau urusan anak muda. Mending cepat kerjakan saja, biar mereka segera pulang dan bisa bermesraan.”

Flashback End

 

Namun, kejutan hari itu belum berakhir.

Tepat di belakang Raditya Arya Wijaya, sesosok wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang mendiamkan seluruh riuh studio. Devika Nala telah kembali. Ia tidak lagi mengenakan pakaian kasual seperti kesehariannya. Nala kini telah siap dengan salah satu gaun utama dalam edisi pemotretan kali ini: sebuah gaun malam berwarna merah tua yang memeluk tubuhnya dengan sangat indah, memberikan kesan misterius sekaligus berwibawa layaknya mawar merah. Rambutnya yang biasa digerai kini telah ditata rapi dalam sanggul modern yang mengekspos leher jenjang dan garis rahangnya yang tegas. Tak lupa anting-anting merah menyala menambah kesan mewah.

Penampilan Nala benar-benar mendefinisikan ulang arti kata “sempurna”. Semua terpesona dengan penampilan Nala.

“Nala...” Tania Lazuardi yang pertama kali memecah keheningan, matanya berbinar menatap mahakarya gaunnya melekat begitu magis pada tubuh Nala.

Nala memberikan senyuman tipis yang sopan kepada Hari dan Tania. “Maaf membuat semuanya menunggu. Tadi saya harus ke kafe dulu, saya mohon maaf!”

“Tidak masalah sayang, yang penting kau sudah datang!” girang Tania lalu memeluknya dengan erat. Sungguh, kecantikan Nala sesuai dengan bayangannya. Pakaian yang ia rancang seolah begitu melekat di tubuh Nala.

Ara berdiri mematung di posisinya, tangannya mengepal kuat hingga kuku marmernya memutih. Matanya bergerak liar dari Zara, Arsyad, Arya, dan kini tertuju pada Nala. Otaknya mendadak buntu. Saat membaca nama seorang model mandiri, Nala—wanita yang sempat ia remehkan di dalam kepalanya—ternyata bukan hanya sekadar model mandiri biasa. Ara sangat tau siapa Nala. Idola aktris di masa lalu. Bahkan apapun yang dipromosikan Nala, semuanya akan habis terjual. Ibarat kata, Nala adalah idola semua orang.

 

Ara memperhatikan pakaian antara Nala dengan Arya. Melihat rancangan baju yang mereka kenakan, dirinya tau bahwa dalam pemotretan kali ini Nala akan berpasangan dengan Arya. Saat melihat wanita itu berdiri berdampingan dengan Arya dengan aura yang sama sekali tidak tenggelam. Sebaliknya, mereka berdua tampak seperti sepasang penguasa yang sedang meninjau wilayah mereka.

"Baiklah! Karena semua model utama sudah lengkap, kita langsung ambil group shoot untuk gaun utama!" seru fotografer dengan nada luar biasa bersemangat. Atmosfer di studio mendadak naik dua kali lipat. "Zara, Ara, Nala... silakan ambil posisi di tengah panggung. Tuan Arya, Nio,  Jeremy mohon berdiri di dekat pasangan kalian."

Arsyad berjalan mendekati Zara, menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya singkat dan berbisik, “Kamu yang paling cantik di sana, Sayang,” sebelum akhirnya melangkah mundur ke samping Hari Lazuardi untuk memantau jalannya pemotretan.

Di atas panggung, formasi berubah total. Nala berdiri di titik pusat, Arya berdiri di belakang Nala. Zara berada di sisi kanan dengan keanggunannya yang matang dengan Nio di sampingnya. Sementara Ara, terpaksa menggeser posisinya ke sisi paling kiri—tidak lagi bisa mendominasi, tidak lagi bisa berbuat curang dengan Jeremy berada di dekatnya.

Arya memeluk Nala dari belakang, tangannya berada tepat di pinggang Nala. Bergaya romantis, sesuai dengan tema pemotretan.

“Apa kabar, nona Nala?” bisik Arya tepat di telinga Nala. Hembusan nafas Arya terasa begitu hangat dan geli. Sedikit menoleh ke arah Arya, kemudian tersenyum, “Baik, sangat baik!”

Wajah mereka terlalu dekat. Nala mampu melihat wajah Arya dari jarak yang begitu dekat, begitu juga dengan Arya. Tatapan mereka saling mengunci, tampak begitu romantis.

“Turunkan benang merah!” Ribuan benang merah diturunkan, seolah membelit ketiga pasangan. Benang merah adalah benang takdir, itu adalah kepercayaan orang terdahul.

"Tatap kamera... satu, dua, tiga... shoot!"

Cekrek!

Lampu kilat studio menyala terang. Di layar monitor digital, hasilnya langsung terpampang nyata. Ketiga pasangan tampak begitu romantis, benang merah menjadi perantara takdir.

Melihat hasil foto, Ara dapat melihat dirinya seperti di asingkan. Ara tampak seperti orang asing yang mencoba masuk ke dalam lingkaran yang salah. Penampilan Nala dan Zara yang begitu anggun, seolah mereka berasal dari keluarga bangsawan. Hasil foto Zara, Nala, dan Arya memancarkan aura kelas atas yang mutlak. Sebuah foto keluarga takhta tertinggi yang membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung menunduk hormat.

“Sial, gue dipermalukan sampai titik terendah!” batin Ara kesal.

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!