sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
...
..
Pagi itu, atmosfer kelas XI-A lebih berat dari biasanya. Kehadiran Kenziro Harata di barisan depan dengan jas MPK yang licin sempurna seolah menegaskan kasta "Anak Emas" sekolah. Tapi, yang bikin satu kelas gagal fokus bukan cuma ziro, melainkan sosok di pojok belakang.
Axelle Aididev Atharic.
Dia duduk tegak. Tidak ada tudung hoodie yang menutupi kepala, tidak ada kaki yang naik ke meja. Dia cuma duduk diam, menatap papan tulis
"Sumpah, gue merinding. Axelle beneran masuk kelas full?" bisik Clarabella ke Giselle. "Biasanya kan dia cuma numpang absen terus ilang!"
"Jangan-jangan dia mau tawuran di dalem kelas?" Jovanka menimpali sambil membenarkan kacamatanya, tangannya sibuk mengetik sesuatu di tablet.
Pak Bambang, guru Fisika yang terkenal killer, masuk dengan wajah serius. Dia menuliskan satu soal di papan tulis. Deretan rumus integral kompleks yang biasanya cuma muncul di soal seleksi Olimpiade tingkat nasional.
"Bapak mau lihat, apa ada yang belajar? Siapa yang bisa selesaikan soal ini?" Pak Bambang menatap seisi kelas yang mendadak menunduk berjamaah.
ziro menatap papan tulis tenang. Baru saja dia hendak mengangkat tangan, sebuah suara berat dari belakang memecah kesunyian.
"Gak perlu pake cara rumit gitu, Pak. Pake logika variabel turunan juga selesai dalam tiga baris. Jawaban akhirnya 42,6."
Hening.
Satu kelas mendadak menoleh ke belakang seolah ada ledakan. Ferro hampir jatuh dari kursinya, Zayden melongo sampai pulpennya lepas.
"Xel... lo sehat?" bisik zayden gemetar.
Pak Bambang mengernyitkan dahi. "Axelle? Kamu jangan asal sebut angka. Ke depan kalau kamu memang tahu caranya!" terdengar helaan nafas kasar dari pria paru baya itu.
Rea menahan napas. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Axelle berdiri dengan gaya santai dan berjalan ke depan. Langkahnya melewati meja Rea, dan untuk sedetik, mata mereka bertemu—ada kilatan nakal di mata Axelle yang seolah bilang, 'Liat ini,.'
Axelle mengambil kapur. Tanpa melihat buku, tanpa ragu, tangannya bergerak cepat.
Crek... crek... crek...
Hanya tiga baris. Dia membuang semua rumus panjang yang biasanya diajarkan, dan langsung menghajar titik inti soal itu dengan logika yang sangat simpel.
"Selesai," ucap Axelle datar, melempar kapur ke meja Pak Bambang dengan bunyi plak yang nyaring.
Pak Bambang mematung. Dia mencocokkan jawaban itu dengan kunci soal di bukunya. Wajahnya perlahan berubah dari merah karena marah menjadi pucat karena syok. "Jawaban... jawabannya benar. Dan logikanya... ini logika efisiensi tinggi."
BOOM!
Kelas langsung ricuh.
"ANJIR! AXELLE?!" teriak Ferro nggak santai.
"Gila! Si beban kelas kesambet apa?!" sahut murid lain di pojok kanan.
"Tunggu, itu tadi cara apaan? Gue yang les di bimbel mahal aja gak pernah liat cara sependek itu!" Jovanka sibuk memotret papan tulis dengan tabletnya, mukanya bener-bener cengo.
Clarabella menyenggol lengan Rea keras-keras. "Re! Lo liat itu?! Axelle! Musuh bebuyutan lo ternyata... jenius?! Gue ngerasa dunia mau kiamat!"
Rea cuma bisa membeku. Dia tahu Axelle pinter sejak kejadian di apartemen, tapi melihat Axelle memamerkan itu di depan ziro... itu bener-bener di luar kendali.
ziro tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tajam. "Cara yang menarik, Axelle. Tapi logika turunan itu berisiko kalau lo nggak teliti di titik kritis. Mau gue tunjukin di mana letak kelemahannya dan jalan yang lebih formal?"
"Gak perlu," sahut Axelle dingin, melempar kapur ke meja. "Gue bukan pecatur yang harus mikir seribu langkah buat satu jawaban benar. Gue cuma butuh satu cara yang efektif."
Axelle yang hendak kembali ke bangkunya berhenti tepat di samping meja ziro. Dia menunduk sedikit, menatap lurus ke mata ziro. "Cara formal itu buat orang yang takut salah, Harata. Gue nggak butuh validasi dari siapapun buat tau kalau gue bener"
...----------------...
Gosip tentang "Axelle si Jenius Tersembunyi" menyebar lebih cepat dari berita Valerie kemarin. Vanya yang mendengar itu langsung meradang di mejanya.
"Nggak mungkin! Axelle itu cuma jago berantem! Pasti dia nyontek kunci jawaban Pak Bambang semalem!" teriak Vanya ke gengnya.
Sementara itu, Rea sedang diinterogasi habis-habisan oleh Clarabella dkk.
"Re, jujur. Lo udah tau kan kalau Axelle sepinter itu? Makanya lo sering ngejar dia buat dihukum, biar lo bisa privat bareng?" goda Giselle dengan mata menyipit.
"Gak ada hubungannya, Sel! Gue juga kaget!" bela Rea, padahal pipinya mulai memanas.
Tiba-tiba, ziro datang menghampiri meja mereka. Dia tetap terlihat seperti pangeran, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. "Re, bisa bicara sebentar? Soal laporan MPK... ada beberapa hal yang harus kita bahas"
Belum sempat Rea menjawab, Axelle yang baru datang langsung merangkul bahu Rea dari belakang dengan gaya sangat protektif—dan sangat berani untuk ukuran di depan umum.
"Sori, MPK. Ketos lagi sibuk mau ngawasin gue sikat WC. Lo telat," ucap Axelle dengan seringai kemenangan.
...----------------...
Gedung olahraga SMA Galaksi sore itu hanya diisi suara gesekan sikat di lantai keramik dan kucuran air dari selang. Suasananya pengap, lembap, dan penuh aroma karbol.
Rea berdiri di ambang pintu toilet dengan papan absen di pelukan dadanya, wajahnya kaku seperti biasa. Di depannya, Axelle dan Arsen sedang bergelut dengan sikat masing-masing.
"Satu ubin pun nggak boleh ada yang kotor, Atharic! Arsen, lo juga! Jangan cuma main air!" tegur Rea dengan nada otoritasnya yang paling tinggi.
"Iya, Ibu Ketos yang paling cantik se-Galaksi, ini juga lagi digosok sampe kinclong!" sahut Arsen sambil cengengesan, tangannya asyik menyemprotkan air ke arah kaki Axelle.
Axelle mendengus, dia melempar sikatnya ke lantai dengan bunyi plak yang nyaring. "Re, lo nggak capek apa berdiri mulu? Sini duduk, mumpung si MPK itu nggak ada."
Rea melotot. "Jaga jarak, Axelle! Lo masih dalam masa hukuman!"
bukan nya jaga jarak axelle malah makin mendekat menarik rea duduk
"axelle, kerjain tugas lo yang bener!!" rea mendengus menatap axelle tajam di balik kaca matanya
"ini lagi ngerjain tugas.. lo yang berdiri disana ganggu pemandangan. dan ganggu kerjaan gue! " balas axelle
rea menarik nafas pelan tidak berkomentar apa apa lagi, tapi beberapa saat kemudian wajah rea kecipratan air selang yang di pegang axelle
"axelle!!! baju gue bisa basah nih!! berhenti gak! " pekik rea habis kesabaran nya
axelle tersenyum tengil "ups.. sorry bu ketos, tangan gue licin" jawab nya santai
rea dengan kesal berdiri menghampiri axelle merebut selang itu dan mengarahkan ke axelle! kontras dengan rea yang biasanya kaku
bukan nya marah axelle malah menarik rea ke sisinya dan akhirnya mereka malah basah basahan sambil debat.
Arsen yang sedari tadi jongkok menyikat ubin mulai menyipitkan mata. Dia memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Ada yang aneh. Benar-benar aneh..
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁