Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 dan 16
"Ning.Masih marah tah? ".tanya Bang Syafiq
"Ya Abang pikir sendiri" kataku dengan malas
"YaAllah, Ning. Kulo mboten ngertos kalo akhire ngoten loh" katanya dengan suaranya yang melas
"Ya makanya, Abang nanya dulu ke Moza" kataku masih tetap menyudutkan Bang Syafiq
"Yo wes. Ikut Abang" katanya dengan menarik tangan ku
"Ehh. Mau kemana? ".tanyaku dengan bingung karena Bang Syafiq yang tiba-tiba menarik tanganku menuju mobil miliknya
"Udah masuk dulu" katanya dengan membukakan pintu untuk ku
"Mau kemana sih Bang" tanyaku setelah Bang Syafiq masuk mobil
"Bang. Ih kok diem sih? Bang Syafiq marah? Lah ko malah Abang yang marah? ".kataku karena Bang Syafiq tak menjawab ku
"Bang".
"Males aku kalo gini. Pulang aja deh".kataku dengan kesal sendiri
Tiba-tiba mobil Bang Syafiq memarkirkan mobilnya tepat didepan salah satu kedai
"Bang Syafiq beneran? ".Tanyaku tak percaya
"Hemm".
"YaAllah Abanggg. Makasih ya".kataku dengan memeluk lengannya
"Yaudah. Ayo turun".ajaknya
Akhirnya kami berdua turun dan memasukki salah satu kedai yang menjadi tempat favorit kami dulu. Tempatnya sangat indah, sejuk dan nyaman. Hanya di kedai inilah yang menjual seblak di antara jejeran-jejeran kedai.
"Assalamu'alaikum ".Ucap kami bersamaan dengan menghampiri Mbah Inah
"Waalaikumsalam, Lohh Gus. kok nembe mampir? ".kata Mba Inah
"Nggeh Mbah Nunggu ratunya pulang dulu dari Jakarta ".kata Bang Syafiq dengan menyalami Mbah Inah
"Sek sek. Iki bukane Ning Moza? "Tanya Mbah Inah
"Njih leres Mbah".jawabku dengan tersenyum dan mencium tangan beliau
"MasyaAllah, ayu tenan iki. Monggo pinarak rumiyin" kata Mbak Lia mempersilahkan kami
" Niih Mbak. Maturnuwun ".kata Bang Syafiq
"Gimana kabarnya Mbak? Tanyaku dengan menyalami Mbak Lia
"Alhamdulillah Ning Sehat-sehat. Ning piyambak gimana?".
"Alhamdulillah, Mbak. Sehat walafiat. Makin rame kayanya ya Mbak? "
"Njihh. Alhamdulillah, Ning".
"Pesen nopo niki? ".tanya Mbak Lia
"Masih sama seperti dulu ko Mbak ".kstsku dengan tersenyum
"oalah. Nggih-nggih" kata Mbak Lia"kalo Gus Syafiq juga sama seperti Ning nya?".
"Iya Mbak. Tapi levelnya dikurangi satu".
"Wah siap. Tunggu sebentar ya".
"Ya Mbak ".
*****
Sekitar 10 menit akhirnya pesanan sudah sampai.
"Monggo".kata Mbak Lia
"Njih Mbak".
"kulo ke belakang dulu nggih. Nanti kalo butuh apa-apa nggak usah sungkan-sungkan" kata Mbak Lia
"Siappp".kata Bang syafiq
Setelah kepergian Mbak Lia. Kami mulai makan seblak pesanan kami
"Nggak usah bantak-banyak boncabe nya".kata Bang syafiq
"Biar pedes".
"itu kamu levelnya sudah pedes. Kurang pedes tah?".
"Pengen makan yang pedes-pedes".
"Itu di rumah banyak cabe".
"Ya bukan gitu juga lah konsepnya ".kataku
Makanan khas Bandung ini sudah berhasil membuat ku tergila-gila. Aishh. Nggak-nggak lebay banget ya?. Seblak adalah makanan favorit ku dan Bang Syafiq.
Makanya Bang Syafiq membawa ku ke sini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abah ingin berbicara, nduk".Kata Abah
"Njih, Bah".kataku
"Abah tetap menjodohkan kamu dengan Gus Alvaro. Dan Abah tidak menerima penolakan dari kamu, apapun itu! ".tegasnya Abah membuatku menundukkan kepalaku
"Tapi Abah sama Umik kenapa tidak memberitahu ku? ".tanya ku dengan mengelak
"Karena Abah sama Umik tidak mau membuat kamu malah tidak fokus dengan sekolah kamu ".jawabnya Umik
"Ini sesuai salah satu amanah kakek, Nduk. Abah harap kamu bisa dengan lapang dada menerima perjodohan ini. 3 minggu lagi akan di gelar. Semuanya sudah di persiapkan oleh Gus Alvaro, Nduk. Abah minta keikhlasan mu".tegasnya Abah
"Abah_" perkataanku terhenti karena yang is yang tak bisa ku tahan.semuanya terasa tiba-tiba. Dengan pernikahan yang akan di gelar 3 minggu lagi.
"YaAllah.kuat kan hati hamba ini yang lemah. Berikan hamba keikhlasan dalam semua ini. Jika memang ini adalah yang terbaik untuk hamba, hamba mohon berikan hamba kekuatan untuk menerima semua ini dengan ikhlas".mohonku dalam hati
"Bismillahirrahmanirrahim.semua keputusan ini menjadi jawaban yang tepat".kataku dalam hati Akhirnya ku anggukkan kepalaku, tanda bahwasanya aku siap dengan pernikahan ini.
"Njih, Bah Mik. InsyaAllah Moza ikhlas" layaku dengan berusaha tersenyum.
*****
Aku ingin menolak tapi aku tidak bisa.perkataan Abah masih terngiang-ngiang.
3 minggu lagi, aku harus bisa menerima semua ini. Bagaimana mungkin aku bisa menolak perjodohan ini kalo semuanya setuju? Seandainya aku bisa memilih diantara Gus Alvaro atau Naufal, mungkin aku lebih memilih lamaran Naufal, tapi itu hanya menjadi angan semata.
"Kamu harus bisa, Moza. Kamu harus tunjukkan pada Abah dan Umik kalo kamu bisa. Kamu pasti kuat! ".kataku dengan menyemangati diriku sendiri
"Tok.tok.tok".
"Assalamu'alaikum " Suara ketukan yang di susul dengan salam membuat ku tersadar dari lamunan ku
"Waalaikumsalam. Masuk".
"Kamu ndak papa, Ning?" tanya Bang Syafiq yang sudah berdiri disampingku. Ya kini aku sedang berdiri di balkon kamar ku untuk menikmati angin malam. Ku tatap wajahnya sebentar, tersirat sebuah kekhawatiran yang tak pernah ku lihat sebelum nya.
"Ak-aku mboten nopo-nopo"jawabku jelas berbohong. Jelas Bang Syafiq sangat tidak percaya kalo aku baik-baik saja. Dengan mataku yang sembab dan merah seperti ini apa ada yang masih percaya kalo aku baik-baik saja.
"Ikhlaskan Gus Nauval untuk meraih impianya. Sekarang kamu hanya fokus dengan diri kamu sendiri, kamu harus mempersiapkan semauanya untuk menerima semua ini, Ning. Gus Alvaro pasti akan membuat kamu jauh lebih bahagia". Nasihatnya Bang Syafiq dengan tersenyum menatap ku
"Intinya kamu harus ikhlas" kata Bang Syafiq dengan mengelus puncak kepala ku dengn lembut. Justru membuat air mataku tanpa sungkannya mengalir deras. Pertahanan ku runtuh dengan perkataan Bang Syafiq
"Apa benar aku akan jauh lebih bahagia?" tanyaku dalam hati
"Abang pasti percaya, kamu pasti bisa" kata Bang Syafiq menyemangati ku
"Kalo itu adalah yang terbaik izinkan hati ini untuk ikhlas YaAllah" doa ku dalam hati
"La takhzan innallaha ma'ana" kata Bang Syafiq dengan menghapus air mataku dan membawa rubuh ku dalam pelukannya.
*****