NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Gelap menelan segalanya

Dinda meraba udara di sekitarnya, mencari Raka.

Nafasnya cepat, jantungnya berdegup keras di telinga sendiri.

Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu—dingin.

“Raka…?” bisiknya.

“Terlambat…” suara itu menjawab.

Bukan Raka.

Dari segala arah, bisikan mulai bermunculan.

Nama Dinda dipanggil berkali-kali, dengan nada yang berbeda—ada yang memohon, ada yang marah, ada yang tertawa.

Lalu, cahaya redup muncul.

Bukan dari lampu.

Dari cermin.

Padahal sebelumnya cermin itu sudah retak.

Kini… utuh kembali.

Dan di dalamnya, Dinda melihat dirinya sendiri.

Tapi tidak sendirian.

Di belakang pantulannya,

puluhan sosok berdiri diam.

Salah satunya… Raka.

“Masuklah…” suara itu menggema.

“Selamatkan dia… atau gantikan dia.”

Dinda menelan ludah.

Tangannya perlahan terangkat ke arah cermin.

Permukaannya beriak… seperti air.

Dari dalam, tangan lain menyambut.

Dingin.

Menarik.

Dan saat ujung jarinya menyentuh—

Dunia di sekitarnya pecah.

Dan Dinda… menghilang.....

Ruang itu kembali sunyi.

Hanya Raka yang tersisa—atau sesuatu yang memakai tubuhnya.

Namun di dalam kesunyian itu, terdengar satu suara.

Pelan.

Jauh.

“Dinda…”

Bukan dari luar.

Dari dalam.

Kesadaran Raka belum sepenuhnya hilang. Ia terjebak di suatu tempat yang gelap, seperti berada di dasar air yang dalam.

Ia bisa melihat, bisa mendengar, tapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Dan sekarang… ia melihat Dinda.

Atau lebih tepatnya—

Ia melihat ke mana Dinda pergi.

Dinda terjatuh.

Tubuhnya menghantam permukaan keras, namun tidak terasa sakit. Ia membuka mata perlahan.

Dunia di sekitarnya… berbeda.

Kabut tipis menyelimuti segalanya. Udara terasa dingin, namun tidak menusuk—lebih seperti kosong.

Di sekelilingnya berdiri banyak pintu.

Ratusan.

Mungkin ribuan.

Semuanya berbeda bentuk. Ada yang tua dan lapuk, ada yang seperti pintu rumah sakit, ada juga yang hanya berupa bayangan pintu tanpa wujud jelas.

“Aku di mana…?” gumamnya.

“Di antara.”

Suara itu muncul lagi.

Kini lebih jelas.

Dinda menoleh.

Seorang sosok berdiri beberapa meter darinya. Tingginya tidak wajar. Tubuhnya seperti bayangan yang terlalu padat, namun memiliki bentuk manusia.

Wajahnya… tidak ada.

Hanya kekosongan.

“Di antara dunia kalian… dan kami.”

Dinda mundur selangkah.

“Kamu… yang masuk ke tubuh Raka?”

Sosok itu tidak langsung

menjawab.

Ia justru berjalan perlahan, langkahnya tidak menimbulkan suara.

“Aku bukan satu-satunya.”

Dinda merasakan sesuatu bergerak di belakangnya.

Saat ia menoleh—

Puluhan sosok lain mulai muncul dari balik pintu-pintu itu.

Semua menatapnya.

“Atau mungkin…” lanjut sosok itu, “aku hanyalah yang pertama menemukan jalan.”

Dinda menggigit bibirnya, menahan rasa takut yang hampir melumpuhkan.

“Aku gak peduli kamu siapa. Aku cuma mau Raka kembali.”

Sosok itu berhenti tepat di depannya.

Meski tanpa wajah, Dinda bisa merasakan tatapan tajam mengarah padanya.

“Untuk mengambil kembali yang sudah disentuh… harus ada yang menggantikan.”

Jantung Dinda berdetak kencang.

“Maksud kamu…?”

“Setiap pintu yang terbuka… membutuhkan penjaga.”

Hening.

Angin dingin berembus di

antara pintu-pintu itu.

“Jika kamu ingin dia kembali…” suara itu semakin dalam, “kamu harus tinggal.”

Dinda terdiam.

Pikirannya kacau.

“Enggak… pasti ada cara lain.”

Sosok itu sedikit menunduk.

“Cara kesepuluh bukan untuk melihat.”

Ia mendekat.

“Hanya untuk memilih.”

Di dunia nyata—

Tubuh Raka tiba-tiba jatuh berlutut.

Tangannya mencengkeram lantai.

“Apa… yang kamu lakukan…” suara Raka terdengar, bercampur dengan suara lain.

Lampu kembali berkedip.

Bayangan di dinding mulai bergerak liar.

“Dia hampir memilih…” suara dalam tubuhnya berbisik.

Raka berusaha melawan.

Ia memaksa tangannya bergerak, meraih buku di lantai.

Jarinya menyentuh halaman terakhir.

Tulisan di sana berubah lagi.

Jika pintu terbuka sepenuhnya… tidak ada yang bisa ditutup kembali.

“Dinda… jangan…” bisiknya lemah.

Di antara dunia—

Dinda menatap pintu-pintu itu.

Setiap pintu… seolah memanggil.

Beberapa bergetar.

Beberapa terbuka sedikit, memperlihatkan kegelapan yang lebih dalam.

“Aku gak mau tinggal di sini…”

katanya pelan.

Sosok itu diam.

“Tapi aku juga gak mau

kehilangan Raka.”

Air mata mulai jatuh.

“Apa gak ada cara… kita berdua keluar?”

Untuk pertama kalinya—

Sosok itu tidak langsung

menjawab.

Seolah berpikir.

“Aturan tidak dibuat untuk dilanggar…”

Ia berhenti.

“Namun… ada satu kemungkinan.”

Dinda mengangkat wajahnya.

“Apa?”

“Jika dua jiwa menolak… satu tubuh tidak akan cukup.”

Dinda mengernyit. “Aku gak ngerti…”

Sosok itu mengangkat tangannya.

Dan tiba-tiba—

Salah satu pintu terbuka lebar.

Dari dalamnya, Dinda melihat

Raka.

Terjebak.

Dikelilingi bayangan.

Berusaha keluar.

“Masuk ke sana,” kata sosok itu.

“Dan?”

“Kamu harus menariknya keluar… sebelum mereka menarikmu masuk.”

Dinda menatap pintu itu.

Tanpa ragu lagi.

Ia berlari.

Masuk.

Kegelapan langsung menyambutnya.

Namun di kejauhan—

Ia melihat Raka.

“RAKA!”

Raka menoleh.

Matanya melebar. “Dinda?! Kenapa kamu di sini?!”

“Aku datang buat kamu!”

Bayangan di sekitarnya mulai

bergerak.

Mendekat.

Cepat.

Dinda berlari, meraih tangan Raka.

Sentuhan itu terasa nyata.

Hangat.

“Pegang aku!” teriaknya.

Bayangan mulai menarik kaki

Raka.

Menahan.

“Pergi!” suara-suara itu berteriak.

“Kalian bukan milik dunia itu lagi!”

Dinda menguatkan genggamannya.

“Dia milikku!”

Ia menarik sekuat tenaga.

Raka ikut berusaha.

Dan untuk sesaat—

Mereka bergerak.

Mendekati pintu.

Namun bayangan semakin banyak.

Menarik lebih kuat.

Dinda hampir terjatuh.

“Raka… aku gak kuat…”

Raka menatapnya.

Lalu—

Ia tersenyum.

Senyum yang sama seperti dulu.

“Lepasin aku…”

Dinda menggeleng keras. “Enggak!”

“Kalau kamu terus di sini… kita berdua gak bakal keluar.”

Air mata Dinda jatuh deras.

“Aku gak mau kehilangan kamu…”

Raka mengangkat tangan satunya.

Menyentuh wajah Dinda.

“Kalau kamu benar-benar gak mau kehilangan aku…”

Ia menarik napas.

“Tinggalin aku sekarang.”

Hening.

Hanya suara bayangan yang mendesis.

Dinda gemetar.

Pilihan itu… kembali lagi.

Dan kali ini—

Lebih menyakitkan.

Di belakangnya, pintu mulai menutup perlahan.

Waktu mereka hampir habis.

“Dinda…” suara Raka melemah.

“Cepat…”

Air mata mengaburkan pandangannya.

Namun perlahan…

Genggamannya melemah.

“Maaf…”

Dan dalam satu detik—

Ia melepaskan tangan Raka.

Tubuhnya tertarik mundur.

Keluar dari pintu.

Sementara Raka—

Menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Pintu itu tertutup keras.

Dan Dinda terjatuh di lantai

dingin.

Sendirian.

Sunyi.

Namun—Dari kejauhan, suara itu kembali terdengar.

“Pilihan telah dibuat.”

Satu pintu tertutup.

Namun—

Yang lain…

Mulai terbuka.

Dinda terjatuh.

Tubuhnya terasa berat saat kembali ke dunia nyata—atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai dunia nyata.

Napasnya tersengal, tangannya masih gemetar, dan dadanya terasa kosong.

Raka… sudah tidak ada.

“Pilihan telah dibuat.”

Suara itu masih terngiang di kepalanya.

Dinda membuka mata perlahan.

Ia berada di lantai rumah tua itu.

Lampu menyala redup, berkedip sesekali. Segalanya terlihat sama—namun terasa berbeda.

Terlalu sunyi.

Tidak ada suara jangkrik.

Tidak ada angin. Bahkan… tidak ada gema dari napasnya sendiri.

“Raka…?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia bangkit perlahan, lututnya lemas. Pandangannya menyapu

ruangan.

Kosong.

Namun saat ia menoleh ke arah cermin—

Ia membeku.

Cermin itu utuh.

Dan di dalamnya…

Ada bayangan.

Tapi bukan bayangannya.

Sosok itu berdiri di belakangnya.

Tinggi.

Gelap.

Dan perlahan… mendekat.

Dinda menoleh cepat ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun saat ia kembali melihat cermin—

Sosok itu kini lebih dekat.

Hampir menyentuhnya.

“Tidak semua kembali… dengan utuh.”

Suara itu terdengar lagi.

Kini jelas.

Bukan dari luar.

Dari dalam kepalanya.

Dinda menutup telinga, panik. “Pergi… pergi dari aku…”

Namun bayangan di cermin itu mengangkat tangan.

Dan saat Dinda menoleh—

Tangannya sendiri ikut terangkat.

Bukan karena ia mau.

Tapi karena… dipaksa.

“Apa… yang kamu lakukan…?” suaranya gemetar.

“Kamu sudah membuka pintu,” suara itu menjawab tenang.

“Sekarang kamu… adalah jalannya.”

Jantung Dinda berdegup kencang.

Ia mencoba melawan.

Namun tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sepenuhnya.

Langkahnya bergerak sendiri.

Mendekati cermin.

Tidak.

Ia tidak ingin mendekat.

Tapi tubuhnya terus maju.

“Berhenti…!” teriaknya.

Tangannya menyentuh permukaan cermin.

Dingin.

Dan… berdenyut.

Seperti sesuatu hidup di baliknya.

Tiba-tiba—

Bayangan di cermin tersenyum.

Dan dari dalam permukaan itu, tangan lain muncul.

Menggenggam tangan Dinda.

Menariknya.

“Tidak!” Dinda menjerit.

Ia berusaha melepaskan diri.

Namun genggaman itu terlalu kuat.

Dan dari balik cermin—

Satu per satu wajah mulai muncul.

Wajah-wajah tanpa mata.

Tanpa ekspresi.

Namun semua mengarah padanya.

“Dia telah memilih keluar…”

“Sekarang… kamu yang memilih masuk…”

Suara-suara itu bersahut-sahutan.

Dinda menggeleng keras. “Aku gak mau!”

Namun tubuhnya terus tertarik.

Setengah masuk.

Setengah masih di dunia nyata.

Dan di saat itu—

Ia melihat sesuatu.

Di balik kerumunan bayangan itu.

Seseorang.

Raka.

Wajahnya pucat.

Namun matanya hidup.

“Dinda…” suaranya lemah.

Air mata Dinda jatuh.

“Raka… aku di sini…”

Raka menggeleng pelan.

“Jangan masuk…”

“Tapi aku harus—”

“Enggak!” potong Raka.

Suaranya lebih tegas.

“Mereka cuma mau kamu gantikan aku.”

Dinda terdiam.

“Tapi… aku gak bisa ninggalin kamu lagi…”

Raka tersenyum kecil.

Senyum yang penuh kelelahan.

“Kamu sudah menyelamatkan aku… waktu kamu pergi.”

Dinda mengernyit. “Apa maksud kamu?”

“Tubuhku… memang masih di sana,” katanya pelan.

“Tapi kalau kamu tetap di sini… kita berdua bakal hilang.”

Bayangan di sekitar Raka mulai bergerak.

Seolah tidak suka dengan percakapan itu.

“Kembalilah…” suara mereka mendesis.

“Ambil tempatmu…”

Dinda menggigit bibirnya.

Pilihan itu datang lagi.

Masuk… dan mungkin bersama Raka.

Atau keluar… dan kehilangan dia selamanya.

Tangannya semakin ditarik ke dalam cermin.

Waktu hampir habis.

“Dinda…” suara Raka melemah.

“Kali ini… pilih dirimu.”

Hening.

Dinda menutup mata.

Air matanya jatuh tanpa henti.

Lalu—

Dengan sisa tenaga yang ada—

Ia menarik tangannya kuat-kuat.

Melawan.

Genggaman dari dalam cermin mulai melemah.

Suara-suara itu berubah menjadi jeritan.

“Jangan pergi!”

“Kamu milik kami!”

Dinda berteriak.

Dan dengan satu tarikan terakhir—

Ia terlepas.

Tubuhnya terhempas ke lantai.

Cermin itu… retak.

Lalu—

Pecah.

Semua suara hilang.

Sunyi.

Hanya suara napas Dinda yang tersisa.

Ia terbaring, menatap langit-langit.

Air mata masih mengalir.

“Raka…” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Namun kali ini—

Ia tahu.

Raka… benar-benar telah pergi.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Udara di sekitarnya… tidak lagi kosong.

Terlalu… penuh.

Dinda perlahan bangkit.

Dan saat ia melihat ke dinding—

Ia membeku.

Bayangannya ada di sana.

Mengikuti gerakannya.

Namun…

Ada satu bayangan lagi.

Di sampingnya.

Tidak bergerak.

Hanya berdiri.

Menatap.

Dinda menelan ludah.

Ia tidak sendirian.

Tidak lagi.

Dan mungkin…

Tidak akan pernah lagi.

Di luar rumah itu, angin akhirnya berhembus.

Namun bersama angin itu—

Terdengar bisikan.

Lemah.

Namun jelas.

“Pintu… belum tertutup.”

Dinda memejamkan mata.

Cerita ini belum berakhir.

Karena sekarang—

Ia bukan lagi orang yang mencoba melihat hantu.

Ia…

Adalah bagian dari dunia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!