NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Gila

Pukul tiga dini hari.

Rumah itu sunyi. Hening yang sempurna.

Tidak ada suara kendaraan dari jalan raya, tidak ada tetes hujan, tidak ada dengkuran Cumi karena kucing itu tidur di ruang tamu, memilih sofa daripada harus menjadi saksi bisu dari apa yang terjadi di kamar yang pintunya tertutup rapat.

Di dalam kamar Angga, kegelapan hampir sempurna. Hanya cahaya bulan yang sangat tipis menembus tirai jendela, cukup untuk membentuk bayangan-bayangan samar di dinding, tapi tidak cukup untuk menerangi wajah.

Tapi cukup untuk sensasi.

Adea terbangun perlahan.

Bukan karena suara. Bukan karena cahaya. Tapi karena sensasi. Sesuatu yang hangat dan basah menyentuh tempat yang tidak pernah disentuh siapa pun sebelumnya. Tempat yang bahkan ia sendiri jarang sentuh. Tempat yang ia tahu namanya dari buku anatomi, tapi tidak pernah membayangkan akan dikunjungi oleh bibir dan lidah seseorang.

Matanya masih terpejam. Otaknya masih setengah di alam mimpi, setengah di alam nyata.

Ini mimpi, pikirnya. Pasti mimpi.

Tapi tubuhnya tahu itu bukan mimpi.

Kakinya bergerak sendiri. Mengangkang lebar, memberi ruang. Bukan karena ia sadar melakukannya, tapi karena tubuhnya merespons sesuatu yang lebih purba dari pikirannya.

Jemarinya meremas bantal di samping kepalanya. Keras. Kuku-kuku pendeknya menusuk kain sarung bantal, tapi ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah gelombang demi gelombang yang naik dari antara pahanya ke seluruh tubuh.

Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan desahan yang ingin lolos.

Tidak berhasil.

"Mmhhh..."

Desahan kecil lolos dari sela bibir yang tergigit. Adea tidak tahu apakah ia benar-benar bersuara atau hanya di dalam kepalanya.

Tapi di antara pahanya, di tempat yang basah dan hangat itu, ada seseorang yang mendengar. Dan seseorang itu terdengar tersenyum tanpa suara, tapi Adea merasakannya. Getaran senyum di kulitnya yang paling sensitif.

Lidah itu bergerak lagi. Bukan lagi menjilat, tapi mengobrak-abrik. Membuka sesuatu yang selama ini tertutup. Menjelajahi setiap lipatan, setiap lekukan, setiap tempat yang bahkan Adea tidak tahu memiliki saraf sebanyak itu.

"Pip-pis... Akhh... Mau pipis, ngghh~"

Kata-kata itu keluar tanpa ia sadari. Suaranya pelan, parau, hampir seperti tangisan. Bukan karena sakit. Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung oleh tubuh kecilnya.

Angga mendengar.

Pria itu tidak berhenti. Lidahnya terus bergerak lebih cepat, lebih dalam, lebih gila.

"Lepasin sayang~" gumam Angga. Suaranya teredam karena wajahnya masih tenggelam di antara paha Adea, tapi Adea mendengar setiap suku kata.

Sayang.

Panggilan itu.

Pertama kalinya Angga memanggilnya seperti itu. Bukan "Dea". Bukan "Adea". Tapi "sayang".

Adea tidak punya waktu untuk memproses itu.

Karena gelombang yang sedari tadi naik kini mencapai puncaknya. Tubuhnya menegang. Jari-jarinya meremas bantal sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya terbuka dalam jeritan tanpa suara.

Dan kemudian-

Pelepasan.

Pertama kalinya dalam hidup Adea, ia melepaskan sesuatu yang tidak pernah ia tahu bisa dilepaskan. Bukan air seni. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang keluar dari tempat terdalam tubuhnya, yang selama ini terkunci, dan kini dibukakan oleh lidah Angga.

Adea tidak bisa bernapas.

Ia hanya bisa berbaring di atas kasur dengan dada naik turun, mata terpejam, tubuh gemetar seperti daun kering tertiup angin.

Angga naik.

Pria itu bergerak ke atas, meninggalkan tempat basah yang kini benar-benar basah.

Ia merangkak di atas tubuh Adea, lalu bersandar di kepala kasur, punggungnya menempel pada dinding dingin.

Napasnya berat. Dadanya naik turun dengan cepat. Keringat membasahi dahinya, pelipisnya, lehernya. Kemeja yang ia pakai tidur sudah terbuka dua kancing. Bukan karena sengaja, tapi karena udara malam terasa panas, atau karena tubuhnya terlalu panas.

Tangan kanannya turun, mengelus pipi Adea. Lembut. Gemas.

Tangan kirinya bergerak ke bawah. Jari-jarinya yang besar dan kasar menggenggam sesuatu di sana. Ereksinya. Yang sudah berdiri tegak sejak ia membasahi wajahnya di antara paha Adea.

Ia menggenggamnya. Lalu mengocoknya.

Gerakannya lambat pada awalnya, lalu semakin cepat. Matanya terpejam. Bibirnya terbuka sedikit, mendenguskan napas panas ke udara malam yang dingin.

"Babydoll~"

Panggilan itu keluar dari bibirnya tanpa ia sadari. Kata asing yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya. Tapi malam ini, dengan Adea berbaring di sampingnya, dengan rasa dan bau gadis itu masih melekat di bibirnya. Kata itu keluar dengan sendirinya.

Adea membuka matanya.

Ia mendongak. Tubuhnya masih lemas, masih gemetar, masih merasakan sisa-sisa gelombang yang perlahan mereda. Tapi matanya terbuka lebar, menatap Angga yang bersandar di dinding dengan tangan sibuk di antara kedua kakinya.

"Angga~?" panggil Adea pelan.

Angga tidak menjawab. Matanya masih terpejam.

Adea mengulurkan tangan. Jemarinya yang masih sedikit gemetar menyentuh dada Angga. Dada bidang yang terasa lembab oleh keringat. Kulitnya panas, seperti demam. Dan di bawah telapak tangannya, ia merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang seperti drum perang.

Angga membuka matanya.

Ia menoleh ke arah Adea. Matanya gelap. Gelap yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini lebih liar. Lebih buas. Seperti ada api di belakang bola matanya yang tidak bisa ia padamkan.

Tapi tangannya tidak berhenti.

Semakin cepat.

"Kamu kenapa?" tanya Adea. Suaranya masih parau.

Angga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum gelap yang membuat bulu kuduk Adea merinding. Bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu di senyum itu yang membuat darahnya mendidih.

Adea bangkit duduk.

Ia masih merasakan sensasi asing di area sensitifnya. Basah, sedikit perih, tapi anehnya enak. Tapi ketika matanya jatuh ke bawah, ke arah tangan Angga yang sibuk-

Ia melihatnya.

Benda itu.

Panjang. Besar. Tegak berdiri di genggaman tangan Angga yang kekar. Ujungnya merah, sedikit basah oleh sesuatu yang bening. Dan tangan Angga bergerak naik turun dengan ritme yang membuat urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Adea belum pernah melihat yang asli.

Ia pernah melihat gambar di buku anatomi. Pernah melihat diagram di presentasi dosen. Tapi melihatnya secara langsung, di depan matanya, dalam kegelapan malam, di kamar Angga-

Itu berbeda.

Jauh berbeda.

Adea tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya membelalak, tapi tidak bisa berpaling.

Angga tersenyum gelap melihat ekspresi Adea.

Dan tiba-tiba..

Ia bergerak.

Tubuhnya yang besar berpindah dalam sekejap. Satu tangan menekan bahu Adea, mendorong gadis itu kembali ke atas kasur. Angga berada di atasnya sekarang, mengapit tubuh kecil Adea dengan kedua lengan dan kakinya.

Adea terkejut. Napasnya tercekat.

"Angga-"

Angga tidak memberi kesempatan untuk bicara.

Tangannya yang masih basah oleh keringat dan cairannya sendiri, meraba paha Adea. Jari-jarinya yang kasar mengelus kulit halus di bagian dalam paha, tempat yang paling sensitif, tempat yang tadi ia siksa dengan lidah panasnya.

"Disini enak kan?" tanyanya.

Suaranya berat. Tercekat. Seperti orang yang menahan sesuatu yang sangat besar.

Adea ingin menjawab, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah desahan. Karena jari-jari Angga sudah masuk ke tempat yang tadi dibasahi lidahnya. Menekan. Memutar. Membuat Adea kehilangan sisa-sisa kesadarannya.

"Enak..." jawab Adea akhirnya, suaranya hampir menangis. "Enak, Angga..."

Angga menggeram pelan.

Ia mengarahkan ereksinya ke sana.

Adea merasakannya..ujung yang panas dan keras itu menyentuh bibir terluarnya. Adea menahan napas. Tubuhnya menegang. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia takut. Tapi ia juga... penasaran.

Tapi Angga tidak memasukkannya.

Ia hanya menggesekkan.

Ujung penisnya bergerak naik turun di celah basah Adea, melewati lubangnya tanpa masuk, lalu naik ke atas, menyentuh sesuatu yang kecil dan sensitif yang membuat Adea menjerit kecil.

Angga menggesek lebih keras. Lebih cepat.

Ia mengguncang kasur dengan gerakan pinggangnya yang kuat. Tubuh Adea ikut bergoyang di bawahnya, payudara kecilnya bergerak naik turun di balik kaus tipis, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain meremas bantal dan menggigit bibir.

Tapi Angga belum puas.

Ia berhenti.

Adea menghela napas lega. Tapi lega itu hanya sesaat.

Angga bangkit. Ia merapatkan paha Adea, kedua paha mungil itu ia rapatkan hingga tidak ada celah di antara mereka. Lalu ia memasukkan ereksinya ke sela-sela paha itu.

Dan ia mulai menggesek.

Bukan seperti tadi. Kali ini lebih kasar. Lebih cepat. Lebih putus asa.

Paha Adea yang lembut menjadi alat untuk Angga mencapai sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan. Pria itu menggeram tertahan. Suara rendah yang keluar dari dadanya, bergetar di udara malam.

Adea hanya bisa berbaring di bawahnya, merasakan gesekan panas di pahanya, merasakan sesekali ujung itu menyentuh lubangnya tapi tidak pernah masuk.

Angga mendesah hebat.

Kepalanya tertunduk. Dahinya menyentuh bahu Adea. Napasnya panas dan tidak teratur. Tangannya mencengkeram pinggul Adea dengan keras, yang pastinya akan meninggalkan bekas.

"Angga..." bisik Adea. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya ingin memanggil nama pria itu.

Dan Angga melepaskan.

Adea merasakannya..cairan hangat menyembur ke perut bawahnya. Semburan pertama. Kedua. Ketiga. Beberapa tetes mengenai dagunya. Beberapa tetes mengenai bibirnya.

Adea meringis. Bukan karena jijik, tapi karena terlalu banyak sensasi dalam satu malam. Lidah di antara pahanya, jari yang bermain di lubangnya, dan sekarang cairan pria itu di kulitnya.

Angga terhuyung.

Ia masih di atas Adea, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar kehabisan tenaga. Tapi ia tidak langsung jatuh. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di samping kepala Adea.

Lalu ia mendekat.

Bibirnya menyentuh leher jenjang Adea.eher kecil yang seukuran genggaman tangannya. Ia menciumnya. Menghirupnya. Meniupnya. Lalu ia mengisapnya cukup keras untuk meninggalkan bekas, tapi tidak cukup untuk menyakiti.

Ia melumat leher itu dengan bibir dan lidahnya, meninggalkan jejak demi jejak. Mungkin besok akan ada memar merah di sana. Mungkin Adea akan marah.

Tapi malam ini, Angga tidak peduli.

Setelah puas.

Setelah leher Adea basah oleh air liurnya dan ditutupi bekas ciuman.

Angga menjatuhkan dirinya ke samping Adea. Kasur bergoyang menerima beban tubuh besarnya.

Ia tidak punya energi untuk merapikan apapun.

Dengan kakinya, ia menarik selimut yang terlipat di ujung kasur. Selimut tipis itu terbentang, menutupi tubuh mereka berdua.

Tubuh Adea yang masih basah oleh cairannya sendiri dan cairan Angga, tubuh Angga yang masih gemetar oleh kelelahan dan kelegaan.

Angga memeluk Adea erat.

Tangannya yang besar melingkar di pinggang gadis itu, menariknya mendekat hingga tidak ada jarak. Pahanya yang hangat menyentuh paha Adea yang dingin. Dadanya yang basah oleh keringat menempel di punggung Adea.

"Tidur, Dea," bisiknya. Suaranya parau, hampir tidak terdengar.

Adea tidak menjawab.

Ia hanya membiarkan dirinya dipeluk. Membiarkan tubuhnya yang kecil tenggelam dalam dekapan pria yang baru saja melakukan hal-hal gila padanya.

Ia tidak tahu harus merasa apa. Marah? Malu? Bahagia? Takut?

Mungkin semuanya sekaligus.

Tapi satu hal yang ia tahu. Ia tidak ingin Angga melepaskannya.

"Angga."

"Hmm." Suara Angga sudah setengah tertidur.

"Aku... belum pipis beneran."

Angga tertawa kecil. Getarannya menjalar dari dadanya ke punggung Adea.

"Besok aja."

"Tapi-"

"Tidur."

Adea mengerucutkan bibir. Tapi ia menurut. Matanya terpejam. Napasnya perlahan-lahan menyesuaikan dengan napas Angga yang mulai teratur.

Di luar, langit mulai memutih di ufuk timur. Ayam jantan berkokok dari kejauhan.

Tapi di dalam kamar Angga, kegelapan masih menyelimuti. Dan di dalam kegelapan itu, dua tubuh saling berpelukan dalam keheningan yang sempurna.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!