Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Sup yang lezat sekarang berada dilantai bersamaan dengan pecahan mangkok. Aku sengaja menyenggol tubuh Cika yang menyebabkan kekacauan ini.
“Oops” kataku dengan wajah terkejut.Aku melihat Cika yang sedang menahan amarah. “Aku ganti” kataku dengan menyerahkan uang seratus ribu yang diberikan Alex. Ia mengambil uang seratus ribuku dengan kasar kemudian pergi bersama gengnya menghilang dari pandanganku.
“Sampai kapan ia akan bertahan” bisik Rini yang sudah berada disampingku. Aku menolehnya menggendikan bahu. Kami memesan makanan yang tersedia menu. Kami menikmati makanan diselingi dengan gosip terpanas. Selesai makan kami menempuh ilmu sampai bel berbunyi.
Bel berbunyi begitu lantang bertanda pulang. Seluruh siswa berlomba-lombang pulang duluan. Aku berjalan dengan santai menuju gerbang hingga sebuah tangan besar menyeretku keparkiran mobil. “ Masuk” kata Elgartara dengan penuh penekanan.
Aku terpaksa mengikuti perintahnya. Elgartara mengemudikan mobilnya keluar area sekolah. Elgartara mengendari mobil dengan kecepatan rata-rata “Kenapa kau membuat keributan dengan Cika?” Kata Elgartara yang fokus menyetir.
“ Aku tidak sengaja menabraknya” kataku santai menjawab pertanyaan Elgartara. Keheningan menyelimuti perjalanan kami. Berlahan mobil Elgartara berjalan pelan. Mobil Elgartara berhenti di parkiran sebuah bank. “Aku ada urusan di bank kau tunggu disini” kata Elgartara. Aku membalas Elgartara dengan anggukan. Elgartara turun dari mobil berjalan kedalam bank.
Aku berada dimobil Elgartara rasa haus menghampiriku. Aku tidak membawa air jadi aku mencari air didalam mobil Elgartara namun hasilnya nihil. Aku mengedarkan pandangan ke lingkungan sekitar untuk mendapatkan air. Akhirnya mataku menangkap sebuah minimarket yang terletak tidak jauh dari sini. Aku berlahan turun dari mobil Elgartara berjalan ke minimarket.
Aku masuk kedalam minimarket yang memiliki desain minimalis dan efisien. Menggunakan ruangan semaksimal
mungkin dengan menata barang sesuai tempat. Memberikan warna yang cerah dan pencahayaan yang tepat akan memberikan kesan luas. Aku bergegas menuju tempat minuman. Aku takut Elgartara marah kepadaku karena sudah menunggu terlalu lama. Aku segera mengambil minuman secara acak dan membayarnya dikasir.
Aku keluar dari meminum minuman yang aku beli. Aku membaca sekilas rasa jaruk ‘pasti menyegarkan’ pikirku. Belum ada satu tegukan bahuku didorong kesamping. Aku tidak terjatuh dan minumanku masih utuh. ‘apa ini karma?’ tanyaku dalam hati mengigat tadi siang aku segaja mendorong Cika. Aku menatap pelaku yang sudah menabraku. Mataku terpaku melihat cowok ganteng. Wajahnya yang bersih tanpa adanya jerawat dengan rambut hitam memikat. Aku merasa hidup bersama bunga-bunga visual.
“ Apa kau tidak apa-apa” suara pemuda tampan berjaket hitam. Suara yang lembut bagaikan melodi membuat siapaun betah mendengarkannya. Dia terlihat bagaikan pangeran di negeri dongeng dan akulah batu sandungannya. Kita bagaikan langit dan bumi ‘jauh banget’.
“ Aku baik-baik saja” kataku dengan sedikit membenahi pakaianku yang sebenarnya aku sedang salah tingkah dihadapan cogans.
“ Maaf aku tidak sengaja menabrakmu” kata pemuda itu dengan ekspresi menyesal. Aku sepertinya melihatnya kalau tidak salah pemuda itu tokoh figuran sepertiku. ‘Tapi kenapa tampan sekali? bukankah ini aneh? Apa aku melewatkan sesuatu?’ pikiranku terus berputar. Tangannya yang besar melambai-lambai dipenglihatanku membuatku tersadar.
“ Tidak apa-apa” kataku. Aku sedikit mengedarkan pandanganku berharap Elgartara tidak meninggalkanku ‘harapan hanya tinggal harapan’. Aku melihat Elgartara jalan bersama Olivia. Walaupun aku tidak dapat melihat mereka secara jelas. Aku sudah hafal postur tubuh Elgartara dan Olivia. Mereka berjalan bersama saling bercengkrama bagaikan dunia milik berdua. Aku terkejut melihat Elgartara mau membawa barang-barang yang jelas bukan miliknya.
“Hai” kata pemuda didepanku mampu membuyarkan lamunanku “Apa kau benar tidak apa-apa?” tanya cogans.
“Aku baik-baik saja” kataku menyakinkan cogans.
“Kalau begitu aku pergi dulu” kata pemuda itu mengakhiri obrolan singkat.
Aku mengangguk kemudian menoleh kearah Elgartara dan Olivia. Sayangnya mereka sudah menghilang dari tempat aku melihatnya. Aku berjalan menuju ke tempat mobil Elgartara. Mobil ferrari putih Elgartara sudah tidak berada ditempatnya.
Sekarang aku menyesal 'jangan pernah percaya pada musuhmu’ itulah hikmah dari kejadian yang barusan aku alami. Aku berjalan ke tempat duduk yang tersedia sebagai fasilitas kota. Aku menikmati semilir angin ditemani segelas jus jeruk yang menyegarkan otakku.
Aku sedih kejadian ini terus berulang dikepalaku. Aku memberikan tepuk tangan meriah kepada Melisa yang bisa tahan terhadap cowok seperti Elgartara. ‘Mengapa Melisa betah bersama manusia es?’ tanyaku dalam hati. Aku diam dalam waktu cukup lama memandang lalu lintas kota dengan tatapan kosong. Aku tidak memikirkan apapun hanya ingin menikmati indahnya kota tempatku terdampar. Tidak terasa sudah dua minggu aku menjalani peran sebagai villian. Aku melihat matahari mulai terngelam. Aku sudah membolos les privat sudah waktunya pulang. Dengan sisa baterai aku menelfon layanan jasa transportasi. Aku menunggu sekitar 15 menit kemudian barulah sebuah taksi online datang menghampiriku. Tanpa basa basi aku langsung masuk kedalam taksi. Sebelum taksi mengantarkanku pulang aku memintanya untuk mampir ke supermarket. Aku perlu membeli beberapa makanan instan.
Aku masuk kedalam Rumah yang memiliki dua lantai yang luas dengan taman bunga minimalis tapi tetap cantik. Warna putih dominan dengan lampu kuning menambah kesan mewah tapi tetap sederhana. Rumah bergaya modern dan simple merupakan rumah desain dari ibu Melisa yang diwujudkan oleh ayahnya. Sungguh pasangan romantis pantas ayah Melisa terlihat kehilangan sekali.
Aku masuk kedalam rumah berjalan ke kamar dengan suasana hati yang campur aduk. Aku berjalan dengan gontai seperti orang yang kehilangan arah. Aku merasa kosong ‘Rumah mewah harta melimpah fasilitas lengkap tanpa kasih sayang orang tua dan support darinya bagaikan mayat hidup’ itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti Melisa asli merasakan hal yang sama.
Perutku berbunyi pertanda lapar segera aku pergi ke dapur. Aku membuka kulkas tidak ada bahan yang sesuai keinginanku. Aku ingat tadi sempat membeli mie instan. Aku mengambil mie instan dari dalam tasku yang berada di kamar.
Aku kembali ke dapur dengan mie instan ditanganku. Aku memanaskan air hingga mendidih. Selanjutnya memasukkan mie dengan bumbunya. Aku menyempatkan membuat topping sebagai pelengkap sekalingus pencantik. Akhirnya mie ramyeon telah siap untuk dimakan.
Untuk minumannya aku membuat es teh lemon. Aku menyeduh daun teh dengan tambahan air lemon dan es. Es teh lemon siap dihidangkan bersama mie ramyeon panas. Aku membawa makananku kedepan tv ruang keluarga. Aku memakan mie ramyeonku dengan cepat. Kemudian aku menyalakan tv untuk menonton komedi situasi yang sedang tayang perdana dengan bintang tamu Rizky Febian Adriansyah seorang penyanyi muda dengan paras tampan.
Tawaku mengema sampai bunyi bel rumah menghentikan aktivitasku. Aku melihat siapa orang yang datang malam-malam begini melalui hp. Aku melihat seseorang yang berdiri memakai kaos putih ‘ makluk es datang membekukan hati’. Aku melihat dia membawa tasku pasti Elgartara akan mengembalikan tasku.
Dengan langkah gontai aku menuju pintu. Aku membukakan pintu tanpa ekpresi “ ada apa” tanyaku dengan nada lelah.
“ Kau marah” tanya Elgartara dengan hati-hati.
Aku menatap Elgartara tanpa emosi “ untuk apa aku marah?” tanyaku pada Elgartara dengan nada yang sama.
Aku melihat Elgartara mengubah mimik wajahnya. “Mana tasku” mintaku kepada Elgartara. Elgartara tidak memberikan tasku malah memberikan mimik wajah khawatir.
“ Tadi siang aku melihat seseorang kesusahan jadi aku membantunya. Aku pikir kau berada dimobil jadi aku menjalankan mobilku” kata Elgartara menjelaskan kepadaku.
“ Aku tahu” kataku memandang Elgartara tanpa emosi apapun. Elgartara terlihat membelalak matanya. “ Aku tahu aku bukan prioritasmu” kataku tanpa emosi. Elgartara tampak seperti orang yang terkejut dengan perubahan sikapku.
“ Melisa” panggil Elgartara yang terdengar seperti penyesalan. Kami saling memandang satu sama lain ada banyak emosi yang ingin disampaikan. Tapi kami tidak sanggup hanya ada keheningan.
Aku mengakhiri kontak mataku dengan Elgartara “ Sudah malam, pulanglah...” kataku mengusirnya “ mana tasku” kataku meminta tasku yang berada ditangannya. Elgartara memberikanku tas hitam kepadaku. Aku menerimanya kemudian menutup pintu.
Sebelum pintunya tertutup rapat Elgartara mengucapkan selamat malam untukku yang tidak kubalas. Pintu tertutup rapat bunyi mesin dinyalakan. Elgartara telah pergi satu tetes air mata jatuh bersamaan dengan tetesan lainnya. Betapa inginnya Melisa asli untuk mendengar ucapan selamat malam dari seorang Elgartara. Aku memeluk tasku erat menyalurkan segala emosiku yang terpendam.
“ Penulis...Apa seorang villian tidak boleh bahagia padahal sama-sama makan nasi?!” bentakku kepada penulis novel.
“ Penulis...kami juga karaktermu...” kataku lirih sambil menjatuhkan diriku dilantai yang dingin. Aku menangis memegang kedua kakiku. Lampu yang semula terang tiba-tiba mati sekarang hanya kegelapan dan kesendirian sama seperti mimpiku di episode 5.
Sinar rembulan menembus rumahku memberikan sedikit cahaya untukku. Aku dapat melihat pantulanku diatas lantai. Seketika aku merasa tidak sendiri ada Melisa asli disisiku. Aku menghapus air mataku kasar.
Aku mengambil ponselku lalu menghubungi seseorang disebrang sana. Bunyi terhubung terdengar “ Nona Melisa”. Aku mengambil lilin dilaci dan pematik api.
“ Laporan” kataku dingin
“ Nona Melisa kami sudah berhasil menanam saham pada perusahan Prodex. Selanjutnya apa yang akan kami lakukan?” kata orang disebrang sana.
“ Dapatkan rahasia perusahan itu” perintahku sambil menyalakan lilin.
“ Baik Nona” kata orang disebrang sana dengan patuh.
“ Laporan geng BS” Perintahku kepada orang disebrang sana.
“ Maaf Nona sampai saat ini anak buah saya masih mencari informasi” katanya dengan nada
bersalah.
“ Lanjutkan” kataku tanpa ekspresi.
Aku memandang cahaya lilin yang menerangi kamarku. Aku membawa lilin kedepan cermin. Aku bisa melihat bekas air mataku. Aku memandang pantulan wajah Melisa “ Elgartara belum bergerak dan Alex sudah datang. Dua orang yang merepotkan” kataku tanpa ekpresi. Aku membelai permukaan cermin “ Apa menurutmu sebentar lagi Elgartara akan menunjukan taringnya didepan kita?” tanyaku kepada pantulan Melisa. Aku bisa melihat senyuman Melisa yang membuatku bersemagat.
***