Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Saat Peluit Ditiup
Langkahku semakin cepat, tapi pikiranku menjadi kacau "Ayo, sekarang saatnya... Tapi...?!" gumamku.
Aku terus berjalan, membawa tas kecil untuk menyimpan sepatu bolaku. Pagi hari, jam 7.30 "Sebentar lagi," batinku.
"Dring... Dring... Dring..." suara dering ponselku.
Aku tetap berjalan sambil membuka tasku, setelah tas terbuka aku lalu mengangkat telepon "Iya, ada apa?!" tanyaku.
"Van, ini Andika!!" seru Andika.
"Iya, ada apa?!" tanyaku balik.
"Kamu cepet kesini, sebentar lagi akan berangkat!!" seru Andika dengan kencang.
Aku langsung mematikan ponselku dan dengan cepat aku segera berlari ke sekolah "Cepat," gumamku.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Aku terus berlari, cepat, dan juga melelahkan, tapi itu tidak masalah karena ini adalah momen penting.
Langkahku semakin cepat, tapi pasti. Setelah beberapa menit, akhirnya aku sampai di sekolah.
"Van, ayo kesini!!" teriak Pak Slamet dari kejauhan.
"Iya," sahutku.
Aku lalu menghampiri Pak Slamet "Ada apa, Pak?!" tanyaku dengan sopan.
"Ini, jersey-mu!!" seru Pak Slamet sambil menyodorkan jersey berwarna merah itu.
Aku lalu mengulurkan tanganku untuk menerima jerseynya, aku melihat ke belakang jersey itu. Di sana tertulis namaku dengan nomor punggung pertamaku "Ivan, 17!!" batinku.
"Ayo, kamu cepat masuk ke bus. Kita berangkat sebentar lagi, nanti kamu pakai jersey itu sebelum masuk ke lapangan!!" ujar Pak Slamet.
"Siap, Pak!!" jawabku.
Aku dan Pak Slamet bersegera mungkin masuk ke dalam bus. Di dalam, sudah terlihat teman-temanku yang sudah siap untuk memulai permainan.
"Van, duduk di sini aja!!" seru Kak Alfian.
Aku menganggukkan kepalaku lalu segera duduk di samping Kak Alfian.
"Gimana, udah siap?!" tanya Kak Alfian sambil memandangiku.
"Siap nggak siap, harus siap!!" jawabku penuh percaya diri.
"Bagus," sahut Kak Reno yang duduk di depanku.
"Baik, anak-anak. Kita akan berangkat," seru Pak Slamet.
"Ya, kalian harus siap!!" sahut Pak Nur yang ikut.
"Siap, Pak!!" jawab kami semua.
Bus mulai bergerak perlahan, meninggalkan sekolah. Dari balik jendela, aku menatap langit pagi yang cerah.
Dari satu langkah... satu teriakan... semoga hari ini berubah menjadi ribuan sorakan kemenangan.
"Van," sapa Andika yang berada di belakangku.
"Iya," sahutku.
"Ingat, kamu jangan masukin bola ke gawangku tapi ke gawang musuh ya. Hehehehehh!!" seru Andika sambil tertawa pelan.
"Heh? Ya nggak dong!!" jawabku.
"Hehehehe... Cuman ngingetin," ujar Andika.
Bus semakin cepat, pertandingan akan dimulai sebentar lagi. Kami harus berani, kami harus menang demi sekolah dan harapan kami semua.
Aku membuka tasku lagi untuk mengambil ponselku, setelah mengambil ponsel aku lalu melihat jam "Jam 8, semoga kami tiba disana tepat waktu!!" batinku.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya bus berhenti "Sudah sampai, ya?!" gumamku.
"Anak-anak, kita sudah sampai di tempat turnamen. Kalian turun lalu ikuti bapak, ya!!" seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" jawab kami.
Kami lalu turun dari bus, terlihat ada banyak sekali orang dan juga kendaraan. Stadion sederhana dan tribun sederhana, tapi ini akan menjadi langkah awalku "Wah, sederhana tapi bagus," seruku sambil berjalan.
"Anak-anak, kalian bisa masuk untuk bersiap-siap. Pertandingan pertama kita akan dimulai sebentar lagi, lawan kita adalah sekolah putra bangsa!!" ujar Pak Slamet yang menjelaskan.
"Siap, Pak!!" jawab kami semua.
Aku lalu memakai jersey-ku, dan mengenakan sepatu bolaku.
"Van, nomor punggung kamu bagus!!" celetuk Azzam.
"Apa iya?!" sahutku.
"Iya, nggak kayak aku. Nomor punggungku 20," seru Azzam sambil menunjukkan nomor punggungnya.
"Bagus, tapi lebih bagusan aku. Nomor punggung satu!!" sahut Andika.
Kami lalu memandangi Andika "Kamu kan kiper, Andika!!!" seruku dan Azzam secara bersamaan.
"Oh iya. Hehehehe!!" ujar Andika yang tertawa sambil menggaruk kepalanya.
"Selamat pagi para suporter. Kita akan menyaksikan pertandingan pembuka turnamen antar kecamatan tingkat SMA ini!!" suara pembawa acara dari lapangan.
"Anak-anak, kalian bisa baris di pintu masuk lapangan!!" seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" jawab kami.
"Pertandingan pertama ini akan menjadi pertandingan yang menegangkan, dari kedua tim memliki kapten tim yang hebat. Dari SMA Putra Bangsa ada Emanuel, sementara itu dari SMA Medika Jaya ada Reno!!" seru pembawa acara.
"Dug... Dug... Dug..." suara detak jantungku.
"Jantungku berdetak semakin cepat, tapi aku harus tetap tenang!!" batinku.
"Tanpa berlama-lama lagi, mari kita saksikan pertandingan ini. Kepada komentator, bisa mengambil alih!!" suara pembawa acara.
"Baik, kita akan menyaksikan duel anak remaja," suara komentator.
"Ayo, kalian bisa masuk!!" seru seorang penjaga.
Kami lalu masuk, setiap langkahku terasa sangat berat. Tapi, aku tetap harus bisa bermain dengan baik.
"Ini dia, SMA Putra Bangsa memakai baju berwarna biru, sementara SMA Medika Jaya memakai baju berwarna merah!!" seru komentator.
Senyum di wajahku semakin lebar, karena aku tahu sebentar lagi mimpiku akan terwujud.
"Dari SMA Putra Bangsa, pemain yang di unggulkan adalah Ega, sementara dari SMA Medika Jaya adalah Ivan!!" seru komentator.
"Hah, aku?!" batinku yang kaget.
Kami berdiri di atas rumput sederhana, tidak tinggi, tidak lebat, tapi sudah cukup untuk menyelimuti tanah.
"Kedua kapten tim, silakan mendekat!!" seru wasit yang memimpin laga.
Kak Reno, dan Kak Emanuel mendekat ke wasit, mereka melakukan tos koin untuk menentukan siapa yang akan melakukan kick-off lebih dulu.
"Pilih mana, kepala atau ekor?!" tanya wasit.
"Kepala," seru Kak Reno.
"Kamu kepala, otomatis kamu ekornya," seru wasit.
"iya," jawab Kak Emanuel.
"Hap... Lihat, kepala dulu ya. Artinya tim Medika bisa kick-off lebih dulu!!" ujar wasit.
"Siap," jawab Kak Reno.
Kami lalu menempati sisi masing-masing, aku sendirian di depan. Di kananku ada Kak Teo, sementara di kiriku ada Kak Egy.
"Van, kita harus siap!!" teriak Kak Teo.
"Iya," ujarku singkat.
"Priittt!!!" suara peluit, tanda babak pertama dimulai.
Bolaku tendang ke belakang sementara aku, langsung ke depan untuk mencari ruang. Bola berada di kaki Kak Ardi, dia lalu mengumpan ke Michel yang berada di sampingnya.
"Woy, umpan ke depan!!" teriak Kak Teo dengan sangat keras.
Aku diam di depan, menunggu bola datang. Sementara Michel, dia terus mengontrol bola lalu mengoper ke Kak Tama. Dengan satu sentuhan, dia dengan cepat memindahkan bola ke depan. Tapi, sayangnya bola itu berhasil direbut dan dikuasai tim Putra Bangsa.
"Wah, bola berhasil dipotong. Sekarang dia mencari ruang, masih mencari ruang!!" suara komentator.
Michel dengan cepat langsung berlari menuju pemain lawan untuk merebut bola kembali, dia dengan seketika langsung mencoba menekel pemain itu. Tapi sayang, dia berhasil menghindari kaki-kaki milih Michel itu.
"Cuma segini?!" celetuk pemain lawan yang sedang membawa bola.
Pemain itu berhasil mendekat ke depan kotak penalti, dia lalu mengumpan ke rekannya. Beruntung saat bola dilepaskan, Kak Ardi sigap memotong dan langsung mengumpan bola ke depan.
"Medika Jaya akan melakukan serangan balik!!" suara komentator.
Bola berhasil mendarat di kaki Kak Alfian. Dia lalu menggiring bola ke depan, setelah memasuki area pertahanan lawan, dia langsung mengumpan bolanya ke Kak Egy.
"Egy!!" teriak Kak Alfian.
Bola mendarat di kaki Kak Egy, dia lalu menggiring bolanya menyusuri ke kiri. Aku terus berlari, aku berlari masuk ke dalam area kotak penalti. Aku berada di dalam area kotak penalti bersama dengan Kak Teo.
"Siap-siap!!" teriak Kak Egy sebelum melepaskan umpan lambung ke dalam kotak penalti.
Bersambung...