Terbit setiap senin & jumaat.
Bima seorang detektif swasta yang macho dan keren. Yang dulunya adalah seorang polisi hebat. Dapat job untuk mencari dimana kepala mafia berada. Namun disatu sisi, dia pun harus melindungi seorang wanita. Yang merupakan tokoh kunci dalam sebuah kasus. Namun juga, dicurigai terlibat dalam kasus tersebut. Seharusnya dia profesional dalam menjalani pekerjaannya. Bukankah sudah hal biasa dia menghadapi wanita dengan segala macam bentuknya. Namun entah mengapa, kali ini beda. Diam-diam ternyata dia jatuh hati. Sekarang yang jadi bahan pertanyaan, beranikah dia mengakui perasaannya sedangkan dia lagi menjalani tugas penyamaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk lah Aku
Saras terus berlari tak tentu arah. Wajahnya pun terus diselimuti rasa takut dan luar biasa panik. Gimana nggak? Saat dia sudah berlari tidak kencang. Tiba-tiba ada suara langkah kaki cepat di belakangnya. Pas dia menengok, ternyata ada 2 orang mengikutinya.
Kemudian karena tidak mengenali daerah situ. Akhirnya langkahnya jadi terhenti di jalan yang buntu. Karena gak mungkin balik badan. Jadinya dia bersembunyi di tumpukan kardus.
Tentu bayangan terakhir Saras dapat diketahui oleh mereka. Meski jarak antara mereka jauh, tapi mereka dapat melihat saat Saras berbelok ke gang itu.
"Ayo lah, Saras... Ngapain kamu sembunyi, Cantik. Kamu pikir, kita gak tahu kamu di sini?"
"Ayo, Saras... Keluar lah... Atau kamu ingin kita bermain-main dulu."
Ternyata 2 orang itu sama cabulnya dengan orang-orang yang waktu itu ingin menangkapnya di rumahnya. Mungkin karena mereka anak geng alias nggak beda jauh kayak preman. Jadi otak mereka pada sengklek! Terlebih lagi karena mereka laki-laki jadi ada naluri birahi.
Lalu pada saat mereka mau membuka kardus tempat di mana Saras bersembunyi, dan pada saat Saras di dalam diselimuti tubuh gemetaran. Tiba-tiba sebuah tendangan meluncur ke tangan dua orang itu.
Bug!
Sontak badan mereka jadi terhuyung. Akibat tendangan itu menghempas keras tangan mereka.
"Anj*ng!" kesal mereka.
"Wah! Bang Jago kita nongol," ujar salah satu dari mereka, setelah tahu siapa yang datang.
"Eh! Ngapain sih elo ngelindungi cewek itu mulu? Elo kira kita gak tahu apa, siapa elo?" ujar orang yang ke dua.
"Iya! Udah lah... Lebih baik elo serahin tuh cewek. Dari pada elo terus dibuat ribet sama kita. Lagian elo nggak sayang apa, sama karier elo yang lagi naik daun?" tambah orang yang pertama.
Bug! Pak! Bug! Pak!
Bukannya menjawab, Putra malah memberi serangan secara mendadak
"Dasar bangs*t!" kecam mereka.
Sudah bagus mereka menasehati agar karier orang di depan mereka ini berjalan mulus. Tanpa gangguan dari boss mereka. Tahunya, malah gak tahu diri. Jelas, mereka jadi bersiap-siap demi memberi serangan balik.
"Sepertinya memang elo cari mati!" umpat mereka, segera melawan.
Bug! Pak! Bug! Pak!
Selanjutnya terjadilah pertarungan di antara mereka, dan satu orang tewas di tempat karena dadanya di hantam keras oleh Putra. Tinggallah satu orang. Namun sepertinya untuk yang satu ini Putra harus waspada. Karena terlihat dari tadi lihai menangkis serangan darinya. Malah dia sempat kena pukulan balasan dari orang itu.
Kemudian orang itu mengeluarkan double stick dari belakang tubuhnya. Yaitu berupa tongkat pendek terhubung rantai pendek. Putra segera pasang ancang-ancang. Namun siapa sangka, serangan pertama double stick dari orang itu bisa membuat Putra jadi tumbang.
Syunggg... Pak!
Double stick itu menghantam keras pelipis kepala Putra. Seketika kepalanya berdarah, dan dia langsung jatuh tersungkur ke bawah.
Rupanya semua itu akibat energinya sudah diambang batas. Wajar, dia lagi terluka. Masih syukur, dari tadi pertarungan yang dihadapinya dia mampu bertahan. Ya, semua itu karena dibantu vitamin. Tadi itu sejatinya ancang-ancang kakinya juga sudah goyang.
Syunggg... Pak!
Benda itu kali ini menghantam keras bagian badan Putra yang terluka.
"Arghhh...!" Putra mengerang kesakitan.
"Lemah!" cibir orang itu.
Namun akibat itu, orang itu jadi tahu di mana titik terlemah lawannya. Karena ada darah dari dalam baju Putra merembes ke luar. Entah, itu luka apa. Yang pasti, dia harus menyiksa di bagian itu.
Syunggg... Pak!
Syunggg... Pak!
Syunggg... Pak!
Putra terus dihantam berkali-kali. Hingga dia jadi harus berguling-guling. Demi benda itu tidak mengenai area di badannya yang lagi fatal itu.
Sedangkan di balik kardus dengan mata berkaca-kaca. Saras terus menangis menyaksikan hal menyesakkan tersebut.
Dengan tubuh sempoyongan Putra berusaha berdiri. Dia nggak boleh mati. Karena bisa berakhir sudah semuanya. Namun belum sempat dia berdiri tegap, benda itu sudah melayang keras ke kakinya.
Syunggg... Pak!
Bruk!
Putra jatuh tersungkur lagi, dan kesakitan lagi.
"Elo pikir, elo bakal dapat kesempatan apa?!" maki orang itu.
Syunggg... Pak!
Orang itu menghantam lagi ke bagian tubuh Putra yang terluka. Jelas, karena Putra lagi lengah. Akibat itu, Putra jadi mengerang kesakitan lagi.
"Arghhh...!"
Melihat Itu Saras menangis kejer. Akibat gak sanggup melihat orang yang selalu berusaha melindunginya terus disiksa begitu. Dan yang bikin menyayat hati, mendengar suara rintihan pria itu.
Darah segar terus mengucur deras di badan Putra, dan itu menjadi seperti kubangan kolam di sekitaran badannya. Sekujur tubuhnya pun sudah babak belur.
Akibat suara tangisan Saras yang keras itu, orang itu pun jadi tersadar. Segera dia membuka tumpukan kardus tempat di mana Saras bersembunyi, dan menyeret badannya keluar.
"Eh, gue lupa!"
"Ahhh...!" histeris Saras.
'"Sebaiknya sebelum elo gue buat mati. Ada baiknya elo saksikan pertunjukan gue ini dulu." Orang itu berkata ke Putra.
Memang perintah geng hanya menyuruh menangkap. Tapi kan, sama saja! Kalau saat itu Putra dan Saras ketangkap. Sehabis itu pun, Putra di bunuh. Ini kita bicara sebelum mata-mata geng mengikuti Putra ya. Karena sekarang sudah beda ceritanya. Selama ada mata-mata geng mereka jadi gak bisa bergerak. Menangkap Putra untuk menyerahkan Saras. Sebenarnya secara gak langsung kehadiran mata-mata geng jadi melindungi Putra.
Lalu sebaik orang itu berbicara begitu, dia langsung merobek baju Saras secara kasar, dan menggerayangi badannya. Jadi dia ingin memperkosa Saras di depan Putra.
"Ahhh... Jangan... Ahhh... Jangan..." Saras terus meronta-ronta berusaha melawan, bersama suara ketakutan ketidakberdayaannya.
Justru, melihat hal itu andrenalin Putra jadi naik. Maka dia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menyelesaikan pertarungan di antara mereka. Lekas dia berdiri dan menendang orang itu.
Bug!
Orang itu jatuh tersungkur. Namun karena tendangan Putra lemah, secepat kilat dia langsung berdiri.
"Wah... Tangguh juga elo ya."
Segera orang itu memainkan double stick-nya lagi di tangan, dan memberi serangan ke Putra.
Syunggg...
Syunggg...
Syunggg...
Benda itu terus mengarah ke bagian terluka Putra. Namun Putra terus menghindar.
"Kurang ajar!" maki orang itu.
Kemudian pada saat dia ingin memberi serangan lagi. Putra segera menaikkan badannya ke udara, dan menendang keras tempurung kepalanya.
Bug!
Jelas, tendangan mematikan itu membuat orang itu gegar otak, dan langsung tewas di tempat. Pertarungan dramatis itu akhirnya dimenangkan oleh Putra.
Namun pada saat orang itu jatuh, bersamaan juga dengan tubuh Putra yang jatuh ke bawah.
Bruk!
Karena itu tadi sisa tenaganya. Akibat dia merasa serangan orang itu seperti mengulur-ulur waktu. Sedangkan keadaannya sudah begini. Alias sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertahan. Jadi lebih baik cepat diselesaikannya.
Sontak Saras melotot dan berlari kencang menghampirinya.
"Hei! Hei! Kamu masih hidup, 'kan? Hei! Hei! Tolong, sadar lah... Jangan buat aku takut..."
Saras terus menggoyang-goyang tubuh di depannya yang sudah tidak berdaya itu.
"Tolong, jangan mati. Aku bisa gila kalau kamu mati. Tidak! Tidak! Aku malah akan menyusulmu kalau kamu mati. Tolong, bangun lah... Jangan buat aku takut..."
Semestinya wanita itu cepat mencari pertolongan. Mungkin karena dia panik dan bingung. Jadi yang ada diotaknya harus memastikan dulu orang di depannya. Karena baginya, orang itu merupakan alasannya masih mau bertahan di dunia ini. Setelah dia menjadi sebatang kara.
"Tolong, bangun lah... Jangan buat aku takut... Tolong, bangun lah... Jangan buat aku takut..."
Saras terus merengek-rengek bersama isak tangisnya. Gimana dia nggak begitu? Bukan hanya sekujur tubuh Putra saja yang nggak bergerak, tapi juga matanya terpejam.
Namun nggak lama perlahan Putra membuka mata. Mungkin suara bising Saras membuatnya jadi tersadar.
"Hei! Berhentilah menangis."
Lalu Putra menarik badan Saras agar jatuh ke dadanya.
"Peluk lah aku..."
Rupanya Putra terbangun bukan hanya karena suara bising Saras, namun juga karena badannya mendadak dilanda menggigil hebat. Mungkin karena lagi terluka, tapi dia malah bertarung. Jadi badannya mengalami shock!
Atas itu, Saras langsung memeluk erat. Sebab memang dia melihat pria itu begitu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yuk, beri dukungan ke Author dengan memberi like, komen & rating bintang 5. Biar Author terus semangat menulis dan menuntaskan novel ini. Dan jangan lupa bantu Author mempromosikan novel ini ya...